Thursday, 5 February 2015

Mendaki Gunung Kelud

Jalur Pendakian Gunung Kelud


Gunung Kelud merupakan salah satu gunung api yang aktif yang terletak di Jawa Timur, tepatnya di Kabupaten Kediri dengan ketinggian 1.791 mdpl. Gunung Kelud termasuk gunung api tipe strato dengan danau kawah yang tingginya 113,9 mdpl. Gunung Kelud tercatat pernah meletus sebanyak 24 kali.
Pada tahun 1815 Gunung Kelud meletus dengan dahsyat sehingga menelan korban jiwa sebanyak 10.000 jiwa.

Letusan dahsyat lagi terjadi pada tanggal 20 Mei 1919 dengan menelan korban jiwa sebanyak 5.160 orang. Pada tahun 1951 tepatnya tanggal 31 Agustus kembali meletus dan menimbulkan korban jiwa lagi, kali ini korban jiwa sebanyak 7 orang. Meskipun begitu letusan ini mengakibatkan kerusakan hebat dan menyemburkan materi vulkanis dalam jumlah besar. Hujan abu melanda hampir merata di Jawa Timur dan Jawa Tengah serta lahar panas yang dimuntahkan membakar kawasan dalam radius 6,5 km dari danau kawah. Letusan ini juga mengakibatkan turunnya kawah sekitar 79 meter.

Pada tahun 2014 kemarin, tepatnya pada bulan Februari Gunung Kelud juga meletus lagi. Meskipun tidak ada korban jiwa, tapi letusan ini juga sangat dahsyat hingga mengakibatkan daerah-daerah sampai di Jawa Tengah dan Yogyakarta tertimbun material debu vulkanik hingga sampai terlihat seperti kota mati.

Untuk mendaki Gunung Kelud, dari Blitar kita pergi ke Wlingi terus ke utara ke arah Desa Semen ada pertigaan. Jika ke arah kanan arah Sirah Kencong Gunung Butak, nah kita ambil yang ke kiri ke arah desa Tulung Rejo. Jalannya menanjak melewati kebun teh terus kemudian masuk gapura desa Tulungrejo, ada masjid di pojokan kiri jalan, kita ke kiri trus ke kanan kemudian lurus sampai menemukan rumah terakhir di dekat hutan pinus, yaitu Rumah Mas Yudi yang menjadi basecamp pendakian Gunung Kelud. Disini kita bisa menitipkan motor.

Basecamp - Pos 1
Dari basecamp menuju pos 1 kita masih melewati jalan aspal trus ke kiri masuk ke hutan pinus. Setelah masuk hutan pinus ada turunan sedikit kita belok kanan naik lagi. Vegetasi menuju pos 1 diawali pohon pinus lalu pohon besar-besar berlumut sama tumbuhan semak-semak khas gunung. Kita berjalan melewati punggungan bukit jadi jalannya cukup menanjak. Sampai di pos 1 berupa bangunan semi permanen beratap asbes.

Pos 1 - Pos 2
Selepas pos 1 menuju pos 2, tanjakan awal selepas pos 1 sangat curam dan licin, kemudian diteruskan jalan semakin menanjak tapi masih sering dijumpai bonus berupa jalanan landai maupun jalanan menurun.Vegetasi masih seputar pohon besar berlumut yang dilewati banyak kabut di malam hari. Setelah berjalan tidak terlalu lama kita akan sampai di pos 2. Pos 2 merupakan tanah datar yang kira-kira cukup untuk mendirikan 2 tenda. Tandanya ada kayu yang ditata menyerupai penyangga.

Pos 2 - Pos 3
Perjalanan menuju pos 3 diawali dengan tanjakan panjang karena kita berada di punggungan bukit. Vegetasi masih seperti biasa pohon besar berlumut serta semak-semak. Setelah keluar hutan kita disuguhi ilalang-ilalang tinggi yang menutupi jalur pendakian, tak sedikit juga ada tumbuhan berduri. Jalan masih banyak nanjaknya daripada landainya tapi tidak separah pos 1 - pos 2. Tapi di sisi kiri kanan disuguhi jurang yang dalam. Jadi kita harus hati-hati dalam melangkah.Pos 3 berada di Puncak Gunung Tumpak, disini kita bisa melihat pemandangan bagus, di arah Utara puncak Kelud, di arah Timur Gunung Butak dan Telaga Ngantang, di arah selatan pemandangan laut selatan, dan di arah barat pemandangan blitar.
Pos 3 berupa Pos dari ilalang dan terdapat banyak batu besar.

Pos 3 - Puncak
Jalur dari pos 3 kita ke arah kanan melewati ilalang tinggi terus turun curam, setelah itu menanjak. Setelah melewati jalur ilalang kita disuguhi jalur pasir dan bebatuan labil yang mudah longsor. Di sisi kiri dan kanan ada jurang menganga.
Setelah jalur berpasir kita akan menaiki tebing dan tak ada jalur jelas disini. Pokoknya kita cari jalur yang aman untuk dipijak dan cari yang naik sedikir melipir ke kanan.
Setelah sampai disisi kanan tebing, ini akan jelas jalur menuju bibir kawah.




Baca selengkapnya

Tuesday, 3 February 2015

Hewan Langka Terancam Punah di Indonesia

Hewan-hewan Langka di Indonesia yang Keberadaannya Terancam Punah

Indonesia adalah negara yang begitu luas dengan berjuta-juta pulau dan tentunya dengan begitu banyaknya flora dan fauna yang hidup di dalamnya. Semua jenis species hampir semuanya hidup dan tumbuh di alam Indonesia. Namun sekarang kehidupan dan peradabannya semakin sulit ditemukan lagi. Hal ini dikarenakan perburuan dan habitat yang semakin sempit. Banya dari mereka diburu untuk diambil kulitnya, gadingnya dan yang lainnya untuk dijual. Selain itu karena hutan yang semakin sempit karena banyak ditebang dan diganti dengan pemukiman penduduk serta dibakar untuk lahan pertanian.

