Wednesday, 25 November 2015

Kumaknai Hidup di Sisa Nafas

Terkadang aku hanya ingin berdiam seorang diri tuk melepaskan lelah dan penat oleh dunia. Terkadang aku hanya ingin melihat langit luas dimana aku bisa mencurahkan semua pada Sang Pencipta. 

Hanya ingin mencari kedamaian yang telah lama hilang. Tak ada niat lain selain membiarkan jiwa ini lepas dan bebas lagi.




Sekarang aku hanya disini terdiam berteman sepi. Jauh lagi dari hari-hari. Aku hanya bisa menunggu disini sampai saat itu nanti. 

Aku memang akan terus berlari jauh, meskipun kenyataannya aku berlari di tempat ini saja. Sejauh itu aku hanya kembali lagi, tak pernah jauh. Aku tak pernah bisa pergi dari sesuatu yang telah lama mengikatku dan hatiku.

Entah kenapa saat ini begitu cepat tapi juga begitu berat. Atau hanya karena kesempatan ini semakin sedikit?  

Berat atau tidak sebenarnya memang bakal tetap terlewati, tapi aku tidak bisa membiarkan semua itu berlalu begitu saja. Semuanya memang terlalu cepat berlalu disaat aku ingin sejenak terhenti.

Sudah cukup atas apa yang pernah tersia-siakan ditempo silam. Sekarang aku hanya ingin terus melangkah selama dihati ini masih tersisa keyakinan atas harapan. Selama dipikiran ini masih tertanam mimpi-mimpi untuk diwujudkan.

Saat aku tidak mempunyai keyakinan nanti, katakan pada dia tentang apa yang ku rasakan. Sampai saat ini aku tak pernah pergi, meski kau mengira aku telah pergi.

Selama masih ada nafas, percayalah aku akan berusaha untuk meraihmu. Berusaha mewujudkan apa yang telah engkau tumbuhkan pada hidupku. Sebuah keyakinan bahwa aku bisa menjadi yang engkau bayangkan.

Hingga detik ini hal itu masih ada di dalam diri. Bekas-bekas pecahannya masih menancap memberi sengatan untuk tetap sadar, bahwa perjuangan masih harus terus dan tetap berlanjut.

Jika nanti cahaya dalam tubuhku sudah mulai padam, dapatkah lagi terhidupkan? Ataukah justru gelap akan semakin menutupi? 

Dinding hati yang kian menebal tapi semakin rapuh dan lemah. Tapi tak terasa lagi sakitnya, meskipun tergores sebegitu dalam.

Aku tak berharap banyak pada hidupku, selain disisa hidup ini aku bisa melakukan banyak hal yang masih aku bisa lakukan.

Aku harus bersiap jika nanti hal itu datang lagi, bahkan jika itu lebih menyakitkan daripada sebelumnya. Disaat itu berarti aku harus merelakan hidupku dan impian-impianku terbaring dan terkubur dalam.

Aku takut, takut tak ada lagi kesempatan. Takut ini semua bakalan berakhir tanpa akhir yang sesuai harapan. 

Seberapa lama lagi kesempatan itu ada? seberapa lama lagi kekuatan itu tetap bertahan? seberapa lama lagi sisa-sisa harapan terbalaskan? 
Jika nantinya berakhir sebelum harapan terbalaskan, maka apalah daya seorang manusia yang hanya meyakini mimpi-mimpinya untuk tetap berjuang. Apalah daya jika keadaan membuat aku semakin lemah dan tak bisa melakukan apapun.

Berbaring menatap langit-langit. Seolah berbicara padahal diam. Mata yang tak bisa lagi terbuka dan hati yang hanya bisa mencoba memberi tahu tentang sebuah keadaan dimana semua harapan hilang dan aku benar-benar menyerah.

Sebelum saat itu datang, aku hanya ingin memanfaatkan waktu yang takkan pernah terulang, memperbaiki masa lalu yang lama kelam. 
Membuatnya semuanya terasa lebih indah di sisa akhir nafas panjang. Merasakan apa yang nanti sudah tidak bisa terasa lagi jika saat itu menghampiri. 

Belajar memahami arti kehidupan lebih dalam. Bukan hanya untuk bersenang-senang, tapi membuatnya menjadi lebih bermakna dan agar tidak menyesal di akhir hayat.



