Wednesday, 7 October 2015

Seperti Yang Kau Minta

Malam ini aku dipaksa menulis lagi oleh hatiku. Mencurahkan segenap hal yang telah terjadi dan ku alami.



Ini bukanlah tentang aku saja, tapi juga dengan dia seseorang yang pernah bersamaku, meskipun itu tak lama atau bisa dibilang singkat saja.
Kenangan itu memaksaku untuk mengingatnya lagi. Entah kenapa itu selalu hadir kembali merasuki pikiranku.

Seperti yang kau minta, aku terus berlari meskipun aku terkadang lelah mengejar apa yang ingin kuraih meski itu jauh dan tak bisa.

Seperti yang kau minta, aku bisa untuk jujur dengan apa yang kurasakan kepadamu meskipun sebenarnya aku tak pernah mempunyai keberanian untuk itu.

Kau selalu bisa menumbuhkan harapan ketika harapan itu hampir mati. Kau buat lelahku hilang dengan cara yang tidak aku tau. Kau hidupkan lagi mimpi-mimpi yang aku sendiri tidak yakin untuk mewujudkannya. Kau buatku yakin akan itu semua. 

Aku tak pernah lelah melakukan hal yang kau bilang percuma. Karena buat aku itu semua bukanlah hal yang percuma. Itu semua hanyalah hal kecil yang bisa kulakukan untuk menunjukkan seberapa besar rasa dan usaha saya untuk mencoba memberi tahumu bahwa kau memang benar-benar spesial dihidupku.

Kau yang telah lama hadir dan baru kemarin aku tahu. Aku kira itu adalah akhir dari perjalanan dan penantianku. Aku begitu lega, tapi ternyata itu semua begitu singkat. Itu semua masih awal yang masih sangat panjang.

Kau selalu melihat bahwa aku berbeda dari yang lain. Aku tak tau apa yang membuatku berbeda. Aku hanya jadi apa yang aku tau dan aku bisa. 

Ketika aku mencoba menjadi seperti yang kau minta, aku tau bahwa itu terlalu sempurna buatku. 

Dan akhirnya seperti yang kau minta, aku harus pergi, aku berusaha untuk tidak lagi berkata sayang. Tidak lagi menunjukkan bahwa aku menyayangi. Berusaha untuk baik-baik saja dan terlihat bahwa tidak pernah terjadi sesuatu yang menyedihkan.

Dari itu semua aku sadar dan tau bahwa ku takkan bisa menjadi seperti yang kau minta. 

Maafkan aku yang tak bisa memahami maksud hatimu. Maaf karena aku telah memasuki kehidupanmu begitu jauh hingga aku tak tau caranya keluar dan pergi. 


Sekali lagi maafkan aku karena tidak bisa menjadi sosok seperti yang kau minta.

Baca selengkapnya

Wednesday, 23 September 2015

Mendaki Gunung Menghargai Hidup!

Mendaki gunung!! Iya inilah yang sekarang menjadi bagian hidup dari orang banyak, tidak hanya saya. Semua rela menghabiskan sebagian waktunya untuk hal yang melelahkan ini. Melelahkan, membahayakan dan entah apalagi, tapi buat saya ini adalah salah satu wujud bagaimana menghargai dan mensyukuri hidup.




Menghargai hidup? Bagaimana bisa dikatakan menghargai hidup, padahal ini membahayakan? Bagi saya hidup ini memang hanyalah sebuah perjalanan dan penantian, menanti hari dimana kita benar-benar harus kembali. Tak ada yang tau dengan cara apa dan dimana kita kembali saat itu nanti. Ini memang membahayakan, membahayakan jika kita tidak pernah mawas diri dan hati-hati. Membahayakan jika kita tidak tahu bagaimana caranya bertingkah yang baik, membahayakan jika kita seenaknya sendiri.


Semua bahaya itu tidak akan pernah terjadi pada kita jika kita bisa bercermin diri. Percayalah bahwa Tuhan selalu bersama mereka, jika mereka mau mengingat Tuhannya. Sedikit sekali mereka yang bisa memahami keadaan seseorang atau keadaan sekitarnya jika ia tidak terjun langsung atau mengalami apa yang dirasakan seseorang dalam kehidupannya.

