Sunday, 1 February 2015

Menaklukkan Ekstrimnya Gunung Raung

Jalur Pendakian Gunung Raung (Puncak Sejati)


Gunung Raung merupakan sebuah gunung yang terdapat di pulau Jawa, teparnya di Jawa Timur. Gunung Raung terletak di kawasan yang meliputi Bondowoso, Banyuwangi dan Jember. Gunung ini mempunyai puncak tertinggi dengan ketinggian 3.334 Mdpl. Gunung Raung menjadi salah satu gunung yang mempunyai karakteristik yang unik dengan jalur pendakian yang rumit dan masuk kedalam salah satu gunung dengan jalur pendakian tersulit di Indonesia.

Gunung Raung cukup terkenal dikalangan pendaki. Gunung ini memiliki kaldera yang berbentuk elips dengan tiga titik yang menyulitkan pendaki yaitu : puncak 17, puncak tusuk gigi dan puncak sejati.

Gunung Raung merupakan gunung berapi yang masih aktif dan masih selalu mengeluarkan asap bahkan sesekali menyemburkan api. Untuk mendaki gunung Raung dan sampai di Puncak Sejati pendaki disarankan untuk menggunakan peralatan safety panjat, karena dalam pendakian kita akan dihadapkan dengan jalan setapak berbatu dan kanan kiri jurang.

Gunung Raung berada dalam jajaran Pegunungan Ijen dan termasuk sebagai gunung berapi yang masih aktif bertipe stratovolcano, mempunyai kaldera di puncaknya yang berbentuk circular atau lingkaran. Kaldera gunung ini mempunyai dimensi luasan sekitar 750 m x 2,250 m dan masih selalu mengeluarkan semburan api.

Untuk mendaki Gunung raung sejatinya ada dua jalur yakni :
1. Jalur Pendakian Gunung Raung via Kalibaru (Puncak Sejati)
2. Jalur Pendakian Gunung Raung via Sumber Waringin (Puncak Bayangan)


Jalur Pendakian via Kalibaru
Pendakian Gunung Raung jalur Kalibaru merupakan pendakian dengan jalur terekstrim di Pulau Jawa, dimana diperlukan waktu pendakian normal selama 6 hari yang tentunya diperlukan fisik dan mental yang bagus serta peralatan khusus dan teknik pemanjatan untuk menggapai puncak sejatinya. Berikut ini adalah jalur pendakian yang akan kita tempuh untuk mencapai puncak.

Basecamp Rumah Pak Suto - Pos 1
Dimulai dari basecamp akan berjalan sejauh 5,5 km melewati perkebunan penduduk yang mayoritas adalah perkebunan kopi dan sekitar 2,5 jam kemudian akan tiba di Pos 1 ditandai dengan sebuah rumah bekas di tengah kebun kopi milik pak Sunaryo. Di sebelah kiri jalur Pos 1 ini ada jalur menuju sungai yang merupakan sumber air terakhir di jalur ini. Disini pendaki bisa mengisi persediaan air dimana setiap pendaki minim membawa 10 liter air. Apabila ingin mempersingkat waktu dan efektifitas tenaga maka untuk menuju Pos 1 dapat dilakukan dengan naik ojek dari basecamp dengan harga sekitar 10 rb- 15 rb perorang. Pos ini terletak pada ketinggian 980 mdpl.

Pos 1 - Pos 2
Dari Pos 1 kita berjalan melewati batas perkebunan dan hutan, kemudian dilanjutkan memasuki hutan yang lebar namun lebat dengan pepohonan dimana terdapat banyak semak berduri. Jalan yang ditempuh masih belum cukup banyak yang menanjak dan cenderung melipir menyisir hutan. Diperlukan waktu normal selama sekitar 4 jam untuk menempuh jarak dari Pos 1 menuju Pos 2, kira-kira sejauh 4 km. Pos 2 merupakan tempat camp yang paling luas selama nanti dipendakian. Pos 2 terletak di ketinggian 1431 mdpl.

Pos 2 - Pos 3
Dari Pos 2 menuju Pos 3 kita akan mulai melalui track yang menanjak mengikuti punggungan dan tidak lagi melipir. Track yang dilalui cukup sempit dimana di sebelah kirinya adalah jurang. Diperlukan waktu sekitar 1 jam untuk sampai di pos 3. Pos 3 terletak di tengah persis jalur pendakian namun agak luas dan dapat mendirikan cukup untuk 2 tenda. Pos 3 mempunyai ketinggian sekitar 1656 mdpl.

Pos 3 - Pos 4
Melewati Pos 3 pendakian dimulai dengan jalan yang landai kemudian akan melewati turunan sebelum berpindah punggungan dan melalu jalan menanjak lagi yang cukup panjang. Setelah 2 jam kita akan tiba di pos 4. Di pos ini kita bisa beristirahat sejenak sebelum melanjutkan pendakian, meskipun lahannya cukup sempit. Pos 4 ini mempunyai ketinggian 1855 mdpl.

Pos 4 - Pos 5
Pendakian pada tahap ini masih melewati punggungan namun track yang dilalui semakin terjal dan rapat dimana banyak terdapat pohon berduri. Disarankan kepada pendaki agar menggunakan pakaian lengan panjang. Bila turun hujan jalur ini akan menjadi sangat licin. Waktu yang diperlukan untuk sampai di pos 5 sekitar 50 menit. Pos 5 merupakan tempat yang tidak terlalu luas namun sedikit di bawah pos 5 juga terdapat tempat yang cukup luas untuk beristirahat. Biasanya di area pos 5 ini sering digunakan untuk tempat makan siang sebelum melanjutkan pendakian. Ketinggian pos 5 sendiri sekitar 2115 mdpl.

Pos 5 - Pos 6
Pendakian dilanjutkan dengan rute atau jalur yang semakin berat dimana jalurnya semakin terjal serta tipis dimana kanan kiri jurang. Untuk itu semua pendaki diharapkan untuk berhati-hati saat melintasi jalur ini. Jarak menuju pos 6 sendiri tidak terlalu panjang karena hanya dibutuhkan 30 menit saja untuk sampai. Di pos 6 ini terdapat area camp yang berundak-undak sebanyak 3 undakan dan dapat digunakan untuk tempat bermalam. Pos 6 memiliki ketinggian 2285 mdpl.