Baca selengkapnya

Monday, 9 November 2015

Tentang Hari Dimana Aku Terlahir ke Bumi

Tentang Hari Dimana Aku Terlahir ke Bumi

Hari ini aku merasa aneh,
Sedih, bahagia, terharu, bingung, seneng, semuanya jadi bercampur jadi satu.
Aku tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya kurasakan saat ini.
Aku sedih, tapi aku juga bahagia..
Aku senang, tapi aku tak tenang.

Sebenarnya aku tak mau ini terjadi, aku tak mau mengingatnya, tapi bagaimana aku bisa, ini brarti dalam hidupku..

Sudah berlangsung lama nampaknya, semenjak aku pertama kali ada dan sekarang tumbuh..
Aku tak ingat kapan dan seperti apa aku waktu itu, aku hanya tau kalau mereka bilang hari itu adalah hari kelahiranku.. dan aku percaya sampai sekarang bahwa itu memang hari dimana aku dilahirkan..

Mungki saat itu aku hanya bisa menangis, melihat dalam diam, dan aku tau mereka begitu menerima kehadiranku di sisi mereka..
Yang kulihat saat itu hanya tawa..dan hanya itu yang aku tau..


Aku terus tumbuh, merangkak, berdiri dan berjalan hingga akhirnya aku bisa berucap.. Aku tak ingat apa yang pertama ku ucapkan waktu itu, aku tak tau seberapa sering aku terjatuh untuk kemudian berdiri lagi dan kembali mencoba berjalan.

Hari ini, hari itu datang lagi dengan keadaanku yang terus berbeda setiap tahunnya, dengan umur yang semakin bertambah, dengan harapan yang semakin tinggi, dan meskipun semangat itu mulai sedikit padam.

Aku mulai kehilangan separuh hidupku, atau bahkan hampir dari sisa hidupku.
Kini aku bisa berjalan lebih cepat, berlari lebih jauh, tapi aku tak punya waktu lebih lama dari dulu. Aku tak punya hari dimana yang terlihat hanya tawa. 
Kini aku mengerti ada banyak hal lain selain tawa, sesuatu yang kini ku lihat sering kali, yaitu tangis dan air mata.

Nampaknya dunia tak seindah dulu ketika air mata tertahan dan tak pernah mengalir. Andai aku melihatnya dulu, itu adalah kebahagiaan yang tertuah.

Aku mulai mengerti rasa kasih sayang, bukan hanya pada mereka yang dulu pertama ada dan merawatku, tapi juga untuk dia seorang yang datang di tengah hidupku.

Malam ini ketika hari itu akan datang, aku menunggu dengan kekhawatiran. Ku coba tuk memejamkan mata, tapi tak bisa. Detik demi detik terlewati dengan renungan. Hingga akhirnya 1 detik pertama di hari ini terlewati. 
Tak ada apa-apa yang terjadi, ku lihat tidak ada pesan masuk. Aku memang sudah siap bukan hanya saat ini saja, tapi sudah sejak dulu bahwa aku sendiri yang akan melewatinya.

Rasanya bagiku sama seperti hari biasanya, tak ada yang berbeda. Aku pejamkan mataku, tapi tak lama aku terbangun kembali masih dengan rasa kekhawatiranku.

Aku hidupkan komputer di depanku, ku buka akun facebook ku dan kulihat sebuah pesan terkirim untukku. Aku hanya berharap dia, aku sempat khawatir apakah hari ini juga penting baginya. Ku lihat, ternyata bukan dia, tapi seseorang yang dulu pernah ada di masa SMP ku. Dia yang selalu ingat dan pertama kali mengucapkan padaku. Sampai saat ini pertemanan ku dengannya masih terjalin begitu hangat. 

Aku tetap menunggu meskipun aku tidak terlalu mengharapkan ada. Apakah hanya mereka yang begitu pedulinya dengan diriku yang selalu ingat dengan hari ini. Aku senang, karena punya mereka teman-teman yang istimewa dan selalu ada dalam hidupku. 

