Sunday, 10 September 2017

Kepada Senja

Apa kabar Senja?
Apakah kamu masih jingga?
Setelah sekian lama kau tak lagi nampak di pembatas cakrawala

Diantara rimbunnya rindu,
ku cari sisa hangatmu,
meski itu terasa hambar dan semu

Aku selalu menantimu hingga langit tak terlihat biru
Merindumu di ujung bumi, terdiam, termenung dan terpaku
Masih tetap sama dibalik jendela itu
Menelusuk jauh
Bertanya, apakah kamu masih ada disana menantiku..


Aku tak peduli seberapa cepat kamu pergi..
yang terpenting kamu selalu hadir setiap hari di ujung langit sore itu.
Menghiasi langit-langitku,
Menenggelamkan kisah-kisah yang telah lalu, 
Menggantinya dengan kisah hari ini bersamamu 
Meskipun hanya sebatas pertemuan singkat dengan penuh rasa malu

Senja..
Sampai kapanpun aku takkan bisa menyentuhmu
Bila terbang saja aku sudah tak mampu
Apalagi sejak engkau mematahkan sayap-sayapku
Bersama dengan rindu yang semakin menggebu
Bersama dengan harapan-harapan yang mulai ragu

Akan hadirnya senyumanmu
Yang semakin tak kunjung jelas
Di sisa-sisa langit malam itu.


Mulutku seakan membisu
Senyap ketika melihatmu
Sudah tak ada kata lagi yang bisa kuucap
untuk melukiskan perasaanku
Terlebih lagi saat kau panggil namaku
Saat ku berjalan membelakangimu

Kini aku telah berada di tengah persimpangan jalan
Antara harus maju ataukah kembali

Mungkin aku terlalu masuk kedalam ruang hatimu,
Sampai aku tak tau caranya keluar lagi
Aku sudah terjebak dalam cintamu
Dalam bayang-bayang khayal yang membelenggu
Dengan sajak-sajak tanpa irama namun memabukkan

Dan aku masih ingin tau siapakah Senja yang kamu maksud itu..
Apakah dia ada di dekatku?
Apakah aku mengenalnya?
Apakah dia itu adalah tambatan hatimu?
Pertanyaan ini yang selalu memenuhi isi kepalaku
Maaf karena mungkin terlalu mencampuri urusanmu

Aku selalu iri pada langit sore yang kau tempati
Pada bumi yang setiap hari kau sinari
Aku iri pada air laut yang bisa menangkap sinarmu
Membiaskan keindahanmu 
Tuk menjelaskan betapa semua orang menantikanmu
Termasuk aku 
Yang tiada henti merindukanmu
Tiada henti menunggu kabar balasan darimu
Tapi nampaknya kamu masih bisu
Bahkan untuk bilang tidak

Kau rebut pagiku,
Dimana seharusnya ku dapat kehangatan dari sisa pelukmu,
Tapi harus ku awali dengan rindu yang belum berbalas sejak malam kelabu

Kau rebut soreku,
Dimana seharusnya kunikmati bait terakhir dalam perjalanan hidup hari ini,
Tapi kamu menitipkan rindu lagi dengan perpisahan yang tak kusukai
Disaat dimana rinduku sedang memuncak-muncaknya

Kau rebut malamku,
Dimana seharusnya aku bisa tertidur lelap melupakan bayang-bayangmu,
namun kau justru hadir menghiasi mimpi-mimpi ku
Memenuhi segala hariku
Hingga aku sudah tak punya ruang sembunyi
Karena hadirmu selalu menemukanku


Aku menunggu di pagi, di sore dan di malam yang ku benci
Aku menunggumu ribuan sore hingga kau terus datang kembali
Lalu pergi tanpa pernah permisi
Menyisakan ingatan yang membekas di hati 

Pikirku gelisah menantimu setiap hari
Menantikan kabar darimu
Namun kau selalu malu
Tuk menunjukkan diri dari balik awan
Diam tanpa ada jawaban


Dan malam hari semakin menenggelamkan rinduku yang jatuh bersama kabut
serta menghilangkan rasa khayal yang belum bisa aku rindukan.
Aku ingin membenamkannya bersama tenggelamnya dirimu,
Ketika langit mulai menghitam
Dan sinarmu mulai padam

Sampai kapan rinduku tertahan?
Karena aku sudah tak kuat lagi menjadi tumpuhan
Terlebih lagi jika tak ada ujungnya
Bukankah rindu itu sama seperti sepasang sepatu yang punya pasangannya,
Meskipun terpisah tapi selalu jalan bersama
Beriringan tanpa pernah meninggalkan

Jika rindu ini masih tidak ada balasnya
Biarkanlah memudar secara perlahan
Hingga benar-benar bisa terlupakan
Atau bahkan tak bisa tertahankan.

