Tuesday, 2 June 2015

Carica Buah Khas Dieng Wonosobo

Carica atau Karika ? Tahukah Anda? Bagi Anda yang berkunjung ke Dieng Wonosobo tentunya akan mengetahui apakah itu Carica.



Buah Carica atau yang sering ditulis Vasconcellea cundinamarcensis, Cariaca Candamarcensis, Cariaca Quercifolia adalah tanaman atau buah yang tak jauh beda dari buah pepaya, bisa dibilang kerabat pepaya. Dari pohon, daun dan buahnya pun hampir sama dengan pepaya pada umumnya, cuma bedanya buahnya lebih kecil daripada pepaya pada umumnya.
Pohon Carica juga lebih memiliki banyak cabang dan juga lebih pendek dari pepaya. Tinggi rata-rata pohon Carica 1-2 meter saja.

Di Wonosobo buah ini disebut Carica dan tumbuh subur. Tanaman ini akan sulit dijumpai dimana-mana, mungkin Anda hanya akan menjumpai di Wonosobo. Hal ini dikarenakan Carica hanya hidup di dataran tinggi basah (1.500 - 3.000 mdpl). Daerah asal Carica sendiri sebenarnya dari dataran tinggi Andes, Amerika Selatan.

Buah Carica di Wonosobo banyak dimanfaatkan dan diolah menjadi manisan. Manisan dar buah Carica ini rasanya manis dan segar. Jika Anda berkunjung ke Dieng Wonosobo wajib untuk Anda coba.
Carica sendiri cocok dikonsumsi bagi orang yang mempunyai perut lemah terhadap buah-buahan karena mempunyai sifat memperbaiki pencernaan. Carica mengandung banyak vitamin seperti vit A, vit B komplek, vit C dan vit E. Selain itu juga merupakan sumber kalsium yang baik untuk kekutatan dan pertumbuhan tulang.


Sekali lagi bagi Anda yang berkunjung ke Wonosobo jangan lewatkan untuk mencobanya.Di jamin bagi Anda yang mencobanya pasti akan ketagihan karena rasanya yang nikmat dan manis.
Baca selengkapnya

Sunday, 10 May 2015

Ungkapan Cinta Sang Pendaki

Ungkapan ini mungkin juga adalah ungkapan yang mewakili semua apa yang mereka rasakan sebagai seorang yang mencintai alam dan negeri ini dengan segenap jiwa. Ungkapan cinta yang benar-benar tulus dan terlahir dari dasar hati yang tetap terjaga dan terus tumbuh meski dengan berbagai perubahan besar yang terjadi. Dimanapun dia yang kau cintai dan kau kasihi berada, sejauh apapun jarak yang memisahkan, percayalah bahwa cinta akan menemukan Anda di tempat-tempat yang indah dan tak terlupakan. Cinta akan tetap ada dan membuat Anda merasa dekat dengannya.





Jangan katakan pada dinginnya Merbabu bahwa aku satu-satunya yang menyayangimu...........

Jangan katakan pada terjalnya Merapi bahwa aku satu-satunya orang yang pantas untukmu.............

Jangan katakan pada tingginya Semeru bahwa aku adalah satu-satunya yang bisa membahagiakanmu.............

Jangan katakan pada panjangnya Argopuro bahwa aku satu-satunya yang tak pernah lelah untuk mengejarmu.............

Jangan katakan pada angkernya Arjuno bahwa aku satu-satunya orang yang bisa menjagamu....

Jangan katakan pada gelapnya Lawu bahwa aku satu-satunya orang yang ada diharapanmu...........

Jangan katakan pada sejuknya Sindoro, nyamannya Sumbing dan tentramnya Slamet bahwa aku satu-satunya yang engkau butuhkan.......

Aku mohon padamu katakanlah pada Indahnya RInjani bahwa aku satu-satunya orang yang tidak pernah membuatmu menangis dan terus mencintaimu sampai akhir hayat.......

Percayalah bahwa perbedaanlah yang akan mempersatukan kita, entah seberapa besar perbedaan itu..





(sebagian dikutip dari beberapa artikel)
Baca selengkapnya

Wednesday, 6 May 2015

Merapi Tak Pernah Ingkar Janji

Ini adalah kisah perjalanan gue dan teman-teman gue para anggota Ransel Yogyakarta saat mendaki Gunung Merapi hari Jumat sampai Sabtu kemarin, tepatnya tanggal 24-25 April 2015. Iyah cerita ini gue beri judul "Merapi Tak Pernah Ingkar Janji". Mengapa demikian? Merapi memang tak pernah ingkar untuk memberi ujian kepada setiap pendaki yang berniat menakhlukkannya. Mereka yang terpilih dan mempunyai tekad yang kuatlah yang bisa menggapainya.




Setiap gunung mempunyai pelajaran masing-masing yang diberikan untuk kita, dan setiap pendakian juga berbeda pula kesan dan tingkat kesulitan yang dihadapi.

Hari itu jam 2 siang  kita yang beranggotakan 8 orang berangkat menuju Basecamp Pendakian Gunung Merapi yang ada di Selo Kabupaten Boyolali. Mereka adalah teman-teman gue yang dulu pernah ikut mendaki Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing serta kita kedatangan tamu dari Pendaki Sejati Gunung Andong hahaha.

Kalo loe semua kagak inget atau belum pada tau, ini gue kenalin tampang-tampang mereka :

Ini dia si Arif, loe masih ingetkan siapa dia? Dia adalah orang yang selalu menemani pendakian gue men, ke Sumbing, Sindoro dan kali ini ke Merapi.


Si Arif dengan ketawanya yang khas :D

Ngomongin masalah ke Merapi, ini dia si kreator pelaksananya. Dari kemarin-kemarin udah ngebet banget pengen ke Merapi, "masak yang deket malah belum pernah", begitu ujarnya setiap kali ngomongin masalah tujuan pendakian selanjutnya.