Pos 6 - Pos 7
Pendakian pada rute ini semakin berat dimana akan semakin mendekati puncak Gunung Wates yang tentunya tracknya semakin terjal dan jalur pendakiannya pun semakin terbuka dan udara dingin diiringi angin kencang dan kabut tipis. Setelah 45 menit kita akan tiba di pos 7 yang merupakan camp di area terbuka, Sebuah dataran yang cukup luas dan terbuka dapat mendirikan 3 tenda. Di pos 7 ini kita dapat melihat pemandangan negeri di atas awan yang sangat indah, dimana di depan terdapat puncak gunung wates, sebelah kiri dan kanan kita dapat melihat berjajar punggungan serta lembahan. Dari kejauhan juga mulai tampak puncak Gunung Raung yang berbentuk bebatuan. Apabila malam dan cerah pemandangan bintang-bintang akan sangat indah untuk kita nikmati. Di Pos 7 ini mulai terdapat bunga Edelweiss yang apabila mekar menjadi pemandangan indah untuk dilihat. Kondisi di pos 7 ini tanahnya rawan longsor dan juga udara dingin serta angin yang berhembus kencang dikarenakan areanya yang terbuka. Pos 7 sendiri berada di ketinggian 2541 mdpl.

Pos 7 - Pos 8
Perjalanan dari pos 7 ke pos 8 diawali dengan melewati punggungan terakhir menuju puncak gunung wates selama sekitar 45 menit. Sementara itu jalurnya cukup terjal dan rapt oleh pohon berduri. Dari puncak gunung Wates, pendakian dilanjutkan dengan melipir punggungan yang sangat tipis dengan bibir jurang yang sangat membutuhkan konsentrasi dan kehati-hatian. Setelah berjalan melipir punggungan, kita akan mulai melalui track menanjak dimana mulai terdapat vegetasi khas puncak gunung. Total waktu menuju pos 8 ini adalah sekitar 2 jam perjalanan normal. Pos 8 berada diketinggian 2876 mdpl.

Pos 8 - Pos 9
Ini adalah rute terakhir yang harus dilalui sebelum mencapai puncak gunung Raung. Pada rute ini jalurnya semakin terjal dan mulai banyak bunga edelweiss tumbuh. Vegetasinya pun semakin jarang, hanya pepohonan tua yang menjadi ciri khas sebelum puncak gunung. Setelah berjalan 1 jam barulah kita tiba di pos 9 yang merupakan camp terkahir yang dapat kita gunakan untuk beristirahat. Pos 9 merupakan batas vegetasi terkahir sebelum melewati bebatuan untuk mencapai puncak raung. Pos 9 terletak di ketinggian 3023 mdpl.

Pos 9 - Puncak Raung
Dari pos 9 yang merupakan batas vegetasi, selanjutnya kita berjalan selama 10 menit dan akan tiba di puncak semu gunung raung 3154 mdpl. Tak jarang puncak ini juga sering dinamakan puncak kalibaru. Di atas puncak inilah kita dapat menikmati kembali keindahan negeri ini, dimana dapat memandangi indahnya awan yang serasa begitu dekat dan sejajar dengan kita. Dari kejauhan juga tampak menjulang deretan punggungan gunung argopuro dan semeru. Sementara pada arah sebaliknya dapat memandangi lautan dan pulau Bali. Selain itu juga di depan kita telah nampak jalur menuju puncak sejati yang sangat menantang, dengan bebatuan dan kanan kiri terdapat jurang yang dalam. Ketika melewatinya akan cukup memacu adrenalin kita. Dan tidak kalah juga kita juga bisa memandangi keindahan puncak 17 yang berbentuk piramida yang seolah mengundang kita untuk segera mencapai puncaknya.

Puncak Raung - Puncak Sejati Gunung Raung
Inilah rute pendakian terkahir yang akan sangat menguji fisik dan nyali kita. Pendakian terekstrim di pulau Jawa dengan jalur yang mematikan. Dimulai dari puncak raung kita berjalan turun melipir bibir jurang lalu mengikuti sebuah jalan landai dan akan tiba di titik ekstrim yang pertama. Di titik ini kita harus melipir tebing bebatuan dimana sebelah kanan adalah jurang sedalam 50 meter. Untuk itulah di titik ekstrim pertama ini kita memasang jalur pemanjatan kurang lebih 5 meter. Di jalur telah terpasang 1 buah hanger, 1 buah bolt dan di titk anchornya terdapat pasak besi yang telah tertanam. Itu tadi bisa digunakan sebgai anchor utama. Setelah melewati titik ekstrim 1 kita terus berjalan menanjak menuju puncak 17 atau puncak piramida. Sampai di titik ekstrim 2 yaitu 10 meter sebelum puncak 17. Disini kembali harus membuat jalur pemanjatan dimana leader melakukan artificial climb selanjutnya setibanya di puncak 17 memasang fix rope untuk dilalui orang selanjutnya denagan teknik lumaring. Selanjutnya pendakian dilakukan dengan melipir menuruni bibir jurang yang tipis sekali. Disini merupakan titik esktrim ketiga yang harus kita lewati. Disini juga harus dipasangi pengaman bisa dengan menggunakan tali kernmantel ataupun dengan membentangkan webbing sejauh kurang lebih 10 meter. Selepas titik ekstrim ketiga ini kita terus berjalan agak landai menelusuri jalan setapak yang sangat tipis sekali dengan kanan kiri jurang sedalam 50 meter. Akhirnya tibalah kita di titik ekstrim keempat/terakhir dimana kita harus memasang jalur menuruni tebing 15 meter dan menggunakan teknik rappeling untuk mencapai ke bawah.

