Wednesday, 21 January 2015

Cara dan Tips Mengenali Cuaca

MENGENALI CUACA DENGAN TANDA-TANDA ALAM

Apa yang ada di pikiran kita ketika melihat awan gelap? Pasti jawabannya sebentar lagi hujan deras , tapi tiba-tiba justru sebaliknya cuaca dengan cepatnya berubah menjadi cerah. Apa yang menyebakan itu semuanya, bagi pakar cuaca sudah biasa dengan keadaan seperti itu, tapi bagi masyarakat awam malah heran dan aneh. Bahkan ketika cuaca cerah keesokan harinya malah hujan lebat terus menerus sehingga mengakibatkan bencana seperti banjir, dll.



Bencana alam seperti banjir, tanah longsor dan kebakaran hutan terus merajela di permukaan bumi ini termasuk Indonesia. Tidak hanya Indonesia saja tapi bencana melanda juga negara manca negara, sebagian para pakar cuaca mengatakan bahwa bencana ini diakibatkan dari perubahn iklim ada juga yang mengatakan perubahan lingkungan akibat, sebagian lagi mengatakan hanya variabilitas iklim bahkan ada juga mengatakan bencana yang terjadi di suatu negara turut andil untuk memicu bencana di negara lainnya, benarkah demikan ? bencana seperti banjir dan tanah longsor selalu dikaitkan dengan cuaca ekstrim, cuaca ekstrim dikaitkan dengan siklon tropis, siklon tropis dikaiakan dengan El Nino atau La Nina atau Maddem Julian Oscilation atau Dipole Mode dan sebagainya.

Dari rentetan kejadian bencana akibat cuaca ekstrim yang hampir setiap tahun terjadi, memicu para pakar meteorologi berupaya untuk mengemukan hasil analisanya atau bahkan memberikan prediksi cuaca kedepannya. Hasil kajian atau analisanya dan prediksi nya menggunakan prinsip-prinsip fisika dan matematika atau metode-metode ilmiah, itupun tingkat akurasinya belum memuaskan. Kenapa belum memuaskan, karena salah satu penyebannya melupakan skala meteorologi atau skala fenomena cuaca. Skala ini sangat berguna untuk menganalisa cuaca dalam ruang dan waktu, sebab cuaca adalah fungsi ruang dan waktu. Tidak ada salahnya, dalam tulisan ini menjelaskan kembali tentang skala meteorologi, sebagai ilustrasi saja bahwa dalam membuat analisa cuaca, seorang prakirawan wajib memahami tentang skala meteorologi karena hal ini sangat penting, agar hasil analisanya sesuai dengan fenomena cuaca yang terjadi (zakir, 2008). Adapun skala meteorologi yang dikemukan oleh Lembaga Meteorollgi Dunia (WMO, 1980), yaitu :

1. Skala mikro merupakan skala terkecil pada gerak atmosfer yaitu jaraknya kurang dari 1 km.
Contoh :proses di dalam awan, termasuk proses pembentukan partikel es di dalam awan.
2. Skala Meso yaitu skala untuk mempelajari fenomena atmosfer yang memiliki skala jarak horizontal dari batas skala mikro sampai batas skala sinoptik dan skala vertikal yang dimulai dari permukaan bumi sampai batas lapisan atmosfer yaitu jaraknya sampai 20 km.
Contoh :Tornado, puting beliung, angin laut, angin darat
3. Skala Sinoptik umumnya daerah dinamis yang lebih luas yaitu jaraknya sampai 2000 km.
Contoh :Siklon tropis, Intertropical Convergence Zone (ITCZ ).
3. Skala Global mempelajari fenomena cuaca yang berhubungan dengan transport panas mulai dari dari tropis sampai daerah kutup. Jaraknya sampai 5000 km.
Contoh :MJO, Dipole Mode, El Nino/La Nina
Jadi dari pemahaman skala meteorology tersebut, kita tidak gegabah lagi dalam membuat analisa, karena kita harus benar-benar mengetahui apakah kejadian cuaca ekstrim tersebut diakibat dalam skala meso ataukah dalam skala sinoptik, dari situlah kita baru bias menjawab apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin kita lupa dengan keadaan alam yang ramah yang penuh dengan tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan, namun hewan dan tumbuhan lambat laun akan sirna tergantikan dengan gedung dan aspal. Seharusnya tumbuhan dan hewan tersebut dipertahankan untuk menjaga kesimbangan energy atau ekosistim. Namun sayang sekali keberadaan hewan dan tumbuhan tidak mendapat perhatian penuh bahkan cenderung dirusak dan dipunahkan.