Berikut ini adalah beberapa hewan di Indonesia yang keberadaannya mulai terancam punah :

1. Badak Jawa (Rhinoceros Sondaicus)
 Bada jawa atau kerap disebut dengan badak bercula satu ini populasinya sangat langka. Kita hanya dapat menemukannya di Taman Nasional Ujung Kulon yang terdapat di Banten. Bada Jawa sering kali diburu untuk diambil culanya yang dipakai untuk penyembuhan atau cuma sekedar untuk bisnis saja.

2. Anoa (Bubalus Depressicornis)
 Sekilas lebih mirip kambing dengan ukuran besar. Yang membedakan dengan kambing selain ukurannya yang lebih besar adalah bentuk tanduk runcing yang mencapai 30 cm panjangnya. Anoa adalah termasuk mamalia yang mempunyai kuku genap dan kebanyakan ditemukan di wilayah Sulawesi. 


3. Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae)
 Harimau Sumatera berlainan dengan harimau yang ada di seluruh dunia. Harimau Sumatera mempunyai ukuran badan yang lebih kecil lantaran habitatnya di hutan. Dengan badan yang lebih kecil mempermudahkan harimau sumatera untuk bergerak dan menangkap mangsa. Populasi harimau sumatera saat ini nyaris punah. Harimau Sumatera sering diburu untuk diambil kulitnya untuk dijual. Harimau ini hanya terdapat di Pulau Sumatera.



4. Elang Jawa (Nisaetus Bartelsi)
 Tampak dari namanya burung ini datang dari Pulau Jawa. Burung ini mempunyai ciri-ciri berbentuk jambul di kepalanya. Elang Jawa merupakan satwa endemik dan saat ini berstatus konservasi terancam punah. Diperkirakan jumlah Elang Jawa saat ini hanya sekitar tidak lebih dari 190 ekor. Populasinya Elang Jawa ini menghadapi ancaman besar terhadap kelangsungan speciesnya terutama dari habitat yang terus berkurang akibat eksploitasi berlebihan dan tak bertanggung jawab.



5. Komodo (Varanus Komodoensis)
 Komodo adalah jenis kadal raksasa yang asli ada di Indonesia. Hewan ini terhitung hewan karnivora meskipun sering kali mengonsumsi bangkai hewan daripada memburu hewan hidup-hidup. Rata-rata komodo dapat meraih panjang 2-3 meter serta berat 60 kg. Banyak yang mengatakan komodo adalah hewan prasejarah yang masih hidup. Komodo sendiri hanya bisa ditemukan di Taman Nasional Komodo di Pulau Komodo Flores.



6. Merak Hijau (Pavo Muticus)
 Burung Merak hijau jantan bisa mencapai panjang 300 cm dengan ekor yang panjang.Merak hijau jantan juga mempunyai jambul tegak di kepalanya. Ekor panjang serta jambul dipakai oleh merak hijau jantan untuk menarik merak hijau betina pada musim kawin. Sedangkan merak hijau betina mempunyai ukuran badan yang lebih kecil serta bulunya tidak warna-warni. Merak biasanya dapat dijumpai di kebun binatang.



7. Babirusa (Babyrousa Babyrussa)
 Buah-buahan, tumbuhan, jamur dan dedaunan merupakan makanan yang biasa disantap sehari-hari. Mempunyai taring yang mencuat keluar sebagai tameng mata dari duri dan rotan ketika mereka mencari makan. Babirusa sendiri memiliki habitat di Pulau Sulawesi, dan Kepulauan Maluku dan sekitarnya.



8. Jalak Bali (Leucopsar Rothchildi)
 Dengan ukuran tubuh sedang dan serta bulu yang cantik tak heran jika Jalak Bali ini jadi langka lantaran jadi incaran beberapa pemburu untuk diperjualbelikan. Burung ini asli endemik Indonesia yang cuma bisa didapari di Pulau Bali. Dipredikseikan jumlah Jalak Bali sekitar 1000 ekor. 



9. Orang Utan (Pongo sp)
 Orang Utan merupakan jenis kera yang asli ada di Indonesia. Hewan yang dalam bahasa inggrisnya juga Orang Utan ini jadi langka lantaran dikarenakan beberapa faktor diantaranya rusaknya hutan serta penebangan hutan jadi lahan pabrik serta pemukiman. Orang Utan mempunyai ciri rambut tubuhnya berwarna kemerah-merahan. Orang Utan tersebar di Sumatera dan di Kalimantan. Populasi orang utan terus mengalami penurunan tajam akibat deforestasi. Orang utan Sumatera ditetapkan sebagai sangat terancam punah oleh lembaga IUCN dengan populasi tersisa hanya beberapa ribu, sedangkan orang utan Kalimantan dianggap terancam. PBB mengatakan status orang utan yang tersisa "darurat konservasi".



10. Gajah Sumatera (Elephas Maximus)
 Gajah Sumatera adalah sub-species asia yang hanya ada di Pulau Sumatera. Postur gajah Sumatera lebih kecil daripada sub-species gajah India. Gajah ini merupakan mamalia terbesar yang ada di Indonesia. Berat gajah sumatera sekitar 6 ton dan tinggi bahu 3,5 meter. Gajah Sumatera sendiri dapat berumur hingga 60 tahun. 
Populasi gajah sumatera di alam liar saat ini hanya tinggal beberapa ribu ekor. Penurunan jumlah populasi ini disebabkan oleh perburuan liar untuk mengambil gading gajah dan juga disebabkan penurunan luas habitat hutan yang beralih fungsi menjadi perkebunan sawit.


Diatas adalah beberapa hewan yang kini keberadaannya di Indonesia semakin sedikit. Sebenarnya masih banyak lagi hewan-hewan yang terancam punah di Indonesia. Mulai sekarang marilah kita sesama makhluk ciptaan Tuhan, sama-sama merawat dan menjaga apa yang telah dititipkan pada kita berupa alam yang indah dengan berjuta-juta aneka hewan dan tumbuhan yang hidup didalamnya. LESTARIKAN BUMI INI DEMI ANAK CUCU KITA!!

