Saturday, 10 January 2015

Tips dan Cara Memprediksi Cuaca Ketika Mendaki

Memprediksi Cuaca Ketika Mendaki Gunung


Rencana berpergian atau liburan bersama teman dan keluarga memerlukan persiapan yang benar-benar matang. Apalagi jika kita akan pergi untuk mendaki gunung. Tak hanya perbekalan dan fisik yang harus kita siapkan dengan baik, tapi kita juga harus merencanakan dengan baik kapan dan waktu yang tepat untuk pergi mendaki gunung, salah satunya yaitu kita harus memperkirakan cuaca dengan baik. Karena bisa saja jika kita tidak memperkirakan cuaca dengan baik, persiapan yang kita bawapun akan tidak lengkap. Misalnya saat musim hujan kita tidak membawa jas hujan. Bisa kita bayangkan bagaimana pentingnya jas hujan ketika mendaki saat musim hujan?. Nah disini kita akan berbagi mengenai cara atau tips memperkirakan atau meramal cuaca.

Prakiraan cuaca biasanya bisa kita dapat dari media massa dan ada beberapa cara lain yang dapat dilakuan. Berikut cara-cara yang cukup efektif dan mudah untuk memperkirakan cuaca yang dapat dilakukan oleh siapa saja :

1. Cara paling mudah meprediksi cuaca adalah dengan melihat kondisi langit. Jika langit dipenuhi awan mendung sangat mungkin hujan akan segera turun. Sebaliknya jika langit cerah kemungkinan hujan tidak akan turun, tapi jika musim hujan hal itu tidak bisa menjadi acuan jika langit cerah tidak turun hujan. Tetap saja kita harus menyediakan atau membawa peralatan anti hujan.

2. Arah angin bisa menjadi sumber info juga jika ada angin lembah dari arah utara atau arah timur kemungkinan cuaca baik, namun jika datangnya dari arah barat atau barat daya, kemungkinan hujan atau gerimis akan tiba.

Bagaimana mengetahui arah angin? Mudah saja, basahi jari telunjuk ke dalam mulut, lalu acungkan jari ke atas menghadap lurus ke utara. Rasakan bagian paling dingin di jari tangan kalian datang dari arah mana, karena sisi itulah yang menunjukkan arah angin dominan bertiup.

3. Memperkirakan cuaca dapat juga dilalukan dengan melihat serangga atau burung. Jika binatang atau burung tersebut terbang rendah atau lebih sering berada di daratan, lebih baik bersiap-siap kalau hujan akan turun. Hal ini bisa terjadi lantaran mereka menghindari angin yang cukup kencang di atas.
Lebah juga dapat dijadikan penanda hujan. Jika binatang satu ini terlihat sibuk di kebun, kita dapat berlega hati karena cuaca akan cerah. 
Untuk kura-kura akan mencari dataran yang lebih tinggi jika hujan besar akan datang. Sedangkan semut akan membangun sarang mereka dengan tepian yang curam sebelum hujan datang.

4. Matahari bisa membanti kita memrediksi cuaca. Apabila ketika terbit memiliki warna merah tua disertai awan gelap maka kemungkinan akan turun hujan. Jika terang dengan cahaya penuh maka kemungkinan cuaca akan cerah. Jika ketika matahari terbenam warnanya kuning cerah dan orange di bawahnya, maka kemungkinan hujan akan turun. Hujan kemungkinan juga akan turun jika warnanya kuning pucat.

5. Kondisi bulan bisa dijadikan patokan pula. Jika bulan bersinar sangat terang itu berarti menandakan cuaca akan baik atau cerah. Jika banyak awan yang menyelimuti bulan ada kemungkinan hujan akan turun. Kmudian amati pula di sekitar sinar bulan itu ada cincin cahaya yang disebut sebagai "halo". Halo adalah cristal es dan sekaligus bibit air di langit sana. Jika ada cincin cahaya ini maka bisa jadi besok atau lusa akan turun hujan lebat.

6. Jika kita berada di dataran tinggi kabut bisa menjadi salah satu acuan. Jika kabut menggumpal cerah seperti awan maka cuaca kemungkinan akan baik. Kabut di lembah pada pagi hari meramalkan cuaca baik tapi kabut di gunung meramalkan akan turun hujan.

7. Terakhir jika hujan turun, umumnya hawa arau suhu menjadi lembab. Jika udara berbau seperti pupuk kompos, maka kemungkinan akan hujan. Karena bau akan lebih tercium kuat saat udara lembab. 

