Showing posts with label gunung. Show all posts
Showing posts with label gunung. Show all posts

Monday, 6 March 2017

Pentingnya Aklimatisasi Pendakian!!

Kita semua tahu bahwa mendaki gunung atau beraktifitas di alam bebas terutama di ketinggian memiliki resiko yang sangat tinggi, entah tersesat, hilang, cedera atau hipotermia. Jangan meremehkan setiap hal kecil dikala kita sedang melakukan pendakian di gunung. Karena setiap hal kecil akan berdampak dan beresiko besar bagi keselamatan diri kita sendiri.

Salah satu hal yang penting untuk kita tahu adalah Aklimatisasi.



sumber gbr :http://blog.cozmeed.com

Apa itu Aklimatisasi?

Mungkin banyak yang belum mengetahui apa sih itu aklimatisasi dalam pendakian. Oleh karena itu marilah kita bersama-sama memahami apa sebenarnya aklimatisasi.

Aklimatisasi merupakan suatu upaya penyesuaian organisme terhadap suatu lingkungan baru yang akan dimasukinya. Hal ini didasarkan pada kemampuan organisme untuk dapat mengatur morfologi, perilaku, dan jalur metabolisme biokimia di dalam tubuh untuk menyesuaikan dengan lingkungannya.

Beberapa kondisi yang pada umumnya disesuaikan adalah suhu lingkungan dan juga kadar oksigen. 
Suhu udara di gunung akan membuat tubuh kita kaget jika kita tidak melakukan penyesuaian. Jika kaget yang terjadi maka selanjutnya tubuh kita akan terus menerus merasakan kedinginan.

Apabila kita berencana melakukan pendakian gunung yang memiliki ketinggian di atas 2.500 mdpl, tidak ada salahnya kita mengetahui informasi berikut ini yang termasuk dalam kegiatan aklimatisasi.

- Hal pertama yang bisa kita lakukan adalah menambah ketinggian secara bertahap. 

Aklimatisasi sederhana yang bisa dilakukan oleh pendaki pemula adalah melakukan peregangan sebelum pendakian, mendaki secara perlahan, jangan paksakan diri, tarik nafas panjang secara perlahan dan hembuskan, biarkan tubuh melakukan proses penyesuaian. 

Aklimatisasi untuk pendaki profesional di atas 3600 mdpl adalah dengan naik ke ketinggian pada siang hari, kemudian tidur di ketinggian lebih rendah di malam hari. Misalkan naik di ketinggian 3.600 mdpl pada siang hari lalu turun ke ketinggian 3.300 mdpl untuk tidur pada malam hari.


- Yang kedua perbanyaklah minum air mineral dalam artian secukupnya. Hindarilah minum minuman beralkohol, merokok atau konsumsi obat tidur saat melakukan pendakian.


- Ketiga, hindari  aktifitas yang berlebihan yang menguras banyak tenaga.


- Keempat, jangan melakukan perjalanan sendirian saat mendaki gunung karena kita akan kesulitan mendapat pertolongan saat terjadi sesuatu pada diri kita.


- Kelima, jangan pernah meninggalkan seseorang sendirian jika seseorang tersebut dalam keadaan kurang sehat. 


- Keenam, gunakanlah baju hangat agar tidak terserang hipotermia saat berada di ketinggian.


- Yang terakhir adalah jangan memaksakan untuk mendaki lebih tinggi lagi saat kita sudah terkena gejala penyakit. Dengan memaksakan diri malah akan membuat sakit yang kita derita justru lebih parah dan membuat orang lain semakin susah mengirim bantuan.


Dari semua tips di atas, yang berperan besar adalah diri kita sendiri, karena yang tahu keadaan tubuh kita hanyalah kita bukan orang lain. Oleh karena itu cobalah untuk memahami diri kita sendiri, jangan selalu memaksakan atau acuh terhadap segala kondisi tubuh.



Baca selengkapnya

Friday, 27 January 2017

Diklat Sar, Mendidik atau Menyakiti?

Diklatsar atau diksar? Tentunya sudah terbiasa terdengar di telinga kita. 
Sesuatu yang awalnya diniatkan untuk tujuan baik, alih-alih mendapat manfaat yang positif malah akhirnya justru mengorbankan diri sendiri. Tak tahu salah siapa dan siapa yang patut disalahkan. Tapi yang menjadi pertanyaannya pentingkah diklat sar? Perlu kah?



medan.tribunnews.com

Baru-baru ini ramai dengan berita meninggalnya 3 mahasiswa UII yang mengikuti diklat sar di Gunung Lawu. Dari kejadian tersebut didapat sebuah cerita bahwa hal yang menyebabkan kematian ketiga korban tersebut adalah seperti hasil dari sebuah penyiksaan.