Ngomongin si dia, rasanya nggak lengkap kalo nggak ngomongin pasangannya :D siapa lagi kalo bukan........ iyahhh si Barbie hahah :D Pendakian kali ini dia ikut lagi setelah kemarin dia ikut ke Sindoro. Si Nurul rupanya tidak kapok dengan kejadian di Sindoro tempo hari yang lalu.


Ini Dewinya si Arif yang bernama Barbie alias Nurul hehe :D Jadi keinget babi gue :wkkw :v

Sungguh luar biasa ini cewek masih nekad mau ikutan. Hee.. Arif!! jangan lupa dijagain lagi sang Dewinya heheh :D Tugas Anda kali ini masih sama dan mungkin malah bertambah, karena kehadiran tamu besar kita dari sang Penakluk Andong.

Loe semua pasti pada bertanya-tanya siapa sosok yang dimaksud sang Penakluk Andong? Pada penasaran kan sama si Dia? Mari kita kupas habis tentang sosok dirinya. Pria yang identik dengan citra kemas-masannya dan dengan style rambut yang eksotis dan menawan yang mencerminkan para keturunan kerajaan dan ningrat-ningrat. Pria yang mengaku berjiwa metal tapi juga sangat menyukai dangdut dan campursari siapa lagi jika tidak Mas Trianto. hahah :D Ini gue tunjukin paras dan tampangnya yang menawan. Loe semua dijamin bakalan klepek-klepek kalo nglihat fotonya. hukks hukss



Senyumannya yang menawan membuat wanita klepek-klepek

Kenapa si Dia dijulukin sang Penakluk Andong? Haha Dia adalah satu-satunya dari kita yang udah 2 kali muncak di Gunung Andong.. hahah keren kann wkwk.. Gue aja baru sekali dan mungkin tidak lagi hoho. Mas Trianto ini mempunyai senyuman khas dengan dekik dipipinya. Lihat tuh fotonya, menawan bukan? Loe semua para kaum hawa pasti dijamin klepek-klepek kalo lihat senyumannya itu. Mas Trianto ini masih single, ingat loh bukan jomblo. Kalo single itu pilihan, katanya tapi haha :D Bagi yang mau ngantri beli karcis dulu ya sama gue kwkwkw :v
Untuk mendapatkan cintanya Anda harus mempunyai kulit putih karena bukan paksaan, tinggi rata-rata dan yang penting guru ngaji dan anak lurah kwkwkw :v Just Kidd....
Dalam pendakian kali ini dia adalah pendaki yang bawaannya paling enteng hahhah, makhlum karena sudah mas-mas jadi bawaannya pinggang sakit kalo suruh mikul yang berat-berat.

Selanjutnya masih sama dengan yang kemarin-kemarin, kalo loe semua inget kata Jomblo yah mungkin loe semua akan menjurus pada satu orang yang tidak lain dan tidak bukan adalah Kang Ali sang pejuang cinta kwkwkwk. hehe Setelah hari minggu kemarin muncak ke Merbabu, hari Jumatnya dia mau ikutan muncak Merapi. Luar biasa sekali si Dia, kuat, sehat dan tabah menjalani perjuangan cintanya . haha. Si Kang Ali ini sudah kedua kalinya ke Merapi.

ini ceritanya Kang Ali pakai baju baru :v

Next temen gue yang kali ini identik dengan celana baru bukan lagi dengan tolak angin, siapa lagi kalo tidak si Gopal.




Lihat tuh fotonya seperti ninja haha. Tidak banyak cerita dari si Gopal ini, tapi kabar gembiranya dia bisa sampai di puncak Merapi dalam kondisi kabut dan angin kencang. horee selamat selamat.. nice job men.. :D

Selanjutnya lagi ksatria ninja kedua, seseorang yang dikenal karena kekuatannya siapa lagi kalo tidak si Bima hahaha dan dia kakak beradik loh sama si gopal wkwkwk. 


di saat semua tertidur, si Bima narsis :v

Yang terakhir adalah sosok yang kita kenal dengan kefeminimannya, iya namanya si Tiko. Si Tiko ini ternyata juga punya nama kalo pas lagi mangkal loh men., namanya si Laura. hahah :D Gue aja baru tau kalo dia punya nama seperti itu. Awalnya gue kaget ketika turun dari Merapi kan sisipan dengan temen ceweknya, nah temennya itu bilang gini "ehh si Laura naik merapi juga toh". Gue ngira itu nyebut siapa, eh ternyata nyebut si Tiko.

Si Tiko ini bisa dibilang yang fenomenal dipendakian kali ini mengalahkan kepopulerannya Kang Ali. Tau nggak apa penyebabnya? Dia ternyata diam-diam punya cewek spesial. haha kalah heboh tuh Kang Ali. Gue baru tau setelah di puncak dia bikin kata-kata buat cewek itu. Ini dia fotonya.

haha ketauan kalo dia punya simpanan wkkw

Haha ternyata nama ceweknya Firda... Rasain lho Tiko bakal jadi bahan bulian anak-anak gantiin gue, kalo kemarin gue yang dihabisin, kali ini loe bakal ngrasain apa yang gue rasain "Kata Kang Ali dalam hati dan dengan ekspresi tertawa sinis" wkkw :D 
Si Tiko ini juga sukses bisa muncak Merapi kemarin meskipun dalam kondisi badai dan kabut tebal. Nice job juga kawan... Nggak rugi meskipun loe dikatain feminin kwkw. Akhirnya loe juga bisa nulis buat seseorang kan ahah.