Meskipun begitu aku merasa ada yang masih kurang hari ini. Aku tetap menjalani apa adanya, dengan ceria dan bahagia. Aku sudah tidak memikirkan itu lagi. Tapi disaat aku sudah tak peduli dan mengira bahwa hari ini memang akan berakhir seperti ini saja, aku terkejut dengan sesuatu yang kamu kirimkan padaku. Apakah ini benar darimu, apakah kamu mengingat hari ini? 
Aku sadar bahwa dirimu hanya tak mau menampakkannya dan begitu peduli meski kamu tak mengatakannya. Kamu pura-pura tak tahu.
Aku sempat berpikir salah bahwa dia tak pernah peduli. Tapi ternyata dia begitu peduli, sangat peduli bahkan. Hanya saja mungkin aku yang tak tau jika selama ini dia selalu ada untukku.

Mungkin aku orang yg beruntung. Beruntung bisa mendapatkan kasih sayang yang tulus darimu. Aku bukanlah orang yang spesial, tapi kamu selalu memperlakukan aku begitu spesial.
Hati ini berkecamuk lagi, rasanya begitu aneh.
Aku terus bertanya apakah diri ini pantas mendapat sesuatu yang begitu baik? 
Apa itu tidak terlalu sempurna buatku?

Sontak saat itu aku terdiam lagi, semuanya terasa kembali. Ada sesuatu yang berkecamuk dalam hatiku.
Mungkinkah aku jatuh begitu dalam ? Kamu menggenggam hatiku, mengikatku dengan kasih sayangmu, merengkuh aku dengan dekapanmu.
Aku tak tau bagaimana bisa menjaganya, yang aku coba hanyalah untuk tidak sedikitpun menyakitinya.

Kamu datang lagi membawa cinta begitu besar, kamu datang lagi dengan keyakinan. Kamu datang lagi dengan sebuah ketulusan.
Memberiku gairah untuk tetap melanjutkan jalan yang ternyata masih panjang. Memberikanku sebuah kekuatan agar ku tak pernah menyerah meski terkadang aku sangat lelah. 
Memberikanku sejuta harapan-harapan yang harus tetap diwujudkan.

Aku dan kamu tak tau sebenarnya kita ini apa. Kamu melepaskanku, tapi kasihmu tak pernah lepas. Yang bisa aku katakan lagi, jangan sampai terluka lagi, terluka begitu dalam hanya karena untuk menyayangiku. Aku takut akan hal itu. Tanpa diriku kamu sudah bisa terbang sangat tinggi. Sudah berlari begitu jauh. Dan kamu sudah punya kebahagiaan begitu besar.

Dunia ada untukmu, tapi kenapa kamu masih menungguku? Mengulurkan tangan untuk mengangkatku. Memegangiku untuk bisa terbang bersamamu. 
Jangan pernah menantikanku jika itu membuatmu terluka. Seharusnya mungkin kamu sudah sampai pada jalan yang kamu inginkan. 

Tetaplah disana di tempat yang selalu memberimu tawa, jangan kembali hanya untuk menunggu waktu yang lama. Sesuatu yang belum pasti akan bisa datang dan mengejar. Sesuatu yang belum tau apakah akan berhasil atau gugur di tengah jalan.

Terima kasih hari ini, hari-hari sebelumnya dan mungkin hari-hari yang ada di depan. Hadirmu hari ini memberikan makna, membuat hari ini berbeda daripada hari-hari biasanya. Tentu saja aku takkan pernah lupa hari ini. Terima kasih sekali lagi.

Baca selengkapnya

Tuesday, 3 November 2015

Mengetahui Karakter Pasangan Ketika Mendaki Gunung

Perlu diingat bahwa artikel ini dibuat untuk hibura semata :D

Kalian yang hobi mendaki gunung, sudah pernahkan Kamu mendaki bersama pasangan? atau selama ini hanya mendaki seorang diri? haha 
Jika kalian ingin mengetahui karakter dan kepribadian asli dari pasangan kamu, maka ajaklah sekali-kali dia untuk mendaki gunung bersama. Ketika mendaki gunung karakter asli dari manusia akan terlihat.



Berikut ini saya paparkan karakter seorang pasangan ketika di gunung.

- Jika pasanganmu banyak mengeluh dan mengajak pulang, berarti dia adalah orang yang manja dan anak mama haha. Ketauankan kalau tidak mau susah dan bekerja keras.