Andai ku bisa memintamu untuk bertahan
Ku mohon jangan pernah pergi meninggalkan
Daratan yang kosong hampa tak berkehidupan
Ruang gelap yang perlu sinar terangmu
Dingin yang perlu hangat dekapmu
Dan aku yang butuh hadirmu
Sampai kapanpun, kamu adalah senja terbaik di langit soreku



Aku merindumu Senja,
tramat sangat merindukanmu,

 "Dari aku seorang pemuja senja 
yang sudah terlanjur jatuh menyayangimu"





Baca selengkapnya

Friday, 18 August 2017

Teruntuk kamu yang berada di ujung rindu

Hai..
Begitulah kata pertama yg kuucapkan padamu,
bukan dari sebuah pertemuan tapi hanya lewat pesan yg terpaksa kuberanikan..

ada sesuatu yang perlu kamu tau dari hadirnya rindu,
bahwa terkadang dia datang tanpa ku pernah meminta,
dan dia tak pernah pergi meski ku selalu menyuruhnya kembali..

kamu dan aku terpisah kan jarak dan waktu
bukan jarak tempat kamu dan aku berada
tapi mungkin jarak tentang perbedaan yang sulit disatukan
dan anehnya rindu ini bisa datang begitu saja dengan mudahnya
tanpa berpikir tentang aku dan dirimu yang belum mengenal sama sekali.

kamu yg akhir-akhir ini jarang terlihat..
ku tunggu kamu dibalik jendela pintu warna biru
namun kamu tak juga kunjung datang
membawa kabar yg sedang kunanti-nantikan

dan akhirnya aku berkata pada angan
"wahai angan janganlah engkau terlalu cepat untuk menyimpulkan,
bahwa hati hanyalah dia yang merasa, jangan terlalu mudah melabuhkan rasa pada hati, karena kamu takkan pernah merasa lelahnya"

aku masih seorang anak kecil
yang suka bermain keluar masuk hutan
dan pulang dengan pakaian yang kotor dan muka yang lusuh
aku juga bukan seorang anak yang bisa membawamu pergi dengan kemewahan
karena aku hanya bisa menjanjikan senja yg setiap hari juga kamu lihat
tapi dengan rasa yang berbeda dan takkan pernah kamu lupa

aku juga bukan orang yang pandai merawat diri,
aku tak takut berdiri dibawah terik panas matahari,
aku suka berselimut dengan dinginnya kabut pagi,
sampai terkadang membuatku tak mengenali diriku sendiri.. hahaha


aku tak suka merasakan senang sendiri,
aku lebih suka merasakan pahit tapi bersamamu
dan kamu harus tau bahwaku kan selalu menjagamu
percaya saja bahwa hati menyimpan beban yang paling berat dari apa yang pernah tubuh rasakan, yaitu rasa terhadapmu

dan kini diujung pagi tak bersinar kutemani sisa malam dengan tetesan air yang menggelinang bersama derasnya rindu yang menghujam

ku terbuai angin yang menghembus syahdu
lewat pesonamu kuterpanah diam
bahkan dari diammu
apalagi dari senyum manismu
yg semakin terbayang-bayang
menelusuk relung hati yg kian menyiksa


jika ada satu anugerah yang diberikan Tuhan, 
maka anugerah itu adalah kamu
sosok yang hadir membawakan rindu 
meluluhkan hati yang bahkan tak bisa meleleh karena panasnya api

dan saat ini aku sedang memilih hati untuk melabuhkan rasa yang benar-benar telah lelah.
dan ku harap kamu adalah dermaga terakhir itu,
tempat dimana aku harus sudah berhenti mengakhiri perjalanan yang melelahkan ini,
semoga kamu bukanlah seperti yang kemarin-kemarin 
yang hanya datang sebentar dengan main-main

aku tak suka lagi berlari,
karena hidup memang bukanlah sebuah pelarian,
aku hanya perlu berjalan,
pelan-pelan agar tak melewatkanmu,
dan mungkin jika aku salah jalan,
maka aku hanya perlu merubah arah,
bukan kembali tersesat sampai akhirnya terjatuh lagi,

aku butuh senyum manis mempesona itu,
meski dari jauh,
bahkan dari tirai di balik jendela di seberang ruanganmu,
saat pagi hingga tenggelamnya matahari,
dan setiap saat disisa-sisa nafas yang mulai terkikis,
dan takkan pernah kulewatkan bahkan sekedip saja,
sampai engkau benar-benar datang meski sekejab saja

kepada seseorang yang berada di ujung rindu ini,
aku mungkin tak bisa membuatmu berpaling menatapku,
tapi jika kamu mencariku,
aku masih tetap berada di balik pintu warna biru itu,
masih seperti kemarin menunggumu, 
menunggu hadirmu dengan tanpa lelahnya,
tuk membawakan senyum pengobat rindu




