Showing posts with label pengetahuan. Show all posts
Showing posts with label pengetahuan. Show all posts

Monday, 6 March 2017

Pentingnya Aklimatisasi Pendakian!!

Kita semua tahu bahwa mendaki gunung atau beraktifitas di alam bebas terutama di ketinggian memiliki resiko yang sangat tinggi, entah tersesat, hilang, cedera atau hipotermia. Jangan meremehkan setiap hal kecil dikala kita sedang melakukan pendakian di gunung. Karena setiap hal kecil akan berdampak dan beresiko besar bagi keselamatan diri kita sendiri.

Salah satu hal yang penting untuk kita tahu adalah Aklimatisasi.



sumber gbr :http://blog.cozmeed.com

Apa itu Aklimatisasi?

Mungkin banyak yang belum mengetahui apa sih itu aklimatisasi dalam pendakian. Oleh karena itu marilah kita bersama-sama memahami apa sebenarnya aklimatisasi.

Aklimatisasi merupakan suatu upaya penyesuaian organisme terhadap suatu lingkungan baru yang akan dimasukinya. Hal ini didasarkan pada kemampuan organisme untuk dapat mengatur morfologi, perilaku, dan jalur metabolisme biokimia di dalam tubuh untuk menyesuaikan dengan lingkungannya.

Beberapa kondisi yang pada umumnya disesuaikan adalah suhu lingkungan dan juga kadar oksigen. 
Suhu udara di gunung akan membuat tubuh kita kaget jika kita tidak melakukan penyesuaian. Jika kaget yang terjadi maka selanjutnya tubuh kita akan terus menerus merasakan kedinginan.

Apabila kita berencana melakukan pendakian gunung yang memiliki ketinggian di atas 2.500 mdpl, tidak ada salahnya kita mengetahui informasi berikut ini yang termasuk dalam kegiatan aklimatisasi.

- Hal pertama yang bisa kita lakukan adalah menambah ketinggian secara bertahap. 

Aklimatisasi sederhana yang bisa dilakukan oleh pendaki pemula adalah melakukan peregangan sebelum pendakian, mendaki secara perlahan, jangan paksakan diri, tarik nafas panjang secara perlahan dan hembuskan, biarkan tubuh melakukan proses penyesuaian. 

Aklimatisasi untuk pendaki profesional di atas 3600 mdpl adalah dengan naik ke ketinggian pada siang hari, kemudian tidur di ketinggian lebih rendah di malam hari. Misalkan naik di ketinggian 3.600 mdpl pada siang hari lalu turun ke ketinggian 3.300 mdpl untuk tidur pada malam hari.


- Yang kedua perbanyaklah minum air mineral dalam artian secukupnya. Hindarilah minum minuman beralkohol, merokok atau konsumsi obat tidur saat melakukan pendakian.


- Ketiga, hindari  aktifitas yang berlebihan yang menguras banyak tenaga.


- Keempat, jangan melakukan perjalanan sendirian saat mendaki gunung karena kita akan kesulitan mendapat pertolongan saat terjadi sesuatu pada diri kita.


- Kelima, jangan pernah meninggalkan seseorang sendirian jika seseorang tersebut dalam keadaan kurang sehat. 


- Keenam, gunakanlah baju hangat agar tidak terserang hipotermia saat berada di ketinggian.


- Yang terakhir adalah jangan memaksakan untuk mendaki lebih tinggi lagi saat kita sudah terkena gejala penyakit. Dengan memaksakan diri malah akan membuat sakit yang kita derita justru lebih parah dan membuat orang lain semakin susah mengirim bantuan.


Dari semua tips di atas, yang berperan besar adalah diri kita sendiri, karena yang tahu keadaan tubuh kita hanyalah kita bukan orang lain. Oleh karena itu cobalah untuk memahami diri kita sendiri, jangan selalu memaksakan atau acuh terhadap segala kondisi tubuh.



Baca selengkapnya

Monday, 2 January 2017

Awas Bahaya Petir di Puncak Gunung!!

Mendaki gunung menjadi aktivitas yang sangat populer saat ini yang dilakukan semua elemen masyarakat, entah yang muda, remaja, dewasa ataupun yang tua. Mendaki bukanlah olahraga yang mudah dan aman, banyak sekali resiko dan bahaya yang sewaktu-waktu akan mengancam keselamatan kita, baik itu hipotermia, bahaya tersesat, ataupun hilang dan yang terparah meninggal dunia.


Baru-baru ini di akhir tahun 2016 banyak sekali korban dari aktivitas pendakian, yang paling tragis adalah bahaya petir. Perubahan musim dan cuaca yang tak menentu adalah salah satu penyebabnya. Sudah sekitar 4 orang menjadi korban dari cuaca yang tak menentu. Sebelumnya di gunung Arjuno satu orang meninggal dunia karena tersambar petir. Kemarin akhir desember 2016, 3 orang tersambar petir di Pos 7 Gunung Slamet dan dikabarkan 1 orang meninggal dan yang lain kritis.