Entahlah, apa itu kejadian sebenarnya, tapi disini yang  patut digaris bawahi, separah itu kah diklat sar? sesadis itukah? atau sekeras itu kah?

Apakah memang caranya mendidik seperti itu? Apa memang caranya untuk membentuk mental dan karakter yang kuat memang seperti itu?

Lalu apakah yang diperlukan hanya mental yang kuat saja, lalu apakah pembentukan sikap toleransi dan peduli itu tidak dibutuhkan?
Bukankah menjadi pribadi yang lebih baik, bermental dan berkarakter yang kokoh, bijak dan peduli  terhadap lingkungan dan sesama itulah tujuannya.
Lalu dengan kekerasan tanpa memperhatikan kepedulian terhadap sesama itu bisa dibilang tujuan diklat sar.

Diklat sar di kampus atau sekolah tentu saja sangat positif, tapi jika dilakukan dengan niat dan juga tujuan positif.
Lalu jika hanya berazazkan senioritas dan hanya tindakan semena-mena untuk mengerjai junior apakah itu layak disebut sebagai diklat?
Mendidik, menempa seseorang memang diperlukan ketegasan, tapi jika tidak memperhatikan rasa kemanusiaan sama halnya dengan menjajah.
Sama halnya dengan menyengsarakan orang lain.

Saya pun juga pernah menemui hal yang saya rasa itu berlebihan, apa lagi itu dilakukan di alam bebas. Bayangkan saja, orang yang mempunyai perbekalan lengkap, bisa jalan sesuka hatinya tanpa harus disuruh-suruh saja terkadang juga banyak yang menjadi korban. 

Lalu sekarang bayangkan jika di atas gunung, seseorang yang harusnya cukup makan dan minum, bisa istirahat sewaktu-waktu jika merasa lelah, tapi harus disuruh-suruh membawa barang yang terlampau berat, membawakan barang bawaan senior, kemudian hanya dikasih jatah makan dan minuman yang sedikit dan sangat terbatas, kemudian tidak boleh istirahat dan mengeluh, belum lagi terus dimarah-marahi. Sementara itu seniornya enak-enakan berjalan dibelakangnya sambil bercanda tawa, makan dan minum sesuka hatinya, belum lagi tidak membawa apapun.

Yang masih saya ingat sampai sekarang bagaimana raut wajah mereka, begitu lelah dan serasa menderita.

Lantas dimana rasa kasihan kalian? Apakah hal seperti itu sebuah rutinitas setiap tahun yang hanya sebagai ajang pelampiasan karena dulu juga pernah diperlakukan seperti itu?

Jika akhirnya hanya membuat orang celaka dan sampai mengorbankan nyawa orang lain, siapa yang mau bertanggung jawab?

Lalu masih perlukah dilakukan diklat sar? Apakah memang diklat adalah pilihan satu-satunya?

Kita semua sangatlah setuju bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Pengalaman dapat lebih menunjukkan identitas dan karakter kita dalam bertindak. Tidak heran jika nantinya mereka akan tumbuh dengan daya juang tinggi dan respon tubuh lebih baik saat kondisi yang tidak diinginkan datang. 

Diksar adalah ujian awal yang akan dihadapi, namun tidak mutlak harus dilalui dan lulus. Hal itu dikarenakan banyak orang yang tidak memiliki latar belakang pendaki gunung/ atau pecinta alam atau orang yang tidak melalui diklat sar, namun lebih bisa mengkondisikan dirinya dalam berbagai situasi, bisa mengambil keputusan dengan bijaksana.

Dan justru banyak dari mereka yang lulus dan mengikuti diklat sar dengan kebanggan akan lencana yang dipakai, tapi justru tidak bisa menolong dirinya sendiri dan bahkan malah menjadi benalu buat orang lain.

Diksar hanyalah sebuah pembelajaran, namun untuk output atau hasil yang didapat tergantung dari pribadi masing-masing. Sekeras apapun kamu mengajarkan, tapi jika pribadinya tidak bisa, maka hanya akan sia-sia.

Meskipun tanpa diksar namun jika seseorang bisa mengetahui dan mampu mengendalikan dirinya sendiri, maka justru akan lebih bermanfaat dan bisa menjadi lebih baik.

Sekarang yang menjadi kesimpulannya,
Masih perlukah diadakannya diklat sar?
Masih harus ada korban yang tidak diinginkan lagi?

Intinya semua kembali pada niat dan pribadi masing-masing. Selalu pertimbangkan akal sehar, bukan hanya sekedar menuruti hawa nafsu saja.

Semoga tidak ada lagi kejadian seperti ini yang akhirnya harus menelan korban jiwa. Jika memang diksar diperlukan, semoga diadakan dengan lebih baik lagi, tanpa harus menyakiti orang lain. 

TEGAS BUKAN BERARTI KERAS!!!

Salam Lestari!