Di atas hanyalah sekedar tips atau cara untuk meramalkan cuaca, tapi hal tersebut tidak menjamin kalau hujan atau cerah benar-benar tepat.
Baca selengkapnya

Thursday, 8 January 2015

Mengungkap Misteri Gunung Merapi

Kisah Mistis Gunung Merapi


Sejak zaman dahulu misteri Gunung Merapi yang terletak di perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah ini memang menarik perhatian dan sering dibicarakan masyarakat. Misteri ini tidak lepas dari segala hal ghaib yang terkadang menjadi ciri khas gunung ini. Gunung Merapi sendiri adalah salah satu gunung vulkanik teraktif di Indonesia.

Penunggu Gunung Merapi

Misteri Gunung Merapi tidak bisa lepas dari kepercayaan banyak orang bahwa di gunung itu hidup banyak makhluk halus yang sekaligus menjadi penguasanya. Menurut penduduk setempat, Eyang Merapi adalah raja makhluk halus di Gunung Merapi. Penduduk setempat mempercayai bahwa Eyang Sapu Jagad merupakan jin penguasa Merapi yang menentukan apakah gunung akan meletus atau tidak. Karenanya di zaman dahulu Raja Yogyakarta sering memberi sesaji agar Eyang Sapu Jagad tidak marah.

Sementara Eyang Megantara dipercayai sebagai pengendali cuaca di sekitar Gunung Merapi. Nyi gadung Melati dipercaya sebagai pimpinan para makhluk halus wanita dan bertugas untuk menjaga kesuburan tanaman di wilayah tersebut. 

Eyang Antaboga dipercaya sebagai penjaga keseimbangan Gunung Merapi di permukaan bumi. Mbah Petruk dipercaya sebagai pemuka jin yang akan memberi tanda tentang kapan Gunung Merapi akan meletus. Kyai Sapu Angin dipercaya menjaga ternak dan semua hewan di Gunung Merapi. Makhluk halus yang satu ini sangat akrab di telinga penduduk setempat karena jin ini sering mendatangi penduduk. 


Pasar Bubrah

Cerita gaib lainnya yang cukup membuat merinding adalah pasar makhluk halus. Cerita ini juga merupakan misteri Gunung Merapi yang cukup dikenal masyarakat luas. Menurut cerita almarhum Mbah Marijan, setiap malam Jumat akan ada pasar Bubrah yang merupakan pasar para makhluk halus. Setiap malam jumat akan terdengar kegaduhan mirip pasar seperti pasar pada umumnya. Suara alunan gamelan dan gending Jawa akan kedengar. Ada beberapa pendaki Gunung Merapi yang sudah membuktikan kebenaran mitos Pasar Bubrah ini.

Seperti daerah angker lainnya, Gunung Merapi terkadang meminta tumbal. Misteri Gunung Merapi ini memang sulit dipercaya bagi orang di luar kawasan Merapi. Namun realitasnya beberapa pendaki menjadi korban di Gunung Merapi. Penduduk percaya bahwa itu merupakan tanda bahwa penguasa Merapi sedang menginginkan tumbal. Penduduk setempat mempercayai bahwa tumbal yang akan diambil penguasa Merapi adalah orang yang bertabiat buruk maupun orang yang membuatnya marah.


Awan Mbah Petruk


Sebelum terjadi erupsi pada awal bulan November tahun 2010 lalu, masyarakat setempat digemparkan oleh penampakan awan Mbah Petruk yang berhasil tertangkap kamera oleh seorang warga Magelans bernama Suswanto. Terdapat cerita menarik yang sempat beredar di masyarakat tentang awan Mbah Petruk yang terlihat menoleh ke kanan. Petruk sendiri adalah salah satu tokoh pewayangan Jawa yang sering diibaratkan sebagai seorang rakyat. Saat dimainkan oleh dalang, wajah Petruk biasanya selalu menoleh ke kiri, tidak hanya itu awan Mbah Petruk yang mengarah ke selatan juga merupakan pertanda bahwa kemarahannya akan lebih difokuskan ke wilayah selatan Merapi.

Dan pada akhirnya pada 5 November 2010 sesuai kepercayaan masyarakat akan pertanda dari Mbah Petruk, terjadi erupsi Gunung Merapi dengan letusan yang begitu dahsyat dan menimbulkan banyak korban.