Baca selengkapnya

Nikmatnya Mendaki Gunung di Malam Hari

Manfaat dan Keuntungan Mendaki Gunung di Malam Hari

Mendaki gunung di malam hari tentunya mempnyai sensai berbeda dengan mendaki di siang hari. Bagi seorang pendaki gunung, mendaki di malam hari sudah menjadi hal yang biasa. Sebenarnya ada kenikmatan tersendiri ketika kita mendaki di malam hari. Memang kita tidak bisa melihat view di sekitar tempat yang kita lalui karena gelap. Tapi ada banyak keuntungan lain yang bisa kita peroleh jika mendaki di malam hari.
Berikut ini adalah manfaat dan keuntungan mendaki gunung di malam hari :


1. Indahnya pemandangan di langit
 Ketika kita mendaki di malam hari tentunya kita akan melihat ke arah langit. Nah disitu akan terlihat jelas indahnya langit. Dimana kita bisa melihat langit begitu lepas dan terlihat sangat luas. Disitu kita juga akan melihat bentang lukisan alam yang sangat menawan dengan bulan dan bintang-bintang yang bertaburan dan terlihat indah. 

2. Dapat mengusir cuaca dingin
 Manfaat lain ketika kita mendaki gunung di malam hari adalah dapat sedikit mengusir hawa dan suhu dingin di waktu malam karena kita terus bergerak dan berjalan, sehingga hawa dingin menjadi tak terasa. Disisi lain kita juga bisa menghemat air, karena cuaca dingin kita jadi jarang haus dan minum.

3. Melihat pemandangan di bawah
 Mendaki di malam hari bukan berarti kita tidak bisa melihat pemandangan indah di alam. Ketika kita mendaki malam hari ada sensasi dan pemandangan berbeda dibanding mendaki ketika siang hari. Di malam hari kita bisa melihat pemandangan gemerlapnya lampu perkotaan dari atas yang begitu indah dan mempesona. 

4. Dapat melihat sunrise pada pagi harinya
 Ketika kita mendaki malam hari, pastinya dengan tujuan agar ketika sampai di puncak pada saat ketika matahari terbit. Tentunya kita akan merasakan sensasi berbeda jika berada di puncak pada saat sunrise. 

5. Keuntungan ketika turun
 Keuntungan juga ada ketika kita turun, pastinya kita akan lebih bersemangat setelah puas menikmati matahari terbit di puncak dan juga kita akan bisa melihat view-view indah ketika pagi hari. Jadi perjalanan turun tidak akan terasa dan akan lebih ringan. Kita akan merasa tiba-tiba kita sudah sampai di bawah.
Baca selengkapnya

Tips Mendaki Gunung di Malam Hari

Mendaki Gunung di Malam Hari

Pada dasarnya mendaki di malam hari memiliki tingkat bahaya yang lebih tinggi lagi jika dibandingkan mendaki pada siang hari. Tapi terkadang alam tidak memberi kita banyak pilihan sehingga kita terpaksa harus mendaki di malam hari. Pendakian di malam hari sangatlah berbahaya jika kita tidak ekstra waspada dan hati-hati.



Di bawah ini adalah beberapa tips mendaki di kala malam :

1. Bawalah penerangan yang cukup
 Penerangan sangatlah penting jika kita mendaki gunung di malam hari karena mata manusia mempunyai batasan dalam melihat dan tidak bisa melihat dalam gelap. Oleh karena itu kita butuh bantuan alat  penerangan seperti senter, headlamp dan lampu emergency. Jika kita mendaki pada malam hari sangat disarankan untuk membawa penerangan berupa headlamp, karena dengan memakai headlamp akan memungkinkan kita untuk berpegangan pada pepohonan sewaktu jalan karena tangan kita tidak memegang apa-apa.

2. Jaga tubuh agar tetap hangat
  Udara malam di gunung sangatlah dingin, berbeda ketika kita berada di bawah. Kita harus selalu menjaga kehangatan tubuh ketika melakukan pendakian malam hari. Jangan sampai kedinginan tersebut akan membuat kita terkena hipotermia. Selain itu udara dan suhu dingin di gunung dapat menyebabkan beberapa bagian tubuh ini seperti kaki dan tangan menjadi rawan kram dan kaku.

3. Hilangkan rasa takut
 Pada malam hari tentunya akan sangat gelap dan identik dengan hal- hal mistis. Terkadang para pendaki berebut agar tidak berjalan di bagian paling belakan dalam sebuah tim. anyak endaki yang ketakutan terhadap adanya makhluk ghaib. Ketakutan tersebut hanya akan mendatangkan ketidakharmonisan dalam sebuah tim dan ada baikna kita berdoa terlebih dahulu sebelum melakukan pendakian di malam hari. Dengan berdoa tentunya akan mendatangkan kepercayaan diri bagi pendaki. Dengan berdoa juga akan mengusir segala ketakutan terhadap hal-hal mistis.

4. Tinggalkan Jejak
 Ketika melakukan pendakian pada malam hari kita akan kesulitan mengingat tempat atau jalan yang sudah kita lewati. Hal itu disebabkan karena kita kesulitan melihat alam ketika malam hari dikarenakan gelap. Hal ini menyebabkan kita sering kali lupa dengan jalan yang pernah kita lalui, jadi pada waktu perjalanan turun kita bisa salah jalan. Buatlah tanda seperti dengan cara mematahkan ranting atau memberi tali pada pohon.

5. Bawalah Lonceng
 Terkadang kita sempat heran ketika bertemu dengan para pendaki yang membawa lonceng ketika mendaki. Sebenarnya lonceng tersebut mempunyai manfaat tersendiri. Ketika pendaki berjalan di malam hari dengan membawa lonceng dimaksudkan agar pendaki yang berada di paling depan bisa mengetahui jarak pendaki yang paling belakang dengan suara lonceng yang dibawa pendaki paling belakang tersebut. Jadi leader bisa mengatur kecepatan jalan dan memerhatikan rekan timnya dengan mudah. Teknik ini sangat efektif jika digunakan dalam pendakian dengan banyak anggota regu.


Baca selengkapnya

Sensasi Indahnya Air Terjun Madakaripura

Menikmati Indahnya Air Terjun Madakaripura


Air Terjun Madakaripura adalah salah satu air terjun yang terletak di Kecamatan Lumbang, Probolinggo. Air terjun ini adalah salah satu air terjun di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Air Terjun Madakaripura berbentuk ceruk yang dikelilingi bukit-bukit yang meneteskan air pada seluruh tebingnya seperti layaknya sedang hujan. 3 diantaranya bahkan mengucur deras membentuk air terjun lagi.