Sesampainya di bawah kita masih harus melanjutkan perjalanan agak menurun ke bawah dan kita akan sampai di sebuah lapang dan teduh yang biasanya digunakan untuk tempat beristirahat sebelum melalui tantangan terkahir yaitu mencapai puncak tusuk gigi dan puncak sejati.
Dari tempat beristirahat ini perjalanan dimulai kembali menanjak dengan tingkat kemiringan yang cukup terjal dimana jalur yang harus dilalui adalah batuan lepas dan berpasir yang apabila diinjak rawan sekali longsor. Untuk itulah diperlukan kehati-hatian dan menjaga jarak antar sesama pendaki selama melewati track ini agar apabila longsor tidak membahayakan pendaki di bawahnya.
Setelah mengakhiri tanjakan pada track bebatuan ini tibalah kita di puncak tusuk gigi yang terdapat banyak bebatuan besar. Setelah puncak tusuk gigi kita melipir ke belakang dan kemudian berjalan agak menanjak sekitar 100 meter tibalah kita di tempat yang menjadi tujuan akhir pendakian, ya itulah PUNCAK SEJATI Gunung Raung (3344 Mdpl) ditandai dengan sebuah trigulasi dan plang puncak sejati serta pemandangan kawah besar yang masih aktif yang setiap saat  dapat mengeluarkan asap dan api.




Baca selengkapnya

Friday, 23 January 2015

Kisah Terdampar di Gunung Arjuno



Pagi itu kami berangkat dari rumah dengan anggota 6 orang menuju Lawang untuk mendaki Gunung Arjuno dan Welirang. Kami berangkat dari rumah sekitar jam 5 pagi dengan menggunakan sepeda motor serta tas carrier yang berisi bekal dan perlengkapan pendakian. Rencananya kami akan melakukan pendakian selama 3 hari 2 malam. Sampai di Lawang kami bertanya pada warga menuju desa Wonorejo tepatnya menuju kebun teh Wonosari. Sampai di sana kami langsung melakukan perizinan di basecamp pendakian Gunung Arjuno.

Setelah melakukan perizinan, perjalanan kami mulai. Pada awalnya kami melewati jalan beraspal sekitar 100 meter kemudian dilanjutkan dengan jalan makadam atau jalan tanah berbatu yang samping kanan kirinya dihiasi pemandangan kebun teh yang menawan. Tak hanya itu pemandangan Puncak Gunung Arjuno dan Gunung Semeru pun terlihat begitu jelas dari sini. Sejuknya udara membuat langkah kami tak terasa sudah melewati setengah perjalanan di kebun teh. Kami istirahat sejenak untuk foto bersama dan untuk minum-minum.

Setelah istirahat sejenak kami melanjutkan perjalanan. Jalan yang kami tempuh masih seperti awal, didominasi oleh batu dan masih cukup landai. Tak lama kami berjalan, akhirnya kami sampai di pos 1 di Kebun Teh, yakni sebuah pondok atau tempat beratap seng untuk berteduh dengan panorama Gunung Semeru di sebelah Timur yang begitu jelas.

Perjalanan terus dilanjutkan, dan kali ini sudah memasuki perkebunan warga. Setelah perkebunan warga kami melewati sebuah tempat yang nampaknya habis terbakar, entah sengaja dibakar untuk dijadikan lahan pertanian atau memang benar terbakar. Kondisi jalur seperti jalan lintasan air dari atas yang akan sangat licin untuk dilewati.

Setelah itu kita akan mulai memasuki padan rumput yang sangat luas. Selang beberapa waktu melintasi padang rumput kami sampai di pos 2. Pos ini berwujud seperti gubug atau rumah yang bisa kita tempati untuk menginap atau berteduh. Setelah Pos 2 perjalanan semakin menanjak melintasi padang rumput yang sangat panjang dan luas. Kami tidak beruntung karena belum lama berjalan hujan pun turun dengan derasnya. Perjalanan kami pun terhambat dengan derasnya hujan dan air yang mengalir dari atas menerjang kaki kami. Dengan pelan kami melangkah sambil menunggu 2 teman kami yang sedikit kelelahan dan sedikit kram pada kakinya.

Perjalanan melintasi padang rumput ini sangat panjang dan jalur terus menanjak. Setelah melintasi padan rumput kita akan sampai di Pos 3. Pos 3 hanyalah sebuah tempat datar yang cukup luas untuk mendirikan tenda dengan batuan besar. Disitu kami istirahat sejenak sambil menunggu 2 teman kami yang tertinggal. Sambil menunggu dan istirahat akhirnya tak lama kemudian 2 teman kami datang. Dia bilang kita di suruh duluan saja, nanti dia akan menyusul pelan-pelan. Mengingat hari itu sudah maghrib dan petang serta hujan dan angin yang semakin deras dan kencang, akhirnya kami berempat melanjutkan perjalanan dengan meninggalkan 2 tema kami yang sedang isitirahat dan bilang kalau akan menyusul.

Perjalanan semakin menanjak lagi, sambil diterpa angin dan hujan serta pakaian semua basah. Kaki dan tubuh kami pun mulai sangat kepayahan. Kami istirahat sejenak kemudian melanjutkan perjalanan lagi untuk ke Pos 4 dan membuat tenda disana. Kedua teman kami pun tak menyusul-menyusul. Perasaan kami pun tak enak dan mengkhawatirkan mereka. Tapi kami tidak punya pilihan selain melanjutkan perjalanan dan mencoba berpikiran positif tentang mereka, karena waktu yang semakin gelap dan hujan tak berhenti-hentinya turun. Berjalan jauh kami tak sampai-sampai di pos 4, akhirnya kami pun memutuskan mendirikan tenda terlebih dahulu.
Baru selesai mendirikan tenda, belum sempat ganti pakaian yang basah, kaki kami semua langsung kram. Makhlum karena mungkin terus berjalan di jalur yang menanjak dan berat serta semua pakaian basah, jadi cepet sekali terkena kram dan nyeri.

Selepas itu kami tidak langsung tidur atau beristirahat, dengan penuh perasaan khawatir kami berempat mengkhawatirkan keadaan kedua teman kami yang tadi tertinggal. Dalam hati kami mau menyusul ke bawah lagi itu hari sudah malam dan hujan serta angin semakin deras dan kencang. Tak hanya hal itu, kami berempat sudah tak kuat karena takut kram lagi jika dibuat berjalan berat lagi. Mana hari sudah gelap dan nanti akan terlalu bahaya jika memutuskan untuk mencari jika di tengah jalan terjadi apa-apa, malah akan menambah korban lagi. Oleh karena itu yang kami bisa lakukan hanyalah pasrah dan menyerahkan semua pada Tuhan, tapi dalam hati kami yakin bahwa mereka adalah orang-orang yang kuat.