- Jika pasanganmu tidak mau membantu mendirikan tenda atau memasak, berarti dia adalah seorang yang pemalas. Kalau dimintai bantuan pasti menolak dan beralas-alasan terus.

- Jika pasanganmu menghabiskan makanan dan minuman sendirian, itu berarti dia adalah orang yang pelit dan egois. Dia hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa memikirkan yang lainnya. Baginya yang penting dia kenyang, entah yang lain kelaparan atau tidak dia tidak peduli.

- Jika pasanganmu meninggalkan sampah di gunung, berarti dia adalah orang yang tidak bertanggung jawab, berarti dia adalah orang yang seenaknya sendiri.

- Jika pasanganmu menunggu disampingmu dan selalu membawakan minum atau air ketika kamu lelah dan haus, berarti dia adalah orang yang setia dan peduli terhadapmu.

- Jika pasanganmu membawakan semua barang bawaanmu, berarti dia adalah seorang PORTER wkwkwk. Maaf bercanda, berarti dia adalah orang yang mau berkorban buat dirimu, dia tidak mau melihat pasangannya keberatan membawa barang yang berat.

- Jika pasanganmu membawakan bunga Edelweiss untukmu,berarti dia adalah orang yang tidak peduli pada alam dan perusak alam, dia lebih mementingkan benda dibandingkan pasangannya sendiri.

- Jika pasanganmu ketika kamu pamit mau mendaki gunung bilang gini "Aku gak mau dibawain apa-apa, cukup kamu bisa pulang dengan selamat aja aku udah seneng". Itu berarti pacarmu memang benar-benar sayang dan tulus kepadamu, karena dia lebih mementingkan dirimu dibanding dengan kenangan-kenangan yang didapat dengan cara merusak, atau membahayakan nyawa.


Baca selengkapnya

Wednesday, 7 October 2015

Seperti Yang Kau Minta

Malam ini aku dipaksa menulis lagi oleh hatiku. Mencurahkan segenap hal yang telah terjadi dan ku alami.



Ini bukanlah tentang aku saja, tapi juga dengan dia seseorang yang pernah bersamaku, meskipun itu tak lama atau bisa dibilang singkat saja.
Kenangan itu memaksaku untuk mengingatnya lagi. Entah kenapa itu selalu hadir kembali merasuki pikiranku.

Seperti yang kau minta, aku terus berlari meskipun aku terkadang lelah mengejar apa yang ingin kuraih meski itu jauh dan tak bisa.

Seperti yang kau minta, aku bisa untuk jujur dengan apa yang kurasakan kepadamu meskipun sebenarnya aku tak pernah mempunyai keberanian untuk itu.

Kau selalu bisa menumbuhkan harapan ketika harapan itu hampir mati. Kau buat lelahku hilang dengan cara yang tidak aku tau. Kau hidupkan lagi mimpi-mimpi yang aku sendiri tidak yakin untuk mewujudkannya. Kau buatku yakin akan itu semua. 

Aku tak pernah lelah melakukan hal yang kau bilang percuma. Karena buat aku itu semua bukanlah hal yang percuma. Itu semua hanyalah hal kecil yang bisa kulakukan untuk menunjukkan seberapa besar rasa dan usaha saya untuk mencoba memberi tahumu bahwa kau memang benar-benar spesial dihidupku.

Kau yang telah lama hadir dan baru kemarin aku tahu. Aku kira itu adalah akhir dari perjalanan dan penantianku. Aku begitu lega, tapi ternyata itu semua begitu singkat. Itu semua masih awal yang masih sangat panjang.

Kau selalu melihat bahwa aku berbeda dari yang lain. Aku tak tau apa yang membuatku berbeda. Aku hanya jadi apa yang aku tau dan aku bisa. 

Ketika aku mencoba menjadi seperti yang kau minta, aku tau bahwa itu terlalu sempurna buatku. 

Dan akhirnya seperti yang kau minta, aku harus pergi, aku berusaha untuk tidak lagi berkata sayang. Tidak lagi menunjukkan bahwa aku menyayangi. Berusaha untuk baik-baik saja dan terlihat bahwa tidak pernah terjadi sesuatu yang menyedihkan.