Baca selengkapnya

Mendaki Gunung Penanggungan (Miniatur Semeru)

Gunung Penanggungan Miniatur Gunung Semeru


Gunung Penanggungan, merupakan gunung berapi yang sedang dalam keadaan tidak aktif. Gunung Penanggungan sering disebut miniatur Semeru, karena jika di lihat kondisi puncaknya sangat tandus, mirip dengan Gunung Semeru. Ketinggian Gunung Penanggungan sekitar 1.653 mdpl, dimana puncaknya terdiri dari bebatuan cadas dan jarang di tumbuhi oleh pepohonan, hingga jika di lihat dari kejauhan mirip kepala botak tanpa rambut. Pada malam hari, udara di puncak Gunung Penanggungan berkisar sekitar 10 - 15 derajat sedangkan pada siang hari berkisar sekitar 15 - 25 derajat. Dari kaki sampai lereng bawah Gunung Penanggungan berupa hutan lindung dengan jenis tanaman rimba seperti jempurit, kluwak, ingas, kemiri, dawung, bendo, wilingo dan jabon. Di bawah pohon-pohon raksasa ini, tumbuh tanaman empon - empon seperti kunir, laos, jahe dan bunga - bunga kecil. Lebatnya pepohonan menyebabkan udara di sini terasa lembab karena sinar matahari tidak sepenuhnya menembus tanah.Sampai di lereng atas ditumbuhi caliandra, yang bercampur dengan jenis Resap, Pundung dan Sono. Caliandra merah tampak mendominasi tumbuh lebat hampir menutup permukaan tanah, walaupun pertumbuhannya kerdil di tengah hamparan rumput gebutan. Demikian juga keadaan di puncak, hanya akar rumput gebutan yang mampu tumbuh menerobos kerasnya batuan padas Gunung Penanggungan. Keadaan medan Gunung Penanggungan tidak berbeda dengan gunung - gunung lain : datar, landai, miring, berbukit dan berjurang. Di kaki gunung, keadaan medannya landai sampai sejauh 2 km. Naik ke atas kemiringannya berkisar 30 - 40 derajat. Di bagian perut gunung agak curam, berkisar 40 -50 derajat sepanjang 1 km. Sampai di dada gunung, banyak jurang - jurang dengan kemiringan berkisar 50 -60 derajat; tanahnya berbatu sepanjang 2 km dari dada, leher sampai puncak gunung. Medannya amat curam, berbatu, licin dan kemiringannya berkisar 60 -80 derajat sepanjang 1,5 km. sampai di puncak, batu - batu padas nampak di sana - sini. Di puncak terdapat lembah, barangkali semacam kawah yang sudah tidak aktif lagi. Luasnya sekitar 4 ha. Tempat ini biasanya dimanfaatkan untuk base camp. Tempat yang nyaman untuk menikmati keindahan pada malam hari. Untuk mencapai puncak Gunung Penanggungan terdapat 4 ( empat ) arah pendakian yaitu via Trawas, Jolotundo, Ngoro dan via Pandaan. Bagi pendaki yang memilih start dari Desa Jolotundo dan Ngoro, di sepanjang jalan akan melewati candi - candi peninggalan purbakala. Yang memilih start dari Desa Trawas dan Pandaan hampir tidak menjumpai peninggalan purbakala. 

Jalur Trawas 
Untuk mencapai Trawas, dari Surabaya atau Dari Malang naik bis menuju Pandaan, naik lagi Minibus menuju ke Trawas. Selama perjalanan jalan yang dilalui sudah beraspal. Dari Desa Trawas,Mojokerto,kita menuju ke desa Rondokuning ( 6 km ) dengan kendaraan roda 4 atau roda 2. Dari desa Rondokuning melewati jalan setapak hutan alam menuju ke puncak Penanggungandengan memakan waktu sekitar 3 jam. Sepanjang jalan, pendaki akan melihat pemandangan dari celah - celah lebatnya pohon kaliandra, puncak Gunung Bekel yang merupakan anak Gunung Penanggungan terlihat angker. Rumah - rumah penduduk, pabrik - pabrik, sawah - sawah terlihat di bawah. 