Sampai tengah malam kami belum tertidur memikirkan teman kami. Dengan perasaan gelisah kami jadi sulit tertidur. Baru tertidur sebentar sudah kaget terbangun lagi. Beberapa orang ada yang memimpikan kedua teman kami tadi. Perasaan kami semakin tak nyaman lagi.

Keesokan harinya cuaca masih sangat tidak bersahabat. Tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan. Oleh karena itu kami hanya menunggu dan berharap cuaca akan segera membaik dengan menuggu di dalam tenda. Kemudia ada seorang teman kami yang pamitnya mau buang air di luar.

Setelah beberapa lama kog gak kembali-kembali. Ternyata dia pergi seorang diri turun mencari kedua teman kami. Dia tak bilang pada kami kalau mau mencari kedua teman kami yang kemarin masih tertinggal. Kami hanya berharap dia bisa kembali dengan keadaan baik-baik saja dan berharap dia membawa berita baik.

Setelah menunggu cukup lama akhirnya satu teman kami yang turun tadi akhirnya kembali. Dia mengatakan kalau kedua teman kami kemungkinan sudah turun ke bawah dan semalam survival di pos 3, karena ada jejak berupa makanan dan barang mereka yang sengaja ditinggal untuk memberikan petunjuk pada kami berempat.

Jam 11 siang kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke atas karena cuaca sudah mulai membaik dan matahari sudah mulai menampakkan sinarnya. Tak lama kami berjalan kami sampai di pos 4, kami tidak beristirahat dan langsung berjalan terus. Medan dan jalur setelah Pos 4 awalnya cukup landai dan didominasi oleh semak-semak sejenis tanaman pakis. Setelah itu mulai memasuki kawasan pohon pinus lagi dan jalurnya kembali menanjak. Belum lama kami berjalan hujan sudah mengguyur lagi. Kami berhenti sejenak untuk memakai mantel dan setelah itu kami melanjutkan perjalanan lagi.

Cuaca semakin memburuk lagi, angin dan hujan begitu kencang dan derasnya. Akhirnya kamipun terpaksa harus mendirikan tenda lagi. Sampai malam hujan dan angin belum berhenti, dan akhirnya kami memutuskan untuk menginap dan melanjutkan perjalanan ke puncak Arjuno esok pagi hari ketika cuaca sudah membaik.

Pagi harinya tepatnya jam 3 pagi, kami melihat keadaan dan nampaknya cuaca sudah mendukung untuk melakukan perjalanan untuk ke puncak. Kami bersiap dan berkemas dengan membawa satu tas berisi air minu. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan dengan meninggalkan tenda dan barang yang tidak perlu. Kami berjalan dengan medan yang terus menanjak dan terjal di temani keheningan dan hari yang masih gelap. Dari kejauhan nampak pemandangan cahaya gemerlap perkotaan di bawah sangat menarik dan pemandangan langit yang masih nampak begitu banyak awan.

Kami terus berjalan hingga pepohonan mulai jarang dan hampir tak ada pohon pinus lagi. Tapi kami tidak beruntung karena tiba-tiba kabut tebal datang dan hujan pun akhirnya turun lagi disertai angin kencang. Kami tak bisa melanjutkan perjalanan karena kami juga tak membawa mantel atau jas hujan. Tak ada tempat untuk berteduh, hanya di bawah pohon pinus yang tak cukup untuk menahan air jatuh. Kami melanjutkan perjalanan sedikit-sedikit sambil mencari tempat yang benar-benar bisa buat berlindung dari air dan angin. Akhirnya yang ada hanyalah sebuah tempat disamping batu besar. Setidaknya kami disitu bisa berlindung dari angin. Tapi sayangnya hujan masih menerpa badan kami. Tak satupun pakaian yang tak luput dari basah karena terkena air. Di sela hawa dingin dan pakaian semua basah, akhirnya kami mulai menggigil, kaki dan tangan terasa kaku dan tidak bisa bergerak. Wajah terasa mati dan tak bisa merasakan ketika dipegang. Kami hanya terdiam sambil kedinginan di samping batu itu, dengan harapan bahwa cuaca akan segera membaik. Kami terus berdoa agar segera di anugerahi cuaca yang baik agar kami bisa sampai di puncak Gunung Arjuno.

Nampaknya Tuhan berkata lain, cuaca dan angin kencang tak sedikitpun berhenti. Kami bertahan disini hampir 3 jam lebih menunggu hujan reda. Seorang teman kami mulai tidak kuat, dan terus mengeluhkan keadaan. Kami hanya bisa pasrah dan menanti keajaiban datang.
Kemudian seorang teman kami tak berpamitan langsung pergi. Awalnya kami mengira dia mau buang air, tapi sampai menunggu lama dia tak kembali. Kami pun curiga, dan berpikiran kalau dia mungkin sudah nekad naik ke puncak meskipun di keadaan seperti ini. Akhirnya kami pun memutuskan untuk menyusulnya. Dengan segenap kekuatan yang masih tersisa, dan dengan seluruh tenaga dan keyakinan kami berjalan terseok-seok sambil mulut tak berhentinya mengucapkan doa. Ternyata memang benar, kalau teman kami melanjutkan perjalanan sendiri. Dia terlihat berjalan seorang diri ke atas dan dia pun melihat ke bawah dan menyadari bahwa kami menyusulnya. Dia berteriak dari atas dan kejauhan untuk menyemangati kami. Beberapa lama kemudian akhirnya kami sampai di atas dan teman kamipun sudah sampai duluan.

Di atas badai sangat kencang sampai tubuh dan badan kami seakan mau roboh dan terjatuh dihempasnya. Kami semua terharu dan bersyukur karena bisa sampai di Puncak Gunung Arjuno, meskipun dengan perjuangan dan pengorbanan hidup dan mati. Yang tersirat dalam benak kami sekarang adalah turunnya nanti. Tak lama kami di puncak dan kami akhirnya memutuskan untuk turun karena sudah tak kuat lagi dengan keadaan di puncak. Di tengah perjalanan turun dari puncak, awan di langit akhirnya mulai tersibak, dan hujanpun sedikit demi sedikit mulai berkurang. Kamipun sedikit mempunyai kekuatan kembali untuk melakukan perjalanan. Sambil tersenyum dan tidak menyangka bisa sampai di puncak dengan keadaan seperti itu, kami terus berjalan turun menuju tenda.

