Sunday, 1 May 2016

Mendaki Gunung Argopuro via Baderan - Bremi (Jalur Terpanjang Pulau Jawa)

Gunung Argopuro adalah gunug yang sudah tidak aktif lagi yang memiliki ketinggian 3.088 mdpl. Gunung Argopuro meruapakan gunung dengan jalur pendakian terpanjang pulau Jawa. Rata-rata pendaki menempuhnya dalam waktu 5 hari 4 malam dimulai naik via Desa Baderan, Sumbermalang, Situbondo, kemudian turun via Desa Krucil, Bremi, Probolinggo.

Untuk mendaki gunung argopuro via Baderan kita bisa naik bus menuju terminal Probolinggo, kemudian naik bus lagi menuju Besuki turun di Pasar atau terminal Besuki. Dari terminal Besuki kita naik ojek menuju basecamp di Desa Baderan dengan perjalanan sekitar 30 menitan.

Di basecamp kita langsung mengurus perijinan dengan biaya perhari 20 ribu/perorang dan 30 ribu/perorang jika hari libur. Berkas yang perlu kita siapkan adalah KTP. Setelah itu kita harus tanda tangan di atas materai sekaligus di foto di depan basecamp oleh bapaknya sebagai dokumen mungkin. 

Biasanya oleh bapak penjaga basecamp kita disarankan untuk berangkat pagi hari sebelum jam 12 siang, paling siang jam 10 an. Jika suda terlalu siang kita disarankan untuk menginap dan berangkat besok pagi. 
Beliau juga memberi saran untuk mendaki paling tidak 5 hari untuk normalnya.


Basecamp - Pos Mata Air 1 (4 - 6 jam)



Dari basecamp menuju Pos 1 atau Pos Mata Air 1 kita melewati jalan makadam yang awalnya cukup landai kemudian terus sedikit demi sedikit semakin naik dan mengitari bukit. Disini kita akan sering bertemu warga yang biasanya mencari rumput.




Sehabis jalan makadam, perjalanan cukup naik melewati rimbunan semak-semak atau rumput-rumput dengan jalan setapak dimana di tengah jalan terdapat seperti bekas ban sepeda motor. 
Jika musim hujan, jalan akan sangat licin dan juga akan terdapat banyak cacing tanah yang bertumpukan di tengah jalan.




Perjalanan akan terus naik sampai kita benar-benar sampai di atas bukit dan mulai memasuki hutan dimana pohon-pohon rimbun, dimana samping kanan kita jurang yang dipenuhi kabut. Di perjalanan kita juga akan sering mendengar suara gemericik air, mengingat argopuro banyak sekali sumber mata air di setiap bukitnya.




Tak lama setelah itu kita akan sampai di Pos Mata Air 1. Di Pos ini terdapat Sumber Mata Air yang sedikit turun kebawah. 


Pos Mata Air 1 - Pos Mata Air 2 (1 - 2 jam )

pos mata air 1

Di Pos Mata Air 1 kita bisa mendirikan tenda untuk bermalam. Tempatnya cukup luas dan datar serta terdapat sumber mata air.


Dari Pos Mata Air 1 ke Pos Mata Air 2 membutuhkan waktu sekitar 1 - 2 jam perjalanan dengan medan masih sama melewati atas pinggiran bukit. Sekitar 2 tanjakan kita akan sampai di pos mata air 2. 


Pos Mata Air 2 - Cikasur ( 4 - 6 jam )

pos mata air 2

Di pos mata air 2 ini saya kurang begitu tahu apakah ada sumber air atau tidak karena saya waktu itu tidak berhenti lama, tapi menurut beberapa sumber jika di musim kemarau sumber air kering.
Di tempat ini kurang ideal untuk mendirikan tenda karena tempatnya tidak luas.

Berjalan cukup landai dan kemudian setelah itu menuruni bukit kita akan sampai di sabana pertama. Tidak tahu apa nama sabana ini, tapi yang jelas ini bukanlah sabana Cikasur. 


sabana 1


Dari sabana ini medan kembali menanjak memasuki hutan lagi. Setelah itu kita akan keluar lagi dari hutan dan menjumpai sabana yang sangat luas. Tapi itu bukan sabana Cikasur. 


sabana 2



Setelah melewati sabana 2 kita masih harus kembali memasuki hutan sebelum akhirnya kita keluar lagi dan menjumpai sabana ketiga. Kita tidak sempat mengambil foto sabana 3 karena waktu itu sangat berkabut.

Dari sabana 3 perjalanan ke Cikasur sudah tinggal sebentar lagi dengan medan yang landai. Kita memasuki hutan lagi dan hingga akhirnya kita bertemu dengan sabana yang ke 4 yaitu Cikasur. 

Cikasur - Cisentor ( 3 - 4 jam )

sumber air cikasur

Ketika kita memasuki sabana Cikasur kita akan menemukan sumber air yang begitu jernih dan segar airnya. Di sepanjang aliran sungai terdapat banyak sekali selada air yang bisa kita gunakan untuk memasak.