Baca selengkapnya

Tuesday, 24 January 2017

Mendaki Gunung Kelud (Demponya Jawa Timur) via Tulungrejo Blitar

Teman-teman semua, kalian pasti sudah tidak asing lagi dengan gunung yang satu ini, yakni Gunung Kelud. Gunung Kelud merupakan salah satu gunung berapi aktif yang terletak di Jawa Timur tepatnya di Blitar dan Kediri. Gunung yang satu ini akhir-akhir ini sedang banyak dibicarakan oleh kalangan pendaki dan para pecinta alam. Gunung ini memiliki ketinggian sekitar 1731 mdpl. 



Gunung Kelud sendiri bisa dibilang Gunung Demponya Jawa Timur. Sama dengan layaknya Gunung Dempo di Palembang, gunung yang satu ini saat ini mempunyai kawah yang seperti danau. Kalau dulu kawah gunung ini kering tak ada air, kini gunung ini memiliki kawah seperti danau yang sangat eksotis dengan batuan dan lekak lekuk bukit yang mengitarinya.

Untuk mendaki Gunung Kelud sendiri kita bisa melalui Desa Tulungrejo, Blitar. Kalau kalian dari arah Malang, sampai di Wlingi kalian menuju arah wisata Rambut Monte atau Kebun Teh Sirah Kencong Blitar, lalu menuju pasar Semen. Setelah itu akan ada dua jalur ke kanan dan ke kiri, nah ambil arah kiri menuju Desa Tulungrejo, kalau mengambil arah kanan akan menuju Kebun Teh Sirah Kencong. Sekarang sudah ada plakat menuju pendakian Gunung Kelud. 

Sebenarnya ada dua jalur jika kita ingin menikmati keindahan Gunung Kelud, pertama dengan mendaki lewat Desa Tulungrejo ini, yang kedua kalian bisa ke wisata Gunung Kelud yang ada di Kediri. Kalau dari Kediri sahabat bisa menggunakan motor lalu parkir di dekat wisata. Disitu kalian tidak butuh berjalan jauh karena jalan sendiri sudah aspal. Tapi dari situ kita masih belum bisa mendekat karena masih ada proyek pembangunan terowongan menuju kawah.


Jalur Pendakian dari Desa Tulungrejo

Pertama dari basecamp, atau parkiran kalian harus registrasi masuk, kemudian akan dinaikkan pick up menuju gerbang pendakian. Kalau dulu sebelum dikelola oleh masyarakat seperti sekarang, jika kita ingin mendaki sepeda motor kita titipkan di rumah terakhir di Mas Yudi. Tapi sekarang sudah dikelola jadi kita parkir sepeda motor lalu bayar sekitar 15 ribu perorang dan kita diantar menggunakan mobil pick up sampai di pintu gerbang, begitupun juga waktu pulang kita akan dijemput.



Pintu Gerbang - Pos 1
Dari pintu gerbang menuju pos 1 memerlukan waktu sekitar 1 jam. Pertama kalian agak turun kemudian cukup landai melintasi hutan pinus.
Setelah melewati hutan pinus kita akan memasuki hutan biasa dengan semak-semak dan rumput yang masih agak menutupi jalan. Kita berjalan melintasi lerengan atau punggungan bukit yang masih terdapat banyak pohon bambu.

Setelah itu jalur sudah mulai sedikit demi sedikit naik sampai akhirnya kita tiba di Pos 1.
Pos 1 ini terdapat sebuah shelter atau pondok yang bisa kita gunakan untuk berteduh.

Pos 1 - Pos 2


Pos 1

Dari Pos 1 menuju Pos 2 memerlukan waktu sekitar 30 - 45 menit. Dengan jalur yang semakin naik. Dari pos ini kita akan naik kemudian belok kiri terus melintasi hutan yang cukup rapat dan tertutup. Seperti hutan lumut yang selalu basah. Kalau pas musim hujan dulu terdapat banyak sekali pacet. 
Setelah berjalan cukup lama melintasi hutan dengan pohon-pohon besar seperti pohon bendo. Kita akan menemukan plakat di pohon besar dengan tulisan Pos 2. Di pos ini hanya terdapat tempat datar yang sempit. Tidak ada pendaki yang menginap di pos ini, pendaki kebanyakan ngecamp di Pos 3.

Pos 2 - Pos 3

Dari Pos 2 juga tidak memerlukan waktu begitu lama untuk menuju Pos 3. Juga hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menitan saja dengan jalur masih hutan yang rindang dan tidak begitu menanjak. 
Setelah itu kita akan naik sedikit dan menemukan banyak ilalang atau rumput-rumput yang cukup tinggi. nah dari situ kita sudah mulai keluar dari hutan dan sampai di tempat yang terbuka. Nah sampailah kita di Pos 3. 