Dari hal-hal di atas ada sedikit tips-tips untuk menghindari bahaya petir di gunung :

1. Jangan berada di padang rumput yang luas yang terbuka.
2. Jangan berada di puncak gunung atau punggungan bukit saat kondisi cuaca tidak memungkinkan. Sebisa mungkin jauhi atau jangan berdiam diri dari tempat-tempat di atas untuk mengurangi resiko tersambar.
3. Hindari pohon atau objek yang berdiri sendiri. Jika berdiri di dekatnya saat petir menyambar maka anda juga akan terkena arus listrik yang mengalir di tanah.
4. Jangan pakai aksesoris apapun yang menggunakan bahan metal karena merupakan penghantar listrik yang akan menangkap kilat.
5. Hindari penggunaan peralatan yang mengandung gelombang dan memantulkan radiasi elektromagnetik seperti HP atau GPS. Jika di tempat terbuka pastikan mematikan peralatan tersebut.
6. Jika memang terperangkap oleh petir di tempat terbuka, segeralah ambil posisi jongkok dengan kedua kaki dengan tumit bersentuhan. Tutup telinga dengan sikut yang menyentuh lutut. Setelah itu tundukkan kepala serendah-rendahnya tanpa menyentuh tanah. Dengan cara itu petir yang menyambar akan mengalir kedalam tubuh, namun apabila kedua tumit terbuka petir akan menloncat ke dalam tubuh.
7. Pakailah alas seperti matras, tikar atau bahan anti konduktor lain. Jangan sampai bersentuhan dengan tanah langsung.
8. Jika berada di dalam grup pendakian atau tempat camp yang ramai, pastikan mendirikan tenda tidak terlalu berdekatan. Buatlah sedikit jarak agar jika tersambar petir tidak langsung tersambar dan yang lain bisa memberikan pertolongan.
9. Di alam bebas tempat yang baik untuk menghindari sambaran petir adalah tempat yang tertutup dan banyak pohon, jadi carilah tempat yang ditumbuhi banyak pohon saat cuaca tidak memungkinkan.
10. Dari tips-tips di atas yang paling penting adalah selalu berdoa dan mengingat sang-Pencipta. Pasrahkan semua pada yang membuat kehidupan.

Itulah tips-tips yang bisa kami  berikan, semoga bermanfaat dan semoga selalu berada dilindungan-Nya saat melakukan aktivitas pendakian. Amiin.
Baca selengkapnya

Tuesday, 9 February 2016

Selamat Jalan Pendaki, Semoga Duka Ini Yang Terakhir

Sudah tercatat lebih dari 50 kematian yang terjadi di gunung sejak tahun 2013. Berita yang menyeret pendaki ini disinyalir disebabkan oleh kelalaian para pendaki itu sendiri dan beberapa teman yang kurang responsis terhadap teman perjalanannya.

Minggu ini berita duka datang lagi dari Gunung Merbabu. Seorang pemuda bernama Oky Kumara Putra (17), asal Mustokoweni, Plombokan, Semarang yang masih duduk di bangku kelas 2 SMK harus meregang nyawa.

Jika dipikir lebih dalam lagi hal yang menyebabkan kecelakaan atau kematian di gunung adalah faktor alam dan faktor manusia itu sendiri.

Kita memang tak pernah tahu kapan ajal akan menjemput, tapi ketika kita tak memiliki persiapan dan kesiapan yang matang dalam pendakian, bisa saja ajal akan menemui kita ketika mendaki. Mungkin sebaiknya kita instropeksi diri. Apakah kita termasuk pendaki yang masih sayang pada keselamatan diri atau pendaki yang hanya bermodal nekad dan berani.
Semoga dengan ulasan ini rentetan catatan duka di gunung hanyalah sebuah masa lalu yang takkan terulang di kemudian hari.



Berikut ini adalah hal-hal yang bisa menyebabkan nyawa kita menjadi taruhan ketika mendaki gunung diantaranya :

Kurangnya pengetahuan soal keadaan gunung. Hal yang mendasar saja belum tahu, tapi sudah asal nekad saja.

Kesalahan mendasar dalam pendakian adalah ketika kamu nggak tahu sama sekali soal track gunung yang akan kamu daki. Dengan bermodal insting saja tidak cukup untuk kamu melakukan pendakian. Tidak sedikit kasus yang menghiasi headline di koran-koran atau berita di televisi tentang ditemukannya pendaki yang sudah tak bernyawa di gunung.

Kabar terakhir dari saudara Oky asal Semarang yang menghembuskan napas terakhirnya di Gunung Merbabu. Dilansir dari koran yang menyatakan bahwa itu adalah pendakian pertama Oky. Dan ketika mengevakuasi jasad, korban berada dalam tenda bersama orang lain yang bukan rombongannya. Ada kemungkinan dia terpisah dengan teman perjalanannya.

Keterbatasan pengetahuan dan informasi seputar gunung yang akan didaki bisa menjadi petaka buat kita. Pelajarilah dengan cermat dan tepat gunung yang akan kamu daki. Sesungguhnya persiapan adalah modal utama yang sangat penting sebelum kita pergi mendaki.