Jalur Jolotundo
Untuk mencapai Jolotundo dari Trawas naik lagi minibus sekitar 9 Km. Desa Jolotundo merupakan salah satu desa yang berada dekat dengan puncak Gunung Penanggungan ( 6,5 Km ). Pendakian lewat Jolotundo membutuhkan total waktu 3 jam. Perjalanan tidak melewati pedesaan, tetapi langsung menyusup ke dalam hutan alam. kemiringan medannya 40 derajat, melewati jalan setapak. Di kanan - kiri terdapat pohon - pohon besar. Hati - hati, di sekitar sini banyak jalan setapak yang menyesatkan.Setelah perjalanan memakan waktu 1 jam, hutan alam terlewati, berganti memasuki hutan caliandra yang amat lebat dengan jalan menanjak. 
Berjalan sekitar 30 menit pendaki melewati Batu talang, sebuah batu yang panjangnya 7 km tanpa putus, bersumber dari leher Gunung Penanggungan yang memanjnag seperti talang air menerobos hutan sampai ke Desa Jolotundo dan Desa Balekambang.  Dari Batu talang, terus menyusup hutan caliandra. Sekitar 300 m, sampailah di Candi Putri, sebuah candi peninggalan Airlangga yang berukuran sekitar 7x7x4 m dalam keadaan tidak utuh. Candi Putri ini dikelilingi oleh hutan caliandra yang sangat lebat.Dari Candi Putri, sekitar 200 m sampai di Candi Pure, yaitu sebuah candi yang berukuran 7x6x2 m terbuat dari batu andesit.  Dari Candi Pure, sekitar 150 m sampai di Candi Gentong. 
Disini terdapat meja. Candi gentong dan meja sebenarnya bukan candi, tetapi menurut masyarakat setempat dinamakan candi. Candi Gentong merupakan peninggalan kuno yang terbuat dari batu kali. Posisinya bersebelahan. Gentong terletak di sebelah Utara, meja terletak di sebelah selatan tetapi dalam 1 lokasi. Gentong berdiameter 40 cm bagian mulut dan 90 cm bagian perut, tebal 15 cm. Setengan badannya terpendam di dalam tanah. Sedangkan meja panjang 175 cm, lebar 100 cm dan tinggi 125 cm.  Setelah melewati Candi Gentong, perjalanan dilanjutkan menyusur ke atas. Lebih kurang berjalan 50 m sampai di Candi Shinto. Keadaan candi sangat memprihatinkan, panjang 6 m, lebar 6 m, tinggi 3 m, terletak di hutan wilayah RPH Seloliman. Setelah melewati hutan kurang lebih 300 m akan ditemui candi lagi, yaitu Candi Carik dan sekitar 300m Candi Lurah. Dan sampailah di puncak.

 Jalur Ngoro
 Untuk mencapai Ngoro bisa dari arah Pandaan atau dari Arah Mojokerto. Dari arah Pandaan naik minibus jurusan Ngoro sedangan dari arah Mojokerto naik minibus menuju arah Ngoro. Desa Ngoro lebih mudah dicapai lewat Mojokerto karena terletak di tikungan jalan jurusan antara Japanan, Mojosari, Kabupaten Mojokerto; persisnya di kaki Gunung Penanggungan sebelah Utara. Dari desa Ngoro kita menuju ke desa Jedong ( 6 Km ) dengan kendaraan angkutan pedesaan lalu perjalanan di teruskan menuju dusun Genting sekitar 3 Km. Masyarakat Desa Genting sebagaian besar penduduknya suku Madura.  Dari dusun Genting, pendaki naik ke atas memasuki hutan lindung, melewati jalan setapak menyusur ke atas, kemudian menurun dan melewati Candi wayang dan sekitar 2 km menuju puncak dengan medan yang sangat miring antara 70 - 80 derajat. Jalur lewat desa Ngoro ini lebih sulit dibandingkan dengan jalur desa Jolotundo.


//Dikutip dari beberapa sumber

Baca selengkapnya

Wednesday, 7 January 2015

Misteri Gunung Arjuno

Tempat Mistis di Gunung Arjuno



Gunung Arjuno atau Arjuna terletak di Malang, Jawa Timur yang memiliki ketinggian 3339 Mdpl. Di Gunung Arjuno terdapat banyak ditemukan petilasan bekas kerajaan Majapahit dan berbagai objek wisata seperti air terjun.

Namun konon untuk mendaki Gunung Arjuno harus sangat berhati-hati karena menurut banyak orang dan cerita masyarakat sekitar bahwa banyak pendaki yang tersesat atau hilang dan tidak bisa pulang kembali. Berikut ini adalah tempat atau legenda mistis di Gunung Arjuno :

Arjuna

Konon Arjuna pernah melalukan pertapaan di sebuah gunung dengan sangat khusyuk selama berbulan-bulan lamanya. Kemudian tubuhnya mengeluarkan sinar dan memiliki kekuatan luar biasa hingga membuat seluruh Kahyangan kacau.

Kawah Condrodimuko menyemburkan laharnya, bumi berguncang, petir menggelegar di siang hari, hujan turun dan menimbulkan banjir dan gunung tempat Arjuna bertapa terangkat ke langit.

Para Dewa yang khawatir maka melakukan tindakan untuk menghentikan pertapaan dari Arjuna tersebut. Kemudian Batara Ismaya diturunkan ke bumi dengan menjelma menjadi semar. Dengan kesaktiaannya Semar memotong puncak gunung tempat Arjuna bertapa dan melemparkannya ke tempat lain.

Kemudian Arjuna terbangun dari pertapaannya dan mendapat nasehat dari Semar untuk tidak melakukan pertapaannya lagi. Kemudian tempat pertapaan tersebut disebut Gunung Arjuna dan potongannya disebut Gunung Wukir.


Acara Ngunduh Mantu

Cerita mistis di Gunung Arjuno memang kerap terdengar dan sudah menjadi bahan pembicaraan masyarakat sekitar, seperti tentang adanya lantunan musik Ngunduh Mantu. Para pendaki atau penambang belerang kadang pun mendengar Ngunduh Mantu yaitu suara gamelan Jawa untuk acara pernikahan.