Dari itu semua aku sadar dan tau bahwa ku takkan bisa menjadi seperti yang kau minta. 

Maafkan aku yang tak bisa memahami maksud hatimu. Maaf karena aku telah memasuki kehidupanmu begitu jauh hingga aku tak tau caranya keluar dan pergi. 


Sekali lagi maafkan aku karena tidak bisa menjadi sosok seperti yang kau minta.

Baca selengkapnya

Wednesday, 23 September 2015

Mendaki Gunung Menghargai Hidup!

Mendaki gunung!! Iya inilah yang sekarang menjadi bagian hidup dari orang banyak, tidak hanya saya. Semua rela menghabiskan sebagian waktunya untuk hal yang melelahkan ini. Melelahkan, membahayakan dan entah apalagi, tapi buat saya ini adalah salah satu wujud bagaimana menghargai dan mensyukuri hidup.




Menghargai hidup? Bagaimana bisa dikatakan menghargai hidup, padahal ini membahayakan? Bagi saya hidup ini memang hanyalah sebuah perjalanan dan penantian, menanti hari dimana kita benar-benar harus kembali. Tak ada yang tau dengan cara apa dan dimana kita kembali saat itu nanti. Ini memang membahayakan, membahayakan jika kita tidak pernah mawas diri dan hati-hati. Membahayakan jika kita tidak tahu bagaimana caranya bertingkah yang baik, membahayakan jika kita seenaknya sendiri.


Semua bahaya itu tidak akan pernah terjadi pada kita jika kita bisa bercermin diri. Percayalah bahwa Tuhan selalu bersama mereka, jika mereka mau mengingat Tuhannya. Sedikit sekali mereka yang bisa memahami keadaan seseorang atau keadaan sekitarnya jika ia tidak terjun langsung atau mengalami apa yang dirasakan seseorang dalam kehidupannya.

Pecinta alam atau biasa disebut PA, itulah yang pertama kali orang katakan saat melihat sekelompok orang ini. Dengan ransel berat beban, topi rimba, baju lapangan, dan sepatu gunung yang dekil bercampur lumpur, membuat mereka kelihatan gagah. Hanya sebagian saja yang menatap mereka dengan mata berbinar menyiratkan kekaguman, sementara mayoritas lainnya lebih banyak menyumbangkan cibiran, bingung, malah bukan mustahil kata sinis yang keluar dari mulut mereka sambil berkata dalam hatinya "ngapain capek capek naik gunung, nggak dapat apa-apa cuma dapet capek, kurang kerjaan banget".

Tak sedikit berpendapat seperti itu, tapi bagi saya dan mungkin sekelompok orang yang sepaham tidaklah bergitu. Cobalah tengok ketika mereka memberanikan diri bersatu dengan alam dan belajar serta ditempa oleh alam. Mandiri, percaya diri, kuat, dan tak pernah menyerah mengalir dalam jiwa mereka. Adrenaline yang normal seketika naik hanya untuk menjawab golongan mereka yang tak henti-henti mencibir. Membuktikan bahwa kita berbeda dari mereka yang hanya bisa membual tapi lemah!!

Peduli pada alam membuat kita dan siapapun itu akan lebih peduli pada saudaranya, tetangganya, bahkan seorang musuh sendiri. Bagaimana tidak, di alam kita diajarkan berbagi meski berbekal kekurangan. Punya sedikit air, makanan, selalu dibagikan dengan ketulusan pada mereka orang lain yang bukan siapa-siapa. Belum kenal dan baru pertama ketemu, entah nanti cukup atau tidak, semua tidak dipedulikan. Semua hanya tentang bagaimana kita bisa berbagi pada mereka yang membutuhkan meskipun kita sendiri penuh keterbatasan.


Menghargai dan meyakini kebesaran Tuhan, menyayangi sesama dan percaya pada diri sendiri, itulah kunci yang dimiliki oleh orang-orang yang kerap disebut petualang ini. Mendaki gunung bukan berarti menaklukkan alam ini, tapi bagaimana kita menaklukkan diri sendiri dari keegoisan pribadi. Mendaki gunung adalah tentang kebersamaan, persaudaraan, pengorbanan dan saling ketergantungan antar sesama.