Dan ketika kami sampai di tenda, kami melepas dan menjemur pakaian basah yang kami pakai dan kemudian istirahat sejenak sambil memasak mie instan. Setelah makan dan istirahat kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan turun, mengingat mumpung cuaca lagi cerah dan nanti keburu hujan lagi. Kami berkemas dan  melakukan perjalan turun.

Dengan perjalanan turun yang memakan waktu cukup lama, akhirnya kami sampai di kebun teh. Dari sini kami merasa perjalanan kami kurang seikit lagi, meskipun sebenarnya kaki sudah tak kuat lagi. Tapi kami tak menyerah karena perjalanan kurang sedikit lagi. Dan akhirnya alhamdulilah perjalanan kami akhirnya sukses, akhirnya kami sampai di basecamp dengan keadaan selamat.
Kami begitu bersyukur kepada Tuhan yang masih memberikan kesempatan pada kami untuk bernafas lebih lama lagi di dunia ini. Kami bersyukur karena telah diizinkan untuk menikmati keindahan alam yang telah Dia ciptakan. Kami juga sangat bersyukur karena masih diberikan kekuatan, kesempatan dan begitu banyak pelajaran agar kami bisa merasakan arti hidup yang sebenarnya.

Sekian cerita dari saya, semoga dapat menginspirasi dan bisa menjadi pengalaman serta pelajaran berharga.

Baca selengkapnya

Thursday, 22 January 2015

Fenomena Embun Beracun di Gunung

Embun Upas atau Embun Beracun 


Istilah embun racun atau upas sendiri dikarenakan embun ini dapat merusak tanaman pertanian sehingga warga menyebutnya embun upas (seperti bisa ular). 


Apa itu embun upas?
Embun Upas adalah embun yang muncul di pagi hari dan muncul seperti embun biasa namun berbentuk es atau membeku. Pada malam hari uap air di udara akan mengalami kondensasi dan kemudian mengembun untuk menempel jatuh di tanah, dedaunan atau rumput.
Air embun yang menempel di pucuk daun atau rumput akan segera membeku. Hal ini disebabkan karena suhu udara yang sangat dingin dan mencapai minus nol derajat.
Saat pagi hari embun yang terbentuk dari uap air akan turun dari tempat yang lebih tinggi ketempat yang lebih rendah dan akan menempel dan mengembun lalu membeku di pucuk dedaunan atau rerumputan.

Kenapa bisa merusak tanaman?
Pada umunya tanaman pertanian merupakan tanaman semak yang tidak terlalu tinggi. Perlu diingat kembali bahwa suhu udara di pagi hari sedang dalam proses transforamasi. Suhu yang berada dekat di permukaan bumi pasti akan lebih dingin dibanding suhu yang berada di udara. Dalam kondisi seperti itu embun yang menempel di dedaunan atau rerumputan akan membuat kacau sistem fisiologis tanaman. Sel-sel tanaman yang tertempel embun beku tidak dapat melakukan fisiologisnya. Regulasi akan terganggu karena cairan sel membeku. Proses fotosintesis pun akan terhambat dan dampaknya setelah embun mencair, tanaman menjadi layu dan mengalamu kematian. Apalagi jika embun beku ini dapat bertahan berjam-jam, dapat dipastikan seluruh tanaman pertanian akan mengalami kematian.

Embun upas sendiri banyak terjadi di gunug-gunung di Indonesia yang mempunyai suhu sangat dingin. Oleh karena itu tips untuk para pendaki ketika naik ke puncak gunung harus menyiapkan perbekalan dan perlengkapan standar mendaki gunung, seperti jaket dan pakaian yang layak untuk menahan suhu dingin dan basah.
Baca selengkapnya

Wednesday, 21 January 2015

Pohon Cantigi Sang Pelindung Pendaki




Tahukah Anda dengan Pohon Cantigi? Ironisnya banyak pendaki gunung yang tidak tahu dengan pohon cantigi. Pohon cantigi adalah pohon yang hanya tumbuh di puncak gunung. Pohon cantigi memiliki daun berwarna kemerahan dan berbuah warna hitam. Pohon ini memiliki akar yang sangat kuat untuk berpegangan ketika mendaki dan bisa dibuat berlindung ketika terjadi badai di puncak gunung. Pohon ini juga bisa ditemukan di hampir setiap gunung di Indonesia. Cantigi merupakan tumbuhan yang tahan dengan asap belerang dan tanah kawah beracun. Dengan begitu banyak manfaatnya, namun Cantigi masih kalah poppuler dibandingkan dengan Bunga Edelweiss yang dipuja dan menjadi legenda bunga abadi di puncak gunung oleh para pendaki.

Pohon Cantigi atau yang mempunyai nama latin Vaccinium Varingiaufolium memiliki beberapa julukan antara lain, seperti manis rejo (jawa), cantigi (sunda), delima montak (kaltim). Pohon yang cantik ini biasanya hidup atau mudah terlihat di vegetasi menjelang puncak atau di puncak gunung, sama dengan wilayah tumbuhnya Edelweiss.

Pohon Cantigi banyak memberikan bantuan terhadap pendaki, akarnya yang kuat mengcengkeram tanah dan tebing sering menjadi tumpuan atau pegangan pendaki ketika merangkak naik dan turun gunung. Pohon ini pulalah yang melindungi pendaki dari terjangan badai dan juga menyediakan lantai nyaman untuk bivak. Pohon ini juga menghasilkan buah dan pucuk daun yang bisa dimakan bagi pendaki yang tersesat. Sehebat apapun badai cantigi tidak akan tumbang. Pohon ini kuat menghadapi cuaca yang ekstrim dingin dan menepis panas yang menyengat dan lekang.