Pada zaman dahulu orang membuat analisa atau membuat prakiraan cuac tidak perlu kaedah-kaedah ilmiah, tapi cukup dengan memperhatikan tanda-tanda alam. Seperti memperhatikan tingkah laku hewan atau memperhatikan sifat tumbuhan, agar kita tidak lupa dengan alam dan tetap diperhatikan, maka sangat perlu dikemukan bahwa keberadaan hewan sangat diperlukan dalam melihat pola cuaca yang akan terjadi, sehingga dengan demikian punya niatan yang kuat untuk mempertahankannya

Penjelasan berikut ini diambil dari http://www.wikihow.com/Predict-the-Weather-Without-a-Foreca, yang menjelaskan tentang bagaimana membuat prakiraan cuaca dengan memperhatikan tanda-tanda alam dan ditambah pengalaman sebagai Prakirawan. Adapun tanda-tanda alam tersebut antara lain yaitu :

1. Memperhatikan jenis dan pergerkan awan:awan merupakan salah satu unsur cuaca untuk memperkirakan ada atau tidaknya hujan atau fenomena lain:
A. Awan Cumulonimbus.
Jika terlihat awan Cumulonimbus, maka :
a. Awan cumulonimbus tumbuh dipagi hari dan berkembang pada siang hari mempunyai peluang akan terjadi cuaca buruk.
b. Apabila terdapat gerakan awan yang berbeda-beda ( misal lapisan yang satu bergerak ke barat dan lapisan yang lain bergerak ke utara bertanda cuaca buruk akan terjadi

B. Awan Mamatus
Jika melihat awan Mamatus, maka :
a. Awan mamatus terbentuk dari udara yang tertahan pada suatu lapisan.
b. Dapat terbentuk akibat adanya awan yang menimbulkan cuaca buruk dan thunderstorm yang tidak begitu hebat atau type awan yang lain.

C. Awan Cirus
Apabila terdapat awan cirus berbentuk pita panjang, bertanda dalam 36 jam mendatang akan terjadi cuaca buruk.

D. Awan Altocumulus
Awan Altocumulus, yang seperti sisik makarel, juga berarti cuaca buruk dalam 36 jam mendatang.

E. Awan Towering
Apabila terdapat jenis awan towering menandakan akan terjadi hujan keesokan harinya bahkan 3 jam kedapan akan terhjadi hujan lebat tiba-tiba

F. Awan Nombostratus
Jenis awan ini terlihat gelap dan rendah, bergelantungan berat di udara, ini berarti hujan akan cepat turun. Apabila terdapat awan menutupi sebagian langit dimalam hari musim dingin berarti udara terasa panas/lebih hangat, karena awan mencegah radiasi panas yang akan menurunkan suhu pada malam yang cerah.

2. Memperhatikan keadaan rumput.
Jika rumput kering, ini menunjukkan awan atau angin yang kuat, yang dapat berarti hujan. Jika ada embun, mungkin tidak akan hujan hari itu. Namun, jika hujan pada malam hari, metode ini tidak akan dapat diandalkan.

3. Memperhatikan langit berwarna Merah.
Ingat sajak: Langit Merah di malam hari, kegembiraan pelaut, langit merah di pagi hari, pelaut mengambil peringatan . Carilah tanda-tanda merah di langit (bukan matahari merah),
Jika Anda melihat langit merah senja (ketika Anda menghadap ke barat), ada sistem tekanan tinggi dengan udara kering yang mengaduk partikel debu di udara, inilah yang menyebabkan langit terlihat merah. Karena pergerakan front berlaku dan jet stream, ini biasanya fenomena cuaca akan bergerak dari barat ke timur, dan udara kering menuju ke arah Anda.
Langit merah di pagi hari (di Timur, di mana matahari terbit) berarti bahwa udara kering telah pindah melewati Anda, dan setelah itu ada sistem tekanan rendah yang membawa kelembaban menuju kearah anda

4. Memperhatikan Pelangi di barat.
Pelangi di barat berarti kelembaban yang cukup tinggi menandakan hujan dalam perjalanan menuju anda . Di sisi lain, pelangi di timur sekitar matahari terbenam berarti bahwa hujan menjauhi yang berarti diharapkan udara akan cerah. Penting:apabila ada pelangi di pagi hari, maka perlu membuat peringatan dalam 12 jam kedepan.
Memperhatikan langit berwarna Merah

5. Memperhatikan langit berwarna Merah
Perhatikan kebiasaan angin yang bertiup ditempat anda, Angin timuran berarti angin dari timur yang menyimpang dari kebiasaan ditempat anda berarti akan ada badai angin. Sebaliknya apabila ada angin barat menyimpang dari kebiasaanya berarti cuaca akan bagus. Apabila terjadi angin kencang dari sepanjang hari dan diikuti hari berikutnya berati disekitar wilayah anda terdapat sistim tekanan tinggi

6. Perhatikan pohon yang daunya beguguran tepat dibawah pohonnya, ini berarti ada hembusan angin yang biasa terjadi.
Pernafasan
Ambil napas dalam-dalam, kemudian tutup mata dan hirup bau udara. Tanaman biasanya akan melepaskan limbahnya menandakan ada sistim tekanan rendah, dan menghasilkan bau seperti kompos dan mengindikasikan akan turun hujan diwaktu mendatang.
Sebuah rawa akan menimbulkan gas pada saat sebelum badai datang hal ini ditunjukan bau tak sedap.
Pepatah mengatakan Bunga bau sebelum hujan. Aroma lebih kuat udara lembab, berhubungan dengan cuaca hujan.