"aku merindumu senja"
dari seseorang yg ingin tau lebih dalam tentangmu



Baca selengkapnya

Saturday, 5 August 2017

Sesaat Saja..


aku harap kamu selalu mengingatkan ku akan luka itu
luka yg merajam hatiku begitu perih
aku harap selalu teringat dengan pengkhianatan rasa yang menjatuhkan sepihak

buanglah rasa yang tak terkehendaki
buanglah sayang yang menyakiti
buanglah harapan yang menjatuhkan

aku takkan pernah pergi untuk kembali
aku takkan pernah kembali untuk meminta

meskipun ku kira kedatanganmu kali ini untuk bertahan
untuk berubah dari ketidakyakinanku selama ini
tapi ternyata tidak,
kamu masih mempertahankannya
bahkan teramat sulit mengakuinya

dan aku masih menunggu datangnya senja
meskipun dia tramat cepat berangsur pergi
aku kira kamu akan datang untuk memperbaiki
untuk menjelaskan tentang semua yang tidak akan kembali terulangi
aku kira kamu akan datang untuk berjanji
bahwa kali ini kamu akan memutuskan
dimana kamu akan mengakiri perjalanan dan berhenti dengan pilihan sehidup semati

kedatanganmu kali ini tidak lebih seperti kemarin
masih tetap sama,
masih seperti senja di sore itu..




Baca selengkapnya

Monday, 6 March 2017

Pentingnya Aklimatisasi Pendakian!!

Kita semua tahu bahwa mendaki gunung atau beraktifitas di alam bebas terutama di ketinggian memiliki resiko yang sangat tinggi, entah tersesat, hilang, cedera atau hipotermia. Jangan meremehkan setiap hal kecil dikala kita sedang melakukan pendakian di gunung. Karena setiap hal kecil akan berdampak dan beresiko besar bagi keselamatan diri kita sendiri.

Salah satu hal yang penting untuk kita tahu adalah Aklimatisasi.



sumber gbr :http://blog.cozmeed.com

Apa itu Aklimatisasi?

Mungkin banyak yang belum mengetahui apa sih itu aklimatisasi dalam pendakian. Oleh karena itu marilah kita bersama-sama memahami apa sebenarnya aklimatisasi.

Aklimatisasi merupakan suatu upaya penyesuaian organisme terhadap suatu lingkungan baru yang akan dimasukinya. Hal ini didasarkan pada kemampuan organisme untuk dapat mengatur morfologi, perilaku, dan jalur metabolisme biokimia di dalam tubuh untuk menyesuaikan dengan lingkungannya.

Beberapa kondisi yang pada umumnya disesuaikan adalah suhu lingkungan dan juga kadar oksigen. 
Suhu udara di gunung akan membuat tubuh kita kaget jika kita tidak melakukan penyesuaian. Jika kaget yang terjadi maka selanjutnya tubuh kita akan terus menerus merasakan kedinginan.

Apabila kita berencana melakukan pendakian gunung yang memiliki ketinggian di atas 2.500 mdpl, tidak ada salahnya kita mengetahui informasi berikut ini yang termasuk dalam kegiatan aklimatisasi.

- Hal pertama yang bisa kita lakukan adalah menambah ketinggian secara bertahap. 

Aklimatisasi sederhana yang bisa dilakukan oleh pendaki pemula adalah melakukan peregangan sebelum pendakian, mendaki secara perlahan, jangan paksakan diri, tarik nafas panjang secara perlahan dan hembuskan, biarkan tubuh melakukan proses penyesuaian. 

Aklimatisasi untuk pendaki profesional di atas 3600 mdpl adalah dengan naik ke ketinggian pada siang hari, kemudian tidur di ketinggian lebih rendah di malam hari. Misalkan naik di ketinggian 3.600 mdpl pada siang hari lalu turun ke ketinggian 3.300 mdpl untuk tidur pada malam hari.