Pos 3 ini terletak di punggungan bukit dengan medan terbuka, jadi kita bisa melihat pemandangan Gunung Butak di sisi Timur, Gunung Arjuno- Welirang disisi Utara dan Puncak Gunung Kelud sendiri di sisi barat.

Pemandangan sebelah barat dari Pos 3 


Pos 3 - Puncak atau Kawah


Dari Pos 3 menuju puncak membutuhkan waktu sekitar 1 - 1,5 jam. 
Dari sini kita berjalan melintasi rerumputan yang cukup tinggi dengan medan yang landai dan menurun sampai akhirnya benar-benar turun melitasi punggungan sapi. 
Terus melipir di lereng bukir sampai akhirnya tiba di jalan berbatu dengan kerikil kerikil kecil. 





Kemudian setelah itu kita akan naik pada batu-batu. Sesampainya di atas kita akan melihat area yang sangat luas, dimana kawah tidak begitu terlihat dari sini. Dari atas kita juga sudah bisa melihat pemandangan yang indah.

Pemadangan dari atas.

Setelah itu jika kita ingin melihat dan sampai di dekat kawah kita agak turun lagi kemudian ambil arah kanan jalan melipir dengan medan naik turun melintasi pasir dan kerikil.



Tak lama setelah itu kita akan sampai di tempat dimana kita bisa melihat kawah secara jelas. Disini kita bisa mengambil gambar dengan panorama yang sangat menawan.





Baca selengkapnya

Friday, 10 June 2016

Semeru, Apakah Kau Benar - Benar Semarah Itu?




Masih baru kemarin semeru kembali dibuka pasca hilangnya dua pendaki asal Cirebon yakni Supriyadi dan Zirli Gita Ayu, kini semeru harus kembali tidak menerima tamu lagi dengan hilangnya seorang pendaki asal Swiss, Lionel Du Creaux (26).

Bukan yang pertama atau kedua kalinya, sebelumnya masih banyak lagi. Di tahun 2014, Achmad Fauzi mahasiswa S2 Teknik Elektro UGM dan di tahun selanjutnya 2015, Dania Agustina Rachman (19) harus menjadi korban hantaman longsoran batu di Gunung Semeru. 

Belum lagi pendaki yang tersesat atau hilang dan masuk jurang blank 75 seperti Daniel Saroha (31) dan yang terbaru kemarin Supriyadi dan Zirli.
Dari kejadian-kejadian tersebut banyak hal janggal yang tidak bisa dinalar. Korban bernama Daniel Saroha sendiri bercerita sewaktu dia terjatuh di jurang atau blank 75, dia kemudian pingsan dan tak sadarkan diri. Tapi sewaktu dia bangun, dia sudah berada di lokasi yang seperti hutan.
Korban sendiri dikabarkan melewati 3 curukan dan akhirnya bertemu dengan sumber air, tapi karena kondisi fisik lemah dan luka-luka serta sampai 3 hari tidak menemukan bantuan akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke lokasi sumber mata air. 
Setelah sore hari dia melihat 2 orang yang infonya bernama Gareng dan SOdiq warga desa Satriyan Kec Dampit-Malang.

Dari yang disampaikan kedua warga hendak mengajaknya ke desa Taman Satriyan, tapi karena terlalu jauh akhirnya mereka bermalam dan akan mengantarkan Daniel ke Kalimati keesokan harinya.
Ada yang aneh jika di logika, pasalnya korban Daniel ini jatuh di blank 75 yang dari posisinya saja berda di wilayah timur Semeru. Dan ketika ditemukan korban berada di sisi barat Semeru yang jika dilogikakan perjalanannya dari blank 75 ke wilayah barat dimana korban ditemukan membutuhkan waktu 12 jam berjalan cepat tanpa istirahat dan dalam kondisi masih sehat.

Itu adalah kisah dari Daniel Saroha, sementara kisah dari Supriyadi dan Zirli ini sebaliknya. Pihak TNBTS melacak terakhir kali mereka mengirim pesan kepada keluarga itu letaknya di wilayah barat Semeru. Setelah tim Sar melakukan penyisiran, korban malah ditemukan di wilayah timur Semeru, di dekat air terjun Boto,Tawonsongo, Pasrujambe, Lumajang.
Dari hal dan kejadian di atas terdapat hal hal aneh dan kejanggalan. Pihak TNBTS dan juga tim SAR pun juga tidak bisa melogikakan hal itu.

"Semeru sekarang semakin ramai, tapi juga semakin aneh dan berbahaya", menurut Saver Ranu Pane kemarin.



Dari segitu banyaknya mereka tentu tidak semuanya, atau malah hanya beberapa yang bisa menjadi tamu yang baik yang mengerti etika. 
Banyak dari mereka justru seperti raja yang seenaknya sendiri. Banyak yang tidak pernah permisi, banyak yang merusak dan mengotori. Banyak yang berbuat tidak baik, banyak yang berkata jorok, atau karena ketidaksolidaritasan mereka yang mengaku dirinya seorang pendaki?