Dan menjadi salah satu dari mereka bukanlah hal yang mudah. Terlebih lagi oleh pandangan masyarakat yang berpikiran negatif terhadap dampak kegiatan ini. Kebakaran, kerusakan lingkungan, kekotoran, dan masih banyak lagi tentang hal negatif yang mereka pikirkan terhadap apa yang kita telah perbuat. Kita sangat kecewa dan menyesalkan atas pemikiran seperti itu, kita sangat menyesalkan atas mereka yang mengaku pecinta alam tapi tidak bisa merawat alam ini. Jangankan merawat, hanya sekedar menjaga saja itu sudah cukup. 

Sekarang ini kebakaran di gunung terjadi dimana-mana, siapa yang disalahkan kalau bukan kita sebagai pendaki gunung. Meskipun kita atas nama pendaki gunung tidak pernah melakukannya dan tidak tau apa-apa. Jika itu perbuatan kita, maka kita bukanlah seorang pendaki atau pecinta alam, tapi mungkin kita adalah bagian dari mereka yang selalu mengeklaim dirinya sebagai pecinta ala.

Memang sangat disayangkan, karena itu hanya menambah citra pendaki menjadi lebih buruk lagi.

Menjadi seperti mereka tak mudahkan? Berusaha menjaga dan mencintai alam tapi selalu dipandang rendah dan negatif. Belum lagi atas pemikiran yang menyinggung soal kematian yang memang tampak lebih dekat pada kita dan mereka yang sering terjun di alam bebas. "Mati muda yang sia-sia", begitulah komentar mereka saat mendengar atau membaca anak muda yang tewas di gunung. Padahal di awal tadi saya sudah mengatakan, bahwa tidak ada yang tau dengan cara apa dan dimana kita harus kembali. Gunung dan alam hanyalah satu dari sekian alternatif dari suratan takdir. Tidak di gunung pun kalau mau mati ya mati. Kalau selamanya kita harus takut pada kematian, mungkin selamanya juga bisa dianggap kita tidak pernah hidup. Kita tidak akan mengenal dunia ini.

Di puncak gunung kaki kita berpijak, memandang langit yang dekat, mengagumi dan mensyukuri keindahan oleh Sang Pencipta. Di alam disanalah tempat paling damai dan abadi. Dekat dengan Tuhan dan tempat dimana keyakinan diri yang kuat. Jiwa yang penuh semangat dan selalu gembira. Saat kaki menginjak ketinggian, tanpa sadar kita hanya bisa berucap bahwa alam memang telah menjawab kebesaran Tuhan. Disanlah pembuktian diri dari pribadi yang egois dan manja menjadi seorang yang mandiri dan percaya pada kemampuan diri sendiri. Rasa takut, cemas, gusar, gundah, lelah dan terkadang rindu rumah memang tetap ada, tapi dihadapkan pada kokohnya sebuah gunung yang tak mengenal apa itu rasa yang menghinggapi kita anak manusia.

Gunung itu memang curam, tapi ia lembut. Gunung itu memang terjal, tapi ia ramah dengan membiarkan tubuhnya diinjak-injak dan walaupun terkadang dikotori dan disakiti. Ada banyak luka di tangan, ada begitu besar kelelahan di kaki, ada rasa haus yang menggayut di kerongkongan, ada tanjakan yang seperti tak ada habisnya, ada rasa putus asa yang selalu mencemari hati. Tapi semuanya itu menjadi tak sepadan dan tak ada artinya sama sekali saat kaki menginjak ketinggian. Puncak gunung menjadi puncak dari segala puncak. Puncak rasa cemas, puncak kelelahan dan puncak rasa haus serta lapar. Tapi kemudian semua rasa itu lenyap bersama tirisnya angin pegunungan.

Lukisan kehidupan pagi Sang Maha Pencipta di puncak gunung tidak bisa diucapkan oleh kata-kata. Semuanya cuma tertoreh dalam jiwa, dalam hati. Usai menikmati sebuah perjuangan untuk mengalahkan diri sendiri sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri, rasanya sedikit mengangkat dagu rasanya masih sah-sah saja. Hanya saja jangan terus-terusan mengangkat dagu, karena walau bagaimanapun gunung itu masih tetap kokoh di tempatnya berdiri. Tetap menjadi paku bumi, bersahaja, dan gagah. Sementara manusia hanya akan kembali ke urat akar dimana dia hidup.