Menurut masyarakat jika mendengar musik atau alunan Ngunduh Mantu sebaiknya tidak melanjutkan pendakian ke puncak Gunung Arjuno karena jika memaksakan meneruskan pendakian maka si pendaki biasanya akan tersesat dan hilang.


Alas Lali Jiwo

Sebelum mencapai puncak Gunung Arjuno, terdapat tempat yang disebut oleh masyarakat sebgai alas Lali Jiwo atau berarti Hutan Lupa Diri. Menurut kepercayaan masyarakat setempat orang yang mempunyai niat jahat atau buruk jika melewati hutan ini akan tersesat dan lupa diri.

Menurut ahli spiritual daerah tersebut memang banyak dihuni oleh para jin. Para pendaki kadang mendengar suara gamelan dan kemudian menghilang. Konon pendaki tersebut dibawa oleh para jin penunggu daerah tersebut.

Menurut mitos para pendaki juga tidak boleh melanggar beberapa larangan seperti pendaki tidak boleh berjumlah ganjil, tidak boleh memakai baju merah dan tidak boleh merusak situs-situs petilasan Kerajaan Majapahit yang tersebar di area pendakian Gunung Arjuno tersebut.


Pasar Dieng

Di wilayah pendakian menujun puncak Gunung Arjuno dipercaya terdapat Pasar Dieng atau disebut Pasar Hantu. Di area Pasar Dieng tersebut terdapat makam para pendaki yang pernah meninggal di tempat tersebut. Wilayahnya yang datar dan luas merupakan area yang cocok untuk dijadikan pasar.

Konon pernah ada pendaki yang membuka tenda di wilayah ini untuk bermalam sebelum menuju puncak. Pada malam hari ia dikejutkan dengan suasana ramai di luar tendanya dan ia melihat sebuah pasar yang sangat ramai. Pendaki tersebut dikabarkan berkeliling pasar dan membeli sebuah jaket.
Kemudian ia kembali ke tenda dan besok pagi ketika ia bangun sudah tidak ada apa-apa disekitar tendanya. Sudah tidak terlihat bekas-bekas pasar dan jaket yang dibelinya pun masih ada namun uang kembaliannya berubah menjadi daun.


Petilasan

Di Gunung Arjuno terdapat banyak situs-situs petilasan peninggalan kerajaan Majaphit dan Singasari. Beberapa petilasan tersebut yaitu : petilasan Eyang Antaboga, Eyang Abiyasa, Eyang Sekutrem, Eyang Sakri, Eyang Semar, Eyang Sri Makutharama dan petilasan Sepilar.

Menurut mitos petilasan-petilasan itu dijaga oleh Bambang Wisanggeni yang merupakan anak dari Arjuna dengan Bathari Dresnala.

Petilasan-petilasan tersebut digunakan orang pada zaman dahulu untuk melakukan pertapaan. Masyarakat percaya bahwa orang yang melakukan pertapaan tersebut muksa (menghilang dengan jasadnya). Orang-orang muksa tersebut dipercaya masih berada di tempat itu dan menjaga tempat itu hingga waktu yang tidak diketahui.

Jadi itulah misteri dan kisah yang ada di Gunung Arjuno.
Baca selengkapnya

Wednesday, 31 December 2014

Cara Menghadapi Badai di Gunung

Tips Menghadapi Badai di Atas Gunung




Berikut ini adalah beberapa tips cara menghadapi badai di atas gunung. Bagi Anda yang suka pergi dan berpetualang di alam bebas tentunya sudah sangat mengerti dengan berbagai kemungkinan yang akan terjadi di alam, apalagi ketika musim hujan. 

Tanda-tanda akan terjadi badai :

1. Udara lebih hangat/lembab dan jarak penglihatan rendah dari biasanya.
2. Awan berubah dari putih menjadi hitam atau abu-abu gelap.
3. Kilat/guntur mulai menyambar.
4. Angin bertiup kencang dan berubah-ubah arah.
5. Suara gemuruh angin yang bertiup kencang.
6. Awan bergulung-gulung diikuti petir.
7. Burung-burung bertebangan dengan tergesa-gesa.

Cara berlindung dari badai :

1. Jangan berlindung di dataran yang luas dan gak ada pohonnya.
2. Hindari ngecamp di dekat semak-semak yang lebat dan tinggi.
3. Jangan ngecamp di dekat pohon yang rapuh.
4. Jangan ngecamp di punggungan bukit karena akan rawan tersambar petir.
5. Jika berada di lereng bukit perhatikan arah angin.
6. Carilah tempat camp di balik bohon atau batu besar sebagai penghalang angin yang bertiup kencang.
7. Jika telah menemukan tempat camp, dirikan tenda dengan arah membelakangi angin dan dirikan tenda dengan kuat.