Lanjut cerita selanjutnya, siang itu dengan menggunakan 4 sepeda motor dan saling berboncengan kita berangkat dengan kondisi cuaca saat itu masih cerah. Gue sama Tiko, Si Kang Ali sama Mas Tri, Bima sama si Gopal dan Arif  sudah pasti sama kekasihnya haha :D Setelah lampu merah belok kanan arah Boyolali hujan pun akhirnya turun mengiringi perjalanan kita.

Di perjalanan menuju Selo ban sepeda si Arif bocor dan akhirnya di tambal di pinggir jalan, sambil menunggu kita cari mushollah dan sholat ashar..Kita kan sebagai pendaki yang baik haha :D Tak lupa sambil nunggu kita narsis di jalan. wkkw 


Jam 4 sore akhirnya kita baru bisa melanjutkan perjalanan dan hujanpun tetap menjadi teman perjalanan sejati kita sampai tiba di Selo jam 5 sore. Istirahat 30 menit dan akhirnya gue, Tiko dan si Bima memutuskan untuk berangkat terlebih dahulu dengan alasan kita yang akan mendirikan tenda dulu, nah supaya ketika yang lainnya sampai, tenda sudah berdiri dan sudah siap untuk dihuni.

Baru berjalan hari sudah mulai larut dan gelap, mengingat memang ini sudah menginjak maghrib dan kondisi cuaca masih hujan dan mendung. Awal perjalanan dari basecamp kita melewati jalan aspal setelah itu tidak lama akan tiba di New Selo (sebuah plang tulisan besar). 
Dari New Selo perjalanan semakin menanjak dengan jalur berupa jalan cor. Sekitar 15 menit kemudian jalan sudah berupa tanah semua yang saat itu sangat licin karena sambil hujan turun. Ketika hujan memang terasa begitu berat, karena jalan licin dan bawaan yang berat, belum lagi hari itu sudah gelap dan kita pun menggunakan headlamp. 15 menit kemudian kita sampai di sebuah shelter dan gapura selamat datang taman nasional gunung Merapi.

Dari situ kita bertiga tidak istirahat dan terus melanjutkan perjalanan. Jalur atau medan pendakian masih tetap terus menanjak dan berupa tanah. Sepanjang perjalanan hujan masih terus turun mengiringi perjalanan ini. Merasakan jalur yang ketika hujan sangat licin dan belum lagi menanjak, kita ingat dengan kelima teman yang berangkat belakangan. Kita khawatir apakah si Nurul dan lainnya kuat. Takutnya terjadi sesuatu dengan mereka.

Kita pun terus berjalan hingga sampai di Pos 1. Di sinipun kita gak beristirahat mengingat Pos 1 ini dijadikan tempat camp oleh pendaki lain. Dari sini angin mulai berhembus dengan kencang dan kaki pun sudah mulai merasakan kaku karena pakaian basah dan dingin.
Kita terus berjalan sambil istirahat sedikit demi sedikit ketika memang benar-benar sudah lelah dan badan pegal membawa barang bawaan yang berat.
Tak lama kemudian kita sampai di Pos 2. Tetap saja kita masih terus melanjutkan perjalanan ke Pasar Bubrah, karena dari awal kita sudah sepakat mau mendirikan tenda disitu.


Di tengah perjalanan angin bertiup dengan kencang dan kabut menutupi perjalanan kita. Melewati medan yang cukup menanjak dan berbatu sambil diterpa angin membuat diri ini serasa melayang. Kita terus berjalan hingga kabut benar-benar tebal dan membuat pandangan semakin sempit. Dengan jalan yang terlihat remang-remang akhirnya kita sampai di monumen yang mengenang pendaki yang dulu pernah meninggal di Merapi. 

Dari situ perjalanan tinggal sedikit lagi, tinggal turun lalu kita akan sampai di pasar bubrah. Mengingat kabut yang begitu tebal sampai sinar headlamp kita tidak mampu menembusnya, kita jadi tidak bisa melihat jalan dengan baik. Kita hanya bisa mengikuti jalan dari sinar-sinar yang terlihat remang-remang. Kondisi semakin buruk saja, kabut tebal dan angin semakin kencang disertai dengan gerimis. Kita pun segera mencari batu besar untuk berlindung dan untuk mendirikan tenda, mengingat badan ini sudah semakin dingin dan gemetar. 
Lama mencari tak kunjung menemukan malah kita semakin berjalan jauh sampai ke tengah-tengah padang batu dimana kita tidak bisa melihat kanan kiri entah ada jurang atau tidak. Akhirnya setelah itu kita dipertemukan pada batu besar. Lega rasanya karena disini nampaknya cukup untuk mendirikan 2 tenda. 

Kita pun langsung bergegas mendirikan tenda, mengingat keadaan seperti ini dan kondisi tubuh yang sudah mulai kepayahan dan kedinginan. Belum selesai mendirikan 1 tenda, si Bima nampaknya sudah tidak kuat lagi, akhirnya kita suruh masuk ke dalam tenda sambil gue dan Tiko menyelesaikannya. Karena medan bebatuan jadi pasak tenda tidak mampu menembusnya, jadi terpaksa kita cari tali sisa pendaki dan mengikatnya pada batu-batu.

Satu tenda akhirnya terselesaikan, dan kita berdua mendirikan tenda satunya lagi. Baru berdiri dan pasak baru nancap beberapa, angin bertiup semakin kencang dan dingin di tubuh ini sudah tidak tertahankan. Kitapun kesulitan karena tenda seakan mau terbang diterpa angin. Akhirnya tidak kita selesaikan mengingat kondisi tidak memungkinkan dan si Tiko aku suruh masuk tenda itu agar tenda tidak terbang, dan gue masuk tenda satunya lagi bersama si Bima.