Yang kedua adalah buruknya manajemen P3K, logistik dan kurangnya persiapan pendakian. Masalah makan dan kesehatan di gunung itu sangatlah penting.

Selain pengetahuan tentang keadaan gunung yang akan kita daki, manajemen P3K dan logistik juga merupakan hal fatal yang sering diabaikan oleh para pendaki pemula. Meski kamu kuat untuk menahan perut lapar dan udara dingin, namun gunung tak akan memaafkan siapapun yang meremehkan kesehatan. Alam bisa berbuat apapun untuk bertekuk lutut di hadapannya. Maka dari itu susun dan persiapkan dengan baik P3K dan logistik. Jangan asal ngawur dalam memperkirakan.

Masih pada kasus Oky yang mungkin terpisah dari rombongannya hanya membawa beberapa perlengkapan yang sangat tidak memadai untuk pendakian. Menurut kakaknya, perlengkapan yang dibawa Oky memang hanya sedikit. Setahunya dia hanya membawa celana pendek, satu celana panjang, kaos oblong, jaket dan sarung tangan serta tak ketinggalan tongsis yang ia masukkan ke dalam carrier.

Sebagai pendaki setidaknya ada kotak P3K dan logistik dibawa. Jangan biarkan dirimu tidak membawa obat ataupun makanan. Kalau kamu terpisah dengan rombongan, setidaknya kamu masih mempunyai cadangan untuk bertahan. Bisa dibayangkan jika kamu terpisah dan kamu nggak bawa apa-apa?


Perhatikan musim yang baik untuk mendaki. Musim hujan terkadang sangat kurang bersahabat karena rawan juga terjadi badai.

Hal kecil yang nggak jarang dilupakan pendaki adalah membawa jas hujan. Memang jas hujan itu remeh, tapi begitu penting untuk keselamatan kita di gunung. Menjaga kita dari basah dan menjauhkan dari hipotermia. 
Meski jas hujan tidak bisa menjadi barometer gejala hipotermia yang melandamu, setidaknya kamu nggak kedinginan karena hujan. 

Musim hujan memang cukup bahaya untuk mengagendakan waktumu untuk mendaki gunung. Pertama karena faktor cuaca yang tak bersahabat yang bisa membuat perjalanan makin sulit dan kedua karena kondisi kesehatan pendaki juga dipengaruhi cuaca. Sekali lagi kasus kematian Oky menjadi tamparan bagi para pendaki di Indonesia. Kelalaian dalam mengantisipasi tingginya curah hujan dan kembali lagi pada persiapan yang kurang matang dan terkesan menyepelekan akan menjadikan kabar duka.


Jangan pernah remehkan cuaca yang bisa menyebabkan hipotermia. Ingat hipotermia bukanlah kesurupan!

Seperti kasus yang dulu pernah terjadi pada pendaki berusia 16 tahun asal Bekasi, Shizuko Rizmadhani yang takluk karena cuaca dingin di Kandang Batu Gunung Gede-Pangrango. Salah satu temannya mengatakan bahwa gadis ini kesurupan. Bahkan dalam kesurupan itu dia minta beberapa bungkus kopi untuk dikonsumsi tanpa air. Padahal kafein dalam kopi bisa membuat seseorang dehidrasi. Apalagi jika lebih dari 2 bungkus? dan kejadian ini dikira kesurupan.

Kasus duka terbaru di Gunung Merbabu menjadi bukti bahwa hipotermia tidak bisa dianggap remeh. Oky ditemukan tewas dalam tenda dan dinyatakan mengalami hipotermia. Pagi pukul 5.30 ketika seorang pendaki yang setenda dengannya hendak membangunkan Oky, ternyata dia sudah tidak bernafas.

Dehidrasi memang menjadi momok bagi para pendaki, tapi cuaca yang menyebabkan hipotermia menjadi mimpi buruk bagi siapapun. Hipotermua adalah gejalan dimana suhu tubuh melemah dari biasanya. Penurunan ini disebabkan oleh cuaca yang kadang tidak bisa diterima oleh keadaan tubuh normal.
Akibatnya orang tersebut akan jatuh dan menggigil dengan tidak wajar. Saat-saat seperti inilah orang disekitarnya harus cekatan untuk segera menolong. Jangan pernah remehkan gejala hipotermia ini.

 Sebuah keraguan yang kamu rasakan bisa menjadi penanda bahwa kamu harus menunda pendakian. Terkadang firasat itu sering betul terjadi.

Seharusnya kita dan alam adalah harmonisasi bukan tentang harga atau pembuktian diri.

Sebuah pendaki haruslah memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi dan memperhatikan kemampuan diri. Ketika kamu ragu dalam pendakian sebaiknya urungkan saja niatmu. Keragu-raguan secara psikologis menandakan bahwa kamu belumlah siap. 
Akan menjadi lebih buruk lagi ketika kamu ragu untuk mendaki dan kamu dalam kondisi persiapan dan kesehatan yang kurang baik. Hal itu malah akan menambah petaka.

Belajar dari tragedi yang menimpa Oky, bahwa sebelumnya dia ragu antara mau berangkat atau tidak. Tetapi kemudian ia tetap berangkat dan akhirnya sebuah petaka menghampirinya.