Air Terjun Madakaripura dapat dicapai dari Malang ataupun Probolinggo. Dari Probolinggo kita bisa naik bus besar ke arah Tongas dan turun di pertigaan TOngas dan selanjutnya perjalanan dilanjutkan dengan naik angkot.

Perjalanan dari Tongas menuju air terjun ini penuh dengan pemandangan yang indah tapi dengan jalan tidak cukup nyaman. Tapi semua itu akan terbayar ketika kita sampai di pintu gerbang Madakaripura. Disini tidak ada tiket masuk tapi kita akan ditawari jasa guide lokal yang juga bisa membawakan tas carrier Anda.
Perjalanan dari sini ke air terjun sangatlah indah dan memanjakan mata dengan pemandangan pohon-pohon besar dan udara yang sangat segar. Kita juga akan melewati sungai-sungai. Disini disarankan untuk memakai sepatu yang kuat ataupun sendal gunung. Perjalanan yang ditempuh sekitar 1 jam dan setelah itu Anda akan mulai merasakan dinginnya sekitar dan juga cipratan air yang meloncat-loncat ke tubuh. Maka dari itu disarankan juga untuk membawa baju ganti ataupun membawa jas hujan. Kita masih akan berjalan sedikit lagi untuk bisa menikmati air terjun utamanya.
Kita masih harus menaiki tebing yang cukup licin dan sempit, tapi sekali lagi itu akan terbayar dengan begitu kita melihat air terjun utama yang berdinding melingkar, jadi terlihat seperti kita berada di dalam botol.

Mitos yang didapat dari air terjun Madakaripura adalah kita disarankan untuk meninggalkan tempat ini sebelum jam 2 siang karena akan sering terjadi hujan pada jam-jam ini yang bisa mempengaruhi tingkat air di sekitar air terjun yang cukup berbahaya dan memungkinan kita sulit untuk meninggalkan tempat ini.


Berikut ini juga tips tips jika kita berkunjung ke Air Terjun Madakaripura :
1. Gunakan pakaian dan alas kaki yang nyaman
 Demi kenyamanan dan keamanan dalam melintasi sungai sebaiknya gunakan pakaian yang nyaman seperti celana pendek dan kaos. Selain itu juga gunakan alas kaki seperti sendal anti selip atau sendal jepit. Namun bila kamu terlanjur menggunakan alas kaki yang tak nyaman, di sekitar lokasi juga terdapat tempat yang menjual sendal dengan harga 15-20 ribu.

2. Setelah memarkirkan kendaraan bermotor, sebaiknya Anda bilang pada tukang parkir agar tidak usah mencuci motor kamu tanpa persetujuan terlebih dahulu dan menarik biayanya sewaktu pulang. Biaya yang ditarik untuk pencucian ini adalah sukarela.

3. Bawalah kantong plastik yang cukup
 Namanya juga air terjun, pasti yang ada hanyalah basah-basahan . Jadi bawalah kantong kresek atau plastik untuk tempat pakaian yang basah. Selain itu juga bawalah jas hujan bila kamu tidak mau berbasah-basahan, karena dilokasi air terjun ini dijamin kamu akan basah kuyup.

4. Bila ada penduduk menawarkan diri sebagai pemandu atau guide, sebaiknya tentukan ongkos jasa tersebut jika Anda benar-benar ingin memakai jasa pemandu. Biasanya pemandu akan menawarkan jasa dengan ongkos sukarela namun ada baiknya kamu mencapai kesepakatan terlebih dahulu agar tidak menyesal dikemudian.

5. Sebaiknya berkunjung ke air terjun ini jangan sewaktu musim hujan karena daerah ini rawan longsor. Jadi bila terlihat cuaca tak bersahabat segera tinggalkan tempat ini demi keselamatan Anda.



Baca selengkapnya

Mendaki Gunung Ciremei (Gunung Tertinggi di Jawa Barat)

Jalur Pendakian Gunung Ciremei

Gunung Ciremei merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat dengan ketinggian 3.078 Mdpl. Untuk mendaki Gunung Ciremei ini terdapat 3 jalur, yaitu jalur Majalengka, jalur Linggarjati dan jalur Palutungan. Jalur Linggarjati adalah jalur yang sering dilalui oleh para pendaki meskipun jalur ini adalah jalur yang paling berat dan terjal.



Berikut ini Transportasi Menuju Gunung Ciremei :

1.       Jalur Apuy
Dari pintu tol Palimanan kita naik colt kecil ­­sampai perempatan Palimanan. Kemudian kita naik angkot menuju terminal Kadipaten. Dari terminal Kadipaten dilanjutkan ke perempatan Pasar lanjut lagi menuju terminal Maja. Terminal Maja cukup ramai karena menyatu dengan pasar kecil.
Meninggalkan Maja menggunakan pickup melewati lahan pertanian berkabut diselingi perkampungan kecil. DI penghujung perjalanan akan melewati lorong perkampungan yang padat dan menanjak. Setelah sampai di depan papan petunjuk ke Curug Muara Raya + 6000 m disini terdapat Masjid yang bersebelahan dengan balai desa dan disebelahnya terdapat pohon besar yang ada petunjuk ke puncak Ciremei. Di belakang masjid masuk dari sisi kanan Masjid dan kemudian akan menemukan warung makanan dan minuman.

Perjalanan ke Pos 1 melewati perkampungan dan ladang sayuran dengan kondisi jalan beraspal dan bisa dilalui dengan mencarter mobil pickup hingga ke Pos 1 Blok Arban.

2.       Jalur Palutungan
Jalur Palutungan tidak seterjal jalur Linggarjati, namun waktu yang diperlukan menjadi lebih lama dan panjang. Palutungan adalah sebuah kampong terakhir di lereng selatan Gunung Ciremei dan berada di ketinggian 1100 Mdpl. Palutungan tepatnya berada di desa Cisantana, Kec Cigugur, Kab Kuningan.