Dengan begitu banyak manfaat dan kegunaan yang diberikan, marilah kita para pendaki ikut melestarikan. Mari kita mulai palingkan wajah dan harapan ke Cantigi, sang Pelindung para pendaki. Rawat dan biarkan dia hidup di rumahnya. Bunga yang tidak hanya indah di sela tebing terjal dan tingginya gunung, dia juga melindungi pendaki dari terpaan badai. Lalu pantaskah kita merusaknya?

Kasihanilah cantigi sejak dini dan mari kita bersama-sama menjaganya.



Baca selengkapnya

Cara dan Tips Mengenali Cuaca

MENGENALI CUACA DENGAN TANDA-TANDA ALAM

Apa yang ada di pikiran kita ketika melihat awan gelap? Pasti jawabannya sebentar lagi hujan deras , tapi tiba-tiba justru sebaliknya cuaca dengan cepatnya berubah menjadi cerah. Apa yang menyebakan itu semuanya, bagi pakar cuaca sudah biasa dengan keadaan seperti itu, tapi bagi masyarakat awam malah heran dan aneh. Bahkan ketika cuaca cerah keesokan harinya malah hujan lebat terus menerus sehingga mengakibatkan bencana seperti banjir, dll.



Bencana alam seperti banjir, tanah longsor dan kebakaran hutan terus merajela di permukaan bumi ini termasuk Indonesia. Tidak hanya Indonesia saja tapi bencana melanda juga negara manca negara, sebagian para pakar cuaca mengatakan bahwa bencana ini diakibatkan dari perubahn iklim ada juga yang mengatakan perubahan lingkungan akibat, sebagian lagi mengatakan hanya variabilitas iklim bahkan ada juga mengatakan bencana yang terjadi di suatu negara turut andil untuk memicu bencana di negara lainnya, benarkah demikan ? bencana seperti banjir dan tanah longsor selalu dikaitkan dengan cuaca ekstrim, cuaca ekstrim dikaitkan dengan siklon tropis, siklon tropis dikaiakan dengan El Nino atau La Nina atau Maddem Julian Oscilation atau Dipole Mode dan sebagainya.

Dari rentetan kejadian bencana akibat cuaca ekstrim yang hampir setiap tahun terjadi, memicu para pakar meteorologi berupaya untuk mengemukan hasil analisanya atau bahkan memberikan prediksi cuaca kedepannya. Hasil kajian atau analisanya dan prediksi nya menggunakan prinsip-prinsip fisika dan matematika atau metode-metode ilmiah, itupun tingkat akurasinya belum memuaskan. Kenapa belum memuaskan, karena salah satu penyebannya melupakan skala meteorologi atau skala fenomena cuaca. Skala ini sangat berguna untuk menganalisa cuaca dalam ruang dan waktu, sebab cuaca adalah fungsi ruang dan waktu. Tidak ada salahnya, dalam tulisan ini menjelaskan kembali tentang skala meteorologi, sebagai ilustrasi saja bahwa dalam membuat analisa cuaca, seorang prakirawan wajib memahami tentang skala meteorologi karena hal ini sangat penting, agar hasil analisanya sesuai dengan fenomena cuaca yang terjadi (zakir, 2008). Adapun skala meteorologi yang dikemukan oleh Lembaga Meteorollgi Dunia (WMO, 1980), yaitu :

1. Skala mikro merupakan skala terkecil pada gerak atmosfer yaitu jaraknya kurang dari 1 km.
Contoh :proses di dalam awan, termasuk proses pembentukan partikel es di dalam awan.
2. Skala Meso yaitu skala untuk mempelajari fenomena atmosfer yang memiliki skala jarak horizontal dari batas skala mikro sampai batas skala sinoptik dan skala vertikal yang dimulai dari permukaan bumi sampai batas lapisan atmosfer yaitu jaraknya sampai 20 km.
Contoh :Tornado, puting beliung, angin laut, angin darat
3. Skala Sinoptik umumnya daerah dinamis yang lebih luas yaitu jaraknya sampai 2000 km.
Contoh :Siklon tropis, Intertropical Convergence Zone (ITCZ ).
3. Skala Global mempelajari fenomena cuaca yang berhubungan dengan transport panas mulai dari dari tropis sampai daerah kutup. Jaraknya sampai 5000 km.
Contoh :MJO, Dipole Mode, El Nino/La Nina
Jadi dari pemahaman skala meteorology tersebut, kita tidak gegabah lagi dalam membuat analisa, karena kita harus benar-benar mengetahui apakah kejadian cuaca ekstrim tersebut diakibat dalam skala meso ataukah dalam skala sinoptik, dari situlah kita baru bias menjawab apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin kita lupa dengan keadaan alam yang ramah yang penuh dengan tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan, namun hewan dan tumbuhan lambat laun akan sirna tergantikan dengan gedung dan aspal. Seharusnya tumbuhan dan hewan tersebut dipertahankan untuk menjaga kesimbangan energy atau ekosistim. Namun sayang sekali keberadaan hewan dan tumbuhan tidak mendapat perhatian penuh bahkan cenderung dirusak dan dipunahkan.

Pada zaman dahulu orang membuat analisa atau membuat prakiraan cuac tidak perlu kaedah-kaedah ilmiah, tapi cukup dengan memperhatikan tanda-tanda alam. Seperti memperhatikan tingkah laku hewan atau memperhatikan sifat tumbuhan, agar kita tidak lupa dengan alam dan tetap diperhatikan, maka sangat perlu dikemukan bahwa keberadaan hewan sangat diperlukan dalam melihat pola cuaca yang akan terjadi, sehingga dengan demikian punya niatan yang kuat untuk mempertahankannya

Penjelasan berikut ini diambil dari http://www.wikihow.com/Predict-the-Weather-Without-a-Foreca, yang menjelaskan tentang bagaimana membuat prakiraan cuaca dengan memperhatikan tanda-tanda alam dan ditambah pengalaman sebagai Prakirawan. Adapun tanda-tanda alam tersebut antara lain yaitu :

1. Memperhatikan jenis dan pergerkan awan:awan merupakan salah satu unsur cuaca untuk memperkirakan ada atau tidaknya hujan atau fenomena lain:
A. Awan Cumulonimbus.
Jika terlihat awan Cumulonimbus, maka :
a. Awan cumulonimbus tumbuh dipagi hari dan berkembang pada siang hari mempunyai peluang akan terjadi cuaca buruk.
b. Apabila terdapat gerakan awan yang berbeda-beda ( misal lapisan yang satu bergerak ke barat dan lapisan yang lain bergerak ke utara bertanda cuaca buruk akan terjadi

B. Awan Mamatus
Jika melihat awan Mamatus, maka :
a. Awan mamatus terbentuk dari udara yang tertahan pada suatu lapisan.
b. Dapat terbentuk akibat adanya awan yang menimbulkan cuaca buruk dan thunderstorm yang tidak begitu hebat atau type awan yang lain.