7. Kelembapan.
Biasanya kelembapan dapat dilihat pada model rambut (rambut melengkung/mengerucut/). Anda juga dapat melihat daun oak atau pohon maple. Daun ini cenderung melengkung/mengerucut pada kelembaban tinggi, yang cenderung berkembang menjadi hujan lebat. Sisik kerucut pinus tetap tertutup jika kelembaban tinggi, tetapi terbuka pada udara kering. Dalam kondisi lembab, kayu membengkak (apabila membuka pintu akan terasa pintu sulit dibuka/lengket dengan tiang )

8. Hewan.
Hewan lebih peka dibandingkan dengan manusia, dan hewan biasanya akan bereaksi apabila terjadi perubahan tekanan
a. Jika burung terbang tinggi di langit, ada kemungkinan akan cerah. (tekanan udara rendah disebabkan terjadinya badai, sehingga burung merasa tidak nyaman khususnya pada telinganya, dengan demikian burung akan terbang rendah untuk meringankannya Sebagian besar burung bersarang pada saluran listrik dan ini menunjukan tekanan udara turun
b. Burung camar (Seagulls) cenderung berhenti terbang dan berlindung di pantai jika badai akan datang. burung camar menjadi sangat tenang dalam terbangnya sebelum hujan.
c. Sapi biasanya akan berbaring sebelum badai. Mereka juga cenderung untuk tetap dekat bersama-sama jika cuaca buruk akan datang.
d. Semut membangun bukit dengan sangat curam sebelum hujan.
e. Kucing cenderung membersihkan di belakang telinganya sebelum hujan.
f. Kura-kura (Turtles) sering mencari tempat yang lebih tinggi apabila hujan lebat akan turun. Mereka biasanya sering berada di jalan selama periode 1 sampai 2 hari sebelum terjadinya hujan.
g. Jika burung bergerak cepat ini berarti badai hujan akan turun untuk waktu yang lama.

9. Api Unggun
Asap api unggun harus naik terus. Apabila asap berputar-putar dan turun bertanda tekanan rendah, yang berarti hujan akan menuju anda.

10. Bulan
Jika bulan terlihat kemerahan dan terlihat agak buram ini bertanda banyak debu diudara. Sebaliknya apabila bulan terlihat terang, ini menunjukan udara terlihat cerah, biasanya telah terjadi hujan akibat terdapat sistim tekanan rendah. Apabila disekitar bulan terdapat lingkaran cincin dan terdapatr cirostarus ini menandakan dalam 3 hari kedepan akan turun hujan.

11. Ciptakan metoda analisa dan prakiraan cuaca menurut anda sendiri.
Metode ini biasanya pada prakirawan yang selalu memperhatikan tanda-tanda alam disekitarnya. Dengan menggabungkan disiplin ilmunya dengan pengalamannya sebagai prakirawan akan menciptakan metode prakiraan yang berlaku didaerahnya.

source; bmkg.go.id/
Baca selengkapnya

Saturday, 10 January 2015

Mengungkap Hal Mistis di Gunung Lawu

Cerita Misteri Gunung Lawu


Gunung Lawu terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Status Gunung Lawu sendiri adalah gunung berapi tidak aktif atau sudah lama tertidur. Gunung Lawu memiliki ketinggian 3.265 Mdpl. Gunung Lawu adalah salah satu gunung di Indonesia yang juga banyak diminati kalangan pendaki. Di balik itu ternyata Gunung Lawu juga menyimpan banyak cerita dan hal mistis.

Gunung Lawu bersosok angker dan menyimpan misteri dengan tiga puncak utamanya yakni Harga Dalem, Harga Dumilah, dan Harga Dumiling. Ketiga puncak itu dimitoskan sebagai tempat sacral di Tanah Jawa. Harga Dalem diyakini masyarakat setempat sebagai tempat pemasoksan Prabu Bhrawijaya Pamungkas. Harga Dumiling diyakini sebagai tempat pamoksan Ki Sabdopalon dan Harga Dumilah merupakan tempat misterius yang sering dipergunakan sebagai ajang kemampuan olah batin dan meditasi.

Konon katanya Gunung Lawu merupakan pusat kegiatan spiritual di Tanah Jawa dan berhubungan erat dengan tradisi dan budaya keratin, misalnya upacara labuhan setiap bulan Suro (muharam) yang dilakukan oleh Keraton Yogyakarta.

Siapapun yang hendak pergi ke puncak, maka harus berbekal pengetahuan perihal wewaler atau peraturan yang tertulis yakni larangan tertentu untuk tidak melakukan sesuatu baik bersifat perbuatan maupun perkataan. Bila pantangan ini dilanggar maka pelaku bakal bernasib naas.