Di dalam tenda gue hanya bisa berdoa dan pasrah sambil nyebut-nyebut. Tak berhentinya bibir ini mengucap doa disamping Bima yang nampaknya hanya diam dan pasrah. Aku hanya bisa duduk di pojok tenda sambil memegangi tenda karena takut tenda roboh atau terbang di tiup angin. Sekali-kali gue manggil Tiko di tenda sebelah untuk memastikan apakah baik-baik saja atau tidak. 

Waktu berjalan begitu lambat, dan badai tak kunjung berhenti. Gue sudah mulai lelah dan pasrah dengan keadaan. Aku hanya bisa sedikit berbaring sambil memikirkan teman-teman yang belum sampai, apakah mereka kembali turun atau memaksakan naik dan terkena badai. Gue hanya takut jika terjadi sesuatu dengan mereka berlima. Akhirnya tak sadar gue pun tertidur sejenak, lalu jam 23.30 terdengar suara teriakan memanggil kita. Oh mungkin itu Arif dkk yang sudah sampai. Kitapun menyahutinya dan ternyata itu benar-benar mereka. Rasanya begitu lega akhirnya mereka sampai juga dengan keadaan selamat. Sungguh ini tak dapat dipercaya, tapi kalian memang hebat.
Begitu bahagia saat bisa kumpul bareng dan perasaan was was sedikit berkurang karena sudah banyak teman disini. Kitapun bercerita-cerita tentang perjalanan tadi sambil membuat energen hangat. hehe nikmat sekali :D
Setelah itu kita pun tidur, meskipun dengan pakaian seadaanya yang basah dan dingin karena habis kehujanan. Kondisi saat itu badai masih tetap belum berhenti dan sudah mulai hujan deras.

Keesokan paginya kita terbangun dan nampaknya diluar kabut masih menyelimuti dan angin kencang belum berhenti. Sambil menunggu badai berhenti untuk muncak, kita pun bikin mie rebus. Oh iya di tenda ini penghuninya gue, Bima, Kang Ali dan Mas Tri. Rasanya nikmat sekali menyantap mie rebus hangat di tengah badai dan dingin seperti ini.

Sesudah makan kita pun ngobrol-ngobrol sambil menunggu badai berhenti. Tak kunjung berhenti akhirnya kita pun rebahan lagi karena capeknya belum hilang. Akhirnya memang kondisi tidak memungkinkan, dan kita memutuskan bahwa habis ini turun dan tidak muncak.


Kang Ali dan Bima akhirnya memutuskan untuk turun dulu karena Kang Ali keburu ada kepentingan. Biasalah mencari nafkah untuk anak dan istri kwkw. Tenda yang satunya dibongkar dan di packing untuk dibawah turun oleh mereka. Para penghuni tenda disuruh pindah ke tenda satunya. 


Akhirnya tenda ini dihuni oleh si Arif, Nurul, Gopal, Tiko, Gue dan MAs Tri. Kita masih menunggu badai berhenti, tapi karena kondisi tak kunjung memungkinkan kita memutuskan untuk habis ini turun. 
Ketika keluar tenda si Arif bilang kalau ada pendaki yang mau muncak. Wah otomatis ada yang mau muncak brarti kondisi sudah memungkinkan. Gue pun memutuskan untuk muncak juga. Si Gopal dan si Tiko ikut dengan gue. Nah si Arif, Nurul dan Mas Tri memutuskan untuk tetap menunggu di tenda. Akhirnya kita bertiga mulai perjalanan ke puncak. 

Disitu kita melihat rombongan pendaki yang tadi dilihat Arif yang mau muncak. Ternyata mereka pada berhenti, nah disitu gue berpikiran apakah mereka tidak jadi karena cuaca seperti ini? Tapi gue gak ambil pusing dan tetap memutuskan untuk terus melanjutkan perjalanan ke puncak. Sampai di tengah medan pasir yang longsor nampak dari atas mereka mulai mengikuti kita untuk ikutan muncak juga. Perlu di ingat bahwa trek menuju puncak Merapi hampir sama seperti di puncak Mahameru yakni pasir yang longsor ketika di injak, hanya saja di merapi hanya sedikit dan setelah itu medan sudah berupa bebatuan saja sampai di puncak.



Gue bertiga akhirnya seperti memandu orang rombongan pendaki yang sempat berhenti tadi haha., sedikit demi sedikit gue lebih cepat dari gopal dan tiko dan Alhamdulillah sampai juga di new puncak garuda alias puncak merapi , dan beberapa menit kemudian terdengar suara-suara orang memanggil nama gue di keadaan kabut yang sangat tebal . dan ternyata itu adalah tiko , gopal dan beberapa rombongan pendaki lain yang kebingungan untuk naik ke puncak dan mereka pun berteriak meminta dijemput dari puncak, karena medan yang hanya beberapa meter lagi dari puncak tertutup penuh oleh kabut gue pun lansung menjemput mereka kemudian kita pun sampai di puncak merapi. 
Di puncak kita gak sempat dapat pemandangan bagus sedikit pun karena kondisi yang kabut tebal dan angin kencang. Di puncak Merapi kita hanya bisa duduk dan berdiri tanpa bisa leluasa karena memang puncaknya berbeda dengan gunung-gunung yang lain. Puncak Merapi hanya berupa lereng-lereng curam yang hanya cukup untuk duduk dan berdiri saja. Disini tidak bisa menampung banyak orang. 