Menghargai hidup adalah salah satu hal yang kita peroleh dari mendaki gunung. Betapa hidup itu mahal, betapa hidup itu ternyata terdiri dari berbagai pilihan, dimana kita harus mampu memilihnya meski dalam kondisi terdesak. Satu kali mendaki satu kali pula menghargai hidup. Dua kali mendaki dua kali pula menghargai hidup dan begitu seterusnya.

Hanya seorang yang bergelut dengan alamlah yang mengerti dan paham bagaimana rasanya mengendalikan diri dalam tekanan mental dan fisik, mengendalikan dari segala keterbatasan, juga bagaimana berubah menjadi seorang bunda yang tidak ada henti-hentinya memberikan rasa kasih sayangnya.

Kalau golongan mayoritas masih terus saja berpendapat minor soal kita dan mereka, maka biarkan sajalah karena siapapun orang yang berpendapat bahwa kegiatan ini hanya mengantarkan nyawa saja, bahwa kegiatan ini hanya sia-sia. Mereka cuma tak paham bahwa ada satu cara dimana mereka tidak bisa mengerti dan merasakannya.


Baca selengkapnya

Wednesday, 9 September 2015

Seorang Petualang

Petualang.. seseorang yang mengorbankan waktu demi menyempatkan diri menjelajah alam. Seseorang yang naif dan nekat dengan keluguannya melakukan perjalanan kemana yang dia mau seoalah tiada arang melintang. Tapi karena kenekatannyalah dia sampai ke tempat dimana dia tuju.



Petualang adalah orang yang suka dan selalu berangan-angan. Lamunannya melampaui batas langit dan cakrawala, menggantung di udara. Tapi karena lamunan dan angan-angan itulah manusia menginjakkan kaki di bulan.

Karena mereka para petualanglah dunia terbuka. Berkat para petualang dunia dan segala isinya terkuak. Berkat mereka manusia saling mengenal satu sama lain.

Petualangan dimulai ketika bumi mulai diciptakan entah bagaimana bentuknya. Ketika manusia dilahirkan dan diberi kehidupan. Penjelajahan dimulai ketika tidak ada satu petunjukpun untuk mencapai tujuan. 

Dunia ini masih penuh dengan rahasia, dan mereka para petualanglah yang membuka rahasia alam itu.

Petualang adalah orang-orang yang romantis. Dia resapi, dia puja, dia pelihara, dia cintai sepenuh hati, dia jadikan puisi-puisi indah, dia jadikan lukisan yang cantik alam yang mereka kunjungi. Bukan hanya menikmatinya, tapi menyentuhnya dengan kelembutan dan kecintaan. 

Petualang yang santun adalah ketika dia datang dan pergi tanpa meninggalkan bekas. Petualang yang ramah dan selalu menyapa setiap orang yang dia temui.

Mengapa mereka melakukan petualangan yang penuh resiko? Karena ada keinginan yang menggelora untuk melihatnya. Penderitaan dalam perjalanan tidak akan menghentikan langkahnya untuk mendapat sebuah kepuasan batin. 

Petualang adalah mereka yang berani mengorbankan nyawanya demi mencapai apa yang mereka tuju. Mengulurkan tangannya untuk menolong teman, berbagi sedikit air atau makanan meskipun tidak punya banyak bekal.

Petualang yang sukses adalah dia yang berhasil kembali pulang dengan selamat. Tujuan bukanlah segalanya. Karena petualangan adalah sebuah proses sejak langkah pertama, kedua, sampai langkah terakhir. Bukan semata-mata sampai di tempat yang di tuju.

Proses akan membentuk petualang menjadi manusia yang mawas diri, setia kawan, bertanggung jawab, berjiwa besar, pemberani dan penyayang.

Petualang adalah mereka yang menjadi wakil bagi banyak orang yang tidak mendapat kesempatan mengunjunginya. Dan oleh karena itu mereka menuliskandan merekamnya untuk orang-orang yang tidak mendapat kesempatan itu. Itulah peran mulia seorang petualang dan penjelajah.