Baca selengkapnya

Saturday, 6 December 2014

Cara Mengatasi Suhu Dingin di Atas Gunung

CARA MENGATASI DINGIN DI GUNUNG

Suhu dingin di Gunung sangat berbeda dengan suhu dingin di tempat lainnya seperti dibawah tempat kita tinggal. Biasanya kondisi dingin di gunung akan semakin dinging saat malam hingga menjelang subuh. Suhu dingin di gunung juga dapat dipengaruhi oleh musim, contoh seperti musim hujan kecenderungan dingin di gunung berkurang dan di musim kemarau suhu di gunung akan sangat dingin.



Tetapi paradigma itu tidak selamanya benar karena dingin dalam kondisi hujan juga sangat menyiksa, karena dalam keadaan basah terus terkena angina dan suhu dingin akan menyebabkan kondisi tubuh cepat drop. Cara mengantisipasinya adalah dengan menyiapkan pakaian ganti kering untuk digunakan saat sampai di camp area, menggunakan rain coat/ponco yang tidak mudah ditembus oleh rembesan air dan dilapisi dengan jaket tambahan.

Berbeda dengan suhu dingin saat musim kemarau, suhu dingin saat musim kemarau memang sangat dingin tetapi tidak basah, hal ini dapat diantisipasi dengan menggunakan busana pendakian yang sesuai seperti jaket cold proof berbahan polar, celana panjang, kupluk, kaos kaki, sarung tangan.
Untuk beberapa gunung, suhu bisa mencapai 0 derajat , dan suhu ekstrem di gunung sangat berbahaya jika tidak pandai mengantisipasinya dengan baik. Biasanya dalam pendakian gunung, untuk melawan suhu dingin, kita akan memakai jaket yang tebal dan membuat api unggun, tetapi apakah cara ini saja sudah cukup membantu?

Setiap pendaki memiliki daya tahan tubuh yang berbeda terhadap kondisi suhu yang dingin, banyak pendaki yang mempunyai penyakit alergi terhadap dingin, bila terkena hawa atau suhu yang dingin tubuh mereka langsung timbul bintik – bintik merah di sekujur tubuhnya. Biasanya penyakit terjadi jika berada di tempat yang dingin, untuk menghilangkan bintik-bintik tersebut setiap penderita mempunya cara tersendiri seperti mengoleskan minyak kayu putih atau sejenisnya yang bisa membuat hangat, dan sebaiknya jangan menggunakan obat oles balsam karena akan menambah rasa dingin tersebut karena balsam mengandung Zat Menthol yang memiliki kecendurang rasa dingin.


Suhu yang dingin di gunung dapat menyebabkan penyakit hiportemia, penyakit hiportemia adalah kehilangan panas tubuh karena kondisi yang sangat dingin di tubuh seseorang. Dalam kondisi parah korban dapat merasakan rasa panas dan kehilangan kontrol. Hal ini sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian. Sudah sering terdengar kabar pendakia tewas karena kedinginan di gunung. Untuk menghindari penyakit-penyakit yang dapat disebabkan oleh suhu dingin, tips berikut ini semoga dapat membantu teman-teman sekalian.

Tips Menghadapi Suhu Dingin di Atas Gunung


  1. Menggunakan pakaian kering dan tebal seperti jaket, celana panjang, kaos kaki, kupluk dan sarung tangan.
  2. Melakukan penyesuaian terhadap suhu dingin (Aklimatisasi) sebelum pendakian atau saat di camping ground.
  3. Membuat minuman hangat . Hindari minuman keras karena dapat berakibat fatal. Alkohol yang terkandung di dalam minuman keras dapat melebarkan pembuluh darah sehingga aliran darah dapat menjadi lebih lancar sehingga menimbulkan rasa hangat, namu alkohol dapat menghilangkan kesadaran. Kehilangan kesadaran saat berada di tempat tidak lazim seperti gunung lebih berbahaya dari pada kondisi dingin di gunung.
  4. Makan kananan hangat yang mengandung protein dan karbohidrat seperti nasi, ayam, telor, mie instan dan lain sebagainya, jenis makanan seperti yang disebutkan dapat memberikan rasa hangat dan kondisi badan tetap terjaga di suhu dingin.
  5. Hindari menggunakan pakaian yang tidak dapat menahan dingin dengan sempurna seperti jeans, selain berat juga saat tidak baik digunakan dalam kondisi basah.
  6. Istirahat yang cukup, berjalan sesuai kemampuan daya tahan tubuh karena jika kurang istirahat dapat membuat kesadaran semakin berkurang, hal ini dapat menyebabkan efek dingin yang semakin terasa menusuk.