Dari tempat terminal bus kota Kuningan naik angkutan desa menuju desa Palutungan. Kalau dari Cirebon kita dapat menggunakan angkutan umum jurusan Cikijing dan turun di pertigaan Cigugur. Dari situ perjalan menuju Cisantana melalu jalanan menanjak dan berbatu sekitar 1 jam. Dari Cisantana perjalanan kembali dilanjutkan dengan naik angkutan sayur menuju Palutungan sekitar 20 menit.

Setelah sampai kita mengurus perizinan dan perjalanan dapat kita mulai. Perjalanan awal akan melalui kebun penduduk lalu belok ke kanan memasuki hutan tropis dengan jalur agak landau dan kadangkala harus melewati semak-semak yang tinggi. Untuk sampai di Cigowong diperlukan waktu sekitar 3 jam.

3.       Jalur Linggarjati
Desa Linggarjati terletak 14 km dari kota Kuningan atau 24 km dari kota Cirebon. Dari Jakarta dapat ditempuh dengan bus jurusan Kuningan atau kereta api jurusan Cirebon yang disambung dengan bus atau kendaraan umum jurusan Cirebon – Kuningan. Dari pertigaan Linggarjati berjalan kaki sekitar 2,5 km menuju museum Linggarjati yang dulu adalah sebuah hotel bersejarah yang menjadi saksi bisu Bung Karno dengan Belanda saat perjanjian Linggarjati.

Terdapat pula Taman Linggarjati Indah seluas 11 hektar dilengkapi berbagai sarana rekreasi.  Pos penjagaan berjarak sekitar 500 m dari Musium Linggarjati. Kita perlu mendaftar serta membayar asuransi per orang Rp 5000.

Siapkan perbekalan, terutama air karena susah sekali mendapat air selama perjalanan. Para pendaki dapat menggunakan jasa petugas penjaga atau penduduk untuk membimbing perjalanan ke puncak.



Pendakian Jalur Apuy

Perjalanan dimulai dengan relative santai dengan medan tidak terlalu terjal dan suasana yang menyejukkan. Setelah itu kita akan sampai di Pos Simpang Lima dengan ketinggian 1908 mdpl berupa dataran cukup luas dan kita bisa mendirikan tenda disini.

Dari Pos 2 (Simpang Lima) menuju Pos 3 Tegal Wasawa memerlukan waku sekitar 1 jam. Disini jalur semakin terjal dan hutan makin tertutup. Sekitar 100 m terdapat simpang tiga yang cukup jelas, pertemuan jalur baru dan jalur lama. Kalau ke kanan merupakan jalur lama dari Pos 1 yang melewati danau atau situ dan kuburan. Kalau ke kiri menuju Pos 3 Tegal Wasawa dengan ketinggian 2400 mdpl berupa dataran cukup untuk tenda kapasitas 4 orang.

Dari Pos 3 menuju Pos 4 Tegal Jamuju 2600 mdpl waktu yang ditempuh relative cukup pendek sekitar 35 menit. Medannya berupa tanah yang cukup padat melintasi hutan yang lebat dan rindang. Sesekali kita akan melintasi akar-akar pohon.

Dari Pos 4 menuju Pos 5 Sanghiang Rangkah 2800 mdpl waktu tempuh sekitar 1,5 jam. Perjalanan menuju Pos 5 cukup panjang dan terjal. Pos 5 merupakan pertemuan jalur apuy dan jalur Palutungan. Di sebelah kanan terdapat papan petunjuk. Palutungan menuju Sanghiang Ropoh, Pos 7 jalur Palutungan. Di sisi jalur menurun ke bawah terdapat sungai kering. Beberapa jalur sungai itu terdapat ceruk dengan genangan air.

Pos 5 Sanghiang Rangkah menuju Pos 6 Goa Walet yang berada di ketinggian 2950 mdpl perlu waktu sekitar 2 jam.  Jalur berbatu menganak sungai membuat perjalanan melambat. Di tengah jalur berbatu terdapat sebatang pohon yang ditempel papan petunjuk ke puncak dan turun arah Palutungan.
Pos 6 Goa Walet menuju puncak Ciremei sudah dekat hanya perlu waktu 35 menit. Puncak Ciremei dari sisi Selatan terdapat tugu penanda tertinggi Gunung Ciremei.


Pendakian Jalur Palutungan

Pos 1 Cigowong terletak diketinggian 1450 Mdpl dan terdapat sungai kecil sehingga pendaki dapat menyiapkan persediaan air sebanyak mungkin karena selanjutnya tidak akan ditemukan lagi mata air.
Selepas Cigowong lintasan masih landau masuk ke dalam hutan dan melewati Blok Kta yang berada diketinggian 1690 mdpl dan akan sampai di Blok Pagguyungan Badak. Pangguyungan Badak merupakan area yang berada diketinggian 1790 Mdpl. Daerah ini terdapat puing-puing bangunan tua.

Untuk sampai di Blok Arban perlu waktu sekitar 30 menit dengan lintasan yang mulai menanjak. Blok Arban diketinggian 2030 mdpl merupakan Pos 3 dengan area cukup datar dan teduh.
Lintasan mulai menanjak dan sekitar 2,5 jam akan sampai di Tanjakan Asoy 2108 Mdpl yang merupakan Pos 4. Tempat ini berupa tanah yang datar berukuran cukup luas. Selepas dari sini lintasan semakin menanjak dalam waktu 1 jam akan sampai di Blok Pesanggrahan 2450 Mdpl.

Selepas Pos 5 Pesanggrahan, pendaki mulai memasuki kawasan vegetasi yang ditumbuhi cantigi dan edelweiss sampai di Blok Sanghiang Ropoh 2590 mdpl. Lintasan ini sangat licin jika hujan turun. Sanghiang Ropoh (Pos 6) terletak di daerah yang datar dan terbuka.

Selepas Pos 6 lintasan masih cukup curam dan licin dengan tanah berwarna kuning mengandung belerang. Selanjutnya akan sampai di pertigaan menuju jalur Apuy dan ke Kawah Goa Walet. Pada posisi kanan lintasan terdapat Kawah Goa Walet dengan ketinggian 2925 Mdpl yang sering digunakan untuk bermalam dan berlindung dari cuaca buruk. Di sebelah kiri lintasan akan menyatu dengan jalur Apuy (Majalengka).