- Yang kedua perbanyaklah minum air mineral dalam artian secukupnya. Hindarilah minum minuman beralkohol, merokok atau konsumsi obat tidur saat melakukan pendakian.


- Ketiga, hindari  aktifitas yang berlebihan yang menguras banyak tenaga.


- Keempat, jangan melakukan perjalanan sendirian saat mendaki gunung karena kita akan kesulitan mendapat pertolongan saat terjadi sesuatu pada diri kita.


- Kelima, jangan pernah meninggalkan seseorang sendirian jika seseorang tersebut dalam keadaan kurang sehat. 


- Keenam, gunakanlah baju hangat agar tidak terserang hipotermia saat berada di ketinggian.


- Yang terakhir adalah jangan memaksakan untuk mendaki lebih tinggi lagi saat kita sudah terkena gejala penyakit. Dengan memaksakan diri malah akan membuat sakit yang kita derita justru lebih parah dan membuat orang lain semakin susah mengirim bantuan.


Dari semua tips di atas, yang berperan besar adalah diri kita sendiri, karena yang tahu keadaan tubuh kita hanyalah kita bukan orang lain. Oleh karena itu cobalah untuk memahami diri kita sendiri, jangan selalu memaksakan atau acuh terhadap segala kondisi tubuh.



Baca selengkapnya

Saturday, 18 February 2017

Teruntuk Riani, Dengarlah Suara Kecilku


Riani... apa engkau membaca tulisan ini? 
Aku ingin engkau mencoba merenungkan semua ini.
Dan juga berusahalah mengerti tentang apa yang kurasakan saat ini.

Kita pernah berputar-putar tapi tanpa pernah sampai pada tujuan yang seharusnya. 
Kamu letakkan aku seakan-akan diposisi bersalah. Kamu letakkan aku sebagai alasan tentang keadaanmu saat ini.
Coba kamu renungkan lagi, dari sudut pandangmu saat ini mana yang kamu nilai sebagai kesalahan?
Jika nyatanya saja kamu yang terus bermain di dalam duniaku, tapi duniamu tak pernah boleh terusik olehku.

Riani...
Maaf, karena aku sudah tidak bisa lagi berjuang. Ini bukan wujud dari menyerah, tapi aku tak bisa lagi memperjuangkan sesuatu yang sudah menyerah dan pasrah.
Aku tak bisa terus mengerjakan sesuatu yang jelas entah bagaimanapun hasilnya akan tetap sama.
Ini semua seperti sia-sia bagiku. Duniaku dipenuhi olehmu, lalu apakah duniamu penuh olehku juga? "Tidak kan?.


Jika kamu sendiri sepenuh hati menjalani peranmu saat ini, lalu aku bisa apa?? 

Doa memang mungkin adalah cara terakhir, tapi itu jika kamu sudah berjuang. Doa adalah cara terakhir jika semua cara memang sudah kamu coba dan memang tak bisa.
Lalu apakah aku salah mengartikan itu sebagai ketidakmauan untuk berjuang jika cara lain saja belum kamu lakukan, tapi kamu hanya pasrah dengan do'amu?   

Apa ini yang bisa dibilang menyayangi? 
Menyayangi itu sebuah pilihan, pilihan antara mana yang harus kamu pertahankan dan mana yang harus kamu lepaskan. 
Menyayangi itu berjuang, bukan pasrah!!!.
Karena menyayangi adalah berusaha membuat seseorang itu bahagia dengan apa yang kita lakukan. 
Lalu apa kamu saat ini sedang berusaha, sedang berusaha membahagiakan orang yang kamu sayangi? 
Lalu apa yang kamu lakukan saat ini bisa disebut menyayangi?



Bahagia itu tidak dinanti, melainkan diciptakan. Jika kamu menantikan waktu, waktu itu tetap akan datang, tapi kisahnya belum tentu akan sama jika kamu memperjuangkannya.

Riani.. Sekarang aku butuh waktu untuk diriku sendiri. Aku butuh sedikit saja untuk memperhatikan diriku sendiri. Tidak hanya terus berjuang saja. 
Aku juga punya rasa lelah, aku juga butuh berhenti. 

Aku selalu mencari kesibukan untuk melupakan semua, hingga terkadang aku tak pernah ingat lagi dengan waktuku.
Bahkan aku sudah tidak mempedulikannya. Aku sudah lupa dengan yang namanya lelah, hingga seperti saat ini akhirnya tubuhku sendiri yang terus mengingatkannya. Dimana aku tidak bisa bergerak bebas, dimana aku harus diam saja menahan segala keinginan.