Pecinta alam atau biasa disebut PA, itulah yang pertama kali orang katakan saat melihat sekelompok orang ini. Dengan ransel berat beban, topi rimba, baju lapangan, dan sepatu gunung yang dekil bercampur lumpur, membuat mereka kelihatan gagah. Hanya sebagian saja yang menatap mereka dengan mata berbinar menyiratkan kekaguman, sementara mayoritas lainnya lebih banyak menyumbangkan cibiran, bingung, malah bukan mustahil kata sinis yang keluar dari mulut mereka sambil berkata dalam hatinya "ngapain capek capek naik gunung, nggak dapat apa-apa cuma dapet capek, kurang kerjaan banget".

Tak sedikit berpendapat seperti itu, tapi bagi saya dan mungkin sekelompok orang yang sepaham tidaklah bergitu. Cobalah tengok ketika mereka memberanikan diri bersatu dengan alam dan belajar serta ditempa oleh alam. Mandiri, percaya diri, kuat, dan tak pernah menyerah mengalir dalam jiwa mereka. Adrenaline yang normal seketika naik hanya untuk menjawab golongan mereka yang tak henti-henti mencibir. Membuktikan bahwa kita berbeda dari mereka yang hanya bisa membual tapi lemah!!

Peduli pada alam membuat kita dan siapapun itu akan lebih peduli pada saudaranya, tetangganya, bahkan seorang musuh sendiri. Bagaimana tidak, di alam kita diajarkan berbagi meski berbekal kekurangan. Punya sedikit air, makanan, selalu dibagikan dengan ketulusan pada mereka orang lain yang bukan siapa-siapa. Belum kenal dan baru pertama ketemu, entah nanti cukup atau tidak, semua tidak dipedulikan. Semua hanya tentang bagaimana kita bisa berbagi pada mereka yang membutuhkan meskipun kita sendiri penuh keterbatasan.


Menghargai dan meyakini kebesaran Tuhan, menyayangi sesama dan percaya pada diri sendiri, itulah kunci yang dimiliki oleh orang-orang yang kerap disebut petualang ini. Mendaki gunung bukan berarti menaklukkan alam ini, tapi bagaimana kita menaklukkan diri sendiri dari keegoisan pribadi. Mendaki gunung adalah tentang kebersamaan, persaudaraan, pengorbanan dan saling ketergantungan antar sesama.

Dan menjadi salah satu dari mereka bukanlah hal yang mudah. Terlebih lagi oleh pandangan masyarakat yang berpikiran negatif terhadap dampak kegiatan ini. Kebakaran, kerusakan lingkungan, kekotoran, dan masih banyak lagi tentang hal negatif yang mereka pikirkan terhadap apa yang kita telah perbuat. Kita sangat kecewa dan menyesalkan atas pemikiran seperti itu, kita sangat menyesalkan atas mereka yang mengaku pecinta alam tapi tidak bisa merawat alam ini. Jangankan merawat, hanya sekedar menjaga saja itu sudah cukup. 

Sekarang ini kebakaran di gunung terjadi dimana-mana, siapa yang disalahkan kalau bukan kita sebagai pendaki gunung. Meskipun kita atas nama pendaki gunung tidak pernah melakukannya dan tidak tau apa-apa. Jika itu perbuatan kita, maka kita bukanlah seorang pendaki atau pecinta alam, tapi mungkin kita adalah bagian dari mereka yang selalu mengeklaim dirinya sebagai pecinta ala.

Memang sangat disayangkan, karena itu hanya menambah citra pendaki menjadi lebih buruk lagi.

Menjadi seperti mereka tak mudahkan? Berusaha menjaga dan mencintai alam tapi selalu dipandang rendah dan negatif. Belum lagi atas pemikiran yang menyinggung soal kematian yang memang tampak lebih dekat pada kita dan mereka yang sering terjun di alam bebas. "Mati muda yang sia-sia", begitulah komentar mereka saat mendengar atau membaca anak muda yang tewas di gunung. Padahal di awal tadi saya sudah mengatakan, bahwa tidak ada yang tau dengan cara apa dan dimana kita harus kembali. Gunung dan alam hanyalah satu dari sekian alternatif dari suratan takdir. Tidak di gunung pun kalau mau mati ya mati. Kalau selamanya kita harus takut pada kematian, mungkin selamanya juga bisa dianggap kita tidak pernah hidup. Kita tidak akan mengenal dunia ini.