Tak lupa meskipun dalam keadaan kabut kita sempatkan untuk mengabadikan diri di puncak sebagai bukti kita pernah menginjakkan kaki disini. Setelah mengambil beberapa foto kitapun memutuskan untuk segera turun. Turunnya kita sih cepat dan menikmatinya, makhlum saja bagi yang belum pernah merasakan sensasi berseluncur di atas pasir pasti ketagihan kwkwk kayak si Gopal dan si TIko hehe 
Setelah itu kita sampai di tempat kita semalem mendirikan tenda. Tak istirahat lama kita pun bergegas packing dan secepatnya turun, karena cuaca mulai tidak bersahabat lagi. Di perjalanan turun sampai ke basecamp ya begitu-gitu saja tidak perlu kita ceritakan, yang jelas kita sampai di basecamp jam 4 sore. Setelah itu kita pulang kembali ke Jogja dan tiba di kos jam 7 malam.

Itulah sepenggal kisah perjalanan anggota ransel Yogyakarta di Gunung Merapi, semoga bisa menjadi bacaan yang menarik dan sekaligus bisa di ambil pengalamannya.




Baca selengkapnya

Saturday, 2 May 2015

Mendaki Gunung Adalah Soal Tekad dan Mental

Pernahkah Anda merasa begitu lelah dan rasanya ingin menyerah ketika mendaki gunung? Pernahkah Anda mengeluh dan begitu emosi ketika Anda harus melewati tanjakan dan puncak yang masih tak kunjung terlihat? Atau Anda mungkin pernah ingin pulang saat di tengah perjalanan hanya dikarenakan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan? Semua itu pasti pernah kita rasakan saat mendaki gunung, terlebih lagi Anda yang baru pertama atau terbilang masih 2 atau beberapa kali saja.




Banyak orang mengatakan bahwa mendaki gunung itu harus memiliki fisik yang kuat dan badan yang besar. Hal itu memang tidak bisa terbantahkan kalau mendaki memang membutuhkan fisik yang kuat. Tapi mendaki gunung sebenarnya bukan semata-mata karena fisik. Salah besar jika Anda menilai itu semua dari tampilan fisik atau luar saja.

Menurut pengalaman saya pribadi, mendaki gunung tidak semata-mata harus memiliki badan yang kekar dan fisik yang kuat. Selama ini juga banyak dari pendaki yang memiliki tubuh kecil dan fisik kurang tapi bisa mencapai puncak dengan sukses dan selamat. Banyak juga mereka yang bertubuh kecil lebih kuat dan cepat dari pada mereka yang memiliki tubuh yang besar dan kekar, bahkan terkadang barang bawaannya juga lebih berat.

Dari hal di atas patut kiranya kita tidak menilai segala sesuatu dari tampilan fisiknya saja, karena hal terpenting dari mendaki gunung adalah tekad dan mental. Akan percuma meskipun kita memiliki fisik yang kuat tapi tidak mempunyai mental dan tekad yang kuat, belum sampai  tujuan dan baru di tengah jalan bisa-bisa kita sudah menyerah dan ingin kembali. Modal fisik saja tidak cukup jika tidak memiliki tekad dan mental yang kuat. 

Mereka yang kuat adalah mereka yang mampu mengatasi keterbatasan fisik dan tetap maju meskipun berat dan sering kali terjatuh. Mereka yang kuat adalah mereka yang mampu mengontrol diri dan mempunyai kemauan yang besar untuk mencapai target dan tujuan yang sudah diimpikan. Mereka yang kuat adalah mereka yang tak akan menyerah meskipun cobaan datang terus menerus serta mereka yang berani menerjang bahaya meskipun nyawa jadi taruhannya.



Dalam perjalanan saya sering mendapati teman saya yang sering mengeluh meskipun dia mempunyai fisik yang kuat dan badan yang besar. Namun tak jarang saya malah sering melihat teman saya yang semula saya kira dia bakalan kewalahan dan kerepotan, malah dia bisa menikmati perjalanan dan santai-santai saja dan gak pernah mengeluh. Meskipun kadang sering kerepotan tapi dia tak pernah mengeluhkan keadaan dan terus berjuang sampai akhir. Wajahnya masih saja tetap tenang dan masih sering bercanda dan sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia merasa terbebani.

Saya sendiri juga bukanlah seorang yang mempunyai fisik dan badan yang besar. Setiap kali pendakian saya harus memperhatikan kesehatan saya, karena jujur saja saya adalah orang yang mudah sekali sakit. Terlepas dari itu semua malah menjadikan saya orang yang tanggap dan cermat dalam menghadapi sesuatu serta memprediksi kemungkinan yang terjadi. Semua itu malah memotivasi diriku bagaimana kita bisa melampaui keterbatasan yang kita miliki. Dengan modal semangat dan tekad yang kuat, saya bersyukur sampai sekarang masih selalu diberikan kekuatan dan kelancaran dalam pendakian sampai puncaknya. Meskipun kadang ujian berat sering datang, tapi dengan modal kekuatan tekad dan mental tadi saya tak pernah menyerah dengan keadaan. Saya terus yakin bahwa diri ini bisa melewatinya.

Dari itu saya sadar bahwa seorang pendaki yang bertekad kuat dan mempunyai mental yang tangguh benar-benar lebih membantu ketimbang mereka yang tidak mempunyai tekad dan bermental lemah. 

Kekuatan tekad dan mental benar-benar berperan penting dan sangat dibutuhkan apalagi saat kita dihadapkan pada sebuah keadaan dan kondisi yang sulit, dimana hal tersebut baru pertama kali kita alami. 
Tanpa tekad dan mental yang kuat tentu saja mungkin kita akan dengan mudah mengeluh atau bahkan akan menyerah. Misalkan saja kita dihadapkan dengan cuaca buruk atau badai, atau bisa juga kita tersesat dan tak tau arah. Tentunya mereka yang bermental payah hanya akan bisa panik yang berlebihan tanpa tau harus melakukan apa. Kalau hal itu terjadi yang timbul hanyalah sebuah keputusasaan yang justru malah akan memperburuk keadaan. Mungkin juga mereka hanya akan saling bertengkar dengan temannya karena tidak tau apa yang harus diperbuat dan hanya bisa saling menyalahkan.
Berbeda jika mereka mempunyai tekad dan mental yang kuat. Segala masalah akan tetap dihadapi dengan tetap tenang sambil mengontrol kepanikan dalam diri serta sambil memikirkan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi.