Ingat tujuan kita naik gunung adalah turun lagi dan kembali kerumah dengan selamat, bukan kembali hanya tinggal nama.



- dikutip dari beberapa sumber



Baca selengkapnya

Monday, 8 February 2016

Hipotermia Pembunuh No Satu di Gunung

Hipotermia adalah suatu kondisi dimana mekanisme tubuh untuk pengaturan suhu kesulitan mengatasi tekanan suhu dingin. Hipotermia juga dapat didefiniskan sebagai suhu bagian dalam tubuh di bawah 35 derajat celcius. Tubuh manusia mampu mengatur suhu pada zona terminetral yaitu antara 36,5 - 37,5 derajat celcius. Di luar suhu tersebut respon tubuh untuk mengatur suhu akan aktif menyeimbangkan produksi panas dan kehilangan panas dalam tubuh.

Gejala hipotermia ringan ditandai seperti penderita berbicara melantur, kulit menjadi sedikit berwarna abu-abu, detak jantung melemah, tekanan darah menurun dan terjadi kontraksi otot atau menggigil sebagai usaha tubuh menghasilkan panas.




Para penderita hipotermia moderat , detak jantung dan respirasi melemah mencapai hanya 3-4 kali bernafas dalam satu menit. 
Pada penderita parah pasien bisa tidak sadarkan diri, badan menjadi sangat kaku, pupil mengalami dilatasi, terjadi hipotensi akut dan pernafasan sangat lambat hingga tidak kentara.

Hipotermia terjadi bila penurunan suhu inti tubuh di bawah 35 derajat celcius. Pada suhu ini mekanisme kompensasi fisiologis tubuh gagal untuk menjaga panas tubuh.



Klasifikasi :

Berdasarkan sumber paparan yaitu :
- Hipotermia Primer : terjadi akibat paparan langsung individu yang sehat terhadap dingin.
- Hipotermia Sekunder : mortalitas banyak terjadi pada fase ini dimana terjadi kelainan secara sistematik.

Berdasarkan temperature :
- Hipotermia Ringan (34-36 C)
Kebanyakan orang bila berada di suhu ini akan menggigil secara hebat, terutama di seluruh ekstremitas. Bila suhu tubuh lebih menurun lagi pasien mungkin akan mengalami amnesia dan disatria (susah bicara dengan jelas). Peningkatan kecepatan nafas juga mungkin terjadi.

- Hipotermia Sedang (30-34 C)
Terjadi penurunan konsumsi oksige oleh sistem saraf secara besar yang mengakibarkan terjadinya hiporefleks atau reflek lemah, hipoventilasi (kurang tarikan nafas), dan penurunan aliran darah ke ginjal. Bila suhu tubuh semakin menurun  kesadaran pasien bisa menjadi stupor atau berkurangnya sensitivitas terhadap rangsang, hanya bereaksi oleh rangsang dasar seperti nyeri, tubuh kehilangan kemampuan untuk menjaga suhu tubuh dan adanya resiko timbul aritmia (gangguan irama jantung)

- Hipotermia Berat =<30
Penderita rentan mengalami fibrilasi ventrikular (kontraksi otot jantung pada ventrikel/bilik jantung yang tidak terkendali dapat menyebabkan henti jantung dan penurunan kontraksi miokardium (otot jantung). Penderita juga rentan untuk menjadi koma, denyut nadi sulit ditemukan, tidak ada reflex, apnea (henti nafas) dan oligouria (pengeluaran urine lebih dari 100 ml/hari namun kurang dari 400 ml/hari. Ini menandakan adanya gangguan ginjal dan disfungsi organ dalam (multiple organ dysfunction). Pada fase ini juga akan terjadi Paradoxal Sense Of Warm dimana korban akan merasakan panas yang luar biasa sehingga merasa gerah padahal suhu tubuh korban terus menurun. Dalam keadaan kesadaran terganggu, korban akan melepaskan pakaiannya karena merasa gerah kepanasan. Namun ini adalah fase kritis dimana selanjutnya suhu tubuh korban akan menurun drastis dan selanjutnya mengantuk, tertidur dan tewas.

Banyak kasus korban ditemukan meninggal di gunung dalam keadaan hanya mengenakan pakaian dalam, ini adalah tanda khas kematian yang disebabkan oleh Hipotermia.


PERTOLONGAN
Pada fase hipotermia ringan, penderita dapat dibantu menghangatkan dirinya dengan panas tubuh sendiri yaitu dengan dilepaskan semua pakaian yang basah dan diganti dengan pakaian yang kering, kemudian dibungkus dengan selimut thermal darurat dan dimasukkan ke dalam sleeping bag. Cara ini disebut penghangatan pasif (Passive Rewarming).