Di puncak gunung kaki kita berpijak, memandang langit yang dekat, mengagumi dan mensyukuri keindahan oleh Sang Pencipta. Di alam disanalah tempat paling damai dan abadi. Dekat dengan Tuhan dan tempat dimana keyakinan diri yang kuat. Jiwa yang penuh semangat dan selalu gembira. Saat kaki menginjak ketinggian, tanpa sadar kita hanya bisa berucap bahwa alam memang telah menjawab kebesaran Tuhan. Disanlah pembuktian diri dari pribadi yang egois dan manja menjadi seorang yang mandiri dan percaya pada kemampuan diri sendiri. Rasa takut, cemas, gusar, gundah, lelah dan terkadang rindu rumah memang tetap ada, tapi dihadapkan pada kokohnya sebuah gunung yang tak mengenal apa itu rasa yang menghinggapi kita anak manusia.

Gunung itu memang curam, tapi ia lembut. Gunung itu memang terjal, tapi ia ramah dengan membiarkan tubuhnya diinjak-injak dan walaupun terkadang dikotori dan disakiti. Ada banyak luka di tangan, ada begitu besar kelelahan di kaki, ada rasa haus yang menggayut di kerongkongan, ada tanjakan yang seperti tak ada habisnya, ada rasa putus asa yang selalu mencemari hati. Tapi semuanya itu menjadi tak sepadan dan tak ada artinya sama sekali saat kaki menginjak ketinggian. Puncak gunung menjadi puncak dari segala puncak. Puncak rasa cemas, puncak kelelahan dan puncak rasa haus serta lapar. Tapi kemudian semua rasa itu lenyap bersama tirisnya angin pegunungan.

Lukisan kehidupan pagi Sang Maha Pencipta di puncak gunung tidak bisa diucapkan oleh kata-kata. Semuanya cuma tertoreh dalam jiwa, dalam hati. Usai menikmati sebuah perjuangan untuk mengalahkan diri sendiri sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri, rasanya sedikit mengangkat dagu rasanya masih sah-sah saja. Hanya saja jangan terus-terusan mengangkat dagu, karena walau bagaimanapun gunung itu masih tetap kokoh di tempatnya berdiri. Tetap menjadi paku bumi, bersahaja, dan gagah. Sementara manusia hanya akan kembali ke urat akar dimana dia hidup.

Menghargai hidup adalah salah satu hal yang kita peroleh dari mendaki gunung. Betapa hidup itu mahal, betapa hidup itu ternyata terdiri dari berbagai pilihan, dimana kita harus mampu memilihnya meski dalam kondisi terdesak. Satu kali mendaki satu kali pula menghargai hidup. Dua kali mendaki dua kali pula menghargai hidup dan begitu seterusnya.

Hanya seorang yang bergelut dengan alamlah yang mengerti dan paham bagaimana rasanya mengendalikan diri dalam tekanan mental dan fisik, mengendalikan dari segala keterbatasan, juga bagaimana berubah menjadi seorang bunda yang tidak ada henti-hentinya memberikan rasa kasih sayangnya.

Kalau golongan mayoritas masih terus saja berpendapat minor soal kita dan mereka, maka biarkan sajalah karena siapapun orang yang berpendapat bahwa kegiatan ini hanya mengantarkan nyawa saja, bahwa kegiatan ini hanya sia-sia. Mereka cuma tak paham bahwa ada satu cara dimana mereka tidak bisa mengerti dan merasakannya.


Baca selengkapnya

Wednesday, 9 September 2015

Seorang Petualang

Petualang.. seseorang yang mengorbankan waktu demi menyempatkan diri menjelajah alam. Seseorang yang naif dan nekat dengan keluguannya melakukan perjalanan kemana yang dia mau seoalah tiada arang melintang. Tapi karena kenekatannyalah dia sampai ke tempat dimana dia tuju.



Petualang adalah orang yang suka dan selalu berangan-angan. Lamunannya melampaui batas langit dan cakrawala, menggantung di udara. Tapi karena lamunan dan angan-angan itulah manusia menginjakkan kaki di bulan.

Karena mereka para petualanglah dunia terbuka. Berkat para petualang dunia dan segala isinya terkuak. Berkat mereka manusia saling mengenal satu sama lain.

Petualangan dimulai ketika bumi mulai diciptakan entah bagaimana bentuknya. Ketika manusia dilahirkan dan diberi kehidupan. Penjelajahan dimulai ketika tidak ada satu petunjukpun untuk mencapai tujuan. 

Dunia ini masih penuh dengan rahasia, dan mereka para petualanglah yang membuka rahasia alam itu.