Tempat-tempat lain yang diyakini misterius oleh penduduk setempat selain tiga puncak tersebut yakni : Sendang Inten, Sendang Drajat, Sendang Panguripan, Sumur Jalatunda, Kawah Candradimuka, Repat Kepanasan (Cakrasurya), dan Pringgadani. Bagaimana situasi Majapahit sepeninggal Sang Prabu Bhrawijaya? Konon sebagai pengganti tugas kerajaan adalah pangeran Katong. Figur ini dimitoskan sebagai seorang sakti yang muksa di Ponorogo, suatu wilayah Gunung Lawu di lereng tenggara.
Baca selengkapnya

Mengungkap Misteri Gunung Kelud

Cerita Mistis di Gunung Kelud


Gunung Kelud merupakan salah satu gunung berapi yang ada di Indonesia, tepatnya berada di provinsi Jawa Timur. Gunung Kelud berdiri di Kabupaten Blitar, Malang dan Kediri.
Nama Gunung Kelud sendiri berasal dari jarwadhasak yakni dari kata “ke” (kebak=penuh) dan “lud”(ludira=darah). Hal ini berarti bila murka, Gunung Kelud bisa merengut banyak korban jiwa tak berdosa. Menuru kepercayaan penduduk sekitar kawah, Gunung Kelud dijaga sepasang buaya putih yang konon merupakan jelamaan bidadari.

Legenda menceritakan zaman dahulu ada dua bidadari sedang mandi di telaga, karena terlena dua bidadari tersebut melakukan perbuatan intim dengan sesame jenis. Perbuatan itu rupanya diketahui oleh dewa. Karena kesal sang dewapun mengutuk kedua bidadari itu menjadi buaya.
Sejak tahun 1000, Gunung Kelud telah meletus sebanyak 24 kali hingga yang terakhir pada tahun 2014 kemarin. Interval letusannya rata-rata berlangsung setiap 15 tahun sekali. Paling pendek 3 tahunan berlangsung pada tahun 1848. Tapi Gunung Kelud pernah bersikap manis selama 37 tahun yang berlangsung pada tahun 1864-1901.Entah apa yang membuat kelud selama 37 tahun tak pernah sakit-sakitan. Barangkali para penunggunya merasa nyaman karena warga sekitar rutin mengirim makanan kesehatan berupa aneka jenis sesaji seperti yang kerap dilakukan oleh warga desa Sugihwaras.
Menurut catatan sudah sebanyak 3 kali Gunung Kelud sempat mengamuk berat yakni pada tahun : 1919, 1951 dan 1966. Uniknya kalau direka-reka angka tahun meletusnya itu sangat menarik, yakni selalu mengiringi peristiwa besar di Tanah Jawa. Misalkan letusan 1951 yang menandai Pemberontakan Madiun. Kemudian ledakan 1966 yang terjadi setahun pasca G30S/PKI pada tiga ledakan itu material yang dimuntahkan meluncur ke bawah melalui Kali Badak, Kali Ngobo, Kali Putih, Kali Semut, dan Kali Ngoto.

Menurut sesepuh desa di sekitar Gunung Kelud para korban itu sedang dikersakke oleh dua bidadari penunggu kawah. Bila laki-laki diperlakukan sebagai suami dan kalau perempuan diangkat jadi saudara. Warga menengarai bila Gunung Kelud akan meletus biasanya ada dua sorot sinar terang masuk ke kawah atau banyak burung gagak berterbangan di pedesaan.
Baca selengkapnya

Tips dan Cara Memprediksi Cuaca Ketika Mendaki

Memprediksi Cuaca Ketika Mendaki Gunung


Rencana berpergian atau liburan bersama teman dan keluarga memerlukan persiapan yang benar-benar matang. Apalagi jika kita akan pergi untuk mendaki gunung. Tak hanya perbekalan dan fisik yang harus kita siapkan dengan baik, tapi kita juga harus merencanakan dengan baik kapan dan waktu yang tepat untuk pergi mendaki gunung, salah satunya yaitu kita harus memperkirakan cuaca dengan baik. Karena bisa saja jika kita tidak memperkirakan cuaca dengan baik, persiapan yang kita bawapun akan tidak lengkap. Misalnya saat musim hujan kita tidak membawa jas hujan. Bisa kita bayangkan bagaimana pentingnya jas hujan ketika mendaki saat musim hujan?. Nah disini kita akan berbagi mengenai cara atau tips memperkirakan atau meramal cuaca.

Prakiraan cuaca biasanya bisa kita dapat dari media massa dan ada beberapa cara lain yang dapat dilakuan. Berikut cara-cara yang cukup efektif dan mudah untuk memperkirakan cuaca yang dapat dilakukan oleh siapa saja :

1. Cara paling mudah meprediksi cuaca adalah dengan melihat kondisi langit. Jika langit dipenuhi awan mendung sangat mungkin hujan akan segera turun. Sebaliknya jika langit cerah kemungkinan hujan tidak akan turun, tapi jika musim hujan hal itu tidak bisa menjadi acuan jika langit cerah tidak turun hujan. Tetap saja kita harus menyediakan atau membawa peralatan anti hujan.

2. Arah angin bisa menjadi sumber info juga jika ada angin lembah dari arah utara atau arah timur kemungkinan cuaca baik, namun jika datangnya dari arah barat atau barat daya, kemungkinan hujan atau gerimis akan tiba.