Kita mungkin juga akan menemui warga yang sedang mencari selada air untuk dijual.

pohon ditengah cikasur yang biasa digunakan untuk tempat camp


Cikasur adalah padang rumput yang sangat luas yang dulu katanya adalah sebuah bekas bandara pada jaman Belanda. 
Di situ terdapat sebuah tanda atau petunjuk menuju Cisentor.

petunjuk arah menuju Cisentor

Untuk menuju Cisentor kita mengambil arah sesuai petunjuk dengan jalan awal mulai menanjak dan memasuki hutan atau pepohonan. 
Perjalanan akan seperti di awal, yakni keluar masuk hutan dan sabana dengan medan yang sedikit naik dan terkadang landai.

Setelah itu perjalanan akan mengitari pinggiran bukit dimana ditumbuhi pohon-pohon besar. Kemudian menuruni bukit dan melintasi sungai dimana di atas sungai itu terdapat sebuah pondok dan pondok itulah Pos Cisentor.




Perjalanan dari Cikasur menuju Cisentor membutuhkan waktu sekitar 3-4 jam.


Cisentor - Rawa Embik ( 2 jam)

Pos Cisentor ini adalah pertemuan jalur Bremi dengan Jalur Baderan. Namun saat ini kebanyakan pendaki sudah tidak melewati jalur ini jika lewat Bremi, karena jika lewat Bremi melewati Cisentor maka perjalanan akan sangat jauh dan mutar.

Di Pos Cisentor ini bisa kita gunakan untuk mendirikan tenda.

Dari Pos Cisentor menuju Rawa Embik kita membutuhkan waktu sekitar 2 jam dengan perjalanan sedikit menanjak menerobos semak-semak. Setelah itu cukup landai dan menyeberangi sungai kering, melewati sabana dan keluar masuk hutan lagi. Sebelum sampai Pos Rawa Embik kita memasuki hutan yang cukup menanjak kemudian setelah itu menurun dan kita sampai di Sabana seperti rawa yang dimana disitu terdapat sumber air di bawah pohon, yaitulah Pos Rawa Embik.


Rawa Embik - Sabana Lonceng ( 1 jam)

rawa embik 

Dari Rawa Embik menuju Sabana Lonceng membutuhkan waktu sekitar 1 jam dengan medan yang awalnya melintasi sabana, kemudia masuk hutan menembus semak-semak. Setelah itu melipir bukit dan kita bertemu seperti pertigaan. 

Kita ambil kiri dengan jalan agak menurun. Kemudian medan mulai naik dan terus naik melewati hutan dengan pohon-pohon besar. Setelah itu kita akan sampai dan menjumpai sabana yang disebut Sabana Lonceng.


Sabana Lonceng - Puncak Hyang ( 30 menit)

sabana lonceng

Lurus saja dari sabana lonceng, kemudian di ujung ada jalan ke kanan menaiki bukit. Nah dari situ kita menaiki bukit karena di atas bukit itu adalah Puncak Hyang.

puncak hyang

Puncak Hyang - Puncak Argopuro ( 10 menit )

Dari Puncak Hyang menuju Puncak Argopuro sekitar 10 menit saja. Kita lurus saja ke arah belakang. Sedikit turun kemudian naik lagi dan sampai di Puncak Argopuro. Hati-hati karena samping kanan kiri adalah jurang.


puncak argopuro


Sabana Lonceng - Puncak Rengganis ( 20 menit )


Untuk ke Puncak Rengganis di Sabana Lonceng  kita ambil arah kiri memasuki hutan yang cukup menanjak. Sampai di atas bukit jalur landai dan sudah kembali terbuka. Disitu kita akan mencium aroma belerang karena Puncak Rengganis terdapat kawah yang masih banyak belerangnya. Perjalanan sudah tak jauh lagi tinggal naik sedikit di batu bercampur belerang kemudian sampailah di Puncak Rengganis.

Disinilah makam Dewi Rengganis. Biasanya ada penduduk yang mengirim bunga disini.

Puncak - Danau Taman Hidup ( 4 - 6 jam )


Dari puncak menuju taman hidup membutuhkan waktu 4-6 jam. Itu jika kita lewat jalur turun dari puncak hyang. Tapi jika kita lewat cisentor maka perjalanan kita akan memutar dan sangat lama.

Jadi jika kita turun dari puncak hyang, ada pertigaan arah kiri jika kita ingin kembali ke sabana lonceng dan arah turun (kanan) jika kita ingin turun.


Danau Taman Hidup - Basecamp ( 3 - 4 jam)


Dari danau taman hidup menuju basecamp kita membutuhkan waktu sekitar 3 - 4 jam dengan medan berupa hutan yang rimbun dengan trek yang terus turun.
Hati-hati karena disini banyak sekali jalur cabang-cabang, mengingat sedikit sekali tanda, cukup ikuti jalur utama yang paling besar saja. Kebanyakan ada jalur alternatif memotong tapi ada juga jalur yang menyesatkan.