Petualang adalah orang-orang yang romantis. Dia resapi, dia puja, dia pelihara, dia cintai sepenuh hati, dia jadikan puisi-puisi indah, dia jadikan lukisan yang cantik alam yang mereka kunjungi. Bukan hanya menikmatinya, tapi menyentuhnya dengan kelembutan dan kecintaan. 

Petualang yang santun adalah ketika dia datang dan pergi tanpa meninggalkan bekas. Petualang yang ramah dan selalu menyapa setiap orang yang dia temui.

Mengapa mereka melakukan petualangan yang penuh resiko? Karena ada keinginan yang menggelora untuk melihatnya. Penderitaan dalam perjalanan tidak akan menghentikan langkahnya untuk mendapat sebuah kepuasan batin. 

Petualang adalah mereka yang berani mengorbankan nyawanya demi mencapai apa yang mereka tuju. Mengulurkan tangannya untuk menolong teman, berbagi sedikit air atau makanan meskipun tidak punya banyak bekal.

Petualang yang sukses adalah dia yang berhasil kembali pulang dengan selamat. Tujuan bukanlah segalanya. Karena petualangan adalah sebuah proses sejak langkah pertama, kedua, sampai langkah terakhir. Bukan semata-mata sampai di tempat yang di tuju.

Proses akan membentuk petualang menjadi manusia yang mawas diri, setia kawan, bertanggung jawab, berjiwa besar, pemberani dan penyayang.

Petualang adalah mereka yang menjadi wakil bagi banyak orang yang tidak mendapat kesempatan mengunjunginya. Dan oleh karena itu mereka menuliskandan merekamnya untuk orang-orang yang tidak mendapat kesempatan itu. Itulah peran mulia seorang petualang dan penjelajah.


Baca selengkapnya

Thursday, 3 September 2015

Mendaki, Antara Mencintai Atau Hanya Sekedar Menikmati

Mendaki gunung saat ini telah menjadi hobi baru dikalangan masyarakat entah anak muda, remaja dan orang dewasa. Apalagi semenjak munculnya film 5 cm yang disitu memperlihatkan pengambilan angle lanskap dari Mahameru yang membuat hati orang yang melihat menjadi berdesir, dengan footage-footage yang membangkitkan hasrat untuk berpetualang. Dan setelah itu antrian dan rombongan orang yang berbondong-bondong ingin mendaki gunung. 

View yang disebut samudera di atas awan yang hanya bisa ditemukan di tempat tinggi seperti puncak gunung adalah alasan terbesar bagi mereka yang ingin melakukan aktivitas ini. Gunung menjadi tujuan utama sekaligus serbuan mereka yang ingin menikmatinya. Sampai-sampai pemandangan berganti menjadi lautan manusia karena begitu banyaknya mereka yang datang berbondong-bondong.




Mendaki gunung sekarang seperti menjadi sebuah trend, banyak diantara mereka datang hanya karena ingin berfoto selfie dan menikmati saja. Setelah itu mereka turun dengan meninggalkan banyak sampah.

Banyak juga diantara mereka hanya sekedar asal naik gunung tanpa melakukan persiapan yang matang. Alhasil banyak dari mereka yang terpaksa harus ditandu turun oleh timsar. 

Mereka lupa bahwa tujuan utama mendaki gunung adalah untuk belajar dari alam. Belajar menjadi orang yang kuat dalam menjalani hidup, belajar lebih bertanggung jawab dari hal-hal kecil, belajar menjadi orang yang bisa memanajemen waktu dan sesuatu yang kita punya. Belajar banyak hal yang tidak didapatkan ditempat lain.

Apakah itu mendaki gunung jika hanya main-main. Mendaki bukan permainan karena nyawa bisa menjadi taruhan. Jika alasan Anda mendaki karena mencintai alam ini, mana bukti kecintaan Anda pada alam? Pada kenyataannya tidak ada wujud yang bisa Anda katakan dengan mencintai alam. Setidaknya tunjukkan hal kecil seperti paling tidak bawalah sampahmu sendiri turun kalau tidak mau membawa sampah orang lain. Jangan rusak atau tebang segala sesuatu yang ada di alam.

Tinggalkanlah rasa manja karena alam bukan seperti di rumah yang semuanya serba ada dan instan. Disini juga bukan tempat untuk bermain, tapi tempat kita menuntut ilmu dari alam. Tempat kita berkaca diri siapa kita di dunia ini. Tempat kita untuk sadar bahwa alam yang begitu indah ini lama-lama akan hilang dan tak ada lagi keindahan jika kita tidak bisa menjaganya.