Apakah Engkau lelah menerima sebegitu banyaknya orang yang mengunjungimu ? 
Apakah Engkau marah kepada mereka?

Semeru, Apa ini wujud kekesalanmu atas mereka yang pernah membakarmu, mengotorimu, mengganggu ketenanganmu, dan juga menyakitimu?


Hah? apa itu dirimu yang dulu dikenal baik dan ramah terhadap alam? Aku tanya padamu para orang-orang yang mengaku pendaki atau pecinta alam? 
Jawab aku!!
Inikah balasanmu atas semua perlakuan baikku terhadap kalian?

Aku izinkan kalian meminum airku, aku izinkan kalian berteduh dibawahku. Apalagi? Aku ajarkan kalian bagaima menjadi pribadi lebih bijaksana. Aku ajarkan kalian perjuangan dan perngorbanan, kesetiakawanan. Aku ajarkan kalian kederhanaan.

Lalu apa yang kalian dapat sekarang, kalian seperti tidak mendapat apa-apa. Rasa tanggung jawabmu masih saja tak ada. Keegoisan masih selalu menguasai dirimu. Rasa kepedulianmu masih saj n0l.
Tak ada rasa berterimakasih, yang ada hanyalah rasa kesombongan.

Aku ijinkan kalian menginjakiku, tapi kalian menginjakku dengan jumawah. Lalu apa lagi yang harus aku berikan pada kalian agar kalian sadar?

Kalian kehilangan teman kalian, tapi itu tidak pernah kalian gunakan untuk melihat dan berkaca diri. Bukannya kalian merasa berduka dan menunjukkan rasa kepedulian, kalian malah hanya mementingkan ego kalian sendiri.

"Kapan aku kembali menerima tamu?" Bukannya bagaimana keadaan mereka yang kalian tanyakan, justru malah pertanyaan seperti itu yang ramai kalian sampaikan.

Apa kalian tidak melihat bagaimana teman-teman kalian berjuang suka rela mencari teman kalian yang hilang?
Teman macam apa kalian, tak adakah sedikit rasa kepedulian atau rasa sadarkah? 

Sebernarnya akupun senang kalian mengunjungiku, tapi jadikan kunjungan kalian itu kunjungan untuk belajar memperbaiki diri, belajar peduli atas hal kecil disekitar kalian. Belajar untuk bijaksana dalam kehidupan.
Bukan hanya untuk seenaknya sendiri, bukan untuk bermewah-mewahan dan sebuah kepopuleran. 

Jadilah orang yang bertanggung jawab. Hargailah apa yang ada disekitar kalian. Jangan pernah merasa menjadi diri yang selalu di atas dan punya segala-galanya. Karena aku mengajarkan kalian naik agar kalian tau caranya turun kembali. 

Lalu lantas bagaimana jika kalian hanya bisa naik tapi tak tau caranya kembali turun seperti teman kalian?
Mungkin itu juga adalah jawaban Tuhan atas tingkah laku kalian agar kalian sadar.

Semoga kejadian-kejadian ini bisa menjadi peringatan untuk kalian.





Baca selengkapnya

Sunday, 1 May 2016

Mendaki Gunung Argopuro via Baderan - Bremi (Jalur Terpanjang Pulau Jawa)

Gunung Argopuro adalah gunug yang sudah tidak aktif lagi yang memiliki ketinggian 3.088 mdpl. Gunung Argopuro meruapakan gunung dengan jalur pendakian terpanjang pulau Jawa. Rata-rata pendaki menempuhnya dalam waktu 5 hari 4 malam dimulai naik via Desa Baderan, Sumbermalang, Situbondo, kemudian turun via Desa Krucil, Bremi, Probolinggo.

Untuk mendaki gunung argopuro via Baderan kita bisa naik bus menuju terminal Probolinggo, kemudian naik bus lagi menuju Besuki turun di Pasar atau terminal Besuki. Dari terminal Besuki kita naik ojek menuju basecamp di Desa Baderan dengan perjalanan sekitar 30 menitan.

Di basecamp kita langsung mengurus perijinan dengan biaya perhari 20 ribu/perorang dan 30 ribu/perorang jika hari libur. Berkas yang perlu kita siapkan adalah KTP. Setelah itu kita harus tanda tangan di atas materai sekaligus di foto di depan basecamp oleh bapaknya sebagai dokumen mungkin. 

Biasanya oleh bapak penjaga basecamp kita disarankan untuk berangkat pagi hari sebelum jam 12 siang, paling siang jam 10 an. Jika suda terlalu siang kita disarankan untuk menginap dan berangkat besok pagi. 
Beliau juga memberi saran untuk mendaki paling tidak 5 hari untuk normalnya.