Pada fase hipotermia sedang jika nampak gejalanya segera hangatkan korban dengan api unggun, selimut thermal darurat atau dengan air hangat dalam kemasan atau hydration bag (cramel bag) yang ditempelkan ke tubuh penderita. Panas tubuh orang lain juga bisa digunakan dengan cara dibungkus bersama dalam selimut thermal dan dimasukkan ke dalam sleeping bag. Cara ini disebut penghangatan aktif  (Active  Rewarming)

Pada hipotermia berat sebisa mungkin hangatkan tubuh korban dan segera mungkin mendapatkan penanganan medis. Jika terjadi henti jantung segera lakukan Resusitasi Jantung Paru (Cardio Pulmonary Resusiatation/CPR) sesuai standar.
Jurus paling jitu mengatasi hipotermia adalah mencegahnya terjadi dengan cara hindari mengenakan pakaian basah, selalu membawa pakaian penahan dingin yang cukup dan saling memperhatikan gejala-gejala hipotermia yang terjadi pada diri anda sendiri ataupun reka seperjalanan.

Emergency Thermal Blanket / Selimut penahan panas tubuh darurat adalah alat sederhana murah, ringkas namun merupakan pertolongan pertama yang dapat menyelamatkan nyawa dalam kasus hipotermia.
Terbuat dari Polyetilene yang dilapis dengan material Mylar. Selain dapat menahan 90% panas tubuh, juga dapat dijadikan Signalling Mirror/ Cermin Sinyal. Selalu bawa emergency thermal blanket dalam survival kit anda.




Semoga bermanfaat.
Dikutip dari beberapa sumber.
Baca selengkapnya

Dosa Seorang Pendaki

Mendaki gunung merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan bagi kalangan mereka pecinta alam atau yang suka berpetualangan. Banyak yang beranggapan bahwa mendaki gunung adalah sebuah hal keren dan terlihat gagah berani, padahal mendaki gunung merupakan kegiatan yang harus benar-benar dilakukan oleh orang yang mencintai alam bukan merusak alam.



Berikut ini adalah hal-hal salah yang sering dilakukan oleh seorang pendaki :

1. Mencemari Lingkungan

Menyandang nama dari pecinta alam tentunya kita harus berkomitmen sesuai nama yang disandang. Seorang pecinta alam seharusnya wajib dan turut serta dalam melestarikan dan menjaga alam ini. Termasuk menjaganya tetap bersih. Saat ini kebanyakan dari mereka yang tidak bertanggung jawab dan seakan acuh dengan apa yang telah dilakukan seperti membuang sampah sembarangan seperti dari hal kecil yakni bungkus permen dll.

2. Bersifat Acuh dan Pasif

Sifat acuh adalah sifat yang harus dihindari, mengingat bahwa mendaki gunung adalah sarana belajar untuk kita lebih peduli pada sekitar kita. Menjadi seorang pendaki harus memiliki kesadaran yang besar untuk menjaga lingkungan dan benar-benar menjadi pecinta alam yang mencintai alam ini bukan hanya sekedar penikmat alam yang tidak tau diri.

3. Melakukan Pendakian Masal yang Tidak Konservatif

Semakin maraknya aktivitas mendaki gunung dan mengexplore alam menjadikan banyak orang berbondong-bondong mengunjungi satu-persatu tempat yang terdengar hits. Lantas karena hal itu banyak dari mereka terkadang tidak memperkirakan dan memperhitungkan kapasitas akan tempat yang mau mereka datangi. Hanya asal ramai-ramai saja tapi malah merusak ekosistem.


4. Merusak Keasrian Alam

Di setiap jalur pendakian entah itu di pohon, di bangunan shelter, tugu, batu dll banyak sekali coretan-coretan yang tidak enak dilihat dan merusak keasrian dari tempat tersebut. Dengan alih-alih ingin menunjukkan dan meninggalkan kenangan bahwa mereka pernah menginjakkan kaki disini, tapi tidak tau kalau perbuatan seperti mencoret-coret merupakan hal yang tidak bertanggung jawab. 

Selain itu seperti membuang putung rokok sembarangan juga akan mengakibatkan kebakaran yang nantinya malah merusak alam.

Satu hal lagi yang sering dilakukan adalah memetik bunga Edelweiss. Seharusnya kita tidak boleh mengambil apapun dari alam entah itu kecil atau besar. Ingat bahwa tujuan utama kita adalah untuk belajar dari alam. 

Jangan rusak alam ini, karena alam ini adalah titipan anak cucu kita.!!
Baca selengkapnya

Wednesday, 5 August 2015

Tips Sholat Ketika Mendaki Gunung

Bagi seorang muslin sholat adalah hal yang wajib dilakukan dimanapun berada dan dalam kondisi apapun. Ketika melakukan perjalanan seperti mendaki gunung tentu saja kita akan kesulitan untuk melakukan sholat lima waktu. Hal ini dikarenakan perjalanan seperti mendaki gunung selalu membutuhkan tenaga dan menyita waktu. Oleh karena itu islam memberi solusi dengan aturan-aturan yang sangat mempermudah kita sebagai pendaki dan penggiat alam yang tentunya banyak menghabiskan waktu di alam terbuka.