Bagaimana mengetahui arah angin? Mudah saja, basahi jari telunjuk ke dalam mulut, lalu acungkan jari ke atas menghadap lurus ke utara. Rasakan bagian paling dingin di jari tangan kalian datang dari arah mana, karena sisi itulah yang menunjukkan arah angin dominan bertiup.

3. Memperkirakan cuaca dapat juga dilalukan dengan melihat serangga atau burung. Jika binatang atau burung tersebut terbang rendah atau lebih sering berada di daratan, lebih baik bersiap-siap kalau hujan akan turun. Hal ini bisa terjadi lantaran mereka menghindari angin yang cukup kencang di atas.
Lebah juga dapat dijadikan penanda hujan. Jika binatang satu ini terlihat sibuk di kebun, kita dapat berlega hati karena cuaca akan cerah. 
Untuk kura-kura akan mencari dataran yang lebih tinggi jika hujan besar akan datang. Sedangkan semut akan membangun sarang mereka dengan tepian yang curam sebelum hujan datang.

4. Matahari bisa membanti kita memrediksi cuaca. Apabila ketika terbit memiliki warna merah tua disertai awan gelap maka kemungkinan akan turun hujan. Jika terang dengan cahaya penuh maka kemungkinan cuaca akan cerah. Jika ketika matahari terbenam warnanya kuning cerah dan orange di bawahnya, maka kemungkinan hujan akan turun. Hujan kemungkinan juga akan turun jika warnanya kuning pucat.

5. Kondisi bulan bisa dijadikan patokan pula. Jika bulan bersinar sangat terang itu berarti menandakan cuaca akan baik atau cerah. Jika banyak awan yang menyelimuti bulan ada kemungkinan hujan akan turun. Kmudian amati pula di sekitar sinar bulan itu ada cincin cahaya yang disebut sebagai "halo". Halo adalah cristal es dan sekaligus bibit air di langit sana. Jika ada cincin cahaya ini maka bisa jadi besok atau lusa akan turun hujan lebat.

6. Jika kita berada di dataran tinggi kabut bisa menjadi salah satu acuan. Jika kabut menggumpal cerah seperti awan maka cuaca kemungkinan akan baik. Kabut di lembah pada pagi hari meramalkan cuaca baik tapi kabut di gunung meramalkan akan turun hujan.

7. Terakhir jika hujan turun, umumnya hawa arau suhu menjadi lembab. Jika udara berbau seperti pupuk kompos, maka kemungkinan akan hujan. Karena bau akan lebih tercium kuat saat udara lembab. 

Di atas hanyalah sekedar tips atau cara untuk meramalkan cuaca, tapi hal tersebut tidak menjamin kalau hujan atau cerah benar-benar tepat.
Baca selengkapnya

Thursday, 8 January 2015

Mengungkap Misteri Gunung Merapi

Kisah Mistis Gunung Merapi


Sejak zaman dahulu misteri Gunung Merapi yang terletak di perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah ini memang menarik perhatian dan sering dibicarakan masyarakat. Misteri ini tidak lepas dari segala hal ghaib yang terkadang menjadi ciri khas gunung ini. Gunung Merapi sendiri adalah salah satu gunung vulkanik teraktif di Indonesia.

Penunggu Gunung Merapi

Misteri Gunung Merapi tidak bisa lepas dari kepercayaan banyak orang bahwa di gunung itu hidup banyak makhluk halus yang sekaligus menjadi penguasanya. Menurut penduduk setempat, Eyang Merapi adalah raja makhluk halus di Gunung Merapi. Penduduk setempat mempercayai bahwa Eyang Sapu Jagad merupakan jin penguasa Merapi yang menentukan apakah gunung akan meletus atau tidak. Karenanya di zaman dahulu Raja Yogyakarta sering memberi sesaji agar Eyang Sapu Jagad tidak marah.

Sementara Eyang Megantara dipercayai sebagai pengendali cuaca di sekitar Gunung Merapi. Nyi gadung Melati dipercaya sebagai pimpinan para makhluk halus wanita dan bertugas untuk menjaga kesuburan tanaman di wilayah tersebut. 

Eyang Antaboga dipercaya sebagai penjaga keseimbangan Gunung Merapi di permukaan bumi. Mbah Petruk dipercaya sebagai pemuka jin yang akan memberi tanda tentang kapan Gunung Merapi akan meletus. Kyai Sapu Angin dipercaya menjaga ternak dan semua hewan di Gunung Merapi. Makhluk halus yang satu ini sangat akrab di telinga penduduk setempat karena jin ini sering mendatangi penduduk. 


Pasar Bubrah

Cerita gaib lainnya yang cukup membuat merinding adalah pasar makhluk halus. Cerita ini juga merupakan misteri Gunung Merapi yang cukup dikenal masyarakat luas. Menurut cerita almarhum Mbah Marijan, setiap malam Jumat akan ada pasar Bubrah yang merupakan pasar para makhluk halus. Setiap malam jumat akan terdengar kegaduhan mirip pasar seperti pasar pada umumnya. Suara alunan gamelan dan gending Jawa akan kedengar. Ada beberapa pendaki Gunung Merapi yang sudah membuktikan kebenaran mitos Pasar Bubrah ini.