Untuk sampai ke puncak Gunung Ciremei atau yang dikenal dengan Puncak Sunan Cirebon diperlukan waktu sekitar 1,5 jam. Sesampainya di puncak, pendaki dapat menikmati indahnya pemandangan dua kawah. Selain itu pendaki juga bisa melihat dari arah barat pemandangan kota Majalengka, kea rah utara panorama kota Cirebon dan Laut Jawa, serta dari arah Timur tampak Gunung Slamet yang tertutup awan. Di pagi hari tentu saja Sunrise akan muncul tepat di puncak Gunung Slamet.


Pendakian Jalur Linggarjati

Selepas dari Pos pendaftaran dengan melintasi jalan beraspal pendaki memasuki  kawasan hutan pinus dan persawahan hingga Cibeunar yang  berada diketinggian 750 mdpl. Tempat ini sangat ramai dengan para pendaki yang ingin mengadakan pendakian maupun hanya sekedar camping. Disini juga terdapat sumber air yang cukup melimpah yang tidak akan kita temui lagi sepanjang perjalanan sampai ke puncak.

Selepas Cibeunar lintasan melewati ladang dan hutan pinus hingga memasuki Leuweng Datar diketinggian 1285 Mdpl. Leuweng Datar terletak di tengah hutan tropis. Selepas daerah ini lintasan mulai menanjak dan melewatu area yang cukup datar sebagai camp yakni Sigedang dan Kondang Amis (1350 mdpl).

Untuk sampai di Kuburan Kuda diperlukan waktu sekitar 2 jam perjalanan. Blok Kuburan Kuda berada pada ketinggian 1580 Mdpl, merupakan lapangan datar yang cukup luas dan cukup teduh sebagai tempat kemah. Daerah ini dianggap keramat bagi masyarakat setempat. Di dekar jalur ini terdapat Kuburan Kuda.
Selepas Kuburan Kuda jalur semaki curam dan kita akan sampai di Pengalap 1.790 Mdpl. Dengan sudut lintasan yang mulai membesar kita akan melewati tanjakan Bin – bin (1.920 mdpl) dan semakin menanjak lagi melewati tanjakan Seruni.

Tanjakan Seruni dengan ketinggian 2.080 mdpl adalah lintasan yang terberat dan melelahkan dibanding yang lain. Bahkan pendaki akan menemui jalan setapak yang terputus dan setengah memanjat dan memaksanya berpegangan akar pepihinan untuk mencapai pos selanjutnya. Belum lagi bila hujan turun, jalur ini akan menjadi lintasan aliran air hujan seperti air terjun. Begitu juga dengan jalur berikutnya hingga sampai di Tanjakan Bapak Tere setinggi 2.200 Mdpl.

Selepas Tanjakan Bapak Tere lintasan tetap menanjak hinggan sampai di Batu Lingga dengan waktu tempu sekitar 2,5 jam. Batu Lingga dengan ketinggian 2.400 Mdpl merupakan pos peristirahatan yang berupa tanah datar dan terdapat sebuat baru berukuran besar dahulunya tempat walisongo bersolat dan berkhutbah. Pos ini adalah tempat yang keramat, konon para wali sering mengadakan pertemuan di tempat ini menurut kesaksian para pendaki kehadiran wali ini ditandai dengan gumpalan cahaya yang terbang di tempat ini. Di tempat ini terdapat dua buah batu nisan.

Meninggalkan kawasan Batu Lingga lintasan masih menanjak dan di tengah perjalanan pendaki akan menemukan dua pos peristirahatan berupa tanda datar yakni Sanga Buana Bawah (2.545 mdpl) dan Sangga Buana Atas (2.665 mdpl). Selepas itu pendaki akan memasuki batas vegetasi antara hutan dengan daerah terbuka.

Untuk sampai di Pangasinan yang berada diketinggian 2.860 mdpl merupakan pos terakhir. Tempatnya lebar sehingga cukup untuk mendirikan beberapa tenda, meskipun lokasinya agak berbukit. Kabut dan hujan yang sering muncul di puncak meskipun di musim kemarau menyisakan genangan air di celah bebatuan sehingga bisa dimanfaatkan untuk minum dan memasak.

Diperlukan waktu sekitar 1 jam untuk merangkak melewati bebatuan cadas untuk sampai di puncak. Hujan deras sering muncul di puncak sehingga aliran air terkucur dari atas membasahi para pendaki. Di puncak pendaki bisa memandang kota Cirebon dan Laut Jawa. Kapal-kapal besar Nampak dari kejauhan. Ke arah Timur akan melihat Gunung Slamet dengan puncaknya yang tertutup awan.

Puncak Gunung Ciremei memiliki kawah yang curam dan sangat indah. Pendaki yang nekad turun sering turun ke bawah untuk membuat tulisan di atas lumpur kawah. Peziarah sering datang untuk berdoa di puncak ini. Mereka mendaki dengan berpuasa dan makan bekal nasi bungkus setelah tiba di puncak. Bandingkan peziarah dengan pendaki gunung yang setiap saat makan dan minum saja kadang masih tidak sampai puncak.

Banyak sekali pendaki yang hanya berkemah di pertengahan pos dan tidak sanggup meneruskan perjalanan ke puncak karena medan yang berat dan susahnya air akhirnya harus turun. 
Baca selengkapnya

Sunday, 1 February 2015

Menaklukkan Ekstrimnya Gunung Raung

Jalur Pendakian Gunung Raung (Puncak Sejati)


Gunung Raung merupakan sebuah gunung yang terdapat di pulau Jawa, teparnya di Jawa Timur. Gunung Raung terletak di kawasan yang meliputi Bondowoso, Banyuwangi dan Jember. Gunung ini mempunyai puncak tertinggi dengan ketinggian 3.334 Mdpl. Gunung Raung menjadi salah satu gunung yang mempunyai karakteristik yang unik dengan jalur pendakian yang rumit dan masuk kedalam salah satu gunung dengan jalur pendakian tersulit di Indonesia.

Gunung Raung cukup terkenal dikalangan pendaki. Gunung ini memiliki kaldera yang berbentuk elips dengan tiga titik yang menyulitkan pendaki yaitu : puncak 17, puncak tusuk gigi dan puncak sejati.