Basecamp - Pos Mata Air 1 (4 - 6 jam)



Dari basecamp menuju Pos 1 atau Pos Mata Air 1 kita melewati jalan makadam yang awalnya cukup landai kemudian terus sedikit demi sedikit semakin naik dan mengitari bukit. Disini kita akan sering bertemu warga yang biasanya mencari rumput.




Sehabis jalan makadam, perjalanan cukup naik melewati rimbunan semak-semak atau rumput-rumput dengan jalan setapak dimana di tengah jalan terdapat seperti bekas ban sepeda motor. 
Jika musim hujan, jalan akan sangat licin dan juga akan terdapat banyak cacing tanah yang bertumpukan di tengah jalan.




Perjalanan akan terus naik sampai kita benar-benar sampai di atas bukit dan mulai memasuki hutan dimana pohon-pohon rimbun, dimana samping kanan kita jurang yang dipenuhi kabut. Di perjalanan kita juga akan sering mendengar suara gemericik air, mengingat argopuro banyak sekali sumber mata air di setiap bukitnya.




Tak lama setelah itu kita akan sampai di Pos Mata Air 1. Di Pos ini terdapat Sumber Mata Air yang sedikit turun kebawah. 


Pos Mata Air 1 - Pos Mata Air 2 (1 - 2 jam )

pos mata air 1

Di Pos Mata Air 1 kita bisa mendirikan tenda untuk bermalam. Tempatnya cukup luas dan datar serta terdapat sumber mata air.


Dari Pos Mata Air 1 ke Pos Mata Air 2 membutuhkan waktu sekitar 1 - 2 jam perjalanan dengan medan masih sama melewati atas pinggiran bukit. Sekitar 2 tanjakan kita akan sampai di pos mata air 2. 


Pos Mata Air 2 - Cikasur ( 4 - 6 jam )

pos mata air 2

Di pos mata air 2 ini saya kurang begitu tahu apakah ada sumber air atau tidak karena saya waktu itu tidak berhenti lama, tapi menurut beberapa sumber jika di musim kemarau sumber air kering.
Di tempat ini kurang ideal untuk mendirikan tenda karena tempatnya tidak luas.

Berjalan cukup landai dan kemudian setelah itu menuruni bukit kita akan sampai di sabana pertama. Tidak tahu apa nama sabana ini, tapi yang jelas ini bukanlah sabana Cikasur. 


sabana 1


Dari sabana ini medan kembali menanjak memasuki hutan lagi. Setelah itu kita akan keluar lagi dari hutan dan menjumpai sabana yang sangat luas. Tapi itu bukan sabana Cikasur. 


sabana 2



Setelah melewati sabana 2 kita masih harus kembali memasuki hutan sebelum akhirnya kita keluar lagi dan menjumpai sabana ketiga. Kita tidak sempat mengambil foto sabana 3 karena waktu itu sangat berkabut.

Dari sabana 3 perjalanan ke Cikasur sudah tinggal sebentar lagi dengan medan yang landai. Kita memasuki hutan lagi dan hingga akhirnya kita bertemu dengan sabana yang ke 4 yaitu Cikasur. 

Cikasur - Cisentor ( 3 - 4 jam )

sumber air cikasur

Ketika kita memasuki sabana Cikasur kita akan menemukan sumber air yang begitu jernih dan segar airnya. Di sepanjang aliran sungai terdapat banyak sekali selada air yang bisa kita gunakan untuk memasak.

Kita mungkin juga akan menemui warga yang sedang mencari selada air untuk dijual.

pohon ditengah cikasur yang biasa digunakan untuk tempat camp


Cikasur adalah padang rumput yang sangat luas yang dulu katanya adalah sebuah bekas bandara pada jaman Belanda. 
Di situ terdapat sebuah tanda atau petunjuk menuju Cisentor.

petunjuk arah menuju Cisentor

Untuk menuju Cisentor kita mengambil arah sesuai petunjuk dengan jalan awal mulai menanjak dan memasuki hutan atau pepohonan. 
Perjalanan akan seperti di awal, yakni keluar masuk hutan dan sabana dengan medan yang sedikit naik dan terkadang landai.

Setelah itu perjalanan akan mengitari pinggiran bukit dimana ditumbuhi pohon-pohon besar. Kemudian menuruni bukit dan melintasi sungai dimana di atas sungai itu terdapat sebuah pondok dan pondok itulah Pos Cisentor.




Perjalanan dari Cikasur menuju Cisentor membutuhkan waktu sekitar 3-4 jam.


Cisentor - Rawa Embik ( 2 jam)

Pos Cisentor ini adalah pertemuan jalur Bremi dengan Jalur Baderan. Namun saat ini kebanyakan pendaki sudah tidak melewati jalur ini jika lewat Bremi, karena jika lewat Bremi melewati Cisentor maka perjalanan akan sangat jauh dan mutar.