Seperti daerah angker lainnya, Gunung Merapi terkadang meminta tumbal. Misteri Gunung Merapi ini memang sulit dipercaya bagi orang di luar kawasan Merapi. Namun realitasnya beberapa pendaki menjadi korban di Gunung Merapi. Penduduk percaya bahwa itu merupakan tanda bahwa penguasa Merapi sedang menginginkan tumbal. Penduduk setempat mempercayai bahwa tumbal yang akan diambil penguasa Merapi adalah orang yang bertabiat buruk maupun orang yang membuatnya marah.


Awan Mbah Petruk


Sebelum terjadi erupsi pada awal bulan November tahun 2010 lalu, masyarakat setempat digemparkan oleh penampakan awan Mbah Petruk yang berhasil tertangkap kamera oleh seorang warga Magelans bernama Suswanto. Terdapat cerita menarik yang sempat beredar di masyarakat tentang awan Mbah Petruk yang terlihat menoleh ke kanan. Petruk sendiri adalah salah satu tokoh pewayangan Jawa yang sering diibaratkan sebagai seorang rakyat. Saat dimainkan oleh dalang, wajah Petruk biasanya selalu menoleh ke kiri, tidak hanya itu awan Mbah Petruk yang mengarah ke selatan juga merupakan pertanda bahwa kemarahannya akan lebih difokuskan ke wilayah selatan Merapi.

Dan pada akhirnya pada 5 November 2010 sesuai kepercayaan masyarakat akan pertanda dari Mbah Petruk, terjadi erupsi Gunung Merapi dengan letusan yang begitu dahsyat dan menimbulkan banyak korban.


Baca selengkapnya

Mendaki Gunung Penanggungan (Miniatur Semeru)

Gunung Penanggungan Miniatur Gunung Semeru


Gunung Penanggungan, merupakan gunung berapi yang sedang dalam keadaan tidak aktif. Gunung Penanggungan sering disebut miniatur Semeru, karena jika di lihat kondisi puncaknya sangat tandus, mirip dengan Gunung Semeru. Ketinggian Gunung Penanggungan sekitar 1.653 mdpl, dimana puncaknya terdiri dari bebatuan cadas dan jarang di tumbuhi oleh pepohonan, hingga jika di lihat dari kejauhan mirip kepala botak tanpa rambut. Pada malam hari, udara di puncak Gunung Penanggungan berkisar sekitar 10 - 15 derajat sedangkan pada siang hari berkisar sekitar 15 - 25 derajat. Dari kaki sampai lereng bawah Gunung Penanggungan berupa hutan lindung dengan jenis tanaman rimba seperti jempurit, kluwak, ingas, kemiri, dawung, bendo, wilingo dan jabon. Di bawah pohon-pohon raksasa ini, tumbuh tanaman empon - empon seperti kunir, laos, jahe dan bunga - bunga kecil. Lebatnya pepohonan menyebabkan udara di sini terasa lembab karena sinar matahari tidak sepenuhnya menembus tanah.Sampai di lereng atas ditumbuhi caliandra, yang bercampur dengan jenis Resap, Pundung dan Sono. Caliandra merah tampak mendominasi tumbuh lebat hampir menutup permukaan tanah, walaupun pertumbuhannya kerdil di tengah hamparan rumput gebutan. Demikian juga keadaan di puncak, hanya akar rumput gebutan yang mampu tumbuh menerobos kerasnya batuan padas Gunung Penanggungan. Keadaan medan Gunung Penanggungan tidak berbeda dengan gunung - gunung lain : datar, landai, miring, berbukit dan berjurang. Di kaki gunung, keadaan medannya landai sampai sejauh 2 km. Naik ke atas kemiringannya berkisar 30 - 40 derajat. Di bagian perut gunung agak curam, berkisar 40 -50 derajat sepanjang 1 km. Sampai di dada gunung, banyak jurang - jurang dengan kemiringan berkisar 50 -60 derajat; tanahnya berbatu sepanjang 2 km dari dada, leher sampai puncak gunung. Medannya amat curam, berbatu, licin dan kemiringannya berkisar 60 -80 derajat sepanjang 1,5 km. sampai di puncak, batu - batu padas nampak di sana - sini. Di puncak terdapat lembah, barangkali semacam kawah yang sudah tidak aktif lagi. Luasnya sekitar 4 ha. Tempat ini biasanya dimanfaatkan untuk base camp. Tempat yang nyaman untuk menikmati keindahan pada malam hari. Untuk mencapai puncak Gunung Penanggungan terdapat 4 ( empat ) arah pendakian yaitu via Trawas, Jolotundo, Ngoro dan via Pandaan. Bagi pendaki yang memilih start dari Desa Jolotundo dan Ngoro, di sepanjang jalan akan melewati candi - candi peninggalan purbakala. Yang memilih start dari Desa Trawas dan Pandaan hampir tidak menjumpai peninggalan purbakala. 