Tips Tidur di Gunung  :

  1. Jagalah pakaian yang dibutuhkan untuk tidur tetap dalam kadaan kering.
  2. Tidur menggunakan sleeping bag disarankan sleeping bag yang berbahan polar atau bulu angsa.
  3. Hindari tidur di luar tenda, walaupun menggunakan sleeping bag badan berhadapan langsung dengan suhu dingin diluar.
  4. Menggunakan alas tenda yang memadai seperti matras standar atau matras alumunium.
  5. Makan sebelum tidur untuk menjaga kehangatan.
  6. Menggunakan pakaian kering, kaos kaki, kupluk sarung tangan dan jaket cold proof.
  7. Tidur berdempetan dengan teman satu tenda juga dapat memberikan rasa hangat.
  8. Pastikan membawa tenda yang anti air dan mempunyai 2 lapisan.
Baca selengkapnya

Tuesday, 2 December 2014

Info Singkat Jalur Gunung Rinjani

JALUR PENDAKIAN GUNUNG RINJANI

Jalur resmi pendakian Gunung Rinjani ini untuk memudahkan para pendaki yang ingin menuju gunung Rinjani di Lombok Nusa Tenggara Barat. Gunung Rinjani dengan ketinggian 3.726 mdpl adalah gunung yang selama ini sering menjadi tujuan utama para pendaki lokal maupun internasional karena tingkat keindahannya memang di atas rata - rata dengan adanya Danau Segara Anak di kawasan puncaknya.
Gunung Rinjani merupakan gunung aktif yang terletak di Pulau Lombok NTB. Gunung ini sudah sangat familiar sekali dikalangan pendaki.
Ada beberapa jalur resmi dan utama yang sering di gunakan oleh pendaki Rinjani. Berikut ini jalur - jalurnya.

1. JALUR SENARU
Jalur pendakian Senaru merupakan jalur pendakian paling ramai, hal ini disebabkan selain sebagai jalur wisata treking juga kerap dipergunakan sebagai jalur pendakian oleh masyarakat adat yang akan melakukan ritual adat / keagamaan di puncak Rinjani atau Danau Segara Anak. Pusat Pendakian Terpadu ( Rinjani Trek Centre ) Senaru.
Rute pendakian yaitu Senaru - Pelawangan Senaru - Danau Segara Anak dengan berjalan kaki memakan waktu ± 10 - 12 jam melalui trail wisata yang berada dalam hutan primer dan sepanjang jalan trail telah disediakan sarana peristirahatan pada setiap pos. Dari pintu gerbang Senaru sampai Danau Segara Anak terdapat tiga pos. Sepanjang jalan trail pengunjung dapat menikmati keindahan hutan belantara dan bebatuan yang menakjubkan.
Untuk memperoleh informasi mengenai pendakian Gunung Rinjani telah disediakan Pusat Pendakian Terpadu ( Rinjani Trek Centre ) atas kerjasama Balai Taman Nasional Gunung Rinjani dengan NZAID ( New Zealand Asistance International Development ), Dari Danau Segara Anak bila anda ingin melanjutkan perjalan ke Puncak Gunung Rnjani anda harus menuju ke pelawangan sembalun yang membutuhkan waktu ± 4 Jam, dari pelawangan sembalun ke Puncak Rinjani membutuhkan waktu 4 - 5 Jam.
Pendakian ke puncak umumnya dilakukan pada pukul 2 dinihari, ini dimaksudkan agar pada pagi harinya dapat menikmati matahari terbit ( Sunrise ) dari Puncak Gunung Rinjani serta dapat menikmati pemandangan seluruh pulau Lombok bahkan pulau Bali apabila cuaca cerah.

- Mataram - Senaru ( ± 3 - 4 Jam Kendaraan Umum )
- Senaru - Danau Segara Anak ( ± 7 - 10 Jam Jalan Kaki )
- Danau Segara Anak - Pelawangan Sembalun ( ± 4 Jam Jalan Kaki )
- Pelawangan Sembalun - Puncak Rinjani ( ± 2 - 3 Jam Jalan Kaki )





2. JALUR SEMBALUN
Jalur Sembalun merupakan jalur yang ramai dilalui oleh pengunjung terutama oleh para penggemar treking. Rute yang dilalui adalah gerbang sembalun lawang - pelawangan sembalun - puncak rinjani memakan waktu 9 - 10 jam. Jalur ini sangat dramatis dan mengesankan trail wisata yang anda lalui merupakan padang savana dan punggung gunung yang berliku - liku dengan jurang disebelah kiri dan kanan jalur.