Aku tak ingin kembali terbaring meronta-ronta menahan sakitnya. Aku hanya ingin bisa melakukan apa yang ingin aku lakukan.
Dan karena itu sekali lagi, aku butuh waktu untuk diriku sendiri. Aku juga butuh memahami diriku sendiri, tak hanya belajar memahamimu yang sampai saat ini aku sendiri tak tau apa yang sebenarnya kamu mau.

Riani.. aku butuh seseorang yang lebih mengerti aku daripada diriku sendiri. Aku butuh seseorang yang bisa mengingatkan aku akan lelahku. 
Aku butuh seseorang yang bisa mengingatkan aku untuk berhenti.
Aku tak butuh seseorang yang hanya datang menyelipkan kisah dan cinta lalu pergi begitu saja.

Riani.. aku tak tau sekarang apakah kamu memang sedang tersiksa dengan keadaanmu saat ini atau malah sebenarnya kamu menjalaninya dengan senang hati.
Tapi, yang masih aku tak bisa pikirkan adalah kenapa kamu begitu kuat menjalani pelarian selama ini?
Aku tidak tau jawabnya karena yang tau dirimu sendiri. Tapi aku hanya masih ragu dengan kata-kata yang pernah terucap dari bibirmu.

Aku merasa bahwa kamu terlalu nyaman dengan peranmu saat ini. Tak seperti layaknya orang yang sedang bersandiwara, engkau seperti benar-benar menjalani ini dengan sepenuh hati.
Aku tak tau apakah memang ini yang disebut pelarian?

Aku juga sering berlari mencari pelarian, tapi aku tak pernah berlari kepada orang lain. Aku tak pernah berlari sepertimu, seperti caramu dengan mengorbankan perasaan orang lain, dan kini perasaanku.
Aku tak bisa menerima kehadiran orang lain disaat aku sedang menyayangi seseorang. Aku tidak bisa menjalani sesuatu yang jelas saja tidak aku senangi. Tapi anehnya kamu bisa.

Yang jelas, bukankah orang yang menyayangi akan selalu memperjuangkan cintanya?
Bukannya malah menyerah dan memasrahkan semuanya pada takdir. Ini cinta dan cinta tidak sepesimis itu, cinta tak segampang itu. 
Karena cinta menyangkut hati, bukan hatiku dengan hatimu saja, tapi hati orang lain yang menyayangimu.

Riani...Semoga engkau tau aku teramat lelah menunggu hingga kini kau hadirkan semua ketidakpastian dan harapan yg semakin membuatku tersiksa.

Ku harap engkau sadar agar tak menyuruhku bertahan dengan luka ini, sementara kau bahagia dengan kehidupanmu yg lain.

Jika kau tak egois seharusnya kau dapat memilih memperjuangkan orang yg kau sayangi atau melepaskan aku yang seharusnya kau kasihani ini.

Aku lelah menatap malam tanpa adanya bintang, selalu redup menghadirkan rintik yang selalu menghujani menambah senyap dan deritanya.
Aku rindu dengan kehidupan malam bersama mimpi dan tidur nyenyakku.

Aku tak pernah menyesal menyematkan nama ini padamu, aku juga tak menyesal menyayangimu. Sekarang aku justru bahagia karena setidaknya aku bisa sedikit demi sedikit merelakanmu, seseorang yang sudah tidak ada kemungkinan untuk kembali.

Aku tak pesimis, tapi aku hanya tidak mau berharap lagi. Aku lelah berharap pada manusia.
Aku hanya ingin menjalani hari seperti biasanya. Aku tak mau lagi capek-capek mengejar dan berjuang seorang diri untuk sesuatu yang hasilnya jelas mengecewakan.

Aku ingin membuka lembaran baru dimana sudah tidak ada lagi kamu. Aku ingin menghapuskan semua yang pernah terjadi antara aku seorang pencari sebuah nama dan engkau Riani, seseorang yang sudah kutemukan.

Biar semua hanya menjadi cerita yang kemudian usang. Tak ada lagi yang ingin mengingatnya. Dan semoga lembaran baru itu terisi oleh cerita-cerita bahagia tanpa adanya kesedihan.

Riani.. Terima kasih karena hadirmu membuatku tak lagi lelah mencari, setidaknya cukup sampai disini saja, aku berhenti dari lelah yg selalu menghinggapi demi pencarian sebuah nama yg ternyata tak begitu berarti..