C. Awan Cirus
Apabila terdapat awan cirus berbentuk pita panjang, bertanda dalam 36 jam mendatang akan terjadi cuaca buruk.

D. Awan Altocumulus
Awan Altocumulus, yang seperti sisik makarel, juga berarti cuaca buruk dalam 36 jam mendatang.

E. Awan Towering
Apabila terdapat jenis awan towering menandakan akan terjadi hujan keesokan harinya bahkan 3 jam kedapan akan terhjadi hujan lebat tiba-tiba

F. Awan Nombostratus
Jenis awan ini terlihat gelap dan rendah, bergelantungan berat di udara, ini berarti hujan akan cepat turun. Apabila terdapat awan menutupi sebagian langit dimalam hari musim dingin berarti udara terasa panas/lebih hangat, karena awan mencegah radiasi panas yang akan menurunkan suhu pada malam yang cerah.

2. Memperhatikan keadaan rumput.
Jika rumput kering, ini menunjukkan awan atau angin yang kuat, yang dapat berarti hujan. Jika ada embun, mungkin tidak akan hujan hari itu. Namun, jika hujan pada malam hari, metode ini tidak akan dapat diandalkan.

3. Memperhatikan langit berwarna Merah.
Ingat sajak: Langit Merah di malam hari, kegembiraan pelaut, langit merah di pagi hari, pelaut mengambil peringatan . Carilah tanda-tanda merah di langit (bukan matahari merah),
Jika Anda melihat langit merah senja (ketika Anda menghadap ke barat), ada sistem tekanan tinggi dengan udara kering yang mengaduk partikel debu di udara, inilah yang menyebabkan langit terlihat merah. Karena pergerakan front berlaku dan jet stream, ini biasanya fenomena cuaca akan bergerak dari barat ke timur, dan udara kering menuju ke arah Anda.
Langit merah di pagi hari (di Timur, di mana matahari terbit) berarti bahwa udara kering telah pindah melewati Anda, dan setelah itu ada sistem tekanan rendah yang membawa kelembaban menuju kearah anda

4. Memperhatikan Pelangi di barat.
Pelangi di barat berarti kelembaban yang cukup tinggi menandakan hujan dalam perjalanan menuju anda . Di sisi lain, pelangi di timur sekitar matahari terbenam berarti bahwa hujan menjauhi yang berarti diharapkan udara akan cerah. Penting:apabila ada pelangi di pagi hari, maka perlu membuat peringatan dalam 12 jam kedepan.
Memperhatikan langit berwarna Merah

5. Memperhatikan langit berwarna Merah
Perhatikan kebiasaan angin yang bertiup ditempat anda, Angin timuran berarti angin dari timur yang menyimpang dari kebiasaan ditempat anda berarti akan ada badai angin. Sebaliknya apabila ada angin barat menyimpang dari kebiasaanya berarti cuaca akan bagus. Apabila terjadi angin kencang dari sepanjang hari dan diikuti hari berikutnya berati disekitar wilayah anda terdapat sistim tekanan tinggi

6. Perhatikan pohon yang daunya beguguran tepat dibawah pohonnya, ini berarti ada hembusan angin yang biasa terjadi.
Pernafasan
Ambil napas dalam-dalam, kemudian tutup mata dan hirup bau udara. Tanaman biasanya akan melepaskan limbahnya menandakan ada sistim tekanan rendah, dan menghasilkan bau seperti kompos dan mengindikasikan akan turun hujan diwaktu mendatang.
Sebuah rawa akan menimbulkan gas pada saat sebelum badai datang hal ini ditunjukan bau tak sedap.
Pepatah mengatakan Bunga bau sebelum hujan. Aroma lebih kuat udara lembab, berhubungan dengan cuaca hujan.

7. Kelembapan.
Biasanya kelembapan dapat dilihat pada model rambut (rambut melengkung/mengerucut/). Anda juga dapat melihat daun oak atau pohon maple. Daun ini cenderung melengkung/mengerucut pada kelembaban tinggi, yang cenderung berkembang menjadi hujan lebat. Sisik kerucut pinus tetap tertutup jika kelembaban tinggi, tetapi terbuka pada udara kering. Dalam kondisi lembab, kayu membengkak (apabila membuka pintu akan terasa pintu sulit dibuka/lengket dengan tiang )

8. Hewan.
Hewan lebih peka dibandingkan dengan manusia, dan hewan biasanya akan bereaksi apabila terjadi perubahan tekanan
a. Jika burung terbang tinggi di langit, ada kemungkinan akan cerah. (tekanan udara rendah disebabkan terjadinya badai, sehingga burung merasa tidak nyaman khususnya pada telinganya, dengan demikian burung akan terbang rendah untuk meringankannya Sebagian besar burung bersarang pada saluran listrik dan ini menunjukan tekanan udara turun
b. Burung camar (Seagulls) cenderung berhenti terbang dan berlindung di pantai jika badai akan datang. burung camar menjadi sangat tenang dalam terbangnya sebelum hujan.
c. Sapi biasanya akan berbaring sebelum badai. Mereka juga cenderung untuk tetap dekat bersama-sama jika cuaca buruk akan datang.
d. Semut membangun bukit dengan sangat curam sebelum hujan.
e. Kucing cenderung membersihkan di belakang telinganya sebelum hujan.
f. Kura-kura (Turtles) sering mencari tempat yang lebih tinggi apabila hujan lebat akan turun. Mereka biasanya sering berada di jalan selama periode 1 sampai 2 hari sebelum terjadinya hujan.
g. Jika burung bergerak cepat ini berarti badai hujan akan turun untuk waktu yang lama.