Di Pos Cisentor ini bisa kita gunakan untuk mendirikan tenda.

Dari Pos Cisentor menuju Rawa Embik kita membutuhkan waktu sekitar 2 jam dengan perjalanan sedikit menanjak menerobos semak-semak. Setelah itu cukup landai dan menyeberangi sungai kering, melewati sabana dan keluar masuk hutan lagi. Sebelum sampai Pos Rawa Embik kita memasuki hutan yang cukup menanjak kemudian setelah itu menurun dan kita sampai di Sabana seperti rawa yang dimana disitu terdapat sumber air di bawah pohon, yaitulah Pos Rawa Embik.


Rawa Embik - Sabana Lonceng ( 1 jam)

rawa embik 

Dari Rawa Embik menuju Sabana Lonceng membutuhkan waktu sekitar 1 jam dengan medan yang awalnya melintasi sabana, kemudia masuk hutan menembus semak-semak. Setelah itu melipir bukit dan kita bertemu seperti pertigaan. 

Kita ambil kiri dengan jalan agak menurun. Kemudian medan mulai naik dan terus naik melewati hutan dengan pohon-pohon besar. Setelah itu kita akan sampai dan menjumpai sabana yang disebut Sabana Lonceng.


Sabana Lonceng - Puncak Hyang ( 30 menit)

sabana lonceng

Lurus saja dari sabana lonceng, kemudian di ujung ada jalan ke kanan menaiki bukit. Nah dari situ kita menaiki bukit karena di atas bukit itu adalah Puncak Hyang.

puncak hyang

Puncak Hyang - Puncak Argopuro ( 10 menit )

Dari Puncak Hyang menuju Puncak Argopuro sekitar 10 menit saja. Kita lurus saja ke arah belakang. Sedikit turun kemudian naik lagi dan sampai di Puncak Argopuro. Hati-hati karena samping kanan kiri adalah jurang.


puncak argopuro


Sabana Lonceng - Puncak Rengganis ( 20 menit )


Untuk ke Puncak Rengganis di Sabana Lonceng  kita ambil arah kiri memasuki hutan yang cukup menanjak. Sampai di atas bukit jalur landai dan sudah kembali terbuka. Disitu kita akan mencium aroma belerang karena Puncak Rengganis terdapat kawah yang masih banyak belerangnya. Perjalanan sudah tak jauh lagi tinggal naik sedikit di batu bercampur belerang kemudian sampailah di Puncak Rengganis.

Disinilah makam Dewi Rengganis. Biasanya ada penduduk yang mengirim bunga disini.

Puncak - Danau Taman Hidup ( 4 - 6 jam )


Dari puncak menuju taman hidup membutuhkan waktu 4-6 jam. Itu jika kita lewat jalur turun dari puncak hyang. Tapi jika kita lewat cisentor maka perjalanan kita akan memutar dan sangat lama.

Jadi jika kita turun dari puncak hyang, ada pertigaan arah kiri jika kita ingin kembali ke sabana lonceng dan arah turun (kanan) jika kita ingin turun.


Danau Taman Hidup - Basecamp ( 3 - 4 jam)


Dari danau taman hidup menuju basecamp kita membutuhkan waktu sekitar 3 - 4 jam dengan medan berupa hutan yang rimbun dengan trek yang terus turun.
Hati-hati karena disini banyak sekali jalur cabang-cabang, mengingat sedikit sekali tanda, cukup ikuti jalur utama yang paling besar saja. Kebanyakan ada jalur alternatif memotong tapi ada juga jalur yang menyesatkan.

Tanda-tanda kita sudah dekat dengan basecamp adalah kita sudah keluar hutan dan masuk perkebunan dimana sudah terlihat rumah-rumah warga dari kejauhan.

Tak jauh dari perkebunan maka kita akan sampai di perumahan warga dan melewati gapura selamat datang di Taman Hidup.
Dari situ kita terus berjalan lurus sampai ke jalan raya. Di pertigaan kita belok kanan. Tak jauh dari situ kita akan sampai di basecamp bremi rumah Bapak Arifin.






Baca selengkapnya

Tuesday, 26 April 2016

Mendaki Gunung Merbabu Jalur Terindah via Suwanting

Gunung Merbabu adalah salah satu gunung yang sangat populer dikalangan para pendaki gunung di Indonesia. Gunung Merbabu  terletak di Jawa Tengah dengan ketinggian 3.142 Mdpl. Gunung ini memiliki medan pendakian yang tidak terlalu sulit namun mempunyai pemandangan yang sangat indah. Gunung Merbabu sendiri berdiri berdekatan dengan Gunung Merapi di sebelah selatannya. 