Dan untuk permintaan itu, maaf karena aku tak bisa menyanggupinya. 
Aku juga punya hati, dan aku juga tidak akan mau jika berada di posisi seseorang yang ditinggal pergi oleh kekasihnya merajut kasih dengan orang lain. Aku tidak mau mengajarimu bermain hati. 

Kemarin, aku mengira bahwa kehadiranmu kali ini adalah hasil dari penantian panjang yang akan berakhir manis, ternyata kehadiranmu hanya tuk bilang pergi.

Sudahlah, jika kisah ini hanya kan berjalan seperti ini lebih baik aku berhenti, kamu berhenti. Jangan ada lagi yang namanya harapan, karena aku lelah terus berharap. Bukan lelah sih, tapi bosan terus berjuang sepihak.
Dan jangan pernah sekali bilang ini hanyalah pelarian jika sebenarnya kamu bahagia. Aku tidak suka jika kamu terus berbohong untuk menjaga hati. Jangan datang lagi membawa cinta yang masih terbagi untuk orang lain. Karena itu bukanlah cinta yang baik. 
Jika ada waktu, aku hanya ingin berbicara empat mata denganmu untuk yang terakhir, sebelum aku benar-benar akan berusaha menghapusmu dari hatiku. Semoga kamu ada waktu untuk kesan terakhir dari sebuah kisah yang berujung perih. Kembalilah menjadi namamu, karena Riani telah pergi.






Baca selengkapnya

Friday, 27 January 2017

Diklat Sar, Mendidik atau Menyakiti?

Diklatsar atau diksar? Tentunya sudah terbiasa terdengar di telinga kita. 
Sesuatu yang awalnya diniatkan untuk tujuan baik, alih-alih mendapat manfaat yang positif malah akhirnya justru mengorbankan diri sendiri. Tak tahu salah siapa dan siapa yang patut disalahkan. Tapi yang menjadi pertanyaannya pentingkah diklat sar? Perlu kah?



medan.tribunnews.com

Baru-baru ini ramai dengan berita meninggalnya 3 mahasiswa UII yang mengikuti diklat sar di Gunung Lawu. Dari kejadian tersebut didapat sebuah cerita bahwa hal yang menyebabkan kematian ketiga korban tersebut adalah seperti hasil dari sebuah penyiksaan.

Entahlah, apa itu kejadian sebenarnya, tapi disini yang  patut digaris bawahi, separah itu kah diklat sar? sesadis itukah? atau sekeras itu kah?

Apakah memang caranya mendidik seperti itu? Apa memang caranya untuk membentuk mental dan karakter yang kuat memang seperti itu?

Lalu apakah yang diperlukan hanya mental yang kuat saja, lalu apakah pembentukan sikap toleransi dan peduli itu tidak dibutuhkan?
Bukankah menjadi pribadi yang lebih baik, bermental dan berkarakter yang kokoh, bijak dan peduli  terhadap lingkungan dan sesama itulah tujuannya.
Lalu dengan kekerasan tanpa memperhatikan kepedulian terhadap sesama itu bisa dibilang tujuan diklat sar.

Diklat sar di kampus atau sekolah tentu saja sangat positif, tapi jika dilakukan dengan niat dan juga tujuan positif.
Lalu jika hanya berazazkan senioritas dan hanya tindakan semena-mena untuk mengerjai junior apakah itu layak disebut sebagai diklat?
Mendidik, menempa seseorang memang diperlukan ketegasan, tapi jika tidak memperhatikan rasa kemanusiaan sama halnya dengan menjajah.
Sama halnya dengan menyengsarakan orang lain.

Saya pun juga pernah menemui hal yang saya rasa itu berlebihan, apa lagi itu dilakukan di alam bebas. Bayangkan saja, orang yang mempunyai perbekalan lengkap, bisa jalan sesuka hatinya tanpa harus disuruh-suruh saja terkadang juga banyak yang menjadi korban. 

Lalu sekarang bayangkan jika di atas gunung, seseorang yang harusnya cukup makan dan minum, bisa istirahat sewaktu-waktu jika merasa lelah, tapi harus disuruh-suruh membawa barang yang terlampau berat, membawakan barang bawaan senior, kemudian hanya dikasih jatah makan dan minuman yang sedikit dan sangat terbatas, kemudian tidak boleh istirahat dan mengeluh, belum lagi terus dimarah-marahi. Sementara itu seniornya enak-enakan berjalan dibelakangnya sambil bercanda tawa, makan dan minum sesuka hatinya, belum lagi tidak membawa apapun.