Baca selengkapnya

Thursday, 3 September 2015

Mendaki, Antara Mencintai Atau Hanya Sekedar Menikmati

Mendaki gunung saat ini telah menjadi hobi baru dikalangan masyarakat entah anak muda, remaja dan orang dewasa. Apalagi semenjak munculnya film 5 cm yang disitu memperlihatkan pengambilan angle lanskap dari Mahameru yang membuat hati orang yang melihat menjadi berdesir, dengan footage-footage yang membangkitkan hasrat untuk berpetualang. Dan setelah itu antrian dan rombongan orang yang berbondong-bondong ingin mendaki gunung. 

View yang disebut samudera di atas awan yang hanya bisa ditemukan di tempat tinggi seperti puncak gunung adalah alasan terbesar bagi mereka yang ingin melakukan aktivitas ini. Gunung menjadi tujuan utama sekaligus serbuan mereka yang ingin menikmatinya. Sampai-sampai pemandangan berganti menjadi lautan manusia karena begitu banyaknya mereka yang datang berbondong-bondong.




Mendaki gunung sekarang seperti menjadi sebuah trend, banyak diantara mereka datang hanya karena ingin berfoto selfie dan menikmati saja. Setelah itu mereka turun dengan meninggalkan banyak sampah.

Banyak juga diantara mereka hanya sekedar asal naik gunung tanpa melakukan persiapan yang matang. Alhasil banyak dari mereka yang terpaksa harus ditandu turun oleh timsar. 

Mereka lupa bahwa tujuan utama mendaki gunung adalah untuk belajar dari alam. Belajar menjadi orang yang kuat dalam menjalani hidup, belajar lebih bertanggung jawab dari hal-hal kecil, belajar menjadi orang yang bisa memanajemen waktu dan sesuatu yang kita punya. Belajar banyak hal yang tidak didapatkan ditempat lain.

Apakah itu mendaki gunung jika hanya main-main. Mendaki bukan permainan karena nyawa bisa menjadi taruhan. Jika alasan Anda mendaki karena mencintai alam ini, mana bukti kecintaan Anda pada alam? Pada kenyataannya tidak ada wujud yang bisa Anda katakan dengan mencintai alam. Setidaknya tunjukkan hal kecil seperti paling tidak bawalah sampahmu sendiri turun kalau tidak mau membawa sampah orang lain. Jangan rusak atau tebang segala sesuatu yang ada di alam.

Tinggalkanlah rasa manja karena alam bukan seperti di rumah yang semuanya serba ada dan instan. Disini juga bukan tempat untuk bermain, tapi tempat kita menuntut ilmu dari alam. Tempat kita berkaca diri siapa kita di dunia ini. Tempat kita untuk sadar bahwa alam yang begitu indah ini lama-lama akan hilang dan tak ada lagi keindahan jika kita tidak bisa menjaganya.

Sampai kapan kita hanya menjadi orang yang mementingkan kesenangan sendiri. Sampai kapan kita menganggap diri kita adalah raja yang bebas semaunya. Sudah saatnya kita mengerti dan tidak hanya berdiam diri melihat alam yang menangis dan berteriak meminta pertolongan. 

Ketika api dan panas membakarnya dan menghanguskannya tanpa tersisa kehijauan. Salah siapa bila bukan salah kita sendiri yang selalu mengatakan pada semuanya kalau kita mencintai alam ini. Kasihanilah mereka yang selalu berusaha untuk menjaga alam ini dan bersedia mengabdikan hidupnya untuk alam. 

Mulai dari awal, tekankan lagi apa niat kita mendaki? Jangan lagi ada yang namanya kebakaran akibat api unggun yang tidak mati, kebakaran akibat putung rokok yang kita buang. Jangan ada lagi korban karena kecerobohan dan ketidak hati-hatian. Jangan ada lagi sampah yang menggunung karena gunung bukan tempat sampah. Jangan ada lagi kesombongan dalam diri kalau kita manusia yang punya segalanya.

Mencintailah dari hal kecil jika tidak bisa mewujudkannya dari hal besar. Karena dengan mencintai yang sebenarnya, kita bisa menikmati hasil dari kita mencintai.


Baca selengkapnya