Dari hal di atas, perlu diperhatikan lagi bahwa mendaki gunung bukanlah hal yang mudah dilakukan seperti apa yang kita bayangkan. Keselamatan dan nyawa kita benar-benar dipertaruhkan ketika mendaki gunung. 
Gunung bukan tempat yang seenaknya saja bisa kita kunjungi. Gunung adalah alam liar yang penuh dengan keindahan namun juga penuh dengan ancaman yang dapat membahayakan keselamatan kita. Oleh karena itu jangan sekalipun menganggap gunung sebagai tempat bermain dan menyepelekan setiap hal kecil ketika mendaki gunung, kalau Anda benar-benar tidak mau membahayakan diri Anda sendiri. 
Untuk mendaki gunung harus mempunyai persiapan yang benar-benar siap dan matang. Dari persiapan peralatan dan perlengkapan serta yang terpenting persiapan diri sendiri. Saya hanya berpesan jangan mendaki gunung tanpa persiapan yang matang, karena itu semua berpengaruh besar terhadap kelancaran pendakian Anda.

Saya hanyalah seorang pendaki pemula yang baru mendaki beberapa gunung. Tapi dari itu semua saya mendapat banyak pelajaran dan pengalaman berharga pada setiap pendakian. Mulai dari rasanya terjebak badai, cidera, kelaparan, kedinginan dan masih banyak lagi. Marilah kita tekankan pada diri kita untuk tetap menjadi orang yang selalu merunduk saat berada di atas dan tetap tegak ketika kita berada di bawah. Semuanya hanya proses menjadikan diri kita lebih baik lagi. Jagalah alam dan rumah kita, karena disini kita dilahirkan dan dibesarkan, dan suatu saat kita akan kembali lagi menyatu dengan tanah alam ini.
SALAM LESTARI....



Baca selengkapnya

Friday, 1 May 2015

Wanita Penggerak Langkah Kaki

Begitulah nama yang aku sematkan untukmu wanita yang akan menjadi teman perjalananku. Ini hanyalah cerita tentang perjalananku dan seorang wanita yang nantinya aku harap bisa menjadi teman seperjalanan dalam mengarungi puncak-puncak tertinggi dan tentunya hidup.




Dia adalah seorang yang nantinya bisa menjadi alasan untukku agar tetap semangat dan tak menyerah demi menggapai apa yang ku mau. Ketika ku ingin menyerah dengan mengingatnya akan tumbuh semangat lagi untuk tetap berjuang. 
Senyum dan parasnya secerah mentari esok hari. Hatinya tangguh dan kuat layaknya gunung yang ku daki.

Hey kamu, seorang yang akan menggerakkan hatiku tuk memilih mu sebagai pengisi hati ini, aku terus berjalan mencari dirimu tapi entah dimanakah kau berada. Tunjukkanlah warnamu, agar aku tau seperti apa, agar aku tak mencari-cari lagi. Dirimu hanyalah satu-satunya yang nanti menjadi separuh hidupku. 

Sampai kapan aku harus terus berusaha untuk menemukanmu? Sisa-sisa hari dan tenaga ini semakin berkurang, aku terlalu lelah dan seperti ingin menyerah.

Temanilah aku ketika aku berjalan, menjelajahi alam ini. Menikmati indahnya cakrawala yang membentang luas. Karena tak akan lengkap rasanya jika ku hanya menikmati seorang diri.

Duduklah di sampingku, temani aku disini. Rasakanlah kedamaian dunia, pejamkanlah matamu. Genggam erat tangan ini agar aku bisa selalu menjagamu. 

Jangan sekalipun kamu coba pergi saat kamu benar-benar datang disini. Karena aku sudah tak bisa lagi menantikan dirimu ketika kamu harus pergi lagi. 

Hey wanita penggerak langkah kakiku, langkah dan jiwa ini hanya untukmu. Kamulah yang akan berjalan bersama denganku melewati dan menembus dingin malam. Menyingsingkan kabut gelap dihadapan mata dan saling membahu tuk menggapai cahaya jingga di batas cakrawala.

Ku titipkan salamku pada awan-awan dan tetesan hujan di langit saat aku tak menemukanmu. Agar kamu tau jalan dimana aku berada dan menantikanmu. Jika kamu benar-benar tak hadir, percayalah ku takkan pergi dan beranjak lagi karena disini aku akan selalu berada dan menanti di ujung rindu dan sisa harapan.

Baca selengkapnya

Thursday, 23 April 2015

Separuh Hidupku di Yogyakarta

Yogyakarta, yah itulah sebuah tempat di mana separuh hidup dan mimpi-mimpiku tumbuh dan tercipta, dimana hari-hariku pernah dihabiskan dan terlewati.
Yogyakarta, kota dimana banyak orang memimpikan untuk tinggal di dalamnya. Kota dengan beribu budaya dan wisata yang masih tetap terjaga.




Tak pernah terpikirkan bisa menghabiskan sebagian hidupku disini, serasa ini masih halusinasi saja. Dari awal aku memang pernah memimpikan untuk melanjutkan pendidikanku di Yogyakarta. 
Dan kini mimpi kecil itu nyata, sudah hampir 2 tahun ku habiskan waktu-waktuku di kota budaya ini. Memang tak di universitas negeri ternama, tapi disini banyak hal yang kutemukan yang mungkin tak kudapatkan di sekolah lain. Keinginan menggapai cita-cita dengan menuntut ilmu di universitas negeri memang ada sejak awal, tapi aku yakin ini adalah pilihan terbaik buatku. Yang lebih terpenting lagi aku bangga sekolah di tempat ini.