Yang masih saya ingat sampai sekarang bagaimana raut wajah mereka, begitu lelah dan serasa menderita.

Lantas dimana rasa kasihan kalian? Apakah hal seperti itu sebuah rutinitas setiap tahun yang hanya sebagai ajang pelampiasan karena dulu juga pernah diperlakukan seperti itu?

Jika akhirnya hanya membuat orang celaka dan sampai mengorbankan nyawa orang lain, siapa yang mau bertanggung jawab?

Lalu masih perlukah dilakukan diklat sar? Apakah memang diklat adalah pilihan satu-satunya?

Kita semua sangatlah setuju bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Pengalaman dapat lebih menunjukkan identitas dan karakter kita dalam bertindak. Tidak heran jika nantinya mereka akan tumbuh dengan daya juang tinggi dan respon tubuh lebih baik saat kondisi yang tidak diinginkan datang. 

Diksar adalah ujian awal yang akan dihadapi, namun tidak mutlak harus dilalui dan lulus. Hal itu dikarenakan banyak orang yang tidak memiliki latar belakang pendaki gunung/ atau pecinta alam atau orang yang tidak melalui diklat sar, namun lebih bisa mengkondisikan dirinya dalam berbagai situasi, bisa mengambil keputusan dengan bijaksana.

Dan justru banyak dari mereka yang lulus dan mengikuti diklat sar dengan kebanggan akan lencana yang dipakai, tapi justru tidak bisa menolong dirinya sendiri dan bahkan malah menjadi benalu buat orang lain.

Diksar hanyalah sebuah pembelajaran, namun untuk output atau hasil yang didapat tergantung dari pribadi masing-masing. Sekeras apapun kamu mengajarkan, tapi jika pribadinya tidak bisa, maka hanya akan sia-sia.

Meskipun tanpa diksar namun jika seseorang bisa mengetahui dan mampu mengendalikan dirinya sendiri, maka justru akan lebih bermanfaat dan bisa menjadi lebih baik.

Sekarang yang menjadi kesimpulannya,
Masih perlukah diadakannya diklat sar?
Masih harus ada korban yang tidak diinginkan lagi?

Intinya semua kembali pada niat dan pribadi masing-masing. Selalu pertimbangkan akal sehar, bukan hanya sekedar menuruti hawa nafsu saja.

Semoga tidak ada lagi kejadian seperti ini yang akhirnya harus menelan korban jiwa. Jika memang diksar diperlukan, semoga diadakan dengan lebih baik lagi, tanpa harus menyakiti orang lain. 

TEGAS BUKAN BERARTI KERAS!!!

Salam Lestari!

Baca selengkapnya

Tuesday, 24 January 2017

Mendaki Gunung Kelud (Demponya Jawa Timur) via Tulungrejo Blitar

Teman-teman semua, kalian pasti sudah tidak asing lagi dengan gunung yang satu ini, yakni Gunung Kelud. Gunung Kelud merupakan salah satu gunung berapi aktif yang terletak di Jawa Timur tepatnya di Blitar dan Kediri. Gunung yang satu ini akhir-akhir ini sedang banyak dibicarakan oleh kalangan pendaki dan para pecinta alam. Gunung ini memiliki ketinggian sekitar 1731 mdpl. 



Gunung Kelud sendiri bisa dibilang Gunung Demponya Jawa Timur. Sama dengan layaknya Gunung Dempo di Palembang, gunung yang satu ini saat ini mempunyai kawah yang seperti danau. Kalau dulu kawah gunung ini kering tak ada air, kini gunung ini memiliki kawah seperti danau yang sangat eksotis dengan batuan dan lekak lekuk bukit yang mengitarinya.

Untuk mendaki Gunung Kelud sendiri kita bisa melalui Desa Tulungrejo, Blitar. Kalau kalian dari arah Malang, sampai di Wlingi kalian menuju arah wisata Rambut Monte atau Kebun Teh Sirah Kencong Blitar, lalu menuju pasar Semen. Setelah itu akan ada dua jalur ke kanan dan ke kiri, nah ambil arah kiri menuju Desa Tulungrejo, kalau mengambil arah kanan akan menuju Kebun Teh Sirah Kencong. Sekarang sudah ada plakat menuju pendakian Gunung Kelud. 