Tanda-tanda kita sudah dekat dengan basecamp adalah kita sudah keluar hutan dan masuk perkebunan dimana sudah terlihat rumah-rumah warga dari kejauhan.

Tak jauh dari perkebunan maka kita akan sampai di perumahan warga dan melewati gapura selamat datang di Taman Hidup.
Dari situ kita terus berjalan lurus sampai ke jalan raya. Di pertigaan kita belok kanan. Tak jauh dari situ kita akan sampai di basecamp bremi rumah Bapak Arifin.






Baca selengkapnya

Tuesday, 26 April 2016

Mendaki Gunung Merbabu Jalur Terindah via Suwanting

Gunung Merbabu adalah salah satu gunung yang sangat populer dikalangan para pendaki gunung di Indonesia. Gunung Merbabu  terletak di Jawa Tengah dengan ketinggian 3.142 Mdpl. Gunung ini memiliki medan pendakian yang tidak terlalu sulit namun mempunyai pemandangan yang sangat indah. Gunung Merbabu sendiri berdiri berdekatan dengan Gunung Merapi di sebelah selatannya. 

Untuk mendaki Gunung Merbabu ini dapat diakses melalui beberapa jalur diantaranya jalur yang populer seperi Jalur Selo dan Wekas. Namun kini ada telah dibuka jalur baru yang menjadi banyak perbincangan karena keindahannya, yakni Jalur Suwanting. Sekitar 1 tahun dibuka, jalur ini kini ramai menjadi pilihan para pendaki yang ingin mendaki gunung Merbabu.



Untuk menuju Suwanting, kita melewati jalan Magelang-Boyolali. Setelah itu di pertigaan menuju Ketep dan Boyolali, kita ambil kiri menuju Ketep. Kalau ambil kanan kita akan menuju Selo. Dari Ketep menuju Suwanting tidak terlalu jauh.

Jalur Suwanting ini bisa dibilang jalur paling dekat, tapi juga jalur paling ekstrim karena dari awal sampai puncak medan menanjak terus. Hanya sedikit sekali jalur landai. 






Basecamp - Pos 1




Sampai di basecamp kita mengisi daftar barang bawaan dan registrasi. Setelah itu kita akan di brifing atau diberi pengarahan oleh petugas sebelum kita berangkat naik.

Beberapa poin penting yang saya dapatkan bahwa terdapat beberapa kawasan dimana saat kita memasuki kawasan itu kita harus mengucap salam. Kawasan itu diantaranya adalah saat memasuki hutan pinus dan yang kedua saat kita memasuki Pos Lembah Manding. Di Pos Lembah Manding juga kita tidak boleh mengeluh, jika capek kita disarankan segera istirahat.

Dari Basecamp menuju Pos 1 sendiri hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit saja. Treak awal cukup landai sampai kita memasuki kawasan hutan pinus dan akhirnya sampai di Pos 1.

kawasan hutan pinus

Pos 1 - Pos 2


pos 1

Dari Pos 1 menuju Pos 2 kita akan melewati beberapa pos kecil dengan jarak tempuh tiap pos tidak terlalu jauh.

Untuk menuju Pos 2 sendiri kita membutuhkan waktu sekitar 1,5 - 2 jam perjalanan.

 Lembah Gosong

Di lembah Gosong sendiri medan masih berupa hutan pohon pinus dengan trek yang sedikit mulai menanjak.


 Lembah Cemoro

Keluar dari hutan pinus, kita menuju Lembah Cemoro. Sebelum Lembah Cemoro ini kita akan menemukan Pos Air di kanan jalan ada 2 tong warna biru.
Jalur yang kita lalui akan terus menanjak.


 Lembah Ngrijan

Selepas Lembah Ngrijan trek yang kita lalui terus menanjak lagi dan juga cukup licin. 

trek selepas Lembah Ngrijan


Dari lembah Ngrijan kita menuju Lembah Singo dengan medan masih menanjak dan disamping kanan kiri kita jurang dengan semak-semak.

Lembah Singo

Setelah Lembah Singo kita tidak begitu lama kita akan sampai di Pos 2. Saya tidak sempat mengambil gambar di pos 2 karena waktu itu banyak pendaki.

Tidak jauh dari Pos 2 sedikit naik lagi kita akan menemui Pos air lagi. Masih dengan 2 tong berwarna biru. Tapi kemarin waktu saya kesana Pos air ini mati dan belum diperbaiki.

Pos 2 - Pos 3

Dari Pos 2 menuju Pos 3 membutuhkan waktu yang cukup lama serta tenaga lebih mengingat dari sini adalah trek paling terjal dan menanjak. Perjalanan membutuhkan waktu sekitar 2,5 - 3 jam.

Selepas Pos 2 kita akan sampai di Lembah Manding. Ingat disini kita harus mengucap salam dan tidak boleh mengeluh.