Sampai kapan kita hanya menjadi orang yang mementingkan kesenangan sendiri. Sampai kapan kita menganggap diri kita adalah raja yang bebas semaunya. Sudah saatnya kita mengerti dan tidak hanya berdiam diri melihat alam yang menangis dan berteriak meminta pertolongan. 

Ketika api dan panas membakarnya dan menghanguskannya tanpa tersisa kehijauan. Salah siapa bila bukan salah kita sendiri yang selalu mengatakan pada semuanya kalau kita mencintai alam ini. Kasihanilah mereka yang selalu berusaha untuk menjaga alam ini dan bersedia mengabdikan hidupnya untuk alam. 

Mulai dari awal, tekankan lagi apa niat kita mendaki? Jangan lagi ada yang namanya kebakaran akibat api unggun yang tidak mati, kebakaran akibat putung rokok yang kita buang. Jangan ada lagi korban karena kecerobohan dan ketidak hati-hatian. Jangan ada lagi sampah yang menggunung karena gunung bukan tempat sampah. Jangan ada lagi kesombongan dalam diri kalau kita manusia yang punya segalanya.

Mencintailah dari hal kecil jika tidak bisa mewujudkannya dari hal besar. Karena dengan mencintai yang sebenarnya, kita bisa menikmati hasil dari kita mencintai.


Baca selengkapnya

Tuesday, 25 August 2015

Teruntuk Temanku Yang Kini Tak Lagi Bisa Bersamaku Menjelajahi Alam Ini

Apa kabarmu kawanku yang sering kali berjalan bersamaku menjelajahi alam ini? Masih ingatkah dengan semua yang pernah kita lewati?



Banyak kisah yang pernah kita lewati dan banyak dari hal itu yang bisa kita tuliskan menjadi sebuah cerita. Ingatkah saat pertama kali kita mendaki bersama? Ingatkah pada perjalanan jauh yang pernah kita lalui? Betapa nekadnya kita waktu itu, hanya dengan bersepeda motor berdua kita harus menempuh ratusan kilometer dari Jawa sampai ke Lombok.

Kalau mengingat hal itu mungkin masih terbayang dan tidak menyangka kita senekad itu. Atau bahkan mungkin jika disuruh mengulangi lagi serasa tidak mungkin dan terasa berat.

Kawan.. Kini aku telah berjalan sendiri, memang mungkin masih banyak teman yang lain, tapi disaat kau memutuskan untuk beristirahat, aku merasa kebersamaan ini mulai berkurang. Tidak ada lagi sosok dirimu yang menemani ketika harus berjalan nan jauh dan melelahkan. Tidak ada mentari pagi yang kita sambut bersama. Tak ada lagi bukit-bukit yang bisa kita tanjaki. Bahkan meskipun matahari tenggelam takkan habis kita eksplorasi, tapi kebersamaan menikmatinya lah yang saat ini mungkin akan sulit terulang lagi. 

Suatu saat jika kau ingin kembali lagi, aku selalu disini bersama mereka kawan-kawan kita. Yah tentunya mungkin dengan sosok seorang yang kau bawa untuk kau ajak menikmati indahnya pertiwi disampingmu. Tak lagi seorang diri, tapi sudah ada sosok seorang wanita yang akan kau lindungi. Bersamanya akan kau jalani semua yang belum pernah kau lalui bersamaku. Menikmati kebersamaan dengan seseorang yang akan selamanya menemani hidupmu di bawah langit berbintang ranu kumbolo. Perjalanan benar-benar dengan seorang teman, teman hidup, teman sejati, teman yang setiap saat akan selalu ada di dekatmu, teman selamanya yang akan menghabiskan sisa hidupnya bersamamu dan dengan para mereka penerus langkahmu. Seperti yang selalu kita bicarakan dan mimpikan dulu kan? :D



Teman.. jalan ini masih teramat panjang. Masih banyak yang perlu dilalui. Jalanku belum bisa berhenti disini kawan, aku harus tetap melangkah untuk mencapai apa yang belum aku tuju. Meskipun suatu saat aku juga pasti akan berhenti dan beristirahat seperti dirimu.