Sebenarnya ada dua jalur jika kita ingin menikmati keindahan Gunung Kelud, pertama dengan mendaki lewat Desa Tulungrejo ini, yang kedua kalian bisa ke wisata Gunung Kelud yang ada di Kediri. Kalau dari Kediri sahabat bisa menggunakan motor lalu parkir di dekat wisata. Disitu kalian tidak butuh berjalan jauh karena jalan sendiri sudah aspal. Tapi dari situ kita masih belum bisa mendekat karena masih ada proyek pembangunan terowongan menuju kawah.


Jalur Pendakian dari Desa Tulungrejo

Pertama dari basecamp, atau parkiran kalian harus registrasi masuk, kemudian akan dinaikkan pick up menuju gerbang pendakian. Kalau dulu sebelum dikelola oleh masyarakat seperti sekarang, jika kita ingin mendaki sepeda motor kita titipkan di rumah terakhir di Mas Yudi. Tapi sekarang sudah dikelola jadi kita parkir sepeda motor lalu bayar sekitar 15 ribu perorang dan kita diantar menggunakan mobil pick up sampai di pintu gerbang, begitupun juga waktu pulang kita akan dijemput.



Pintu Gerbang - Pos 1
Dari pintu gerbang menuju pos 1 memerlukan waktu sekitar 1 jam. Pertama kalian agak turun kemudian cukup landai melintasi hutan pinus.
Setelah melewati hutan pinus kita akan memasuki hutan biasa dengan semak-semak dan rumput yang masih agak menutupi jalan. Kita berjalan melintasi lerengan atau punggungan bukit yang masih terdapat banyak pohon bambu.

Setelah itu jalur sudah mulai sedikit demi sedikit naik sampai akhirnya kita tiba di Pos 1.
Pos 1 ini terdapat sebuah shelter atau pondok yang bisa kita gunakan untuk berteduh.

Pos 1 - Pos 2


Pos 1

Dari Pos 1 menuju Pos 2 memerlukan waktu sekitar 30 - 45 menit. Dengan jalur yang semakin naik. Dari pos ini kita akan naik kemudian belok kiri terus melintasi hutan yang cukup rapat dan tertutup. Seperti hutan lumut yang selalu basah. Kalau pas musim hujan dulu terdapat banyak sekali pacet. 
Setelah berjalan cukup lama melintasi hutan dengan pohon-pohon besar seperti pohon bendo. Kita akan menemukan plakat di pohon besar dengan tulisan Pos 2. Di pos ini hanya terdapat tempat datar yang sempit. Tidak ada pendaki yang menginap di pos ini, pendaki kebanyakan ngecamp di Pos 3.

Pos 2 - Pos 3

Dari Pos 2 juga tidak memerlukan waktu begitu lama untuk menuju Pos 3. Juga hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menitan saja dengan jalur masih hutan yang rindang dan tidak begitu menanjak. 
Setelah itu kita akan naik sedikit dan menemukan banyak ilalang atau rumput-rumput yang cukup tinggi. nah dari situ kita sudah mulai keluar dari hutan dan sampai di tempat yang terbuka. Nah sampailah kita di Pos 3. 

Pos 3 ini terletak di punggungan bukit dengan medan terbuka, jadi kita bisa melihat pemandangan Gunung Butak di sisi Timur, Gunung Arjuno- Welirang disisi Utara dan Puncak Gunung Kelud sendiri di sisi barat.

Pemandangan sebelah barat dari Pos 3 


Pos 3 - Puncak atau Kawah


Dari Pos 3 menuju puncak membutuhkan waktu sekitar 1 - 1,5 jam. 
Dari sini kita berjalan melintasi rerumputan yang cukup tinggi dengan medan yang landai dan menurun sampai akhirnya benar-benar turun melitasi punggungan sapi. 
Terus melipir di lereng bukir sampai akhirnya tiba di jalan berbatu dengan kerikil kerikil kecil. 





Kemudian setelah itu kita akan naik pada batu-batu. Sesampainya di atas kita akan melihat area yang sangat luas, dimana kawah tidak begitu terlihat dari sini. Dari atas kita juga sudah bisa melihat pemandangan yang indah.

Pemadangan dari atas.

Setelah itu jika kita ingin melihat dan sampai di dekat kawah kita agak turun lagi kemudian ambil arah kanan jalan melipir dengan medan naik turun melintasi pasir dan kerikil.



Tak lama setelah itu kita akan sampai di tempat dimana kita bisa melihat kawah secara jelas. Disini kita bisa mengambil gambar dengan panorama yang sangat menawan.





Baca selengkapnya