Gunung Raung merupakan gunung berapi yang masih aktif dan masih selalu mengeluarkan asap bahkan sesekali menyemburkan api. Untuk mendaki gunung Raung dan sampai di Puncak Sejati pendaki disarankan untuk menggunakan peralatan safety panjat, karena dalam pendakian kita akan dihadapkan dengan jalan setapak berbatu dan kanan kiri jurang.

Gunung Raung berada dalam jajaran Pegunungan Ijen dan termasuk sebagai gunung berapi yang masih aktif bertipe stratovolcano, mempunyai kaldera di puncaknya yang berbentuk circular atau lingkaran. Kaldera gunung ini mempunyai dimensi luasan sekitar 750 m x 2,250 m dan masih selalu mengeluarkan semburan api.

Untuk mendaki Gunung raung sejatinya ada dua jalur yakni :
1. Jalur Pendakian Gunung Raung via Kalibaru (Puncak Sejati)
2. Jalur Pendakian Gunung Raung via Sumber Waringin (Puncak Bayangan)


Jalur Pendakian via Kalibaru
Pendakian Gunung Raung jalur Kalibaru merupakan pendakian dengan jalur terekstrim di Pulau Jawa, dimana diperlukan waktu pendakian normal selama 6 hari yang tentunya diperlukan fisik dan mental yang bagus serta peralatan khusus dan teknik pemanjatan untuk menggapai puncak sejatinya. Berikut ini adalah jalur pendakian yang akan kita tempuh untuk mencapai puncak.

Basecamp Rumah Pak Suto - Pos 1
Dimulai dari basecamp akan berjalan sejauh 5,5 km melewati perkebunan penduduk yang mayoritas adalah perkebunan kopi dan sekitar 2,5 jam kemudian akan tiba di Pos 1 ditandai dengan sebuah rumah bekas di tengah kebun kopi milik pak Sunaryo. Di sebelah kiri jalur Pos 1 ini ada jalur menuju sungai yang merupakan sumber air terakhir di jalur ini. Disini pendaki bisa mengisi persediaan air dimana setiap pendaki minim membawa 10 liter air. Apabila ingin mempersingkat waktu dan efektifitas tenaga maka untuk menuju Pos 1 dapat dilakukan dengan naik ojek dari basecamp dengan harga sekitar 10 rb- 15 rb perorang. Pos ini terletak pada ketinggian 980 mdpl.

Pos 1 - Pos 2
Dari Pos 1 kita berjalan melewati batas perkebunan dan hutan, kemudian dilanjutkan memasuki hutan yang lebar namun lebat dengan pepohonan dimana terdapat banyak semak berduri. Jalan yang ditempuh masih belum cukup banyak yang menanjak dan cenderung melipir menyisir hutan. Diperlukan waktu normal selama sekitar 4 jam untuk menempuh jarak dari Pos 1 menuju Pos 2, kira-kira sejauh 4 km. Pos 2 merupakan tempat camp yang paling luas selama nanti dipendakian. Pos 2 terletak di ketinggian 1431 mdpl.

Pos 2 - Pos 3
Dari Pos 2 menuju Pos 3 kita akan mulai melalui track yang menanjak mengikuti punggungan dan tidak lagi melipir. Track yang dilalui cukup sempit dimana di sebelah kirinya adalah jurang. Diperlukan waktu sekitar 1 jam untuk sampai di pos 3. Pos 3 terletak di tengah persis jalur pendakian namun agak luas dan dapat mendirikan cukup untuk 2 tenda. Pos 3 mempunyai ketinggian sekitar 1656 mdpl.

Pos 3 - Pos 4
Melewati Pos 3 pendakian dimulai dengan jalan yang landai kemudian akan melewati turunan sebelum berpindah punggungan dan melalu jalan menanjak lagi yang cukup panjang. Setelah 2 jam kita akan tiba di pos 4. Di pos ini kita bisa beristirahat sejenak sebelum melanjutkan pendakian, meskipun lahannya cukup sempit. Pos 4 ini mempunyai ketinggian 1855 mdpl.

Pos 4 - Pos 5
Pendakian pada tahap ini masih melewati punggungan namun track yang dilalui semakin terjal dan rapat dimana banyak terdapat pohon berduri. Disarankan kepada pendaki agar menggunakan pakaian lengan panjang. Bila turun hujan jalur ini akan menjadi sangat licin. Waktu yang diperlukan untuk sampai di pos 5 sekitar 50 menit. Pos 5 merupakan tempat yang tidak terlalu luas namun sedikit di bawah pos 5 juga terdapat tempat yang cukup luas untuk beristirahat. Biasanya di area pos 5 ini sering digunakan untuk tempat makan siang sebelum melanjutkan pendakian. Ketinggian pos 5 sendiri sekitar 2115 mdpl.

Pos 5 - Pos 6
Pendakian dilanjutkan dengan rute atau jalur yang semakin berat dimana jalurnya semakin terjal serta tipis dimana kanan kiri jurang. Untuk itu semua pendaki diharapkan untuk berhati-hati saat melintasi jalur ini. Jarak menuju pos 6 sendiri tidak terlalu panjang karena hanya dibutuhkan 30 menit saja untuk sampai. Di pos 6 ini terdapat area camp yang berundak-undak sebanyak 3 undakan dan dapat digunakan untuk tempat bermalam. Pos 6 memiliki ketinggian 2285 mdpl.

Pos 6 - Pos 7
Pendakian pada rute ini semakin berat dimana akan semakin mendekati puncak Gunung Wates yang tentunya tracknya semakin terjal dan jalur pendakiannya pun semakin terbuka dan udara dingin diiringi angin kencang dan kabut tipis. Setelah 45 menit kita akan tiba di pos 7 yang merupakan camp di area terbuka, Sebuah dataran yang cukup luas dan terbuka dapat mendirikan 3 tenda. Di pos 7 ini kita dapat melihat pemandangan negeri di atas awan yang sangat indah, dimana di depan terdapat puncak gunung wates, sebelah kiri dan kanan kita dapat melihat berjajar punggungan serta lembahan. Dari kejauhan juga mulai tampak puncak Gunung Raung yang berbentuk bebatuan. Apabila malam dan cerah pemandangan bintang-bintang akan sangat indah untuk kita nikmati. Di Pos 7 ini mulai terdapat bunga Edelweiss yang apabila mekar menjadi pemandangan indah untuk dilihat. Kondisi di pos 7 ini tanahnya rawan longsor dan juga udara dingin serta angin yang berhembus kencang dikarenakan areanya yang terbuka. Pos 7 sendiri berada di ketinggian 2541 mdpl.