9. Api Unggun
Asap api unggun harus naik terus. Apabila asap berputar-putar dan turun bertanda tekanan rendah, yang berarti hujan akan menuju anda.

10. Bulan
Jika bulan terlihat kemerahan dan terlihat agak buram ini bertanda banyak debu diudara. Sebaliknya apabila bulan terlihat terang, ini menunjukan udara terlihat cerah, biasanya telah terjadi hujan akibat terdapat sistim tekanan rendah. Apabila disekitar bulan terdapat lingkaran cincin dan terdapatr cirostarus ini menandakan dalam 3 hari kedepan akan turun hujan.

11. Ciptakan metoda analisa dan prakiraan cuaca menurut anda sendiri.
Metode ini biasanya pada prakirawan yang selalu memperhatikan tanda-tanda alam disekitarnya. Dengan menggabungkan disiplin ilmunya dengan pengalamannya sebagai prakirawan akan menciptakan metode prakiraan yang berlaku didaerahnya.

source; bmkg.go.id/
Baca selengkapnya

Saturday, 10 January 2015

Mengungkap Hal Mistis di Gunung Lawu

Cerita Misteri Gunung Lawu


Gunung Lawu terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Status Gunung Lawu sendiri adalah gunung berapi tidak aktif atau sudah lama tertidur. Gunung Lawu memiliki ketinggian 3.265 Mdpl. Gunung Lawu adalah salah satu gunung di Indonesia yang juga banyak diminati kalangan pendaki. Di balik itu ternyata Gunung Lawu juga menyimpan banyak cerita dan hal mistis.

Gunung Lawu bersosok angker dan menyimpan misteri dengan tiga puncak utamanya yakni Harga Dalem, Harga Dumilah, dan Harga Dumiling. Ketiga puncak itu dimitoskan sebagai tempat sacral di Tanah Jawa. Harga Dalem diyakini masyarakat setempat sebagai tempat pemasoksan Prabu Bhrawijaya Pamungkas. Harga Dumiling diyakini sebagai tempat pamoksan Ki Sabdopalon dan Harga Dumilah merupakan tempat misterius yang sering dipergunakan sebagai ajang kemampuan olah batin dan meditasi.

Konon katanya Gunung Lawu merupakan pusat kegiatan spiritual di Tanah Jawa dan berhubungan erat dengan tradisi dan budaya keratin, misalnya upacara labuhan setiap bulan Suro (muharam) yang dilakukan oleh Keraton Yogyakarta.

Siapapun yang hendak pergi ke puncak, maka harus berbekal pengetahuan perihal wewaler atau peraturan yang tertulis yakni larangan tertentu untuk tidak melakukan sesuatu baik bersifat perbuatan maupun perkataan. Bila pantangan ini dilanggar maka pelaku bakal bernasib naas.


Tempat-tempat lain yang diyakini misterius oleh penduduk setempat selain tiga puncak tersebut yakni : Sendang Inten, Sendang Drajat, Sendang Panguripan, Sumur Jalatunda, Kawah Candradimuka, Repat Kepanasan (Cakrasurya), dan Pringgadani. Bagaimana situasi Majapahit sepeninggal Sang Prabu Bhrawijaya? Konon sebagai pengganti tugas kerajaan adalah pangeran Katong. Figur ini dimitoskan sebagai seorang sakti yang muksa di Ponorogo, suatu wilayah Gunung Lawu di lereng tenggara.
Baca selengkapnya

Mengungkap Misteri Gunung Kelud

Cerita Mistis di Gunung Kelud


Gunung Kelud merupakan salah satu gunung berapi yang ada di Indonesia, tepatnya berada di provinsi Jawa Timur. Gunung Kelud berdiri di Kabupaten Blitar, Malang dan Kediri.
Nama Gunung Kelud sendiri berasal dari jarwadhasak yakni dari kata “ke” (kebak=penuh) dan “lud”(ludira=darah). Hal ini berarti bila murka, Gunung Kelud bisa merengut banyak korban jiwa tak berdosa. Menuru kepercayaan penduduk sekitar kawah, Gunung Kelud dijaga sepasang buaya putih yang konon merupakan jelamaan bidadari.

Legenda menceritakan zaman dahulu ada dua bidadari sedang mandi di telaga, karena terlena dua bidadari tersebut melakukan perbuatan intim dengan sesame jenis. Perbuatan itu rupanya diketahui oleh dewa. Karena kesal sang dewapun mengutuk kedua bidadari itu menjadi buaya.
Sejak tahun 1000, Gunung Kelud telah meletus sebanyak 24 kali hingga yang terakhir pada tahun 2014 kemarin. Interval letusannya rata-rata berlangsung setiap 15 tahun sekali. Paling pendek 3 tahunan berlangsung pada tahun 1848. Tapi Gunung Kelud pernah bersikap manis selama 37 tahun yang berlangsung pada tahun 1864-1901.Entah apa yang membuat kelud selama 37 tahun tak pernah sakit-sakitan. Barangkali para penunggunya merasa nyaman karena warga sekitar rutin mengirim makanan kesehatan berupa aneka jenis sesaji seperti yang kerap dilakukan oleh warga desa Sugihwaras.
Menurut catatan sudah sebanyak 3 kali Gunung Kelud sempat mengamuk berat yakni pada tahun : 1919, 1951 dan 1966. Uniknya kalau direka-reka angka tahun meletusnya itu sangat menarik, yakni selalu mengiringi peristiwa besar di Tanah Jawa. Misalkan letusan 1951 yang menandai Pemberontakan Madiun. Kemudian ledakan 1966 yang terjadi setahun pasca G30S/PKI pada tiga ledakan itu material yang dimuntahkan meluncur ke bawah melalui Kali Badak, Kali Ngobo, Kali Putih, Kali Semut, dan Kali Ngoto.

Menurut sesepuh desa di sekitar Gunung Kelud para korban itu sedang dikersakke oleh dua bidadari penunggu kawah. Bila laki-laki diperlakukan sebagai suami dan kalau perempuan diangkat jadi saudara. Warga menengarai bila Gunung Kelud akan meletus biasanya ada dua sorot sinar terang masuk ke kawah atau banyak burung gagak berterbangan di pedesaan.
Baca selengkapnya