Perjalanan selanjutnya mungkin tidak ada lagi engkau. Tapi percayalah bahwa semangat dan tekadmu selalu disini menemani setiap perjalanan yang akan aku lalui tanpamu. 

Aku percaya bahwa jiwamu tak pernah lelah dan mati pada alam ini. Cintamu akan tetap ada sampai suatu saat kau akan sesekali kembali kesini untuk mengajakku menjelajah lagi. Tentunya dengan keadaan baru kan? dimana sudah ada dia seorang Riani yang selalu kita cari. haha iya kan.. 



Masih ingat kan kau dengan Riani? Karena terlalu mengayal dan mengagumi sosok wanita di film 5 cm menjadikan sebutan Riani itu ada. Sebutan untuk seorang wanita yang nantinya akan menjadi seorang teman perjalanan ketika mendaki dan tentunya juga dalam menjalani hidup. Kamu sudah menemukannya kan sekarang? 


Terima kasih teman, terima kasih atas waktu yang kau sisikan disela kesibukanmu. Terima kasih atas kesempatan berdiri disana di puncak yang kita impi-impikan. Terima kasih atas perjalanan panjang yang tak akan pernah kita lupakan di sisa-sisa nafas panjang ini. Semuanya akan tetap terkenang dan teringat sebagai cerita untuk anak-anak kita nanti. Sampai jumpa di perjalanan panjang lainnya. 





Baca selengkapnya

Egoisme Musuh Di Alam Bebas

Tulisan lama yang masih layak direnungkan..Dunia alam bebas kembali berduka, siapa yang tidak sedih ketika kembali ada korban yang jatuh di alam bebas. Satu kabar duka tersebut berasal dari Puncak Gunung Merapi, di mana seorang pendaki jatuh ke dalam kawah. Konon si pendaki yang ingin berfoto di puncak, mendadak terpeleset ketika turun dan terjun bebas ke arah kawah.


Kondisi ini memilukan dan sebenarnya bisa saja tidak terjadi.
Cerita lalu simpang siur, ada yang bilang karena ingin berfoto selfie di atas puncak, ada yang bilang juga karena ragu-ragu untuk turun. Namun apa lacur, nasi sudah menjadi bubur, ada pendaki yang sudah gugur. Dan ada duka yang hadir di tengah-tengah kita.

Saya turut berduka, bagaimanapun mencapai puncak butuh keberanian yang tidak semua orang mampu lakukan. Kejadian ini, duka ini bisa menjadi pengingat agar tidak terjadi kejadian yang serupa.

Ada sesuatu yang salah, yang menggejala sekarang di alam bebas. Yang salah adalah egoisme manusia yang makin membesar. Mari kita berkaca, agar ke depan tidak ada lagi kabar duka.

Sesungguhnya apa yang ingin dicapai saat mendaki gunung? Puncak? Sampai puncak lantas berfoto untuk menunjukkan bahwa mencapai puncak adalah sebuah pencapaian? Saya tidak tahu, mungkin demi tren?
Tidak ada yang salah berfoto di puncak gunung, yang salah adalah pola pikir bahwa puncak itu harus dicapai oleh tiap pendaki.

Mencapai puncak, menggapai kejayaan justru menjadikan perjalanan menjadi sebuah ajang penaklukkan. Alih-alih menikmati perjalanan, lambat laun orang-orang akan beralih untuk mencapai tempat tertentu, targetnya adalah menaklukkan tujuan. Lama-lama gunung hanya menjadi simbol penaklukkan, simbol keperkasaan manusia, simbol sang penakluk.

Egoisme dalam bentuk narsisme semakin menjemukan. Orang-orang semakin mudah naik ke gunung tapi orang-orang juga semakin melupakan attitude. Beruntunglah pendaki gunung generasi lama yang mendapatkan gemblengan a la Mapala. Tahu ilmu naik gunung, tahu sopan santun, tahu bagaimana menghadapi alam.

Gunung sekarang semakin banyak dipenuhi orang-orang dengan egoisme tinggi, semua harus mencapai puncak, pokoknya harus puncak. Naik gunung adalah mencapai puncak. Esensinya pada puncak, bukan perjalanannya.
Ada yang dengan bangga berfoto dengan Puncak Semeru padahal pendakian dilarang sampai puncak, hanya sampai Kalimati saja. Ada yang ketika diperingatkan justru mencari pembenaran, sudah tahu salah tapi ngotot cari pembenaran.