Dibandingkan jalur Senaru, jalur pendakian ini tidak terlalu curam, namun karena didominasi oleh padang savana menjadikan perjalanan anda bermandikan peluh oleh teriknya matahari yang menyengat, namun semua itu akan sirna saat anda dibuat terpana oleh indahnya pemandangan padang dan hutan yang luas sepanjang lembah - lembah nan hijau disebelah timur Gunung Rinjani, bahkan mata anda akan dimanjakan oleh indahnya selat Alas dan Pulau Sumbawa di kejauhan.

Setelah tiba di puncak Rinjani anda bisa beristirahat sejenak sembari menikmati panorama alam dan berbangga diri telah menginjakkan kaki disalah satu kaki langit di Indonesia serta menimbulkan rasa kekaguman akan ciptaan Tuhan.

- Mataram - Sembalun ( ± 4 - 5 jam kendaraan umum )
- Sembalun Lawang - Puncak Gunung Rinjani ( ± 7 Jam Jalan Kaki )
- Sembalun Lawang - Danau Segara Anak ( ± 2 - 3 Jam Jalan Kaki )



3. JALUR TOREAN
Sepanjang jalur ini, dari Desa Torean menuju kali Tiu ( batas TNGR ) yang merupakan Pos I pendakian dapat dijumpai ladang, padang pengembalaan, perkebunan dan merupakan kawasan Hutan Produksi. Kemiringan 20 - 45% jarak desa Torean dengan batas TNGR ( Pos I ) ± Km 5,00 Km dengan kemiringan ±10 - 30%.
Flora yang dapat dijumpai yakni: Bajur, Klokos Udang, Rotan Hutan, Bangsal, Lengsir, Jambu, Bunut, Blimbing Hutan, Juwet, Paku - pakuan, Ketimunan, Rajumas, Tapan Dawa. Sedangkan Fauna yang dapat dijumpai yakni: beberapa jenis burung ( perkici, Daweuh, Kecial, Srigunting ).
Jarak dari Pos III Torean menuju ke Plawangan Torean ± 3,50 Km dengan kemiringan ± 30 - 40%, sepanjang perjalanan kita akan berada dalam apitan 2 buah gunung dan kita juga dapat menikmati aliran sungai ( Kokok ) Putih.

- Mataram - Torean ( ± 4 - 5 Jam Kendaraan Umum )
- Torean - Danau Segara Anak ( ± 8 - 9 Jam Jalan Kaki )


Dibandingkan jalur Senaru, jalur pendakian ini tidak terlalu curam, namun karena didominasi oleh padang savana menjadikan perjalanan anda bermandikan peluh oleh teriknya matahari yang menyengat, namun semua itu akan sirna saat anda dibuat terpana oleh indahnya pemandangan padang dan hutan yang luas sepanjang lembah - lembah nan hijau disebelah timur Gunung Rinjani, bahkan mata anda akan dimanjakan oleh indahnya selat Alas dan Pulau Sumbawa di kejauhan.

Setelah tiba di puncak Rinjani anda bisa beristirahat sejenak sembari menikmati panorama alam dan berbangga diri telah menginjakkan kaki disalah satu kaki langit di Indonesia serta menimbulkan rasa kekaguman akan ciptaan Tuhan.

- Mataram - Sembalun ( ± 4 - 5 jam kendaraan umum )
- Sembalun Lawang - Puncak Gunung Rinjani ( ± 7 Jam Jalan Kaki )
- Sembalun Lawang - Danau Segara Anak ( ± 2 - 3 Jam Jalan Kaki )



3. JALUR TOREAN
Sepanjang jalur ini, dari Desa Torean menuju kali Tiu ( batas TNGR ) yang merupakan Pos I pendakian dapat dijumpai ladang, padang pengembalaan, perkebunan dan merupakan kawasan Hutan Produksi. Kemiringan 20 - 45% jarak desa Torean dengan batas TNGR ( Pos I ) ± Km 5,00 Km dengan kemiringan ±10 - 30%.
Flora yang dapat dijumpai yakni: Bajur, Klokos Udang, Rotan Hutan, Bangsal, Lengsir, Jambu, Bunut, Blimbing Hutan, Juwet, Paku - pakuan, Ketimunan, Rajumas, Tapan Dawa. Sedangkan Fauna yang dapat dijumpai yakni: beberapa jenis burung ( perkici, Daweuh, Kecial, Srigunting ).
Jarak dari Pos III Torean menuju ke Plawangan Torean ± 3,50 Km dengan kemiringan ± 30 - 40%, sepanjang perjalanan kita akan berada dalam apitan 2 buah gunung dan kita juga dapat menikmati aliran sungai ( Kokok ) Putih.

- Mataram - Torean ( ± 4 - 5 Jam Kendaraan Umum )

- Torean - Danau Segara Anak ( ± 8 - 9 Jam Jalan Kaki )


Baca selengkapnya