Memang seperti tak terasa waktu berjalan, dan ternyata aku sudah cukup lama hidup di kota ini. Awalnya memang sangat terasa berat dimana aku harus meninggalkan rumah dan jauh dari keluarga yang seumur hidupku baru pertama ini. Meninggalkan kebiasaan dan keseharianku disana dan kini harus beradaptasi dengan hal baru yang ada disini. Meninggalkan teman-teman yang biasanya selalu ada di keseharian. Meninggalkan tempat nyaman yang biasanya aku datangi. Ini semua berat sekali buatku.

Jauh dari keluarga dalam waktu yang cukup lama membuatku terkadang sering merindukan rumah. Baru sebentar saja aku sudah teringat dan ingin kembali. Rasanya hari-hari disini terasa begitu lama. Setiap hari hanya bisa memandangi jadwal dan kalender berapa lama lagi aku harus bertahan dan berapa lama lagi aku harus menunggu untuk pulang.

Semua itu kini mulai berubah dan semuanya sudah mulai terbiasa. Ketika disini aku menemukan hal baru yang kini aku senangi. Menemukan teman-teman baru, menemukan teman yang sudah seperti sahabat atau bahkan saudara. 
Aku mulai mengerti bahwa perjalanan hidup tidak selamanya pada satu tempat, bisa saja di tempat lain yang akan terus berganti dimana itu. Yah ini mungkin memang jalan sang Pencipta agar ku hidup lebih mandiri dan tak semuanya mengandalkan orang tua. Mungkin ini cara untuk membuatku lebih berkembang dan ini seakan pelatihan tuk menjadi hidup lebih dewasa.

Disini aku banyak mengenal hal baru dari apa itu angkringan, sego kucing, wedang ronde, burjo dan masih banyak lagi. Aku gak tau apa itu burjo, awalnya aku kira itu bubur kacang ijo haha. Aku gak tau apa itu angkringan, Bagaimana rasanya berbahasa ala logat orang Jogja yang bahasanya sedikit berbeda dengan aku yang asli orang Malang. 
Menggunakan kata piye, kowe, bocah haha, Awalnya memang sedikit aneh dan serasa bukan diriku, makhlum kalau orang Malang memang sedikit keras bahasanya, nah kalo disini harus penuh dengan kelembutan dan kemedokan. Disini aku jadi mengerti itu semua.

Tak lama lagi aku akan meninggalkan tempat ini, meninggalkan semua hal-hal yang pernah terjadi disini untuk kehidupan baru di kampung halaman atau bahkan mungkin di tempat lain. 
Bila bisa aku ingin sekali menjalani dua kehidupan di sini dan di rumah. 

Bagaimanapun ini sudah seperti rumahku. Semua sudah seperti keluarga dan saudara. Akan terasa begitu berat rasanya ketika nanti harus meninggalkan semua yang pernah terjadi dan terkenang disini. Meninggalkan teman-teman disini yang mungkin akan sulit untuk bertemu kembali atau bahkan takkan ketemu lagi.




Ini semua memang kehidupan dimana perpisahan itu akan selalu terjadi di setiap kita hidup dengan orang lain. Semua akan bertemu dengan sebuah kalimat selamat tinggal. Dimana itu adalah hal yang paling kubenci dikehidupan. 



Terima Kasih Yogyakarta 

Karena kau telah menampungku disini.
Terima kasih memberikan tempat tinggal dan kehidupan baru
Terima kasih telah memberikan keluarga dan teman baru
Sungguh ini adalah puncak kesedihanku ketika diriku nanti takkan melewati keseharian disini lagi

Saat nanti diriku harus meninggalkannya dan tak kembali
Saat semua hanya akan tersisa memori-memori di sudut ruang
Hanya akan ada tengokan ke belakang tentang ingatan
Hanya akan ada gambar akan halusinasi masa lalu itu
Suatu saat tentunya aku akan datang kembali

Entah menjadi bagian kota ini lagi 
atau hanya sekedar sebagai wisatawan
yang ingin mengenang bahwa dirinya dulu pernah tinggal disini.
Ku harap kau menerimaku lagi dengan senang hati

Sekali lagi Terima Kasih Yogyakarta, aku bahagia pernah hidup disini dan bangga pernah menjadi bagian dari kota ini :D


Baca selengkapnya

Friday, 17 April 2015

Pendakian Gunung Merbabu via Selo Boyolali

Gunung Merbabu adalah salah satu gunung yang sangat populer dikalangan para pendaki gunung di Indonesia. Gunung Merbabu  terletak di Jawa Tengah dengan ketinggian 3.142 Mdpl. Gunung ini memiliki medan pendakian yang tidak terlalu sulit namun mempunyai pemandangan yang sangat indah. Gunung Merbabu sendiri berdiri berdekatan dengan Gunung Merapi di sebelah selatannya. 






Gunung Merbabu dapat di daki melalui 4 jalur dengan 1 jalur baru yaitu :
1. Jalur Selo (Boyolali)
2. Jalur Wekas (Magelang)
3. Jalur Cunthel (Magelang)
4. Jalur Thekelan (Magelang)
5. Jalur Suwanting (Magelang)


Jalur Pendakian Gunung Merbabu via Selo Boyolali

Untuk menuju basecamp pendaki Gunung Merbabu via Selo kita naik bus jurusan Magelang-Boyolali kemudian turun di Polres Selo. Dari Selo tidak ada angkutan yang bisa digunakan untuk menuju basecamp dan salah satu cara yang bisa kita pakai adalah dengan naik ojek. 
Disini terdapat 2 basecamap yang bisa kita gunakan yang letaknya sekitar 50 meter sebelum gapura jalur pendakian gunung merbabu. Ada papan penujuk di depan basecamp sehingga para pendaki bisa dengan mudah menemukannya.