Untuk mendaki Gunung Merbabu ini dapat diakses melalui beberapa jalur diantaranya jalur yang populer seperi Jalur Selo dan Wekas. Namun kini ada telah dibuka jalur baru yang menjadi banyak perbincangan karena keindahannya, yakni Jalur Suwanting. Sekitar 1 tahun dibuka, jalur ini kini ramai menjadi pilihan para pendaki yang ingin mendaki gunung Merbabu.



Untuk menuju Suwanting, kita melewati jalan Magelang-Boyolali. Setelah itu di pertigaan menuju Ketep dan Boyolali, kita ambil kiri menuju Ketep. Kalau ambil kanan kita akan menuju Selo. Dari Ketep menuju Suwanting tidak terlalu jauh.

Jalur Suwanting ini bisa dibilang jalur paling dekat, tapi juga jalur paling ekstrim karena dari awal sampai puncak medan menanjak terus. Hanya sedikit sekali jalur landai. 






Basecamp - Pos 1




Sampai di basecamp kita mengisi daftar barang bawaan dan registrasi. Setelah itu kita akan di brifing atau diberi pengarahan oleh petugas sebelum kita berangkat naik.

Beberapa poin penting yang saya dapatkan bahwa terdapat beberapa kawasan dimana saat kita memasuki kawasan itu kita harus mengucap salam. Kawasan itu diantaranya adalah saat memasuki hutan pinus dan yang kedua saat kita memasuki Pos Lembah Manding. Di Pos Lembah Manding juga kita tidak boleh mengeluh, jika capek kita disarankan segera istirahat.

Dari Basecamp menuju Pos 1 sendiri hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit saja. Treak awal cukup landai sampai kita memasuki kawasan hutan pinus dan akhirnya sampai di Pos 1.

kawasan hutan pinus

Pos 1 - Pos 2


pos 1

Dari Pos 1 menuju Pos 2 kita akan melewati beberapa pos kecil dengan jarak tempuh tiap pos tidak terlalu jauh.

Untuk menuju Pos 2 sendiri kita membutuhkan waktu sekitar 1,5 - 2 jam perjalanan.

 Lembah Gosong

Di lembah Gosong sendiri medan masih berupa hutan pohon pinus dengan trek yang sedikit mulai menanjak.


 Lembah Cemoro

Keluar dari hutan pinus, kita menuju Lembah Cemoro. Sebelum Lembah Cemoro ini kita akan menemukan Pos Air di kanan jalan ada 2 tong warna biru.
Jalur yang kita lalui akan terus menanjak.


 Lembah Ngrijan

Selepas Lembah Ngrijan trek yang kita lalui terus menanjak lagi dan juga cukup licin. 

trek selepas Lembah Ngrijan


Dari lembah Ngrijan kita menuju Lembah Singo dengan medan masih menanjak dan disamping kanan kiri kita jurang dengan semak-semak.

Lembah Singo

Setelah Lembah Singo kita tidak begitu lama kita akan sampai di Pos 2. Saya tidak sempat mengambil gambar di pos 2 karena waktu itu banyak pendaki.

Tidak jauh dari Pos 2 sedikit naik lagi kita akan menemui Pos air lagi. Masih dengan 2 tong berwarna biru. Tapi kemarin waktu saya kesana Pos air ini mati dan belum diperbaiki.

Pos 2 - Pos 3

Dari Pos 2 menuju Pos 3 membutuhkan waktu yang cukup lama serta tenaga lebih mengingat dari sini adalah trek paling terjal dan menanjak. Perjalanan membutuhkan waktu sekitar 2,5 - 3 jam.

Selepas Pos 2 kita akan sampai di Lembah Manding. Ingat disini kita harus mengucap salam dan tidak boleh mengeluh.

Dari Lembah Manding inilah jalur yang berat akan kita lalui dan itulah yang biasanya membuat manusia sering mengeluh.

Lembah Manding

Dari sini kita bisa menikmati pemandangan sore hari ketika Sindoro-Sumbing terlihat jelas.

View Sindoro-Sumbing

Berjalan cukup lama dan menguras tenaga karena medan yang menanjak dan licin, kita akan sampai di Pos Air lagi. Tapi sayangnya pos air disini kemarin juga masih mati dan belum diperbaiki.

Pos Air

Seleas Pos Air ini kita akan mulai memasuki sabana yang menanjak. Dan tak begitu lama kita akan sampai di Pos 3.


 Pos 3 

View dari Pos 3

Di Pos 3 inilah kebanyakan pendaki mendirikan tenda untuk bermalam sebelum summit.

Pos 3 - Puncak

Dari Pos 3 menuju Puncak membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam dengan medan berupa hamparan sabana. Kita juga akan melewati bukit-bukit sabana dengan trek cukup menanjak.
Dibawah inilah gambaran menuju puncak dengan pemandangan yang indah dan keren.














Catatan :
jangan lupa ucap salam dan jangan mengeluh ya gan...
Baca selengkapnya