Dari Lembah Manding inilah jalur yang berat akan kita lalui dan itulah yang biasanya membuat manusia sering mengeluh.

Lembah Manding

Dari sini kita bisa menikmati pemandangan sore hari ketika Sindoro-Sumbing terlihat jelas.

View Sindoro-Sumbing

Berjalan cukup lama dan menguras tenaga karena medan yang menanjak dan licin, kita akan sampai di Pos Air lagi. Tapi sayangnya pos air disini kemarin juga masih mati dan belum diperbaiki.

Pos Air

Seleas Pos Air ini kita akan mulai memasuki sabana yang menanjak. Dan tak begitu lama kita akan sampai di Pos 3.


 Pos 3 

View dari Pos 3

Di Pos 3 inilah kebanyakan pendaki mendirikan tenda untuk bermalam sebelum summit.

Pos 3 - Puncak

Dari Pos 3 menuju Puncak membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam dengan medan berupa hamparan sabana. Kita juga akan melewati bukit-bukit sabana dengan trek cukup menanjak.
Dibawah inilah gambaran menuju puncak dengan pemandangan yang indah dan keren.














Catatan :
jangan lupa ucap salam dan jangan mengeluh ya gan...
Baca selengkapnya

Friday, 11 March 2016

Mencintai, Kehilangan!

Ternyata aku memang benar-benar kehilangan dirimu ya.?
Inilah yang selalu aku khawatirkan dari awal. 
Mungkin memang terlalu bodoh menyayangimu, seorang teman dekatku sendiri.

Andai aku tau ini bakalan terjadi, aku takkan pernah bilang padamu saat itu.
Mengutarakan apa yang kita rasakan terhadap seseorang tidak selamanya akan membuat kita lega. Dan itu juga belum tentu menyelesaikan masalah. Terkadang dengan hanya memendamnya membuat semua lebih baik. Setidaknya tidak lebih menyakitkan daripada menerima resiko kehilangan.

Aku berharap dengan kejujuranku menyatakan apa yang kurasakan terhadapmu kala itu bisa membuat kita semakin dekat. Tapi apa yang terjadi sekarang, kita malah seakan berjauhan.




Ternyata memang sahabat tidak akan pernah lebih dari sekedar sahabat yaa..??
Seharusnya aku paham itu dari dulu. Sahabat selamanya hanya akan tetap menjadi sahabat. Tidak akan pernah lebih meskipun aku mengharapkan lebih.

Cukuplah waktu itu seharusnya aku hanya mengagumimu, menyayangimu tanpa kamu tau.
Cukuplah aku mencintai tanpa pernah mengusikmu. Cukuplah aku memendam dalam perasaan ini.

Jika kamu bilang musuh terbesar kita adalah gengsi, kenapa kita tidak mencoba untuk meninggalkannya?

Sekarang aku hanya ingin tau apa yang kamu mau. Jika kamu memang benar-benar ingin pergi, maka katakan itu padaku.
Aku datang hanya ingin memperbaiki semua. Ketika aku mendapat jawabanmu dan merasakan sikapmu, aku tidak yakin. Apakah memang hanya akan seperti ini selanjutnya.

Ketika kamu bilang "tenang aja kita masih tetap sahabat kog", sebenarnya aku ragu. Apakah memang benar-benar seorang sahabat, atau hanya sebatas pernyataan untuk menutupi kekecewaan?

Jika mengingat malam dimana kita pernah jalan bersama, rasanya malam itu memang benar-benar tidak akan pernah terulang yaa? Aku rasa bukan karena aku yang terlalu pesimis, tapi memang realita berkata seperti itu. Kamu juga sudah menutup segala kemungkinan untuk itu terulang lagi kan..?

Malam kemarin aku memimpikanmu. Tak tau ada apa dengan mimpi ini, tapi ini terasa nyata. Mimpi ini selalu membuatku khawatir. Akankah rasa takut kehilangan ini berwujud mimpi yang seperti ini, atau memang mimpi ini pertanda aku bakal benar-benar kehilanganmu.

Jika memang yang terbaik, akulah yang akan pergi. Melangkah lebih jauh dan lebih jauh lagi, sampai benar-benar semuanya terlupakan dan bisa kembali seperti sediakala. 
Kembali seperti tidak pernah ada yang terjadi. Jika itu memang bisa memperbaiki semua, saya rela kog melakukannya.

Yang terpenting buatku sekarang aku masih bisa melihatmu, masih bisa mengagumimu, tetap menyayangimu, meskipun sama sekali tak bisa menyentuhmu, bahkan sebatas sapamu.

Cukup seperti lagu yang pernah engkau kirimkan saja..
"Biarkanku memelukmu, tanpa memelukmu"
"Mengagumimu dari jauh"
"Aku menjagamu, tanpa menjagamu"
"Menyayangimu dari jauh"

Apapun yang terjadi saat ini, saya selalu mengingat apa yang pernah kamu lakukan untukku. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah dilakukan oleh seorang wanita terhadapku. Terima kasih yaa.