Setelah sampai di basecamp kita dapat melakukan registrasi dengan tarif sekarang Rp 10,000 per orang. Jika menitipkan motor dikenai biaya Rp 5000 per motor. Di Gunung Merbabu tidak diberlakukan sistem kuota, jadi tidak ada batasan berapa jumlah pendaki yang boleh naik kecuali ada hal-hal penting tertentu seperti kebakaran hutan, atau jalur pendakian longsor atau juga ada pencarian pendaki yang hilang.
Untuk melakukan registrasi kita bisa menggunakan KTP, KTM atau SIM untuk keperluan pendataan jika sewaktu-waktu terjadi hal yang tidak diinginkan.

Basecamp - Pos 1 (Dok Malang)


Dari basecamp perjalanan dimulai dengan melewati gerbang pendakian Gunung Merbabu jalur Selo. Setelah itu kita akan berjalan di tengah hutan pinus yang biasanya digunakan sebagai camping ground. Dari sini jalur pendakian masih terbilang cukup landai dan jelas karena sepanjang jalan menuju Pos 1 terdapat banyak petunjuk arah yang bisa menuntun kita. Untuk menuju Pos 1 diperlukan waktu sekitar 1 jam perjalanan.





Pos 1 sendiri berupa sebidang tanah yang bisa kita gunakan untuk mendirikan beberapa buah tenda saja. Pos ini terletak di tengah hutan sehingga pemandangan terhalang oleh pohon-pohon. Di pos 1 juga tidak ada bangunan atau shelter yang bisa kita buat berteduh ketika hujan, selain itu juga tidak ada sumber mata air disini.




Pos 1 - Pos 2 (Pandean)

Selepas Pos 1 menuju Pos 2 perjalanan dimulai dengan jalur yang masih landai yang membentang di tengah hutan tropis yang udaranya sejuk. Di tengah perjalanan kita akan menemukan pos bayangan. Sebelum pos bayangan ada tanjakan yang cukup terjal dan ini adalah trek terberat selama perjalanan menuju Pos 2. Diperlukan waktu sekitar 45 - 60 menit perjalanan untuk sampai di Pos 2.

Kondisi Pos 2 hampir sama dengan Pos 1 hanya berupa sebidang tanah tanpa adanya shelter. Pos ini juga berada di tengah hutan jadi masih tidak ada pemandangan yang bisa dilihat.



Pos 2 - Pos 3 (Watu Tulis)

Setelah itu perjalanan dilanjutkan menuju Pos 3 yang kali ini jalur pendakian sudah mulai terbuka dan sudah mulai sedikit menanjak. Disini kita sudah bisa menyaksikan pemandangan lembah pegunungan dan bunga edelweiss yang tumbuh di lereng gunung. Untuk sampai di Pos 3 diperlukan waktu sekitar 30 - 45 menit.

Pos 3 ini berupa tanah datar yang cukup luas. Di pos ini pendaki bisa mendirikan banyak tenda. Disini medannya terbuka sehingga angin akan berhembus kencang karena tidak adanya pohon. Pemandangan di Pos 3 ini sangat indah dengan view Gunung Merapi yang tampak berdiri dengan gagah.


Pos 3 - Pos 4 (Sabana 1)

Untuk menuju Pos 4 kita harus melewati jalur yang bisa dibilang paling terjal sepanjang pendakian via Selo. Jalur yang dilewati berupa tanah merah yang sangat berdebu ketika musim kemarau dan akan sangat licin ketika hujan. Banyak percabangan di sepanjang jalan, tapi semua kan kembali mejadi satu sebelum tiba di Pos 4. Sebelum Pos 4 kita akan melewati sebuah tanah lapang yang bisa kita gunakan untuk mendirikan tenda. Pemandangan sepanjang perjalanan sangatlah indah dengan pemandangan padang savana yang membentang luas. Dibutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk sampai di Pos 4.








Pos 4 sering disebut Sabana 1 karena memang pos 4 terletak di pinggir sabana yang luas dan indah. Di pos 4 juga tidak ada shelter untuk berteduh. Biasanya para pendaki mendirikan tenda di dekat pohon untuk melindungi dari terpaan angin yang berhembus kencang.





Pos 4 - Pos 5 (Sabana 2)

Selepas pos 4 perjalanan dilanjutkan menuju Pos 5 atau banyak yang menyebutnya Sabana 2. Di sepanjang perjalanan kita akan melewati pemandangan yang menawan dan akan terlihat sabana 1 yang begitu indah jika dilihat dari tempat yang lebih tinggi. Kita harus melintasi padang yang terbuka dengan waktu sekitar 30 menit untuk sampai di Pos 5. 








Pos 5 letaknya berada di pinggir sebuah sabana. Di Pos 5 biasanya para pendaki mendirikan tenda untuk menginap sebelum dini hari melanjutkan perjalan ke puncak.

Pos 5- Puncak Kenteng Songo

Sepanjang perjalanan menuju puncak kita akan menemukan banyak bunga edelweiss yang sangat indah. Jalur yang dilalui terus menanjak hingga sampai ke puncak. Jalur berada di area yang terbuka sehingga kabut dan angin langsung menerjang kita. Untuk sampai di puncak membutukan waktu sekitar 1 jam.

Puncak Kenteng Songo adalah puncak paling tinggi diantara 7 puncak di Gunung Merbabu. Dari sini kita dapat melihat Gunung Merapi yang berdiri dengan gagah di sebelah selatan.















Baca selengkapnya