Egoisme inilah yang menyusahkan banyak orang. Merepotkan banyak orang jika terjadi sesuatu. Berapa banyak kecelakaan di alam bebas karena kesombongan, keegoisan, ketidaktahuan ?

Contoh. Apa negara akan diam jika ada korban yang melanggar larangan ke Puncak Semeru? Tidak, Tim SAR pasti akan turun tangan. Para pelanggar dengan bangga menentang aturan pemerintah, tapi ketika terjadi sesuatu mengemis pada pemerintah dan meminta pemerintah turun tangan menyelamatkan mereka.

Di mana muka mereka?
Tahukah semua bahwa batas maksimal pendakian di Kalimati sudah ditetapkan karena status Semeru yang terus bergolak? Jika pemerintah melarang demi keamanan bersama, kenapa musti dilanggar?
Demi sebuah puncak dan eksistensi semu, keselamatan diabaikan. Merasa semua bisa naik gunung, merasa kegiatan alam bebas itu mudah. Merasa bahwa seharusnya pendakian itu tidak ada larangan?

Salah, pendaki yang baik bukanlah yang sampai ke puncak, pendaki yang baik adalah pendaki yang turut aturan, pendaki yang menghormati alam bebas, bukan pendaki yang menghalalkan segala sesuatu demi sebuah puncak.
Dengan mudahnya kita melihat para pendaki mengabaikan aturan, tidak mengenakan pakaian untuk alam bebas. Merasa memakai jeans adalah trendy, merasa naik gunung dengan sneakers adalah catchy.

Orang-orang tua jaman dahulu selalu berpesan, ucapkan salam jika pergi ke alam bebas. Itu sebenarnya adalah wujud kearifan lokal, wujud agar orang-orang hendaknya menghargai alam. Alam bebas seharusnya alam yang dihormati bukan menjadi tempat penaklukan dan simbol egoisme.

Foto-foto berterbaran, foto-foto yang menggelorakan petualangan dan keindahan. Foto adalah racun semu yang jika tidak ditemukan penawar hanya membawa kehancuran.
Ada yang merasa superior, mengolok-olok pendaki yang bersama pemandu atau porter. Padahal Edmund Hillary tak akan mampu sampai puncak Everest tanpa porter, tanpa pemandu.

Banyak yang mengeluh karena sistem kuota pendakian, merasa dipersulit naik gunung. Padahal semakin banyak pendaki, semakin banyak jejak yang ditinggalkan, semakin rusak juga alam. Berapa persen mereka yang sadar dan kembali turun membawa sampah mereka? Berapa persen yang dengan sadar turut menjaga lingkungan?

Tongsis menjadi simbol kemenangan manusia terhadap alam dan foto selfie adalah monumen keberhasilan mereka. Orang-orang semakin tidak punya malu melanggar aturan, orang-orang akan semakin mengabaikan larangan, semakin rakus akan pencapaian, semakin berorientasi pada puncak, semakin tidak menghormati aturan dan mengglorifikasi keberhasilan dirinya sendiri.
Obsesi seperti semakin menjemukan. Alam menjadi objek penaklukkan, bukan lagi tempat untuk menempa diri. Semua orang lantas mendaki dan semua orang bisa meng-klaim keberhasilannya masing-masing.

Tapi perlahan , lambat laun orang-orang telah kehilangan rasa hormat terhadap alam. Semua sudah salah kaprah. Naik gunung bukan demi menikmati alam, tapi demi sebuah monumen eksistensi bernama penaklukkan.
Melihat dunia alam bebas sekarang, mungkin Norman Edwin hanya bisa geram dari dalam kubur.

Marilah kita renungkan apa tujuan awal kita kesana. Pergilah dengan niatan untuk belajar dari alam. Niatlah untuk berguru dan menempa diri untuk kehidupan yang lebih berkualitas dan lebih benar. Renungkan bahwa diri ini sangatlah kecil di hadapan Tuhan dan semesta. Tidak ada jaminan apakah kita akan kembali dengan selamat atau malah kita justru akan benar-benar kembali kepada-Nya. Renungkanlah dan tetaplah belajar dari alam.



dikutip dari : http://efenerr.com

Baca selengkapnya

Monday, 17 August 2015

Jalur Pendakian Gunung Butak via Princi Dau

Jalur Pendakian Gunung Butak via Desa Gading Kulon, Princi, Dau, Malang

Gunung Butak? Banyak orang mungkin belum mengenal dan mengetahuinya. Gunung Butak merupakan gunung yang sudah tidak aktif lagi yang mempunyai ketinggian 2868 Mdpl. Gunung Butak terletak di wilayah Malang dan Blitar, Jawa Timur. Gunung ini terletak bergandengan dengan Gunung Kawi dan sering disebut pegunungan putri tidur. 