Jalur Trawas 
Untuk mencapai Trawas, dari Surabaya atau Dari Malang naik bis menuju Pandaan, naik lagi Minibus menuju ke Trawas. Selama perjalanan jalan yang dilalui sudah beraspal. Dari Desa Trawas,Mojokerto,kita menuju ke desa Rondokuning ( 6 km ) dengan kendaraan roda 4 atau roda 2. Dari desa Rondokuning melewati jalan setapak hutan alam menuju ke puncak Penanggungandengan memakan waktu sekitar 3 jam. Sepanjang jalan, pendaki akan melihat pemandangan dari celah - celah lebatnya pohon kaliandra, puncak Gunung Bekel yang merupakan anak Gunung Penanggungan terlihat angker. Rumah - rumah penduduk, pabrik - pabrik, sawah - sawah terlihat di bawah. 

Jalur Jolotundo
Untuk mencapai Jolotundo dari Trawas naik lagi minibus sekitar 9 Km. Desa Jolotundo merupakan salah satu desa yang berada dekat dengan puncak Gunung Penanggungan ( 6,5 Km ). Pendakian lewat Jolotundo membutuhkan total waktu 3 jam. Perjalanan tidak melewati pedesaan, tetapi langsung menyusup ke dalam hutan alam. kemiringan medannya 40 derajat, melewati jalan setapak. Di kanan - kiri terdapat pohon - pohon besar. Hati - hati, di sekitar sini banyak jalan setapak yang menyesatkan.Setelah perjalanan memakan waktu 1 jam, hutan alam terlewati, berganti memasuki hutan caliandra yang amat lebat dengan jalan menanjak. 
Berjalan sekitar 30 menit pendaki melewati Batu talang, sebuah batu yang panjangnya 7 km tanpa putus, bersumber dari leher Gunung Penanggungan yang memanjnag seperti talang air menerobos hutan sampai ke Desa Jolotundo dan Desa Balekambang.  Dari Batu talang, terus menyusup hutan caliandra. Sekitar 300 m, sampailah di Candi Putri, sebuah candi peninggalan Airlangga yang berukuran sekitar 7x7x4 m dalam keadaan tidak utuh. Candi Putri ini dikelilingi oleh hutan caliandra yang sangat lebat.Dari Candi Putri, sekitar 200 m sampai di Candi Pure, yaitu sebuah candi yang berukuran 7x6x2 m terbuat dari batu andesit.  Dari Candi Pure, sekitar 150 m sampai di Candi Gentong. 
Disini terdapat meja. Candi gentong dan meja sebenarnya bukan candi, tetapi menurut masyarakat setempat dinamakan candi. Candi Gentong merupakan peninggalan kuno yang terbuat dari batu kali. Posisinya bersebelahan. Gentong terletak di sebelah Utara, meja terletak di sebelah selatan tetapi dalam 1 lokasi. Gentong berdiameter 40 cm bagian mulut dan 90 cm bagian perut, tebal 15 cm. Setengan badannya terpendam di dalam tanah. Sedangkan meja panjang 175 cm, lebar 100 cm dan tinggi 125 cm.  Setelah melewati Candi Gentong, perjalanan dilanjutkan menyusur ke atas. Lebih kurang berjalan 50 m sampai di Candi Shinto. Keadaan candi sangat memprihatinkan, panjang 6 m, lebar 6 m, tinggi 3 m, terletak di hutan wilayah RPH Seloliman. Setelah melewati hutan kurang lebih 300 m akan ditemui candi lagi, yaitu Candi Carik dan sekitar 300m Candi Lurah. Dan sampailah di puncak.

 Jalur Ngoro
 Untuk mencapai Ngoro bisa dari arah Pandaan atau dari Arah Mojokerto. Dari arah Pandaan naik minibus jurusan Ngoro sedangan dari arah Mojokerto naik minibus menuju arah Ngoro. Desa Ngoro lebih mudah dicapai lewat Mojokerto karena terletak di tikungan jalan jurusan antara Japanan, Mojosari, Kabupaten Mojokerto; persisnya di kaki Gunung Penanggungan sebelah Utara. Dari desa Ngoro kita menuju ke desa Jedong ( 6 Km ) dengan kendaraan angkutan pedesaan lalu perjalanan di teruskan menuju dusun Genting sekitar 3 Km. Masyarakat Desa Genting sebagaian besar penduduknya suku Madura.  Dari dusun Genting, pendaki naik ke atas memasuki hutan lindung, melewati jalan setapak menyusur ke atas, kemudian menurun dan melewati Candi wayang dan sekitar 2 km menuju puncak dengan medan yang sangat miring antara 70 - 80 derajat. Jalur lewat desa Ngoro ini lebih sulit dibandingkan dengan jalur desa Jolotundo.


//Dikutip dari beberapa sumber

Baca selengkapnya

Wednesday, 7 January 2015

Misteri Gunung Arjuno

Tempat Mistis di Gunung Arjuno



Gunung Arjuno atau Arjuna terletak di Malang, Jawa Timur yang memiliki ketinggian 3339 Mdpl. Di Gunung Arjuno terdapat banyak ditemukan petilasan bekas kerajaan Majapahit dan berbagai objek wisata seperti air terjun.