Dan sekarang kamu berhak mendapatkan yang terbaik dan lebih baik. 
Pesan ku hanya, 
Jaga diri baik-baik ya..
Semangat TA nya..
Jangan pernah sakit lagi..
Tetap strong..
Raih apa yang ingin kamu raih..
Selalu tersenyum yaa..
Jangan pernah mencoba untuk sedih lagi..

Saya akan tetap disini, menjalani hari-hari seperti biasa. Berusaha menggapai apa yang ingin saya raih. Dan tetap menjadi seperti biasanya.










Baca selengkapnya

Thursday, 3 March 2016

Pesan Untuk Tuhan


Tuhan.... 
Jangan kasih saya cinta dulu,
Saya masih ingin berlari,
masih ingin terbang tinggi,
Jika Engkau memberikanku cinta saat ini,
itu menambah beban untuk diriku,
Saya sulit untuk bisa terbang tinggi lagi,

Saya belum siap menerimanya,
Saat ini saya merasa memang belum siap untuk itu,

Jika Engkau memang ingin memberikan cinta,
Maka berilah saya kesiapan untuk menerimanya,
Bukan hanya itu, tapi juga beri saya kesiapan untuk memperjuangkannya,
Berilah jalan untuk itu Tuhan.

Tuhan..
Jika saya lelah dan putus asa dalam memperjuangkannya,
Maka berilah saya kekuatan lagi untuk bangkit,
untuk tidak menyerah, dan untuk tidak patah semangat.





Tuhan..
Mimpi saya belum bisa terlampaui,
bahkan tergapaipun juga belum,
Jika cinta hanya memadamkan semangatku untuk menggapainya,
apalagi melampauinya,
saya mohon jangan beri saya cinta terlebih dahulu.

Saya melihat memang cinta begitu indah,
tapi itu masih hanya dalam bayangan saja,
tapi masih terasa sakit untuk dirasakan.

Saat ini saya masih tidak mungkin 
untuk mendapatkan cinta yang ingin Kau beri,
belum siap untuk berjuang lagi, 
belum siap jika kembali terjatuh lagi,

Saya hanya ingin tidur lebih cepat,
tidur yang nyenyak,
tanpa ada sedikitpun yang mengganggu tidur saya.




Saya hanya ingin malam tetaplah menjadi malam,
siang tetaplah siang,
semua seperti apa yang seharusnya terjadi,

Saya hanya ingin menjalani semuanya dengan lebih tenang Tuhan,
bukan dengan banyak pemikiran dan kegalauan
yang tidak berhubungan dengan masa depan.


Jika Engkau tetap memberikannya, 
maka jadilah itu menjadi sebuah kemungkinan dan kepastian,
bukan hanya ketidakmungkinan seperti sekarang.

Jadikanlah cinta itu terwujudkan,
tak hanya oleh diriku yang Kau tanamkan cinta,
tapi juga untuk dirinya yang telah Kau pilihkan untuk ku cinta.
Jadikanlah cinta ini benar-benar bersatu,
tak lagi berjalan sendiri-sendiri,
tak lagi mencari bahagianya sendiri.

Tuhan..
Sampai sekarang saya belum tahu apa itu bahagia sesungguhnya?
Beri tahu apakah itu,
beri tahu bagaimana saya bisa mendapatkannya.

Apakah memang benar bahagia itu adanya karena cinta?
tapi mengapa sampai saat ini cinta masih saja belum bisa membuat saya bahagia?

Oh Tuhan, 
jika memang benar cinta dan pilihan itu ada di tangan saya,
maka restuilah cinta itu.
Ijinkan saya bersanding dengan cinta yang telah saya pilih.

Jika Engkau  memberikan kesempatan untukku memilih yang salah,
agar saya tahu bagaimana cara memilih yang terbaik.
Maka sekarang berilah petunjukMu agar saya tak lagi salah dalam memilih,
agar saya tak terjatuh lagi,
agar saya tak patah lagi.
dan agar saya tak menantikan lagi sesuatu yang tak seharusnya saya nantikan..


Tuhan,
Jika ini memang bukan saat yang tepat,
berikanlah saya kesabaran untuk menunggu saat yang tepat itu.
Berikanlah kedamaian untuk saya menjalani apa yang ada.
Biarkanlah semua ini berjalan seperti seharusnya.
Berikanlah saya kekuatan untuk tetap tersenyum sembari cinta sejati itu kembali. 



Baca selengkapnya

Monday, 22 February 2016

Semua tentang Kita. Haruskah ini berakhir?


Saya tak tau harus berkata apa lagi, 
ini semua tentang apa yang ada di dalam hati.
Saya tak tahu mengapa ini begitu rumit.
Padahal seharusnya ini begitu manis dan indah untuk diingat.
Terkadang karena begitu besarnya cinta, kita lupa bahwa begitu banyak cara sederhana untuk menunjukkannya.