Berikut ini adalah beberapa panduan atau tips sholat ketika dalam perjalanan seperti mendaki gunung :


Sholat di Kendaraan

Ketika kita sedang berada di perjalanan menuju lokasi pendakian, tentunya juga membutuhkan banyak waktu belum lagi kalau gunung yang kita tuju jauh dari tempat kita. Pastinya juga akan menghabiskan waktu yang tidak sebentar. Nah otomatis kita akan melewati beberapa kali waktu sholat. Ada beberapa cara melakukan sholat ketika di dalam kendaraan seperti pesawat, kereta atau bus.


- Tayammum sebagai pengganti wudhu

Media yang bisa kita gunakan untuk tayammum adalah seluruh permukaan bumi yang bersih baik itu berupa pasir, tanah entah lembab atau kering.

Tata Cara Tayammum :

- Membaca niat "Nawaitut-tayammuma li istibaahatish-shaalati fardhal lillahi ta'aalaa"
- Meletakkan kedua telapak tangan pada benda atau tempat yang berdebu bersih
- Kemudian kedua telapak tangan ditiup atau ditepukkan kemudian mengusapkan punggung telapak tangan kanan dengan tangan kiri begitupun sebaliknya.
- Kemudian menyapu atau mengusap wajah dengan kedua telapak tangan.
- Semua usapan dilakukan sekali.
- Bagian tangan yang diusap hanya sampai pergelangan tangan saja.

- Sholat Menghadap Arah Duduk
Jika di atas kendaraan tentunya kita kesulitan untuk sholat menghadap kiblat, oleh karena itu kita bisa melakukan sholat menghadap sesuai kendaraan, namun jika memungkinkan dan bisa menghadap kiblat, maka sholatlah menghadap kiblat.

Beberapa pendapat mengatakan selain melakukan sholat ketika di kendaraan kita juga bisa mengqadha sholat kita.


Sholat di Gunung

Ketika dalam pendakian beberapa kondisi akan terjadi pada diri kita seperti udara dingin, mengejar waktu, disorientasi arah, dan tentunya persediaan air yang terbatas. Untuk menghadapi hal-hal seperti itu Islam telah memberikan solusi agar kita tetap bisa menjalankan sholat.

- Dalam berwudhu kita bisa hanya membasuh muka, kedua tangan, sebagian kepala dan kaki saja karena yang diwajibkan. Masing-masing bisa dibasuh sekali saja tanpa harus tiga kali. Bila kondisi tidak memungkinkan bisa melakukan tayammum.
Berwudhu juga bisa dilakukan ketika masih menggunakan sepatu. Hal seperti ini juga memang telah diajarkan oleh Rasulullah dahulu.

Caranya sama saja dengan wudhu, tapi cukup membasuh bagian atas sepatu daru bagian terus ke belakang sebagai ganti cuci kaki. Namun perlu diingat sepatu yang digunakan haruslah menutup mata kaki dan bukan terbuat dari bahan yang tipis dan tembus air. Selain itu juga tidak boleh ada bagian yang bolong dan robek.


Sholat Menghadap Kiblat

Ketika hari masih terang tentu kita akan mudah menentukan arah kiblat. Namun akan sangat menyulitkan ketika malam hari atau ketika kondisi tertutup kabut tebal yang menutup sinar matahari.


Beberapa cara menentukan arah kiblat :

- Cara termudah adalah dengan menggunakan kompas
- Rasi bintang Orion (Bintang Waluku/Bajak/Belantik) untuk arah barat. Ini adalah rasi yang paling mudah dikenali. Ciri khasnya adalah tiga buah bintang yang terang, saling berdekatan dan dalam satu garis lurus. Tiga bintang tersebut disebut sabuk Orion. Satu garis yang menghubungkan tiga bintang itu bisa dijadikan petunjuk arah kiblat.


Sholat Menggunakan Sepatu Trekking

Seorang yang sholat boleh dalam kondisi sedang mengenakan sepatu. Jadi memakai sepatu dalam sholat itu tidak dipermasalahkan.


Sholat Jama' dan Qasar

Sholat fardhu boleh dijamak bila kita dalam kondisi safar atau melakkukan perjalanan jauh. Mendaki gunun termasuk salah satu bentuk perjalanan yang bisa dijadikan dasar daru menjamak sholat. Sholat yang boleh dijama' adalah sholat dzuhur dengan sholat ashar dan sholat maghrib dengan sholat isya'.
Ada pula yang disebut mengqasar sholat yakni dengan cara meringkas jumlah rakaat, misalnya sholat dzuhur, ashar dan isya' yang tadinya 4 rakaat di qasar menjadi 2 rakaat.


Buang Air Besar

Bagi sebagian pendaki buang hajat terkadang menjadi kendala ketika naik gunung. Mungkin karena tidak terbuasa jadi terpaksa mencari lokasi yang sekiranya nyaman untuk buang hajat. Yang menjadi masalah adalah bagaimana kita untuk ceboknya mengingat kondisi air yang terbatas.
Islam memberikan solusi bukan dengan air tapi dengan benda seperti batu, kayu, daun kering. Pendaki sekarang biasanya suka membawa tissue basah untuk keperluan jika sewaktu-waktu ingin buang air di gunung.