Namun konon untuk mendaki Gunung Arjuno harus sangat berhati-hati karena menurut banyak orang dan cerita masyarakat sekitar bahwa banyak pendaki yang tersesat atau hilang dan tidak bisa pulang kembali. Berikut ini adalah tempat atau legenda mistis di Gunung Arjuno :

Arjuna

Konon Arjuna pernah melalukan pertapaan di sebuah gunung dengan sangat khusyuk selama berbulan-bulan lamanya. Kemudian tubuhnya mengeluarkan sinar dan memiliki kekuatan luar biasa hingga membuat seluruh Kahyangan kacau.

Kawah Condrodimuko menyemburkan laharnya, bumi berguncang, petir menggelegar di siang hari, hujan turun dan menimbulkan banjir dan gunung tempat Arjuna bertapa terangkat ke langit.

Para Dewa yang khawatir maka melakukan tindakan untuk menghentikan pertapaan dari Arjuna tersebut. Kemudian Batara Ismaya diturunkan ke bumi dengan menjelma menjadi semar. Dengan kesaktiaannya Semar memotong puncak gunung tempat Arjuna bertapa dan melemparkannya ke tempat lain.

Kemudian Arjuna terbangun dari pertapaannya dan mendapat nasehat dari Semar untuk tidak melakukan pertapaannya lagi. Kemudian tempat pertapaan tersebut disebut Gunung Arjuna dan potongannya disebut Gunung Wukir.


Acara Ngunduh Mantu

Cerita mistis di Gunung Arjuno memang kerap terdengar dan sudah menjadi bahan pembicaraan masyarakat sekitar, seperti tentang adanya lantunan musik Ngunduh Mantu. Para pendaki atau penambang belerang kadang pun mendengar Ngunduh Mantu yaitu suara gamelan Jawa untuk acara pernikahan.

Menurut masyarakat jika mendengar musik atau alunan Ngunduh Mantu sebaiknya tidak melanjutkan pendakian ke puncak Gunung Arjuno karena jika memaksakan meneruskan pendakian maka si pendaki biasanya akan tersesat dan hilang.


Alas Lali Jiwo

Sebelum mencapai puncak Gunung Arjuno, terdapat tempat yang disebut oleh masyarakat sebgai alas Lali Jiwo atau berarti Hutan Lupa Diri. Menurut kepercayaan masyarakat setempat orang yang mempunyai niat jahat atau buruk jika melewati hutan ini akan tersesat dan lupa diri.

Menurut ahli spiritual daerah tersebut memang banyak dihuni oleh para jin. Para pendaki kadang mendengar suara gamelan dan kemudian menghilang. Konon pendaki tersebut dibawa oleh para jin penunggu daerah tersebut.

Menurut mitos para pendaki juga tidak boleh melanggar beberapa larangan seperti pendaki tidak boleh berjumlah ganjil, tidak boleh memakai baju merah dan tidak boleh merusak situs-situs petilasan Kerajaan Majapahit yang tersebar di area pendakian Gunung Arjuno tersebut.


Pasar Dieng

Di wilayah pendakian menujun puncak Gunung Arjuno dipercaya terdapat Pasar Dieng atau disebut Pasar Hantu. Di area Pasar Dieng tersebut terdapat makam para pendaki yang pernah meninggal di tempat tersebut. Wilayahnya yang datar dan luas merupakan area yang cocok untuk dijadikan pasar.

Konon pernah ada pendaki yang membuka tenda di wilayah ini untuk bermalam sebelum menuju puncak. Pada malam hari ia dikejutkan dengan suasana ramai di luar tendanya dan ia melihat sebuah pasar yang sangat ramai. Pendaki tersebut dikabarkan berkeliling pasar dan membeli sebuah jaket.
Kemudian ia kembali ke tenda dan besok pagi ketika ia bangun sudah tidak ada apa-apa disekitar tendanya. Sudah tidak terlihat bekas-bekas pasar dan jaket yang dibelinya pun masih ada namun uang kembaliannya berubah menjadi daun.


Petilasan

Di Gunung Arjuno terdapat banyak situs-situs petilasan peninggalan kerajaan Majaphit dan Singasari. Beberapa petilasan tersebut yaitu : petilasan Eyang Antaboga, Eyang Abiyasa, Eyang Sekutrem, Eyang Sakri, Eyang Semar, Eyang Sri Makutharama dan petilasan Sepilar.

Menurut mitos petilasan-petilasan itu dijaga oleh Bambang Wisanggeni yang merupakan anak dari Arjuna dengan Bathari Dresnala.

Petilasan-petilasan tersebut digunakan orang pada zaman dahulu untuk melakukan pertapaan. Masyarakat percaya bahwa orang yang melakukan pertapaan tersebut muksa (menghilang dengan jasadnya). Orang-orang muksa tersebut dipercaya masih berada di tempat itu dan menjaga tempat itu hingga waktu yang tidak diketahui.

Jadi itulah misteri dan kisah yang ada di Gunung Arjuno.
Baca selengkapnya