Terkadang kesederhanaan itu malah membuat cinta begitu terasa,
Ketimbang cinta yang rumit, tapi malah seakan membuat kita lupa kalau kita punya cinta.

Apakah memang ego kita yang membuatnya rumit, ataukah hanya ego ku sendiri?
Sejujurnya aku tak pernah tau, aku bingung dengan apa yang sebenarnya kau mau.
Kenapa kita tidak bisa seperti mereka? Dengan hal yang sederhana tapi kasih dan sayangnya begitu terasa.







Aku pernah berkata pada seorang teman yang pernah kau titipkan sebungkus kado untukku.

"Mungkin suatu saat nanti, aku juga akan merasakan sama dengan apa yang kamu rasakan saat ini, aku akan mengalami hal sama dengan apa yang kamu alami saat ini.

Mungkin suatu saat nanti aku juga akan datang ke sebuah resepsi sama sepertimu. Melihat orang yang kita sayangi ada disana, dan benar-benar saat itu kita memupuskan harapan, begitu rela.

Menghela nafas panjang, sembari berkata dalam hati "Berbahagialah kasih, kau memang terlihat begitu serasi dengannya, dan dia adalah sosok yang terbaik yang Tuhan kasihkan padamu, dia adalah orang yang paling tepat untukmu dan dia adalah orang yang paling beruntung mendapatkanmu".

Saat itu aku harus benar-benar merelakannya. Dengan senyuman tanpa ada sedikitpun raut kesedihan. Ini hari bahagia, dan dia tampak sangatlah bahagia. Aku juga harus bahagia. Ini jalan terbaikku dan juga jalan terbaik untuknya. Aku harus ikhlas!!"

Begitulah yang aku katakan padanya.

Mungkin saat ini aku juga harus belajar dari temanku itu, bagaimana dia tetap tersenyum kala itu. Bagaimana dia tetap tegar dan sampai saat ini masih tulus mencintai meskipun seorang yang benar-benar dicintainya sudah ada yang memiliki.

Terkadang aku suka teringat bahwa ternyata kita pernah jalan berdua. Sungguh itu adalah hal yang tak biasa bagiku. Duduk bersampingan sambil ku dapat melihat senyummu. 
Tak pernah sebelumnya ku melihatmu sedekat ini. Aku bertanya-tanya dalam hatiku " apakah ini sungguhan adanya?". Sungguh aku masih tak percaya itu.
Untuk kesekian kalinya kecanggungan itu muncul lagi, disaat aku tidak bisa berkata-kata apapun.
Disaat aku kebingungan harus mencari apa yang harus dibicarakan.

Kebersamaan yang singkat dan cuma sekali itu selalu membuatku tersenyum sendiri, bahkan ketika sepulangnya waktu itu. Sepanjang jalan itu hanya ada bayang-bayangmu yang terus mengikutiku.

Apakah itu akan terulang kembali? Rasanya memang akan sangat sulit, atau bahkan memang takkan terulang.
Bukannya aku pesimis, tapi aku hanya ingin berpikir dengan realita.


Sayangnya kali ini kita seakan kembali tak saling bicara. Entah apa yang terjadi. Apakah diam kita berdua beberapa waktu ini membuat kita menyimpulkan semuanya sendiri.
Entahlah, tapi ketika aku tau kau menulis sebuah tulisan dan aku yakin itu untuk diriku, saat itu akupun terjatuh.

Ternyata memang hanya sampai seperti ini sajakah kisah kita?. 
Ketika aku membacanya mungkin aku bisa menangkap sesuatu.

Sejujurnya aku begitu takut. Apakah aku bisa sampai sebelum kau sampai di titik batas itu, Apakah aku bisa menyusulmu?
Kau terlampau siap untuk semuanya. Sedangkan aku masih harus berjalan atau bahkan berlari lebih jauh, berkali-kali lebih jauh dari darimu.

Apakah aku sanggup mengejarmu? Meskipun sebenarnya kita seperti dekat, tapi di dalamnya sebenarnya kita sangatlah jauh.
Jarak kita bukan hanya tentang perbedaan, tapi juga tentang waktu. 

Sudah cukup apa yang pernah kau lakukan terhadapku.
Kekhawatiranmu, kerinduanmu atau kepedulianmu.
Jika aku tak bisa membalasnya, maka hanya akan seperti ini terus.


Cobalah berhenti untuk mengingat dan mengungkit tentang masa laluku. Bukankah itu sudah berlalu dan berakhir? 
Aku tidak pernah kan mengungkit tentang masa lalumu, bertanya kenangan apa saja yang pernah terjadi padamu? 
Bukan karena aku tak ingin tau. Tapi mungkin akan terasa sakit jika mengetahuinya.

Saat ini,
Bila kamu lelah!
Pergilah!
Biarkan aku tetap disini!

Jangan pernah menunggu lagi!
Karena aku sendiri tak tau kapan akan sampai.