view Arjuno

Untuk mendaki Gunung Butak terdapat 4 jalur pendakian yakni :
1. Jalur Gunung Panderman (Batu)
2. Jalur Sirah Kencong (Blitar)
3. Jalur Princi Dau (Malang)
4. Jalur Gunung Kawi (Kepanjen)


Untuk mendaki Gunung Butak melalui jalur Princi kita harus menuju Desa Gading Kulon, Princi, Kec Dau, Malang. Setelah sampai perempatan, ada sebuah gapura dan papan petunjuk untuk menuju Desa Gading Kulon. Perjalanan terus ke arah barat sampai mentok sebelum perempatan terakhir sebelah kiri jalan ada warung rujak berwarna biru. Nah motor kita bisa kita titipkan disitu. 
Setelah itu perjalanan kita dilanjutkan dengan berjalan kaki. Di perempatan kita ambil arah kiri searah menuju wisata Coban Parangtejo. 

Medan awal pendakian masih berupa jalan dengan batuan hitam yang masih landai melintasi perkebunan warga. Disamping kanan dan kiri jalan banyak dijumpai tanaman jeruk dan tomat. Setelah cukup lama berjalan, jalan yang dilalui berupa tanah dan masih dengan pemandangan perkebunan warga disamping kanan dan kiri. Setelah perkebunan warga, kita akan mulai memasuki hutan dan disamping kanan jalan terdapat aliran air yang sangat segar dan jernih. Mengikuti aliran air dan kita akan sampai di Pos 1. Untuk menuju Pos 1 dari basecamp membutuhkan waktu sekitar 1- 2 jam.

Di Pos 1 terdapat papan petunjuk arah menuju puncak Gunung Butak. Jalan selanjutnya adalah meloncati sungai kemudian melintasi medan yang sudah mulai terjal dan menanjak. Jalur masih rindang karena dipenuhi dengan pepohonan besar. 

Setelah itu kita akan keluar dari hutan dan jalur cukup terik jika siang hari. Medan pun berupa tanah yang sangat berdebu ketika musim kemarau. 
Berjalan dengan medan yang menanjak dan berdebu dengan waktu 2 - 3 jam kita akan sampai di Pos 2. Tidak ada ciri-ciri pasti pos tersebut. Karena di jalur pendakian Gunung Butak ini tidak terdapat penunjuk jalan dari awal. Di setiap pos hanya ada satu buah plang kecil bertuliskan pos berapa itu saja. Tempat pemilihan pos pun tidak pada tempat yang strategis.  

Setelah berjalan melewati medan yang menanjak yang dipenuhi pohon yang banyak menutupi jalan, kita baru akan menemukan medan yang cukup landai. Sekitar 30 menit kemudian kita akan kembali melintasi medan yang kembali menanjak. Setelah itu sedikit jalan menurun dan kita sampai di Pos 3. 

Pos 3 terletak setelah kita melewati tanjakan yang begitu terjal. Pos 3 ini berada diantara bukit di turunan. Dari pos 3 perjalanan kembali naik lagi melewati bukit. Setelah itu kita akan berjumpa di pertigaan antara jalur Panderman dan Jalur Princi. Kemudian kita ambil kiri jika ingin menuju ke puncak.

Perjalanan darisini juga kembali sedikit menanjak. Setelah itu melintasi pinggiran bukit yang cukup landai. Kemudian kita akan sampai di Sabana tempat untuk ngecamp sebelum menuju ke Puncak.
Total perjalanan dari basecamp sampai sabana sekitar 7-8 jam.

sabana setelah kebakaran

Sebelum kebakaran

Untuk menuju ke puncak hanya diperlukan waktu 0,5 - 1 jam saja dengan melintasi sabana kemudian kembali memasuki area pepohonan dengan jalur yang menanjak. Puncak Butak merupakan dataran yang cukup luas. Di sana kita akan disuguhi pemandangan Gunung Semeru di sebelah timur, Gunung Arjuna-Welirang di utara dan gunung Kelud di sebelah barat, dan dari kejauhan juga tampak gunung lawu.





Baca selengkapnya