Pos 7 - Pos 8
Perjalanan dari pos 7 ke pos 8 diawali dengan melewati punggungan terakhir menuju puncak gunung wates selama sekitar 45 menit. Sementara itu jalurnya cukup terjal dan rapt oleh pohon berduri. Dari puncak gunung Wates, pendakian dilanjutkan dengan melipir punggungan yang sangat tipis dengan bibir jurang yang sangat membutuhkan konsentrasi dan kehati-hatian. Setelah berjalan melipir punggungan, kita akan mulai melalui track menanjak dimana mulai terdapat vegetasi khas puncak gunung. Total waktu menuju pos 8 ini adalah sekitar 2 jam perjalanan normal. Pos 8 berada diketinggian 2876 mdpl.

Pos 8 - Pos 9
Ini adalah rute terakhir yang harus dilalui sebelum mencapai puncak gunung Raung. Pada rute ini jalurnya semakin terjal dan mulai banyak bunga edelweiss tumbuh. Vegetasinya pun semakin jarang, hanya pepohonan tua yang menjadi ciri khas sebelum puncak gunung. Setelah berjalan 1 jam barulah kita tiba di pos 9 yang merupakan camp terkahir yang dapat kita gunakan untuk beristirahat. Pos 9 merupakan batas vegetasi terkahir sebelum melewati bebatuan untuk mencapai puncak raung. Pos 9 terletak di ketinggian 3023 mdpl.

Pos 9 - Puncak Raung
Dari pos 9 yang merupakan batas vegetasi, selanjutnya kita berjalan selama 10 menit dan akan tiba di puncak semu gunung raung 3154 mdpl. Tak jarang puncak ini juga sering dinamakan puncak kalibaru. Di atas puncak inilah kita dapat menikmati kembali keindahan negeri ini, dimana dapat memandangi indahnya awan yang serasa begitu dekat dan sejajar dengan kita. Dari kejauhan juga tampak menjulang deretan punggungan gunung argopuro dan semeru. Sementara pada arah sebaliknya dapat memandangi lautan dan pulau Bali. Selain itu juga di depan kita telah nampak jalur menuju puncak sejati yang sangat menantang, dengan bebatuan dan kanan kiri terdapat jurang yang dalam. Ketika melewatinya akan cukup memacu adrenalin kita. Dan tidak kalah juga kita juga bisa memandangi keindahan puncak 17 yang berbentuk piramida yang seolah mengundang kita untuk segera mencapai puncaknya.

Puncak Raung - Puncak Sejati Gunung Raung
Inilah rute pendakian terkahir yang akan sangat menguji fisik dan nyali kita. Pendakian terekstrim di pulau Jawa dengan jalur yang mematikan. Dimulai dari puncak raung kita berjalan turun melipir bibir jurang lalu mengikuti sebuah jalan landai dan akan tiba di titik ekstrim yang pertama. Di titik ini kita harus melipir tebing bebatuan dimana sebelah kanan adalah jurang sedalam 50 meter. Untuk itulah di titik ekstrim pertama ini kita memasang jalur pemanjatan kurang lebih 5 meter. Di jalur telah terpasang 1 buah hanger, 1 buah bolt dan di titk anchornya terdapat pasak besi yang telah tertanam. Itu tadi bisa digunakan sebgai anchor utama. Setelah melewati titik ekstrim 1 kita terus berjalan menanjak menuju puncak 17 atau puncak piramida. Sampai di titik ekstrim 2 yaitu 10 meter sebelum puncak 17. Disini kembali harus membuat jalur pemanjatan dimana leader melakukan artificial climb selanjutnya setibanya di puncak 17 memasang fix rope untuk dilalui orang selanjutnya denagan teknik lumaring. Selanjutnya pendakian dilakukan dengan melipir menuruni bibir jurang yang tipis sekali. Disini merupakan titik esktrim ketiga yang harus kita lewati. Disini juga harus dipasangi pengaman bisa dengan menggunakan tali kernmantel ataupun dengan membentangkan webbing sejauh kurang lebih 10 meter. Selepas titik ekstrim ketiga ini kita terus berjalan agak landai menelusuri jalan setapak yang sangat tipis sekali dengan kanan kiri jurang sedalam 50 meter. Akhirnya tibalah kita di titik ekstrim keempat/terakhir dimana kita harus memasang jalur menuruni tebing 15 meter dan menggunakan teknik rappeling untuk mencapai ke bawah.

Sesampainya di bawah kita masih harus melanjutkan perjalanan agak menurun ke bawah dan kita akan sampai di sebuah lapang dan teduh yang biasanya digunakan untuk tempat beristirahat sebelum melalui tantangan terkahir yaitu mencapai puncak tusuk gigi dan puncak sejati.
Dari tempat beristirahat ini perjalanan dimulai kembali menanjak dengan tingkat kemiringan yang cukup terjal dimana jalur yang harus dilalui adalah batuan lepas dan berpasir yang apabila diinjak rawan sekali longsor. Untuk itulah diperlukan kehati-hatian dan menjaga jarak antar sesama pendaki selama melewati track ini agar apabila longsor tidak membahayakan pendaki di bawahnya.
Setelah mengakhiri tanjakan pada track bebatuan ini tibalah kita di puncak tusuk gigi yang terdapat banyak bebatuan besar. Setelah puncak tusuk gigi kita melipir ke belakang dan kemudian berjalan agak menanjak sekitar 100 meter tibalah kita di tempat yang menjadi tujuan akhir pendakian, ya itulah PUNCAK SEJATI Gunung Raung (3344 Mdpl) ditandai dengan sebuah trigulasi dan plang puncak sejati serta pemandangan kawah besar yang masih aktif yang setiap saat  dapat mengeluarkan asap dan api.




Baca selengkapnya