Kaulah yang seharusnya segera mendapatkan kebahagiaanmu, 
yang seharusnya cepat mendapatkan seseorang yang kau mau. 
Dan akulah yang seharusnya berkata kepada lelakimu seperti apa yang kamu katakan.

Bukan AKu!!
Karena aku takkan bisa. Jika aku bisa melihatmu saat itu nanti, disitu aku baru percaya bahwa kamu benar-benar sudah mendapat apa yang kamu cari.

Disitulah aku akan belajar ikhlas, lalu pergi. Berusaha meyakini bahwa ini takdir yang terbaik. 

Kamu istimewa, terlampau istimewa.
Dan aku merasa beruntung sekali karena pernah menjadi bagian dari hidupmu.

Dari awal aku berpikir memang tidak seharusnya diriku mencintai seorang sahabatku sendiri.
Maafkan diri ini yang telah lancang menuliskan namamu di hati dan juga dalam hidupku.
Maafkan diriku jika cara-cara ku untuk mencoba membahagiakanmu tidak cukup istimewa untukmu.
Maafkan sikapku selama ini jika itu menyakitimu.

Jika kamu pernah bilang lelaki terkadang harus egois untuk mendapatkan apa yang dicintainya, maka aku tidak cukup egois untuk membuatmu bertahan.

Biarlah air mata ini yang mengiringi akhir dari cerita kita.
Haha aku terlalu cengeng yaa?? 

Satu hal ya yang aku minta, "Jangan pernah bersedih lagi!! :)"



Aku menyayangimu Sahabat.
Terimakasih. 



Baca selengkapnya

Wednesday, 17 February 2016

Dari Alam Untukmu Para Pendaki

Apa kabarmu hari ini? Di antara himpitan kesibukan dan berbagai deadline yang jadi satu-satunya yang kamu pikiran akhir-akhir ini. Sudahkah kau menyusun rencana menelusuri lekuk punggungku lagi? Apakah kau rindu menjejaki tanahku sebagaimana aku rindu mendengar napas dan teriakan lantangmu.

Tapi akbu bukan hanya menantimu, kaki-kaki yang pernah menjejak tanahku. Aku juga ingin memanggil anak-anak sebelumnya yang belum pernah menghirup udaraku atau menghabiskan malam berselimut kabutku.

Akulah siluet megah yang tiap hari kau lihat dari jendela rumahmu. Dan kini aku hendak mengajakmu bicara dan mendengarkanku bercerita.




Kedatanganmu selalu kunanti. Dakilah Puncakku dan akan kuajarkan padamu makna kerendahan hati.


Bisa merasakan jejak langkah kalian menapaki jalur-jalur pendakian di punggungku sungguh menyenangkan. Tiap kali kalian menjajaki diriku disanalah akau percaya ada manusia yang sedang mencari sesuatu yang lebih besar darinya. Disitu aku mengerti adanya kehidupan selain aku. Ada manusia yang tak hanya berpikir dirinya adalah pusat dari semesta. Ada manusia mengingat pencipta-Nya.

Dan di sinilah aku, berusaha untuk menuntun kalian kepada jawaban-jawaban yang berusaha kalian temukan di dalam lubuk hati. Jawaban yang membuat kalian semakin rendah hati. Bukan lewat kata-kata lembut, melainkan tantangan dan rintangan yang menguji nyali, kemampuan serta kegigihan kalian sampai batas maksimal, sehingga kalian mampu menilai kemampuan diri sendiri.


"Jika Bumi adalah ibu yang mencintai anak-anaknya apa adanya, maka aku adalah seorang bapak yang mendorong anak-anaknya menemukan potensi terbaiknya".


Sayangnya kini kedatangan kalian bukan lagi hal yang sederhana. Banyak yang datang bukan dengan niat belajar bijaksana.


Dahulu hanya ada segelinti orang yang berani bersusah payah bertaruh nyawa hanya demi mengunjungiku. Mereka berusaha untuk lebih mengenal diriku dan diri mereka sendiri. Aku pun menyambut mereka dengan sukacita dan menantang mereka sampai pada batasnya. Mereka pulang dengan puas dan gembira, seraya berjanji untuk kembali datang lagi padaku. Kembali untuk menjadi sejatinya manusia.

Setelah makin banyak rupa-rupa manusia yang hinggap ke tubuhku. Mereka yang berusaha menemukan makna kerendahan hati, mereka yang menginginkan sebuah pencapaian, mereka yang ingin menemukan kehangatan pribadi di balik dinginnya puncak yang didaki. Tentunya aku senang karena semakin banyak manusia-manusia yang belajar dariku.


"Sayangnya tak semua yang datang padaku mencari kebijaksanaan dan makna dari kesederhanaan".


Perkara mengunjungiku kini bukan lagi menaklukkan ego pribadi dan menjadi manusia yang sederhana. Sebagian dari kalian datang justru karena niat sebaliknya, memuaskan egonya untuk diakui oleh orang lain.


Kadang aku tak paham pola pikir manusia. Alam ini tercipta jauh sebelum kalian ada, namun kalian berlaku seolah ras manusialah yang memilikinya.