Mimpi Basah

Yang namanya mimpi basah tentunya tidak kenal waktu dan tempat serta tidak bisa dicegah. Bisa saja ketika di gunung kita kedatangan rejeki. Lantas bagaimana mandi wajibnya?
Dalam kondisi di gunung dengan udara yang sangat dingin sehingga untuk menyentuh air pun akan terasa beku, maka kita bisa melakukan tayammum sebagai penggantinya. Tayammum sendiri juga bisa menghilangkan hadats kecil dan hadats besar. Jadi tidak perlu mandi wajib di gunung jika nantinya hanya bisa membuat sakit.


Hal-hal yang dijelaskan di atas merupakan beberapa panduan sholat ketika kita mendaki gunung. Semoga bermanfaat.





Baca selengkapnya

Monday, 20 July 2015

Berwudhu Di Alam Bebas

Ketika kita mendaki gunung atau berada di alam bebas, kita sering meninggalkan kewajiban sebagai umat muslim yaitu sholat. Untuk melakukan sholat tentunya kita terlebih dahulu harus melakukan yang namanya wudhu, jika memang di tempat itu terdapat sumber air yang bisa kita gunakan untuk berwudhu. Nah bagi kita yang sering kali pergi mendaki gunung, berikut ini beberapa tips berwudhu di alam.




1. Carilah sumber mata air atau aliran sungai yang mengalir.2. Bila tidak terdapat sumber mata air, kita bisa menggunakan genangan air dengan syarat volume harus memenuhi sebanyak 2 Qullah3. Tidak semua sumber air bisa digunakan, berhati-hatilah. Cek kondisi permukaan air dengan cara melakukan pengamatan visual, warna dan tumbuhan yang mengapung di atasnya. Apakah tumbuhan itu bisa hidup atau tidak.4. Berhati-hatilah di sumber air karena biasanya juga banyak binatang.5. Sibaklah dengan kedua tangan dan coba cium aroma air.6. Rasakan apakah tangan gatal atau tidak, jika tidak maka bisa kita gunakan.
Baca selengkapnya

Wednesday, 24 June 2015

Tumbuhan Survival di Alam Bebas

Mendaki gunung dan  bercengkrama dengan alam saat ini tidak dapat dipungkiri telah menjadi daya tarik yang luar biasa tidak hanya bagi pecinta alam, tapi semua kalangan dari yang muda sampai yang tua. Mendaki gunung atau melakukan aktivitas yang berhubungan dengan alam tentunya harus mempunyai persiapan dan kesiapan yang baik. Hal ini dikarenakan semua bisa saja terjadi di alam tanpa kita bisa menduganya. Oleh karena itu mengantisipasi dan mencegah hal-hal buruk terjadi itu lebih baik.


Jika kita berjalan dan melangkah di alam liar salah satu hal buruk yang kemungkinan sering kita alami adalah kehabisan makanan dan minuman. Nah oleh karena itu persiapan sebelum melakukan kegiatan dan bekal pengetahuan sangatlah penting untuk kita bisa menghadapi kerasnya alam dengan segala keterbatasan yang kita punya.

Nah di sini saya hanya ingin sedikit berbagi pengetahuan tentang tumbuhan-tumbuhan apa saja yang bisa kita gunakan untuk survival di alam raya, berikut ulasannya :

1. Daun Pohpohan


Daun Pohpohan mempunyai nama latin Pilea Melastomoides. Tumbuhan ini banyak sekali tumbuh di alam liar. Tumbuhan ini tentunya bisa kita makan jikalau kita sedang kehabisan makanan dan melakukan survival di alam. Tumbuhan ini juga memiliki kandungan gizi yang cocok untuk dijadikan sayuran atau lalapan. 

Daun Pohpohan memiliki ciri-ciri berwarna hijau, daunnya lebar dan pinggirnya seperti gerigi. Baunya harum dan biasanya tumbuh di daerah lembab. Saat darurat kita bisa memakan pucuk daunnya.


2. Daun Semanggi


Nah tentunya sobat sering menjumpai tumbuhan ini yang biasanya tumbuh di area persawahan. Pernahkan sobat mendengar tentang daun semanggi yang berdaun empat (four - leaf clover) yang konon bisa membawa keberuntungan? 

Untuk mengidentifikasinya, daun semanggi memiliki bentuk seperti hati dan membentuk payung di tangkainya. Daun semanggi juga dikenal sebagai tumbuhan herbal yang bisa dijadikan bahan untuk pecel dan aman dikonsumsi.

3. Cantigi

Saya rasa ini juga tidak asing bagi sobat yang suka sekali mendaki gunung. Iyah Cantigi atau Vaccinium Faringiaefolium adalah salah satu tumbuhan yang biasanya hanya dapat kita jumpai di puncak-puncak gunung. Yang lebih menarik cantigi dianggap sebagai tanaman pelindung pendaki selain bisa melindungi dari hujan dan badai, Cantigi juga bisa dimakan dan memiliki banyak nutrisi.