Tahukah manusia kadang terlalu kompleks untuk alam pahami. Kalian seringkali tak cuma mengambil apa yang kalian butuhkan dari sang Pertiwi. Beberapa golongan manusia bahkan sengaja membabar bumi dan mengeksploitasinya demi memuaskan ketamakan mereka.


" Karena gengsi dan ego, kalian membeli sesuatu yang sebenarnya tak kalian butuhkan, hanya demi membuat orang lain terkesan".


Bagi orang-orang ini mendaki gunung tak ubahnya sebuah plesiran tanpa makna mendalam yang cuma mengejar kesenangan dan demi mendapatkan pengakuan berupa like di jejaring sosial.

Mereka melupakan makna kesederhanaan dan kerendahan hati yang aku ajarkan.
Mereka datang berbondong-bondong jumlahnya, seperti air bah yang tak terbendung. Mereka tak segan-segan meninggalkan sampah mereka begitu saja tanpa dibawa kembali ke tempat asal mereka. 

Pendaki karbitan ini justru tega mengambil perhiasan bunga abadiku hanya untuk dibawa pulang dan dipajang sebentar di kamar sampai akhirnya bosan lalu dibuang. Mereka yang hanya mengejar keuntungan dari sebuah pendakian.


"Saat itulah aku merasa gagal membimbing kalian".


Melihat pendaki berkelakuan sesuka hatinya tanpa nurani seperti ini membuat batinku sakit. Tubuhku kotor dan tercabik. Keindahanku yang seharusnya bisa terus dinikmati oleh generasi mendatang perlahan mulai pudar karena noda yang mereka tinggalkan. Ini tak cuma terjadi padaku tetapi hampir di setiap tempat yang pernah kalian jejaki.

Ah, manusia usia kalian hanya sebentar di alam fana ini. Sementara aku masih akan ada sampai beribu-ribu tahun mendatang. Tapi dampak yang kalian tinggalkan sungguh membuatku bersedih.


"Benarkah kalian memang tak bisa cuma meninggalkan jejak kaki di tanah basah, tetapi juga coret-coretan, sampah dan ketamakan?".


Rasa bahagia ketika matahari bersinar dan tidak turun hukan. Rasa bahagia ketika kamu memiliki persediaan air yang cukup. Rasa bahagia ketika makanan sudah matang, meski hanya berupa sup ataupun mie instan. Rasa bahagia ketika bisa tidur dengan hangat di dalam tenda, meski tanpa kasur dan rumah gedongan. 

Lihat saat kamu datang padaku, kamu datang dengan sederhanam hanya dengan membawa apa yang kau butuhkan saja. Tapi dengan itupun kau tetap bisa merasa bahagia.


Masih banyak pendaki yang peduli padaku dan sang Pertiwi, tak hanya pada dirinya sendiri. Dan manusia-manusia seperti inilah yang sepenuhnya kuhormati.

Ketika kepercayaanku pada kalian mulai pudar, samar-samar kulihat pendaki-pendaki ini. Pendaki yang rela memunguti sampah yang bukan miliknya dan membawanya turun, meski aku tahu itu sangat merepotkan. Pendaki yang berani menegur dengan keras rekannya dengan yang gegabah membuat sesuatu yang tak bisa diurai olehku bahkan meski itu hanya bungkus permen atau putung rokok.

Merekalah pendaki sejati yang mencintai alam sama seperti dirinya sendiri. Merekalah yang menganggap kunjungannya kepadaku tak sekedar senang-senang demi terpuakannya ego, melainkan untuk belajar peduli dan berbakti kepada Sang Bumi. 

Merekalah yang bersikap layaknya tamu di rumahku, menghargai sang tuan rumah dan setiap makhluk di dalamnya. Sebab mereka paham bagaimana rasanya jika orang asing mengotori tempat tinggalnya.


"Karena mereka aku berani berharap lagi kepada manusia".


Ingatlah kembali kenapa kalian rindu mendaki. Ingatlah makna-makna yang kuberi selama kalian menapaki jalur pendakian, langkah demi langkah. Ingatlah perasaan saat kalian menikmati pemandangandi puncak untuk pertama kalinya, di mana awan-awan bergerak di bawah kaki, di mana kamu mengucap syukur atas ciptaan luar biasa dari Sang Maha Pencipta. 

Jika ingin semua ini masih ada seribu tahun lagi, tanggalkan ego kalian dan mulailah berbuat sesuatu.

Aku dan Bumi telah memberikan segala hal yang kamu butuhkan. Lantas apa yang bisa kau berikan kepada kami yang selama ini selalu diam dan bersabar menyaksikan apa yang telah engkau lakukan.



"Jadilah pendaki yang peduli, yang tak mengotori, melainkan menjagaku dengan sepenuh hati saja. Itu saja.

Apa aku mengharapkan sesuatu yang berlebihan ?".




(dikutip dari Hipwee.com)

Baca selengkapnya