Bagian dari cantigi yang bisa kita makan adalah pucuk-pucuk daunnya yang berwarna merah serta buahnya yang berwarna hitam. Rasanya juga tidak terlalu mengecewakan, di lidah daun cantigi terasa segar dan sedikit asam, mengingatkan kita dengan rasanya buah belimbing. Sementara buahnya yang terasa asam dan berserat dipercaya bisa mengembalikan stamina.

4. Buah Murbei 


Haha.. pasti kebanyakan orang pernah memakan buah ini. Murbei gunung adalah salah satu tanaman sejenis beri yang biasa kita temui di gunung. Di Alun-alun Suryakencana misalnya sobat bisa menjumpainya dengan mudah. 
Buah Murbei ini berukuran kecil serupa stroberi. Buah yang sudah matang umumnya berwarna merah atau cenderung kehitam-hitaman. Selain rasa yang asam dan manis, kandungan air di dalamnya juga lumayan untuk melegakan rasa haus saat sobat membutuhkan air.


5. Pohon Pisang


Yang satu ini jelas tidak asing lagi buat sobat. Siapa yang tidak tahu pisang? Buah ini tentunya sering kita konsumsi setiap harinya. Jelas tidak sulit untuk menemukan buah pisang.

Nah di gunung memang kadang terdapat pohon pisang, tapi yang menjadi masalahnya adalah kadang tak ada buahnya. Ternyata pohon pisang tak hanya bisa dinikmati buahnya saja, melainkan bisa juga di bagian batangnya untuk di makan. Belahlah batang pisang itu dan ambil inti batangnya yang lunak. Nah inti batangnya itulah yang bisa kita makan.

6. Ciplukan


Orang sering menyebutnya Ciplukan. Buah ciplukan ini memiliki nama lating Physalis Angulata L. Tumbuhan ini tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Tumbuhan ini sejenis tumbuhan perdu yang biasanya bisa sobat temui di daerah terbuka yang kaya sinar matahari.
Umumnya tumbuhan ini bisa kita temui sampai ketinggian 1.500 mdpl. Saat keadaan darurat tanaman ini bisa dimakan buahnya. Buahnya kecil-kecil tertutup kuncup dan rasanya manis. Tumbuhan liar ini juga cukup dikenal karena juga memiliki banyak khasiat untuk kesehatan. Biasanya orang-orang memanfaatkannya untuk tanaman herbal.


7. Rotan


Ternyata rotan tak hanya bisa dijadikan sebagai perabot rumah saja, tapi beberapa bagiannya juga bisa kita manfaatkan untuk bertahan hidup. Meski tumbuhan ini berduri tapi bagian-bagiannya bisa kita konsumsi untuk bertahan hidup. Bagiannya itu adalah pada rotan muda yang serupa rebung bambu. Bahkan di Kalimantan sering diolah menjadi masakan lezat.

Selain rebungnya, kita juga bisa memakan inti batangnya yang berduri. Bersihkan dulu durinya dan belah batangnya. Sementara buahnya yang masih muda dan berwarna kehijauan juga bisa sobat konsumsi.


8. Begonia


Begonia adalah tanaman yang umumnya sering dijadikan tanaman hias karena bunganya yang cantik. Tapi ternyata begonia ini juga bisa dimanfaatkan jika keadaan terpaksa. Begonia sendiri tumbuh liar di hutan. Biasanya sering disebut Hariang Bulu. Batangnya berwarna merah dan daunnya hijau berbulu.

Meski berbulu bagian batangnya bisa kita konsumsi. Pilih batang yang masih muda, potong dan kupas bagian kulitnya yang berbulu. Selain bisa langsung dikonsumsi batangnya juga kaya dengan kandungan air.


9. Selada Air


Iyah Selada air atau Nasturtium Officinale adalah tumbuhan akuatik atau semi akuatik yang bisa kita temukan di tepi sumber air yang mengalir. Misalnya di pinggir sungai. Selain mudah ditemukan dalam jumlah besar, tumbuhan ii juga kaya dengan kandunga gizi, bahkan dipercaya bisa mengobati berbagai penyakit seperti kanker. Makanya tumbuhan ini layak banget untuk dikonsumsi saat keadaan darurat.
Selada air banyak kita jumpai di Gunung Argopuro sewaktu kita mendaki. 

10. Ilalang


Ilalang? Banyak orang tak mengira kalau ilalang bisa kita gunakan untuk bertahan hidup di alam. 
Ilalang adalah tumbuhan yang umum kita jumpai tumbuh liar di mana saja, mulai dari daerah penduduk sampai di jalur pendakian. Tapi siapa tahu kalau tumbuhan ini ternyata bisa kita manfaatkan untuk dikonsumsi. 
Kita bisa mengambil akarnya yang berbentuk umbi. Jika kita makan rasanya manis.


Di alam berarti kita harus bisa bersyukur dengan segala kekurangan yang kita miliki. Alam akan mengajarkan bagaimana kita untuk berjuang dan bertahan di dalam keterbatasan. Kita dituntut lebih jernih untuk berpikir. Kita dituntut untuk lebih mensyukuri apa yang kita miliki. Bagaimana memanfaatkan apa yang ada adalah bagaimana kita bisa tetap hidup.

Baca selengkapnya